I Kinda Came to Another World, but Where’s the Way Home? Chapter 35

Arc 3
Chapter 35 – Mata Crimson, Merah, dan Bersinar

Penerjemah : Nightcrow
Editor : –
Sumber English : AbsurtTL

Setelah kami tiba di guild, karena kami sudah menerima hadiah quest kami maka kami segera kembali ke penginapan seperti biasa.

Setelah membagi hadiah menjadi dua untukku dan Rishe-chan, kami kembali ke kamar masing-masing.

Omong-omong, aku sudah tidak peduli pada Leila-chan, karena dia menyebut Finia-chan adalah serangga, tetapi terlalu mengkhawatirkan hal itu tidak bagus untuk kesehatan. Jika dia ingin memanggil Finia-chan dengan namanya, kami bisa berdamai kembali.

Lalu, sekarang sudah malam. Sebentar lagi saatnya sebagian orang mulai tidur.

Berbaring di kasur, memandang Finia-chan dan Lulu-chan yang sedang mengobrol, aku mulai berpikir apa yang telah terjadi dan apa yang harus dilakukan mulai sekarang.

Berpikir tentang apa yang akan kami lakukan, jujur, jika Leila-chan memang dari Kerajaan besar, aku akan senang jika dia menuntun kami kesana, tapi… setelah melakukan hal itu, aku tidak ingin memintanya.

Meski begitu, tetap ada Finia-chan dan Rishe-chan, jadi tidak seperti aku ingin bersamanya atau apa.

“Kitsune-sama…” (Lulu)

“Hmm, ada apa dengan Lulu-chan?” (Kitsune)

“Begini, Lulu-chan bilang persendiannya sakit… apa dia baik-baik saja?” (Finia)

“Eh?” (Kitsune)

Itu mendadak, tapi keadaan Lulu-chan memang agak aneh. Dengan ekspresi sedih, dia duduk di lantai sambil memeluk tubuhnya. Sepertinya sulit baginya untuk bicara… mungkinkah itu penyakit?

Bagaimanapun, aku tidak bisa membiarkannya terbaring di lantai seperti itu. Aku mengangkatnya dengan kedua tanganku, dan meletakkannya di kasur. Dia terlihat sangat kesakitan, tapi sekarang hampir semua toko sudah tutup… begitu juga dokter. Berbeda dengan duniaku, tidak ada toko yang buka 24 jam seperti toko serba ada, dunia sialan ini berbeda.

Untuk sekarang kami tidak punya pilihan selain membiarkannya dia berbaring di kasur, sial. Sakit rasanya melihat Lulu-chan sedih, tapi aku tidak bisa membantunya.

“Ugg… h…!!” (Lulu)

Suaranya saat dia merasa sakit itu sangat menyakitkan, dia terlihat sangat sedih, tapi saat dia benar-benar tidak tahan lagi, ayo kita coba sihir pemulihan Finia-chan.

“Lulu-chan… maaf tapi untuk sekarang, aku hanya bisa membiarkanmu tidur disini” (Kitsune)

“Uu.. iya…..!” (Lulu)

Sambil mengelus kepalanya, aku dengan lembut menutupinya dengan selimut. Bahkan jika aku ingin merawatnya, aku tidak memiliki pengalaman merawat atau dirawat seseorang. Orang seperti ibuku, bahkan saat aku sakit dia akan meninggalkanku sendiri.

Karena itu aku tidak tahu cara merawat Lulu-chan. Mungkin aku bisa meminta tolong Rishe-chan, tapi dia tidurnya nyenyak jadi mungkin dia sudah tidur, juga sulit meminta pada Ayla-san yang sedang sibuk merapikan aula. Kuyakin itu sakit, tapi sekarang aku hanya bisa memintanya untuk bertahan.

“Kitsune-san, apa Lulu-chan baik-baik saja?” (Finia)

“…Aku tidak tahu, ayo bawa dia ke dokter besok. Kuharap itu bukan penyakit yang serius…” (Kitsune)

Finia-chan juga cemas melihat Lulu-chan. Lalu, menatap Lulu-chan yang terbaring dengan ekspresi kesakitan, dia meletakkan tangannya yang mungil di pipi Lulu-chan. Lalu dia menyentuh wajahnya dengan bibirnya. Entah bagaimana, ekspresi Lulu-chan terlihat melunak.

