Genjitsushugisha no Oukokukaizouki Arc 4 Chapter 1 F

Arc 4
Chapter 01 – Kisah Dua Buah Kota F

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : Yukkuri

Aku menyerahkan pemberesan kekacauan itu kepada Juno dan party-nya, untuk mencapai tujuan asli kami bertemu dengan pemimpin perkumpulan pengungsi ini, kami masuk lebih jauh kedalam pemukiman ini. Lalu, setelah kami mengikuti pria muda yang memandu kami, akhirnya dia membawa kami ke sebuah tenda yang sangat besar yang terlihat mirip dengan yurt Mongolia.

Kami masuk kedalam tenda itu dan disana ada seorang pria besar dari ras Manusia yang sedang duduk bersila, kedua tangannya menyentuh lantai saat dia menundukkan kepalanya kebawah. Itu adalah pose yang sering terlihat di Jidaigeki[1] yang di lakukan seorang bawahan untuk menghormati tuannya. Pria besar itu terlihat berumur sekitar 30 tahun, tapi jika aku harus mendeskripsikan penampilannya maka dia memberikan kesan yang sama dengan penduduk asli Amerika. Sosoknya yang besar dan kekar memakai pakaian tipis yang sudah biasa dikenakan oleh orang yang datang dari wilayah utara yang lebih hangat dan wajahnya dihiasi oleh apa yang terlihat seperti gambar yang mempesona.

Di belakangnya, ada seorang gadis yang mengenakan pakaian yang sejenis dengannya dan duduk dalam pose yang sama. Umurnya mungkin tidak jauh berbeda dengan Liscia atau Roroa. Dia tidak se-modis itu, tapi dia adalah gadis yang memberikan kesan manis yang sederhana. Mereka berdua memiliki wajah yang kelihatan mirip, jadi mungkin mereka bersaudara.

“Terima kasih karena telah mengunjungi kami, Yang Mulia Raja Besar Negara ini.”

“Ya….. bisakah kamu berhenti memanggilku Raja Besar? Aku tidak benar-benar menyukai julukan itu.”

Aku duduk di depan pria itu. Disini tidak ada kursi, jadi aku duduk langsung di atas karpet yang tergelar di atas lantai. Sebagai orang Jepang, aku sudah terbiasa dengan hal ini. Di nilai dari sensasinya, karpet ini ditempelkan pada sebuah papan. Jadi kelihatannya karpet ini tergelar langsung di atas tanah. Liscia duduk di sampingku, Owen, Hilda, dan kemudian Carla yang telah kembali dari Istana, duduk di belakangku.

“Fumu…. Kemudian, bagaimana saya harus memanggil anda?”

“Kamu mungkin bisa memanggilku Raja atau Yang Mulia.”

“Lalu saya akan melakukan itu. Nama saya adalah Jirukoma. Saya telah dipercaya untuk menduduki posisi pemimpin di perkumpulan pengungsi ini. Karena baru saja anda telah membantu orang dari perkumpulan ini, izinkan saya untuk mengucapkan rasa terima kasih dari lubuk hati saya yang terdalam.”

Jirukoma membungkuk sangat rendah saat dia mengatakan hal itu.

“Aku adalah orang yang berperan sebagai Raja di Negara ini, Souma Kazuya. Lalu, orang yang menyelamatkan mereka adalah para petualang yang telah di kirim sebagai penjaga. Tolong tujukan rasa terima kasihmu kepada mereka.”

“Saya tidak bisa melakukan itu. Pengerahan para petualang itu sendiri adalah bantuan dari sang Raja. Kami juga berterima kasih atas bantuan barang yang berkelanjutan sampai sekarang.”

“Jika begitu aku akan menerima rasa terima kasihmu…. Namun, aku datang kemari hari ini bukan untuk mendengarkan ucapan terima kasih.”

“………”

Ekspresi Jirukoma menegang saat dia mendengar perkataanku. Pentingnya kunjunganku ini pastinya sudah jelas bagi Jirukoma. Bagaimanapun, diskusi tentang ‘masalah itu’ ini telah dilakukan berulang kali oleh utusan yang telah aku kirim.

“Aku datang untuk mendengar keputusanmu. Kamu sudah mendengar ‘rekomendasi’ itu dari para utusanku, kan? Lalu, mana yang akan kalian pilih?”

“! Itu-“

“Hentikan. Komayin.”

“Tapi, kakak!”

Gadis itu mencoba berdiri, tapi tangan Jirukoma menahannya. Jadi nama gadis itu adalah Komayin. Sama seperti yang kuduga, mereka bersaudara. Jirukoma menegur Komayin dengan tajam.

“Perkataan kita menentukan nasib semua orang yang ada di perkumpulan ini. Jangan ceroboh.”

“…… Aku paham.”

