I Kinda Came to Another World, but Where’s the Way Home? Chapter 34

Arc 3
Chapter 34 – Serangga

Penerjemah : Nightcrow
Editor : –
Sumber English : AbsurtTL

Apa yang terjadi, tiba-tiba aku jadi tidak percaya sendiri.

Yang kami temui di jalan masuk hutan adalah seorang gadis bernama Leila Vermilion. Dari penampilannya, sepertinya seusia dengan Kitsune, tingginya hampir sama dengannya, dan aku menganggap penampilannya cukup manis.

Sepertinya gadis itu adalah petualang rank C yang sangat hebat. Karena rank-ku meningkat, aku bisa memahami hal itu, jadi aku langsung tahu bahwa gadis itu kuat. Dia sangat kuat sampai kupikir dia tidak akan berhenti di rank C saja.

Itu sebabnya, kupikir itu aneh. Itu karena dia menjadi petualang rank C, harusnya dia telah bertempur melawan ratusan atau ribuan magic beast sejauh ini, tapi kedua pedang di pinggangnya tampak baru dan tidak memiliki bekas seperti pernah digunakan sekalipun. Kemungkinan dia membeli sepasang sepatu baru, tapi senjatanya juga baru. Itulah kesanku bahwa dia seperti baru membeli semuanya.

Karena itu, aku benar-benar curiga pada gadis yang selalu berusaha pegangan pada Kitsune-san. Apa dia berpikir tentang hal aneh pada Kitsune-san? Atau apakah dia berniat melakukan sesuatu padanya? Apakah itu perangkap! Apa yang ingin dilakukannya dengan merayunya sebanyak itu!

Sebenarnya menempelkan dadanya padanya, aku bisa melihat bahwa dia mudah jatuh dengan itu. Senyuman samarnya sama sekali menyeringai. Dia tampak bersemangat!

Saat kami berjalan, aku menepuk tangannya karena dia terus menempel pada Kitsune-san, dia dengan gigih tidak membiarkannya pergi tapi Kitsune-san memisahkan dirinya sendiri, seperti yang diharapkan, aku yang telah bersamanya lebih lama. Jauh lebih penting daripada dia, apalagi yang diizinkan duduk di pundak Kitsune-san hanyalah aku! Itu adalah tempat duduk khususku.

Saat kami masuk guild, akhirnya aku tahu tujuannya adalah Kitsune-san. Sepertinya rumor tentang Kitsune-san telah menyebar di negara lain. Mengetahui namanya terkenal di negara lain itu seperti harapan Kitsune-san, tapi bagaimana dia memandang Kitsune-san sangat menjijikkan. Aku pikir itu bukanlah cara memandang sesama manusia.

-seperti, binatang yang melihat mangsanya.

Cahaya yang tak menyenangkan di wajahnya sangat menjijikkan. Kuyakin dia sangat suka bertarung, sampai kupikir dia mungkin ingin melakukan pertarungan hidup dan mati. Tidak mungkin orang yang sangat kuat dari Kerajaan besar secara khusus datang kesini hanya untuk bertemu Kitsune-san.

Karena itu, aku berusaha menghindari pertarungannya dengan Kitsune-san, mengoceh adalah kemampuan Kitsune-san, jadi kupikir untuk mencoba memanfaatkannya.

Tapi dia tidak mau dengar apa yang kukatakan. Tanpa kusadari, sudah diputuskan mereka akan duel. Kenapa tidak ada yang sadar? Kehadirannya jauh lebih berbahaya.

“Finia-chan, aku ingin kau menunggu disini bersama Lulu-chan, karena aku akan segera menyelesaikannya” (Kitsune)

Bilang begitu, Kitsune-san pergi ke tempat gadis itu. Menempatkanku di pundak Lulu-chan, dia segera meninggalkan kami, tapi saat aku melihatnya, aku merasakan firasat buruk.

“Finia-sama…?” (Lulu)

“Hmm…?” (Finia)

“Ada apa Finia, sepertinya kau tidak seperti biasanya” (Rishe)

Lulu-chan dan Rishe-chan mengatakan itu padaku, tapi aku tidak punya waktu untuk menjawab mereka. Dengan melipat lenganku dan mengangguk, mereka berdua menatapku dengan khawatir, tapi abaikan Lulu-chan, Rishe-chan tampaknya tidak terlalu khawatir. Mungkin, apa dia percaya kemampuan Kitsune-san atau bagaimana?

Kalau dipikir-pikir, Rishe-chan belum pernah melihat Kitsune-san bertarung, kan?