Mungkin sedikit, tapi jika kesedihannya berkurang dengan bersama Finia-chan, kuingin Finia-chan tetap bersamanya.

“Finia-chan, untuk sekarang tidurlah bersamanya seperti itu” (Kitsune)

“Ya… aku mengerti” (Finia)

Finia-chan mengangguk dan menutup dirinya dengan selimut yang sama dengan Lulu-chan. Ayo tidur di kursi. Karena jika aku tidur di kasur maka akan sempit sekali. Tidur di kursi sudah menjadi kebiasaanku. Di duniaku, tempatku tidur hanyalah sebaris beberapa kursi dengan zabuton* diatasnya.

TL Note: *Bantal khas Jepang.

“Hmm…?” (Kitsune)

Saat aku mengatur tiga kursi dalam kamar dan mencoba berbaring… mendadak aku merasa tidak nyaman.

Perasaan tidak enak, mungkin lebih tepatnya firasat buruk, aku merasakan mahluk yang membuatku kesemutan.

Entah bagaimana, rasanya bukan mahluk yang baik, setelah menari dengan magical beast dan bahaya lainnya, aku bisa merasakannya mirip seperti itu, kan?

“…” (???)

Mahluk itu, datang dari sisi lain pintu…. Dari sebuah ruang yang baru dipisahkan oleh pintu…. Aku merasakan bau berbahaya darinya.

“…” (???)

Aku tidak ingin membangunkan Finia-chan atau Lulu-chan. Tapi sepertinya dia tidak akan hilang dalam sekejap, sial… itu tidak membantu.

Menyiapkan diriku, aku mendekati pintu. Lalu, aku perlahan membuka pintu.

“…!” (???)

Tapi tidak ada orang disana. Tanpa kusadari, mahluk berbahaya juga sudah hilang.

Saat aku menundukkan kepala dan berniat menutup pintu… aku melihat sesuatu. Ada amplop yang dijatuhkan di depan pintu. Ketika aku mengambilnya, sepertinya nama pengirimnya tertulis di bagian kanan bawah surat itu. Aku tidak bisa membacanya.

Menutup pintu, aku membuka amplopnya. Ada surat didalamnya, dan ada yang tertulis disana. Aku tidak bisa membacanya.

Karena aku tidak bisa membacanya, apa tujuan yang tertulis disana, aku tidak mengerti semua itu, tapi ada sesuatu yang bisa kubaca saat itu. Bahkan jika aku bilang, satu-satunya kata yang bisa kubaca adalah, ‘guild petualang’, kata itu saja. Karena itu karakter yang sama dengan yang ada di papan nama.

Jadi artinya, pengirim surat ini adalah… Leila-chan? Karena Rishe-chan sama sekali tidak melakukan hal seperti ini, dan orang yang berhubungan dengan guild yang kukenal adalah Mia-chan, gadis resepsionis berambut biru, Grim-san, dan juga orang yang menggoda Mia-chan. Dari mereka, tidak ada yang punya alasan untuk mengirimiku surat.

Untuk memulainya, daripada menggunakan cara membosankan seperti meninggalkan surat, dia bisa mengetuk pintu, bahkan jika tidak demikian, pada saat ini, aku tidak berpikir bahwa Ayla-san yang mengirimnya.

“…mungkin itu seperti ‘datang’ atau semacamnya, kan? Menuju guild” (Kitsune)

Pada saat ini, guild sudah tutup. Satu-satunya tempat yang buka 24 jam adalh tempat latihan. Oleh karena itu, undangan ini untuk kesana.

Nah, itulah dugaanku, tapi mungkin ini adalah surat permintaan maaf, tapi kesana untuk memastikannya, tidak masalah, kan?

“…Finia-chan” (Kitsune)

“Hmm?… Ada apa Kitsune-san?” (Finia)

“Tolong jaga Lulu-chan. Jika bisa, kuingin kau tidak tidur malam ini” (Kitsune)

“Tidak masalah, tapi… apa kau akan pergi ke suatu tempat? Kalau begitu aku juga akan…” (Finia)

“Tidak, aku baik-baik saja… lihatlah, jika aku tidak kembali sampai langit cerah, pergilah ke guild” (Kitsune)

Mungkin, mungki ada sesuatu yang mungkin terjadi. Aku memang berniat untuk kembali, tapi aku tidak bisa mengabaikan kemungkinan seperti itu, kan?