Komayin yang sudah setengah berdiri kembali duduk. Untuk sesaat, dua orang penjaga yang ada dibelakang mereka juga bersiaga, tapi karena Komayin sudah menenang, mereka juga mundur. Suasana didalam tenda itu menjadi berat. Mungkin karena khawatir dengan situasi ini, Liscia mengajukan sebuah pertanyaan.

“Souma, tolong bisakah kamu menjelaskan situasinya…..”

“….. Baik. Aku ingin menyelesaikan masalah pengungsi. Jika status quo ini terus berlanjut, maka ini tidak akan berakhir, bagi negara kita, dan bagi orang-orang yang tinggal di tempat ini. Itulah sebabnya aku mendesak para pengungsi untuk mengambil keputusan tertentu.”

“Keputusan?”

Aku mengangguk.

“Apakah mereka akan membuang kerinduan dengan kampung halaman mereka dan menjadi warga negara ini, atau, pergi.”

***

Para pengungsi yang terusir dari kampung halamannya saat Wilayah Raja Iblis muncul. Keinginan tulus mereka adalah untuk pulang ke kampung halaman mereka dan kembali ke kehidupan mereka yang dulu. Namun, pada kondisi saat ini, keinginan itu tidak dapat dipenuhi. Serangan milter berskala besar yang terakhir kali dilancarkan ke Wilayah Raja Iblis berakhir dengan kegagalan dan hanya meninggalkan rasa takut kepada Wilayah Raja Iblis di sisi umat manusia. Bahkan kekuatan terbesar di sisi umat manusia, Kekaisaran Grand Chaos, ragu untuk melakukan serangan lainnya jadi mereka hanya fokus untuk mencegah Wilayah Raja Iblis untuk meluas ke selatan. Itulah situasi saat ini.

Mungkin, bahkan jika kami mengasumsikan bahwa keadaan saat ini akan mengalami kemajuan di masa depan. Hal itu tidak akan terjadi besok atau lusa. Hal itu juga tidak mungkin bisa dicapai dalam beberapa bulan. Beberapa tahun juga sudah sulit, atau mungkin kami membutuhkan waktu ratusan tahun untuk melakukan hal itu. Lalu, selama waktu itu, apa yang akan dilakukan oleh para pengungsi? Jika mereka hanya berharap dapat kembali ke kampung halaman mereka maka apakah mereka akan tetap tinggal di negara asing sebagai warga tanpa kewarganegaraan?

….. Itu tidak mungkin. Situasi yang menyimpang ini pasti akan menjadi sumber masalah di masa depan.

“Mantan Raja Albert bersikap toleran terhadap mereka. Aku juga, untuk menangani masalah lain yang menggunung, telah menerima hal itu sampai hari ini. Bahkan jika hanya dalam jumlah kecil, aku harus memberikan bantuan.”

“………”

“Namun, karena sekarang masalah lain telah terselesaikan, Aku tidak bisa diam dan membiarkan masalah ini. Kita telah memberikan toleransi sampai saat ini, tapi berburu dan mengumpulkan makanan tanpa izin pada dasarnya adalah sebuah aktivitas ilegal. Jika aku mengizinkan aktivitas ilegal itu maka itu pasti akan memicu kemarahan dari para warga.”

Penyebab dari hal itu adalah karena mereka bukan warga negara ini. Sampai sekarang, mereka menerima angin belas kasihan karena mereka telah kehilangan kampung halaman mereka akibat kemunculan Wilayah Raja Iblis. Namun, angin tetaplah angin. Tidak ada seorangpun yang tahu kapan itu akan menghilang. Keinginan mereka untuk pulang tidak akan terwujud. Jika kami terus membantu orang-orang yang bukan warga negara dan mengabaikan aktivitas ilegal mereka, maka suara ketidakpuasan akan muncul di antara para warga di masa depan. Dalam kasus terburuk, itu mungkin akan berubah menjadi konflik kekerasan.

“Itulah sebabnya aku mendesak orang-orang yang ada di tempat ini untuk membuat keputusan. Menyerah untuk kembali ke kampung halaman mereka dan hidup di negara ini sebagai seorang warga, atau tidak menyerah untuk kembali dan kemudian pergi dari negara ini ke negara lain. Aku mengunjungi mereka untuk memutuskan hal ini.”

“Souma, itu…”

“Ini mungkin memang kejam. Namun, ini diperlukan. Pada akhirnya, sebuah negara sama seperti manusia raksasa. Dia akan dengan mudah mencintai seseorang yang mencintainya, tapi mencintai seseorang yang tidak mencintainya? Dia tidak memiliki hati sebaik itu.”