“…ya, seperti yang kupikir aku akan pergi dan melihatnya sendiri!” (Finia)

Khawatir dengan Kitsune-san, aku mengepakkan sayap dan mengambang, lalu terbang dari pundak Lulu-chan. Aku terbang ke tempat latihan bawah tanah guild. Dengan begitu, aku mengerti Lulu-chan mengikutiku dari belakang. Apakah gadis itu juga mengkhawatirkan Kitsune-san? Sebagai keluarga, aku sedikit senang atas hal itu.

Tapi, saat bahagia itu langsung sirna.

Itu karena…

“Umm!?” (Kitsune)

Gadis yang mendorong Kitsune-san itu, menciumnya.

◊ ◊ ◊

“Ffuwaa…” (Kitsune)

Ciuman pertamaku, akhirnya aku merasakan ciuman seorang gadis. Yaay, Kitsune.

Sambil berpikir apa yang baru terjadi, aku melihat wajah gadis itu memisahkan dari bibirku, lalu mengusap mulutku sendiri. Rasa dingin yang mengikatku telah hilang, tapi Leila-chan masih duduk diatasku, dengan wajahnya yang memerah, dia menyapukan jarinya ke bibirnya. Ada cahaya tak menyenangkan di matanya dan entah mengapa aku merasa bisa melihat tanda jantung.

Lebih tepatnya, apa, apa yang baru terjadi? Mari kita coba flashback dan mengingat apa yang terjadi.

Aku bertemu Leila-chan, lalu menuntunnya ke guild, lalu aku berduel, lalu aku kalah, lalu dia menciumku, yap itu aneh. Tidak peduli bagaimana aku berpikir, yang terakhir tidak berhubungan dengan apapun sebelumnya. Melihat Leila-chan yang penuh hasrat, dia tampak sangat erotis, dan tampaknya dia mengalami kegembiraan seksual atau semacamnya, tapi ini bukan saatnya merenungkan hal itu.

“Umm, Leila-chan?” (Kitsune)

“Aha, ahahaha…..” (Leila)

“Tidak berguna, dia sama sekali tidak mendengarkan” (Kitsune)

Melihatnya yang hanya tertawa terbahak-bahak saat aku bicara dengannya, jujur, aku sangat takut.

Lalu,

“Pergilah dari Kitsune-san!!” (Finia)

Itu suara Finia-chan, aku ingin mendengarnya dari belakang Leila-chan. Aku tidak bisa melihatnya karena Leila-chan, tapi kuyakin dia ada disana. Nada suaranya, penuh dengan amarah yang bahkan membuatku bergidik. Ada tekanan kuat yang keluar dari tubuhnya.

“Ahaha, kau adalah serangga yang selalu menempel pada Kitsune-kun, kan?” (Leila)

“Diam, cepat pergi dari Kitsune-san, kucing penuh nafsu” (Finia)

Tampaknya, itu bukan suasana yang damai, kan? Ucapan dan suasana Finia-chan berbeda dari biasanya, ketika dia selalu mengejekku, aku tidak merasakan niat buruk darinya tapi aku bisa merasakan ucapan Finia-chan yang jelas. Dipenuhi amarah dan rasa sakit, ejekan.

Sebaliknya, Leila-chan juga menyebut Finia-chan sebagai serangga. Kalau dipikir-pikir, sejak kami bertemu gadis ini, dia sama sekali tidak bereaksi terhadap Finia-chan. Bahkan saat Finia-chan menepuk tangannya, dia mengabaikannya.

Jika aku berpikir kembali, dia melakukannya karena mengabaikan Finia-chan, ya.

Meski demikian, ini buruk, aku harus melerai mereka.

“Leila-chan, kenapa kau menciumku?” (Kitsune)

“Aha, ahahaha… bagiku itu hal yang mustahil, didepan orang yang kusukai, aku tidak bisa menahannya lagi… sejauh ini, temanku selalu menghentikanku, tapi… kali ini tidak akan terjadi” (Leila)

“Tunggu, aku sama sekali tidak mengerti” (Kitsune)

“Ah, santailah, itu ciuman pertamaku, tahu?” (Leila)

“Itu sama sekali tidak membuatku nyaman!!” (Kitsune)

Diam-diam, ah, aku merasa sedikit senang. Karena, membuat seorang gadis memberikan ciuman pertamanya padaku, tentu itu membuatku bahagia, mungkin dia sedikit memaksa, tapi kupikir seorang gadis yang memiliki sisi kuat juga tidak buruk! Lebih tepatnya, tidak ada pria yang tidak senang didorong oleh gadis cantik, kan?

Tapi, ada yang melebihi batasnya. Diatas segalanya, itu membuat Finia-chan sedih, lagipula, juga, tidak seperti aku jatuh cinta dengan Leila-chan atau apa.