Aku membelai rambut Finia-chan dengan lembut, dia menatapku dengan cemas, dengan telunjukku, aku melepas dan meninggalkan topeng rubah di samping bantal Lulu-chan. Jika hal itu mungkin terjadi, aku harusnya tidak menuju bahaya.

Aku punya pilihan untuk tidak kesana, tapi jika aku melakukannya, kurasa di lain waktu dia akan langsung ke penginapan ini. Mahluk berbahaya yang kurasakan di luar pintu sebelumnya, kurasa itu pasti bukan sesuatu seperti itu, kan?

“Kalau begitu, aku akan pergi sebentar. Aku akan meninggalkan Lulu-chan padamu, oke?” (Kitsune)

“…ya, kamu harus kembali, oke?” (Finia)

“Ahaha, kau sudah mengerti ketahananku, kan? Akulah yang pernah bertahan dari [Red Night] itu, tahu? Jadi aku pasti kembali” (Kitsune)

Bilang begitu, aku pun meninggalkan kamar.

Lalu, aku meninggalkan penginapan, saat aku berjalan di jalan, aku tidak bisa melihat sosok lain selain diriku. Di dunia yang tidak ada listrik ini, diluar sangatlah gelap bahkan membuatku takut. Kebanyakan hanya ada cahaya dari api yang biasa menyala di rumah orang. Karena itu, saat malam, diluar sangatlah redup.

Jalan yang sepi dan mengerikan bahkan membuatku penasaran dimana kegiatan yang biasanya di siang hari. Mungkin itu bisa mempengaruhi perasaanku sekarang, namun, seperti yang kupikir… hawa ini tidak menyenangkan.

“…kuharap tidak ada apa-apa” (Kitsune)

Karena aku tidak bisa membaca surat itu, jika tidak ada seorangpun di guild ketika aku sampai, itu bagus. Jika aku biarkan Finia-chan membaca surat itu, kuyakin dia akan ikut denganku, tapi harusnya aku tidak membiarkannya membahayakan dirinya.

“…aku sudah sampai” (Kitsune)

Lalu, setelah berjalan beberapa saat, akhirnya aku sampai di guild. Tidak ada keramaian biasanya dari petualang, hanya ada bangunan besar dengan suasana kuburan, lalu aku memasukinya.

Aku sedikit menyiapkan diriku dan bernapas sekuat mungkin. Tidak ada gunanya aku khawatir. Atau tepatnya, aku tidak punya bukti nyata tentang hal itu, jadi santai saja.

Sambil berpikir begitu, aku berjalan menuju area bawah tanah guild. Sambil berharap tidak ada orang disana, sambil berdoa agar tidak ada bahaya disana, aku terus melangkah.

Tapi, berbeda dengan keinginanku, aku tidak bisa menghilangkan perasaan tidak nyaman yang menekan dadaku. Perutku terasa sangat sakit seperti pusaran.

“…..” (Kitsune)

Lalu, ketika aku sampai di pintu masuk tempat latihan, mataku terfokus ke tengah. Di tempat itu, ada seorang gadis berambut hitam. Penampilannya berbeda dengan Leila-chan, tapi gadis berambut hitam yang memanggilku, tak lain adalah Leila-chan.

Aku mendekatinya sedikit, dan memanggilnya.

“Leila-chan…?” (Kitsune)

Ketika aku melakukannya, pundak gadis itu bergerak. Lalu… dia perlahan berbalik.

Rambut hitam panjang,

Mata berwarna kuning muda,

Senyum ramah,

Gadis itu menghadap ke arahku, dan tersenyum padaku. Tapi, sebaliknya mataku terbuka lebar. Itu karena, gadis itu adalah orang yang harusnya tidak disini. Berarti, dia bukan mahluk yang harusnya ada disini,

Lagipula, begitulah, tidak, kenapa, kenapa kau disini…!?