Itulah sebabnya, saat angin belas kasihan masih ada sampai sekarang. Aku ingin melakukan sebuah permersatuan. Negara ini adalah sebuah negara yang memiliki banyak ras. Dibandingkan dengan negara yang di dominasi oleh sebuah ras, di sini ada dasar yang jelas untuk menerima mereka. — Namun, hal itu tergantung pada apakah para pengungsi bersedia untuk menjadi bagian dari negara yang mempunyai banyak ras ini. Aku telah membicarakan hal ini saat menyampaikan lubang yang ada di Deklarasi Kemanusiaan, sebuah rasa nasionalisme yang terlalu kuat akan menjadi sumber pemberontakan.

“Jika mungkin, orang-orangmu, berkeinginan untuk kembali ke kampung halaman tidak peduli apapun yang terjadi dan sama sekali tidak memiliki perasaan terhadap negara ini, maka aku…. tidak punya pilihan lain selain mendeportasi kalian.”

Saat dia mendengar perkataanku, Jirukoma menggertakkan giginya.

“…….. Kami hanya, ingin kembali ke kampung halaman kami.”

“Aku paham dengan perasaan itu. Aku tidak keberatan jika setiap orang memiliki perasaan itu di hari mereka. Jika keadaan membaik, dan situasi untuk ke pulangan telah tiba maka kami tidak keberatan jika kalian kembali ke kampung halaman kalian……. Namun, setidaknya saat kalian berada di negara ini, aku ingin kalian menganggap diri kalian sendiri sebagai warga negara ini. Jika kalian tidak bisa maka….. negara ini bukan tempat untuk kalian tinggal.”

“………..”

Jirukoma kehabisan kata-kata. Sebagai gantinya, Komayin berdiri.

“Anda sama sekali tidak paham….”

“Hentikan, Komayin!”

“Tidak kakak, biarkan saya mengatakan hal ini! Anda adalah Raja negara ini, kan? Anda pada dasarnya memiliki negara ini, bukan? Kesedihan orang-orang yang harus terpisah dari negara mereka, apa yang anda-“

“Aku memahami semuanya.”

Komayin berteriak kesal, tapi aku menatap lurus kematanya dan mulai berbicara.

“Kamu mungkin sudah mendengar tentang hal ini. Aku adalah orang yang dipanggil dari dunia yang berbeda di dunia ini. Selain itu, ini adalah sebuah tiket satu arah, kamu tahu. Berbeda dengan kalian yang masih memiliki harapan, meskipun harapan itu kecil, aku tidak mungkin bisa kembali ke kampung halamanku. Itulah sebabnya aku memahami kesedihan karena harus berpisah dengan kampung halamanmu.”

“Gugh….”

“Rindu kampung halaman…. Memang sulit di hilangkan. Di duniaku adalah sebuah pepatah [Rumah adalah tempat nostalgia ketika kamu berada jauh darinya[2].] Sungguh pepatah yang tepat sasaran, tapi hanya setelah aku kehilangan hal itu, aku baru menyadari betapa berharganya hal itu bagiku. Mudah untuk mengatakan kalau yang lalu biarlah berlalu, tapi tidak mudah untuk merasa puas dengan hal itu.”

“Souma.”

Saat aku mengatakan kesedihan yang ada di hatiku, Liscia merangkul tanganku dengan lembut.

“Namun…. Aku memiliki Liscia dan yang lainnya. Ada orang yang mendukungku dari sampingku. Ada orang yang sayang kepadaku. Aku menanggapi perasaan mereka dengan bekerja sekuat tenaga. Jadi, tanpa kusadari, aku telah menganggap negara ini sebagai negaraku. Jika aku berpisah dengan negara ini, maka kemungkinan aku akan merasakan kesedihan yang sama seperti ketika aku berpisah dengan kampung halamanku, setidaknya itulah yang kupercayai.”

Pada akhirnya, kampung halaman adalah sebuah ‘koneksi’. Sebuah koneksi dengan lokasi dan orang-orang yang tinggal disana. Satu-satunya hal yang dapat menggantikannya adalah, ‘koneksi’ yang lain. Komayin kembali duduk dengan lemah dan menundukkan kepalanya. Dia mungkin tidak bisa menerimanya secepat itu. Namun, terus berdiam diri berarti tidak akan pernah bisa melangkah kedepan.

“Itulah sebabnya aku ingin memberi kalian apa yang telah diberikan oleh Liscia dan yang lain berikan kepadaku. Jika kalian bisa mencintai negara ini dan menjadi warganya, maka negara ini akan menerima kalian.”

“Lebih tepatnya…. dengan cara bagaimana dia akan menerima kami?”

Mata Jirukoma menjadi lebih intens dari pada sebelumnya. Seolah-olah dia sedang memastikan niatku yang sebenarnya.