“Aku, tubuhku akan jadi panas setiap aku bertemu orang yang kusukai di depanku, dan itu membuatku secara naluriah ingin menyerangnya… Kitsune-kun, kau benar-benar pilihanku, tahu? Selain itu, meski kau rank H, kau masih sadar akan akhir yang pahit meski kau telah menerima banyak seranganku, seperti kau tampak lemah tapi bukan itu masalahnya… sangat menarik…!” (Leila)

Memeluk tubuhnya sendiri, Leila-chan berkata demikian seperti menahan sesuatu. Tampak lemah tapi bukan itu masalahnya… ini adalah gap gap* yang terkenal, ya, tidak, tidak, bukan begitu.

TL Note: *Suatu sifat kejutan yang dimunculkan pada seorang karakter

Lebih tepatnya, benarkah begitu? Karena untuknya, aku mencocokkan pilihannya, memiliki gap moe, dan menarik, jadi tidak sengaja dia sangat tertarik padaku? Ahaha, sepertinya ucapan Finia-chan benar, dia memang kucing yang penuh nafsu.

“Aku tidak peduli… jika kau tidak ingin pergi, oke, jangan pergi dari sana… karena aku akan membakarmu!” (Finia)

“Ahaha, karena kau kesini, ketertarikanku berkurang, aku akan pergi darinya” (Leila)

“…Finia-chan, aku baik-baik saja, jadi, jangan gila” (Kitsune)

Ketika Leila-chan menjauh dariku, akhirnya aku bisa melihat wajah marah Finia-chan. Lalu aku bilang begitu untuk menenangkannya. Aku tidak ingin melihat wajah marahnya, aku ingin dia tersenyum seperti biasanya.

Kemudian, Finia-chan terbang ke perutku dengan kecepatan tinggi.

“Kitsune-san!” (Finia)

“Huff…!” (Kitsune)

Terima kasih Tuhan aku tidak bisa merasakan sakit, menerima pelukan seperti Finia-chan, udara dalam tubuhku terpaksa keluar dari mulutku. Sambil tersenyum masam, aku memeluk Finia-chan yang sedang mengubur wajahnya di tubuhku dengan satu tangan. Dia kecil jadi aku memeluknya dengan lembut agar tidak membunuhnya.

“Aku entah bagaimana cemburu tahu, Kitsune-kun, hanya kita berdua, bagaimana kalau kita pergi dan makan bersama? Meninggalkan serangga itu” (Leila)

Leila-chan bilang begitu padaku. Mungkin perasaannya bukanlah cinta, juga bukan persahabatan, aku tidak merasakan keinginan baik darinya. Hanya saja, seperti seekor kucing yang menemukan sesuatu yang menarik, senang menemukan sesuatu yang baru, tertarik pada sesuatu yang tidak biasa, rasa penasaran, sesuatu di sepanjang garis, atau semacamnya.

Namun, meski perasaannya itu cinta, mungkin aku juga akan menolaknya.

“Ah, maaf, makan bersamamu yang menyebut Finia-chan serangga akan menimbulkan ketidaknyamanan dan aku tidak akan bisa memaksa diri makan apapun juga- jika kau ingin melampiaskan hawa nafsumu maka lakukan saja diluar sana” (Kitsune)

Menurutku, ekspresinya tampak kosong. Itu mungkin agak kasar, tapi itulah perasaanku yang sesungguhnya.

Memanggil Finia-chan sebagai serangga, aku tidak akan memaafkannya. Bahkan jika yang berkata begitu adalah Rishe-chan atau Lulu-chan, meski kecantikannya tiada tara, bahkan jika dia seorang raja atau knight leader yang memiliki otoritas tinggi, atau mungkin juga hero atau Tuhan, aku tidak akan memaafkan mereka.

Menghina Finia-chan, sama seperti menghina Shiori-chan.

“Duel sudah selesai jadi aku pulang. Jika kau masih memanggil Finia-chan sebagai serangga maka jangan pernah mendekatiku lagi” (Kitsune)

Berkata begitu, aku meninggalkan tempat itu. Akhirnya aku melihat Lulu-chan yang bersembunyi dan melihat kesini, aku melepas kekuatan dan ketegangan pada alisku. Menenangkan emosiku, kembali ke ekspresi senyum biasanya. Aku tidak bisa memaksa diri untuk menakuti Lulu-chan.

Sambil melihat senyum samarku yang biasa, Lulu-chan terlihat lega. Aku mengelus kepalanya, dan kembali ke guild bersama. Sebelum meninggalkan tempat itu, aku melirik Leila-chan dan aku bisa melihatnya berdiri diam disana sambil melihat ke tanah. Tapi, tanpa rasa bersalah, aku mengalihkan pandanganku menjauh darinya.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

3 Comments Add yours

  1. Tracelley says:

    yah…. si Leila mah emang dah kelewatan karna manggil Finia serangga….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s