“Shi, ori-chan…?” (Kitsune)

“Hai, Kitsune-san!” (Shiori)

Gadis itu- Shinozaki Shiori, tersenyum seperti bunga matahari, dan menyapaku seperti yang dia selalu lakukan.

◊ ◊ ◊

Namaku Leila Vermilion, aku berasal dari Kerajaan Grandile, seorang petualang rank C. Itu bukanlah hal yang harus kukatakan sendiri, tapi aku kuat, sangat kuat. Apalagi aku manis. Setiap orang di sekitarku bilang begitu, manis, rambutku cantik, menakjubkan, semuanya akan memujiku hingga membuatku bosan mendengarnya lagi.

Tentu ada juga orang yang mencoba melakukan hal buruk padaku. Jangan sombong atau seperti itu kata mereka. Tapi orang seperti itu umumnya akan diam setelah aku mengacau sedikit. Karena itu adalah negara yang menjunjung kekuatan, hidupku cukup mudah.

Aku suka orang yang kuat, aku suka orang yang menarik, aku suka orang yang bisa memenuhi minat dan harapanku.

Itu juga bukanlah hal yang harus kukatakan sendiri, tapi aku jauh lebih rakus dari orang biasa. Entah nafsu makan ataupun tidur, aku ingin menguasai semua itu, bahkan hasrat seksualku, aku rakus dalam segala hal. Jika aku ingin sesuatu maka aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya, jika aku ingin melakukan sesuatu maka aku akan melakukannya meski ada yang keberatan denganku. Sombong, seseorang mengataiku seperti itu di Kerajaan Grandile, tapi memang benar, kupikir dunia ini hanya untuk menghiburku.

Lagipula, benarkan? Karena aku tidak bisa pergi jauh.

Itu sebabnya, aku melawan banyak orang kuat di Kerajaan Grandile. Bertarung dan terus bertarung, membunuh dan terus membunuh. Entah itu magical beast atau demon, aku dengan tegas membunuh mereka. Setelah melakukan itu beberapa lama, ada sesuatu yang terlintas di pikiranku, negara ini membosankan. Semuanya lemah, saat aku sedikit menakuti mereka akan segera menyerah. Itu membosankan, hibur aku lagi, kalian bisa melakukan itu, kan? Tunggu, lakukan lagi, katakan pujian yang tidak menarik, aku tidak membutuhkannya.

Itulah mengapa aku meninggalkan Kerajaan Grandile. Karena kudengar ada knight leader yang setara dengan petualang rank atas. Apalagi dari Grandile ke Miniera tidak sampai tiga hari dengan berjalan. Bahkan meski aku rank C, kecepatanku jauh diatasnya, jika aku pergi dengan kecepatan penuh aku bahkan bisa berlari dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat mata orang lemah.

Lalu, aku terus berlari sejak meninggalkan Kerajaan Grandile. Selama aku tahu arah yang harus kulalui, aku tidak akan tersesat. Bahkan jika aku tidak tahu arah, aku hanya perlu berlari lurus hingga tidak akan tersesat.

Dan sampai di hutan dekat Miniera, aku tersesat. Jujur, aku memiliki rahasia berbeda dari manusia lain. Pada siang hari aku bisa melakukannya tanpa masalaht, tapi pada malam hari akan ada transformasi mental padaku.

Keinginanku akan meningkat lagi, jika aku harus bilang, minat dan hasrat seksualku akan meningkat pesat. Ketika aku melepaskannya sekali maka aku bisa bertahan selama beberapa malam berikutnya, tapi saat dimana ketidakpuasan dan iritasiku menumpuk,

-keinginanku akan mengamuk.

Mengamuk dalam hutan, aku membunuh magical beast yang kutemui dan memakannya mentah-mentah. Itulah nafsu makanku saat mengamuk. Lalu, saat aku makan, akan ada kesenangan bahkan membuat tubuhku gemetar.

Rasa makanan saat masuk tenggorokanku, sensasi menggigit daging dan menghancurkan tulangnya akan membuat kesenangan pada tubuhku.

Lalu, dalam perjalanan, aku bertemu dengannya.

-seorang pria yang memakai topeng rubah, dan bersama peri (serangga)

Mereka tidak melihatku. Aku berada dibelakang mereka, dan mungkin mereka petarung amatir. Berpikir begitu, kesadaranku pun sedikit kembali.