“Saya sadar bahwa sangat tidak sopan bagi saya untuk menanyakan hal ini, bahkan saat anda mengatakan kepada kami bahwa ‘dia akan menerima kami’. Namun, kami telah mendengar dan melihat kenyataan kejam sebelum sampai ke tanah ini, apa arti dari ‘menerima pengungsi’. Sebuah negara yang mempekerjakan kami di tempat kerja yang keras seperti pertambangan sebagai buruh murahan. Sebuah negara yang memaksa kami untuk berada di garis depan sebagai prajurit anti-Wilayah Raja Iblis. Kami telah menerima perlakuan seperti itu berulang kali.”

“Ya, itulah yang terjadi…. tapi aku hanya bisa menganggap hal itu sebagai langkah yang bodoh.”

“Bodoh?”

“Ah, benar. Pertama, langkah bodoh yang pertama adalah mengirim para pengungsi ke garis depan. Pertahanan nasional adalah inti dari sebuah negara. Jika mereka menjadikan orang asing untuk menjalankan tugas itu maka pada akhirnya negara itu pasti akan menghadapi krisis nasional yang sangat buruk.”

Ada banyak contoh bahkan didalam sejarah Bumi. Contohnya, Kekaisaran Romawi Barat. Untuk mengatasi serangan orang-orang Völkerwanderung Jerman, mereka mengundang orang-orang Jerman untuk bermigrasi secara damai sebagai tentara bayaran dari Jerman, yang kemudian akan menjadi pasukan utama di angkatan perang mereka. Akibatnya, itu membawa Jermanisasi di pasukan dan pemimpin tentara bayaran dari Jerman, Odoacer, menggulingkan negara itu. Kemudian, pada masa dinasti tang di China, Ang Lu Shan, yang merupakan keturunan campuran dari Sogdian dan Göktürk, di berikan kewenangan tertinggi dan karena hal itu, dia memulai pemberontakan, yang memperpendek umur dinasti itu.

“Selanjutnya memperlakukan pengungsi seperti budak juga merupakan langkah yang bodoh. Hal ini hanya akan menumpuk rasa permusuhan diantara para pengungsi. Apa yang akan mereka lakukan jika para pengungsi yang dipenuhi dendam itu merencanakan sebuah pemberontakan atau teror? Bukankah mereka hanya menumbuhkan benih malapetaka untuk negara mereka sendiri?”

“Lalu….. Bagaimana dengan kebijakan milik Kekaisaran Grand Chaos?”

Jirukoma segera menatap lurus kemataku sambil menanyakan hal itu. Jadi aku menggaruk kepalaku.

“…… itu adalah kebijakan yang sangat ke-maria-dono-an.”

Sejumlah besar pengungsi juga memasuki Kekaisaran. Kebijakan yang di jalankan oleh Kekaisaran adalah menawarkan wilayah yang belum di kembangkan di dalam Kekaisaran kepada para pengungsi, wilayah yang dikembangkan oleh para pengungsi itu kemudian akan di akui sebagai tempat tinggal khusus sementara milik mereka. Dengan kata lain, membangun desa pengungsi, kemudian membiarkan mereka mengurusnya sendiri. Jika mereka mampu menjadi mandiri maka itu tidak akan melukai kantong milik Kekaisaran dan jika para pengungsi itu pulang ke utara di masa depan, maka mereka akan meninggalkan tanah yang saat ini sudah dikembangkan. Dengan begitu Kekaisaran tidak akan kehilangan apapun.

…… Yah, mungkin itulah yang telah dikatakan Maria-dono untuk membujuk orang-orang di sekitarnya. Seperti yang diharapkan dari seseorang yang dipanggil sebagai Gadis Suci, dia adalah wanita yang baik hati. Di hatinya, mungkin dia merasa kasihan kepada para pengungsi. Untuk membuat mereka menjadi mandiri tanpa menghilangkan rasa cinta mereka terhadap kampung halaman, mereka dapat tinggal di Kekaisaran. Mungkin jika mereka tidak kembali ke kampung halaman mereka, tidak hanya mereka akan memiliki tanah didalam Kekaisaran tapi mereka juga secara alami akan di anggap sebagai warga Kekaisaran, atau mungkin itulah yang dia pikirkan.

Apa yang kulakukan sekarang benar-benar berkebalikan dengan hal itu, memaksa para pengungsi untuk membuang rasa cinta terhadap kampung halaman mereka dan menjadikan diri mereka sebagai warga negara yang bertentangan dengan keinginan mereka. Namun,

“Aku minta maaf, tapi….. Kerajaan tidak dapat melakukan kebijakan yang sama.”

“Kenapa?”

“Itu berbahaya.”

Membuat para pengungsi mengembangkan sebuah tanah yang belum di kembangkan dan mencapai kemandirian, memang benar hal itu tidak akan melukai kantong milik Kekaisaran. Selama kekuatan Kekaisaran tidak goyah, maka para pengungsi akan patuh kepada Kekaisaran dan juga merasa sangat berterima kasih kepada mereka. Jika keadaan itu terus berlanjut selama ratusan tahun maka mereka juga dapat dipastikan akan bersatu sebagai warga Kekaisaran…. Namun, kita tidak pernah bisa memprediksi gelombang dan perubahan waktu. Kekuatan yang kita miliki hari ini, mungkin akan hilang besok, itulah dunia para manusia. Misalkan, jika kekuatan Kekaisaran melemah lalu apa yang akan dilakukan oleh para pengungsi?

“Itu adalah tanah yang telah mereka kembangkan dengan keringat dan darah mereka, lalu bukankah mereka akan menganggap tanah itu sebagai milik mereka? Jika itu masih merupakan generasi yang terus berharap untuk kembali ke kampung halaman mereka, maka tidak akan ada masalah. Dari pada tanah yang telah mereka kembangkan, keterikatan perasaan terhadap kampung halaman mereka masih lebih kuat. Namun, bagaimana dengan generasi selanjutnya? Apakah orang yang terlahir di tanah itu, sebuah generasi yang tidak pernah hidup di kampung halaman nenek moyang mereka, akan menerima kenyataan bahwa tanah yang telah di kembangkan dengan keringat dan darah oleh nenek moyang mereka adalah sesuatu yang telah disewakan Kekaisaran kepada mereka? Bukankah mereka malah akan percaya bahwa itu adalah tanah milik mereka?”

Dalam sejarah Bumi, ada sebuah contoh dalam kasus orang-orang Serbia. Saat Kekaisaran Ottoman menaklukkan Kerajaan Serbia, sejumlah besar warga Serbia melarikan diri ke Kekaisaran Habsburg (Monarki Ganda Austria-Hongaria)[3]. Kekaisaran Habsburg menerima warga Serbia dengan positif dan membuat mereka mengembangkan tanah perbatasan di dekat Kekaisaran Ottoman, yang mengubah mereka menjadi Grenzer atau militer perbatasan (sebagian petani, sebagian lagi prajurit) yang melindungi Cordon Sanitaire[4]. Warga Serbia terus mengembangkan wilayah perbatasan itu sambil bertempur dengan Kekaisaran Ottoman. Lingkungan yang kasar itu melahirkan kesadaran otonomi yang kuat diantara warga Serbia, yang menjadi sebuah lahan subur untuk tumbuhnya rasa nasionalisme.

Akhirnya muncullah ideologi nasionalisme, “Serbia yang Disempurnakan”, yang memulai Insiden Sarajevo, pemicu Perang Dunia Pertama, dan hasilnya, mengarah pada pengeluaran Kekaisaran Habsburg. Selanjutnya, karena kebijakan nasionalis milik Serbia yang menekankan nasionalisme milik orang-orang Serbia, hal itu memicu rasa nasionalisme milik etnis lain, terutama nasionalisme milik orang-orang Croatia, dan terjadilah konflik yang dipenuhi kekejaman yang mengerikan (Perang Saudara Yugoslavia).

Para pengungsi itu mungkin terdiri dari berbagai ras, tapi melalui kegembiraan dan kesedihan, sebuah semangat persaudaraan akan lahir. Semangat persaudaraan inilah yang membedakan para pengungsi dengan orang lain, sesuatu yang memiliki aspek yang sama dengan nasionalisme. Kekaisaran Grand Chaos telah membawa batu bara yang dapat memicu api besar kedalam sarang mereka sendiri. Jirukoma mengerutkan dahinya.

“Apakah Yang Mulia berpikir bahwa kebijakan milik Kekaisaran adalah sebuah kesalahan?”

“Tidak…….. bukan itu maksudku. Itu adalah cara berpikir yang berbeda. Hanya saja Maria-dono memilih kebijakan itu dengan meyakini hasil yang terbaik, sementara aku tidak memilih kebijakan itu karena takut dengan hasil yang terburuk. Hanya itu.”

Aku ingat ketika aku mengomentari Deklarasi Kemanusiaan, Kekaisaran cenderung memilih sesuatu yang mempunyai resiko tinggi untuk mendapatkan hasil terbaik. Dibandingkan dengan Kerajaan kami, sari pada hasil, kami memilih kebijakan yang lebih mementingkan pengendalian resiko. Diantara kedua hal itu tidak ada yang lebih unggul satu sama lain. Ini adalah sesuatu yang hanya bisa diketahui di masa depan, apakah pilihan ini sesuai dengan masa sekarang atau tidak.

“Kemudian Yang Mulia, lalu bagaimana anda akan memperlakukan kami? Menyerah untuk kembali ke kampung halaman dan menjadi warga negara ini, jika tidak tinggalkan negara ini, tidak akan membiarkan kami mengembangkan sebuah wilayah, dan juga tidak akan menjadikan kami seorang budak atau prajurit…. Lalu, apa sebenarnya yang anda ingin kami lakukan?”