Saat itu, aku menyerangnya karena nafsuku yang mengamuk. Karena daging manusia, jauh lebih enak daripada magical beast, jadi aku tidak punya alasan untuk tidak menyerangnya.

Daging serangga langka dan hambar sehingga secara naluriah aku mengalahkannya dahulu, lalu menyerang lelaki itu. Saat melihatku dia takut dan lari. Itu reaksi alami. Tapi karena sudah ada mangsa didepanku jadi aku tidak bisa membiarkannya pergi, kan? Jadi aku mengejarnya. Dengan begitu, tiba-tiba ekspresi takutnya menghilang. Lalu dia memberi ancaman padaku saat aku mengamuk. Lalu pada saat itu, aku sedikit sadar kembali.

Menarik, begitu pikirku. Aku tertarik padanya.

Itu sebabnya, dengan kesadaranku, aku memojokkannya. Aku tidak akan membunuhnya dengan cepat, sambil berharap dia melakukan sesuatu lagi, aku terus memojokkannya.

Lalu, secara mengejutkan, dia mencederaiku saat mode rampage-ku, bahkan meski sedikit. Kebetulan, itu hanyalah kebetulan tapi pisaunya memang menyerempet lengan atasku. Sedikit saja, darahku keluar. Jantungku berdegup kencang…!

-aku sangat senang!!

Tanpa kusadari, aku menendangnya tanpa menahan diri. Membuat tubuhku panas hingga darahku mendidih, hasratku meningkat sampai aku tidak tahan lagi! Ada sesuatu yang membuatku tertekan, perutku berdegup kencang.

Tubuhku yang panas membuat napasku panas, tubuhku berdenyut-denyut sampai aku tidak bisa berdiri tegak. Mulutku tersenyum secara alami, membuka perlahan, air liur menetes dari mulutku.

Aku sadar wajahku begitu merah bahkan aku bisa menghirup api, duniaku jadi merah.

Aah… tidak bagus, ini buruk…… aku mungkin putus asa…

-sebuah perasaan yang sangat bagus… senang sekali…!

Dia yang kutendang, terjatuh. Dengan sedikit kesadarannya, dia menatapku. Dia menatapku. Dengan itu ada sesuatu yang melintas di ssekujur tubuhku. Kesenangan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya menyerangku.

Seluruh tubuhku sangat senang! Darahku mendidih! Tapi itu terasa nyaman…! aku tidak tahan lagi…!

*Whuss*, dia jatuh ke tanah dengan suara seperti itu. Melihatnya tidak bergerak, kupikir dia sudah mati, tapi dia masih hidup. Tidak mati bahkan setelah jatuh dari ketinggian seperti itu, dia memang melampaui harapanku. Pada saat itu kupikir itulah cinta. Kupikir aku jatuh cinta padanya.

Aku mendekatinya, menatap wajahnya. Tanpa kuduga wajahnya manis. Hal itu sesuai keinginanku, meski bukan itu masalahnya, pada saat itu aku melihat wajahnya yang sangat tampan. Lalu, tidak hanya jatuh cinta… kupikir aku ingin memakannya. Ini adalah cinta, perasaan seperti itu, alasan aku memakanmu, karena aku mencintaimu, tahu?

“Mata yang indah…! Aku suka itu, aku menyukainya, aku sangat menyukainya, aku sangat mencintainya, itu sebabnya berikan padaku. Mata indahmu itu, berikan padaku. Tidak masalah, kan? Karena aku sangat mencintainya. Jadi tidak masalah kan? Aha” (Leila)

Pada saat aku bilang begitu, kuyakin kesadaranku telah normal. Tapi itu tidak sesuai, meski aku tidak lagi mengamuk, aku tidak bisa menahan diriku.

Sambil menarik napas panas, aku mengerahkan tanganku ke matanya, lalu menusuknya dengan jariku. Sensasi lembut dan panas menyebar dari jariku. Bola matanya langsung hancur.

Darah mulai keluar, dan muncrat di wajahku. Tapi aku tidak menganggapnya sebagai noda, aku bisa merasakan jiwamu, tubuhku terbungkus oleh kenikmatan yang luar biasa lagi.