Jirukoma membesarkan suaranya untuk pertama kalinya. Bahkan Komayin gemetar oleh sikap mengancamnya. Untuk beberapa saat, aku bertukar pandangan dengan Jirukoma. Dan kemudian,

“…….. Owen.”

“Ya Yang Mulia.”

“Seperti yang kamu tahu.”

“Sesuai keinginan anda.”

Aku memerintahkan Owen untuk mengambilkan sebuah silinder panjang. Benda itu memiliki diameter dua kali lebih besar dari silinder kelulusan dan lima kali lebih panjang. Terdapat kertas berukuran besar yang tergulung didalam silinder itu. Aku kemudian membentangkan kertas itu di depan mata semua orang. Jirukoma dan yang lain membuka mata mereka lebar-lebar saat mereka melihat apa yang tergambar di kertas itu.

“Ini…. Sebuah kota?”

“Ya. Ini adalah kota pelabuhan baru yang akan segera selesai. Namanya adalah [Venetinova]”

Apa yang kutunjukkan adalah sebuah cetak biru dari kota baru [Venetinova] yang telah kudirikan sebagai landasan transportasi dan perdagangan untuk mempercepat pendistribusian barang.

“Saat aku tiba di negara ini, aku memulai pembangunan kota baru ini bersamaan dengan pengembangan jalur transportasi dan baru-baru ini tempat itu sudah sampai pada tahap siap ditinggali. Meskipun aku harus mengatakan bahwa distrik pemukiman dan distrik perdagangan masih dalam tahap pembangunan dan hanya pelabuhan dagang yang telah selesai dibangun. Di masa depan, aku berencana untuk memperbanyak berbagai fasilitas dan mengembangkan kota itu untuk menjadi sebuah garis depan kebudayaan. Lalu, tak lama lagi, aku akan membuka pendaftaran untuk menjadi penduduk di kota itu…..”

Aku menjelaskan hal itu sambil menatap wajah Jirukoma dan yang lain.

“Jadi anda berencana menjadikan kami, para pengungsi, sebagai penduduk kota itu.”

“!!”

Jirukoma dan yang lain menelan ludah saat mereka mendengar pernyataanku.

“Jika kalian menyerah untuk kembali ke kampung halaman kalian dan menjadi warga negara ini, maka aku akan memberikan tempat tinggal untuk kalian. Disana akan ada banyak pekerjaan. Kalian mungkin bisa menjadi seorang pekerja harian atau bahkan seorang pemilik toko. Aku juga akan terus memberikan bantuan untuk sementara waktu. Sama seperti Suku Mystic Wolf yang membuka pabrik sake di Parnam. Saat kalian menjadi warga negara ini, selama kalian bekerja dengan jujur, maka kalian tidak akan merasa kelaparan atau hawa dingin. Syarat untuk memberikan situasi seperti itu, ada di tempat ini.”

“Ini….”

Ekspresi Jirukoma dan yang lain mulai goyah… Bahkan bagi diriku, aku bertanya-tanya bagaimana Jirukoma dan yang lain memandangku saat ini. Seorang penyelamat yang mengulurkan tangannya pada masa kesulitan…. Atau, seorang iblis yang menipu merek menggunakan perkataan yang manis dan menggoda. Lalu Jirukoma dan Komayin berbicara disaat hampir bersamaan.

“Apakah hal semenakjubkan itu benar-benar ada!?” “Itu sungguh hal yang mengerikan!”

Jirukoma dan Komayin saling menatap satu sama lain. Meskipun perkataan mereka saling tumpang tindih, kedua orang itu terkejut melihat masing-masing dari mereka memiliki penilaian yang benar-benar berbeda terhadap rencanaku.

“Apa yang kamu katakan kakak! Ini sudah pasti adalah perbuatan [memberikan perlakuan baik agar seekor anjing mengibaskan ekornya]!”

“Komayin, bisa dikatakan Yang Mulia sedang memberikan pijakan mata pencaharian untuk kita. Kita tidak perlu bekerja keras untuk mengolah tanah seperti di Kekaisaran Grand Chaos.”

“Itulah sebabnya, apakah kamu mau menyerah untuk kembali ke kampung halaman kita!? Apakah kakak tidak merasakan sedikitpun penyesalan!?”

“Apa yang harus kita lakukan adalah membuang penyesalan itu dan kita akan dapat hidup tanpa rasa takut akan kelaparan dan hawa dingin. Itulah apa yang telah dikatakan Yang Mulai kepada kita.”

Jadi pendapat kedua saudara ini terbagi menjadi dua… Yah, hal seperti itu sering terjadi.

“Aku bisa memahami kenapa pendapat kalian berbeda. Aku secara pribadi berpikir bahwa proposal ini menakjubkan di satu sisi dan cukup kejam di sisi lain. Bahkan saat melihat objek yang sama, orang tidak harus memiliki kesan yang sama. Apakah mereka merasakan keberuntungan atau kemalangan, hal itu tergantung dari cara pandang mereka.”

“”………..””

Aku menghela nafas dan kemudian meletakkan tanganku di atas peta itu.

“Ini adalah hal terbaik yang bisa kulakukan saat ini. Aku tidak meminta kalian untuk menerima uluran tangan yang kulakukan. Masa depan adalah sesuatu yang tergantung pada keputusan kalian.”

Ketika aku membuat pernyataan itu, Jirukoma mengerang dengan pahit.

“……. Diantara perkumpulan ini, ada orang-orang yang terlalu terpaku pada kembali ke kampung halaman mereka.”

“Apakah mereka…. seperti imouto-san ini?”

“Itu tidak benar! Komayin itu, memiliki pemikiran yang lembut! Barusan, dia hanya memikirkan tentang orang-orang yang tinggal di pemukiman ini, orang yang tidak bisa menyerah terhadap keterikatan mereka terhadap kampung halaman, dan berbicara demi kepentingan mereka!”

“K-Kakak!”

“Dan kupikir maksudnya juga seperti itu. Barusan dia menyebut bahwa ‘itu mengerikan’, aku paham bahwa kamu mengatakan hal itu hanya karena mempertimbangkan perasaan orang-orang yang tinggal disini. Kamu benar-benar….. memahami kesedihan orang lain.”

“Kugh…….”

Komayin terdiam. Apakah aku mengenai sesuatu di kepalanya? Kemudian Jirukoma memperbaiki posisi duduknya dan kemudian membungkuk rendah ke arah kami.

“Kami benar-benar berhutang budi atas ‘kebaikan hati’ Yang Mulia. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa saya putuskan sendirian, jadi saya ingin mendiskusikan hal ini terlebih dahulu setelah mengumpulkan orang yang ada di perkumpulan ini.”

“……… Bahkan setelah aku berkata bahwa aku datang untung mendesak keputusan kalian?”

“Saya paham. Namun, agar tangan yang telah diulurkan oleh Yang Mulia dapat mencapai orang sebanyak mungkin, saya ingin membujuk mereka. Bahkan jika… para pengungsi harus terbagi dua.”

“…………”

Para pengungsi terbagi dua. Dengan kata lain, mengeluarkan orang yang tidak setuju……, benar…… jadi, ini sudah sampai pada titik itu. Bahkan jika aku terburu-buru, hasilnya tidak akan berubah. Namun,

“Tidak ada banyak waktu yang tersisa. Bahkan jika kami dapat menunda pendaftaran warga, kami tidak bisa menunda ‘musim’.”

Musim dingin akan segera datang. Jika mereka tidak bersiap untuk hal itu, mungkin akan ada orang yang mati membeku. Orang dengan daya tahan yang lemah, anak-anak dan orang tua, akan menjadi orang mati pertama kali. Jika bisa, aku ingin agar pemindahan para pengungsi bisa selesai sebelum musim dingin datang, oleh karena itu aku berharap agar mereka memutuskan untuk mengambil tangan yang ku ulurkan ini. Jirukoma kembali membungkuk rendah.

“Baik Yang Mulia! Saya juga sadar akan hal itu.”

“……… Baguslah kalau begitu.”

Masa depan sudah bergantung pada diri mereka, Keputusan seperti apa yang akan mereka ambil, aku juga akan menanggapinya dengan sikap yang sesuai. Jika bisa aku ingin tetap menjadi seorang ‘raja yang lembut’….

Negosiasi hari ini telah mencapai akhir, lalu pada saat itu…..

“Aku dengar Hilde ada di tempat ini.”

Seorang pria yang mengenakan jubah putih, masuk kedalam tenda dengan tidak sopan. Umurnya berada sekitar pertengahan dua puluhan. Seorang manusia laki-laki dengan tatapan mata yang tajam. Ciri khusus yang dia miliki adalah rambutnya. Meskipun dia masih muda, rambutnya benar-benar berwarna putih. Pria yang masuk tanpa mengucapkan salam itu membuat Carla dan Owen memegang gagang pedang mereka, tapi pria itu bahkan tidak merasa ketakutan sedikitpun dan dengan kasar berjalan ke arah Hilde. Hilde juga berdiri dan kemudian melotot ke arah pria yang ada tepat didepannya.

“Brad! Beraninya kau menyerahkan pengajaran itu kepadaku!”

Pria berambut putih ini bernama Brad Joker. Sama seperti Hilde, dia adalah orang yang menopang reformasi medis di negara ini, seorang ‘Physician’ lainnya. Brad tidak memperdulikan keluhan Hilde dan kemudian memegang lengannya dengan tiba-tiba.

“A-Apa yang kau lakukan!?”