Tubuhnya bergerak sedikit, dia bereaksi. Tanpa kuduga, dia belum mati bahkan pada keadaan itu, sangat mengejutkan.

Lalu aku menarik matanya… lalu dengan hati-hati kucicipi. Meremukkannya, rasanya seperti permen masuk dari lidah ke perutku. Lalu, kenikmatan yang jauh lebih kuat menyebar ke tubuhku.

“Hmmmmmm…!!” (Leila)

Memeluk tubuhku sendiri, aku sangat menikmatinya. Tidak buruk, aku sadar wajahku miring, kuyakin aku membuat ekspresi jorok. Liurku menetes, menetes ke matanya yang telah kehilangan bola mata. Dengan itu, kesenangan muncul di tubuhku.

Apalagi bola matanya berdenyut saat bergulung di lidahku. Aku ingin lebih, lebih, lebih banyak!

“Hehehe… aha, ahaha, ahahahaha…!!” (Leila)

Tidak berguna, jika aku memakanmu lagi, aku menjadi tidak berdaya. Aku akan jadi korban kesenangan. Karena hanya bola matanya yang sudah enak ini, lagipula, dia lemah, bahkan tidak lebih kuat dari orang normal. Manusia terlemah. Bila kau lebih kuat, aku akan datang dan memakanmu lagi.

Kehilangan kekuatanku, aku tidak bisa berjalan dengan normal. Dengan goyah, aku meninggalkan tempat itu. Sambil mengunyah bola mata di mulutku, sambil membiarkan daguku basah, aku berjalan ke Miniera. Aha, ahaha, aku mencintainya, dia cinta pertamaku, aku mencintainya, aku sangat mencintainya, ahahaha.

Lalu seminggu setelah itu, didalam hutan sambil masih dalam kesedihan kenikmatan, hingga bola mata di mulutku telah hilang aku masih tersesat. Lalu, aku berjalan seperti biasa, aku bertemu lagi dengan pemuda yang memiliki lubang merah tua menganga di mata kirinya.

Kalau kupikir, aku tidak bertanya namanya, ya. Umm, jika kuingat, waktu itu serangga itu memanggilnya seperti itu, kan?

“Apakah itu Kitsune-san! Senang bertemu denganmu!” (Leila)

Kitsune-san, kau dipanggil begitu, kan? Aku sangat senang bertemu denganmu lagi, bahkan setelah kupukul sebanyak itu, tersenyum padaku, dia melampaui harapanku lagi. Ahahaha, aku senang, aku senang, orang yang menarik, ini pertama kalinya aku bertemu orang seperti ini.

Apalagi aku merasakan bau yang sangat harum darinya. Dia pasti jauh lebih kuat dari saat itu, kan? Dengan wangimu saja, tubuhku sudah berdebar-debar, dan perutku berdenyut. Membuat seperti kita tidak pernah bertemu sebelumnya, itu sangat sulit tapi aku akan berusaha, karena aku ingin kau mengenalku juga. Karena aku juga ingin kau mencicipiku.

Bagaimanapun, aku tidak akan membiarkannya pergi, orang yang kusukai. Cinta pertamaku, aku ingin memakannya dengan penuh kenikmatan. Kau juga senang, kan? Karena aku sangat mencintaimu.

Kitsune-san… hmm, aku tidak boleh memanggilmu seperti si serangga itu. Kitsune-kun, aku mencintaimu.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

6 Comments Add yours

  1. Fayori Akbar says:

    Chapter yg sungguh mengejutkan…

    Like

  2. Riceur says:

    Sumpah gue merinding pas baca bagian Leila, gue kagak nyangka dia tuh yandere

    Like

  3. Tracelley says:

    nih ch yg terjadinya kebanyakan…. identitas Leila = red eye, lulu kena sakit, dan heroine Shiori tlah muncul (entah ntuh Shiori asli ato cma ilusi doang)…. btw, yg bikin ane geleng2 kpala ntuh bagian si Leila nya…. tuh orang dah kelewat serem dah….

    Like

  4. Lightre says:

    Ternyata Leila itu ‘red eye’ ya, psycho lagi…
    Salah satu tipe heroine Yg mesti dihindari nih :v

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s