“Aku akan mendengarkan keluhanmu nanti. Maaf, tapi aku memerlukan bantuan.”

“……….. Apakah terjadi sesuatu?”

Menduga bahwa ada sesuatu yang telah terjadi, wajah Hilde berubah menjadi serius dan bertanya kepada Brad dengan tenang.

“Ini adalah keadaan darurat.”


Catatan Penerjemah

[1] Drama sejarah di Jepang

[2] Sebuah syair dari Murou Saisei (室生 犀星, 1 Agustus 1889 – 26 Maret 1962), dia adalah seorang penyair dan novelis terkenal dalam literatur modern Jepang.

[3] Disebut juga Migrasi Besar warga Serbia

[4] Wilayah yang saat ini menjadi Vojvodina, Slovenia dan Hongaria. Sampai abad ke-18 masih ada banyak orang Serbia yang tinggal di Hongaria sampai terbentuknya perjanjian Trianon

← PREV | Table of ContentsNEXT →


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

21 Comments Add yours

  1. poncho says:

    Wew ada apakah? Brad= anak nakal

    Like

  2. rockr says:

    entah kenapa membaca statment ini saya jdi ketawa,,..

    “Lalu….. Bagaimana dengan kebijakan milik Kekaisaran Grand Chaos?”

    Jirukoma segera menatap lurus kemataku sambil menanyakan hal itu. Jadi aku menggaruk kepalaku.

    “…… itu adalah kebijakan yang sangat ke-maria-dono-an.”

    pffttt……

    btw, thks admin yg udah translet..

    Like

  3. Nice, UPADATE LAGI Dong MINEEEE jd Ketagihan baca nieee

    Like

  4. Zen Quarta says:

    Kenapa kalian pada ngira saya bisa b alien? :v
    Saya cuma di kasih versi english yg blm di edit oleh Yukkuri-san, jadi silahkan berterima kasih kepadanya xD (btw, dia orang indonesia jadi kalian bisa ucapin terima kasih pake b indonesia)

    Like

    1. LOLMAN says:

      Ty for chapter
      Masih lanjut g ?

      Like

  5. dickyvedra says:

    makasih Zen-sama :3
    Rela nge TL bahasa alien Demi pembaca :3

    Like

  6. Lotus says:

    eh? jadi ini LN bahkan englishnya aja Belum muncul?! kupikir zen yang pengen fokus sama LN satunya.

    ane terharu kalau zen sampai belajar bahasa alien buat nerjemahin LN. Sasuga.

    Like

  7. Rzat says:

    Yang Ditunggu……. 😀

    Like

  8. Wiwin Ariana says:

    sankyu min,,dtungu klanjutanya

    Like

  9. tonski says:

    seperti biasa banyak pelajaran baru tiap kali baca diskusi nya souma 🙂 sankyu min ..ditunggu next chap. nya …

    Like

  10. BlueSky says:

    Zen-sama Banzai…..!!!

    Like

  11. geh….englishnya aja belum update, sasuga zen-sama, belajar bahasa alien demi pembaca 😘

    Like

    1. Ilham says:

      Sepertinya udah dapet materi dari yukkuri gan, soalnya di sono bilang 1F udah kelar tanggal 2, 1G tanggal 4. Cuman mungkin belum diupdate aja yang yukkuri.

      Like

  12. Ilham says:

    Lah ini udah update aja, yang versi inggrisnya aja belum. Udah duluan dapet materinya ya?

    Like

  13. kadalwibuspot says:

    Mendadak jadi monoton di chap 4, baca 1 bagian aja bikin mata ngantuk sekarang.

    Harapan untuk diadaptasi jadi anime semakin kecil

    Like

    1. Dika says:

      memang ga usah berharap bener di adaptasi jadi anime, bakal bahaya, studio yang ngeadaptasi bakal asal asalan, ngebuat kecewa fans yang udah baca novelnya, mendingan gausahlah di animasiin, sekarang lagi banyak anime yang isinya tentang dunia lain dan hancur di tangan studio yang ga piawai ngedesain ceritanya, ketimbang ngedenger kritikan pedas bertubi tubi dari para penonton yang ngebuat hati yang tadinya nungguin rilisan chapter novelnya jadi ogah buat pengen lanjut baca lagi, kan nyebelin.

      Like

      1. Fayori Akbar says:

        kalau dibuat jadi anime musiman bakal susah juga.. maunya kita sih seakurat mungkin seperti “Topi Jerami (OP)”..
        harapan q sih saat menceritakan tentang sejarah dibumi bakal ada flash back ke sejarah tersebut atau saat menceritakan kejadian yang akan datang seperti kake pendongeng yang dibuatin patung bakal ada cerita sendiri di akhir lagu, .. ya semacam itu lah..

        Like

  14. Duta Lantang M says:

    Uwaww

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s