I Kinda Came to Another World, but Where’s the Way Home? Chapter 33

Arc 3
Chapter 33 – Duel

Penerjemah : Nightcrow
Editor : –
Sumber English : AbsurtTL

“Baiklah, ayo kita pulang saja” (Kitsune)

“Uwaah, pengecut seperti biasanya, kan? Aku menghormatimu Kitsune-san!” (Finia)

Karena Leila-chan telah menghilang ke tempat latihan bawah tanah guild, kupikir lebih baik jika dia menghilang begitu saja karena aku ingin segera kembali ke penginapan. Leila-chan adalah gadis yang cantik, manis, dia bahkan membiarkanku merasakan sensasi dadanya, tapi karena ini sudah jadi masalah pasti aku akan dipukuli habis-habisan jika aku melawannya jadi kupikir ini adalah pilihan yang bijak. Entah kalah setelah bertarung ataupun W.O*, hasilnya akan sama saja, kan?

TL Note: *W.O adalah singkatan Walkover yakni memberikan kemenangan pada lawan karena tidak menghadiri suatu pertandingan.

Disana, aku melihat tatapan dingin Rishe-chan dan yang lain. Ada apa dengan kalian, bukankah tidak masalah meski aku kabur disini?

“Kitsune, apa maksudmu?” (Rishe)

“Aku juga tertarik, Kitsune-sama?” (Mia)

“Aku, aku juga… ingin kau memberitahuku…” (Lulu)

Rishe-chan, Mia-chan, bahkan Lulu-chan bilang begitu.

Bahkan jika kau bertanya padaku apa maksudnya, itulah yang kumaksud. Untuk pulang, kita baru saja menyelesaikan sebuah quest, karena kita baru saja bertarung melawan Arachne jadi kutegaskan sekali lagi aku benar-benar lelah. Mengapa aku harus bertarung melawan orang yang lebih kuat dari Arachne?

“Bahkan jika kau bertanya padaku apa yang kumaksud… aku hanya ingin pulang, tahu?” (Kitsune)

“Bukan itu, yang sebelumnya” (Rishe)

Yang sebelumnya… ah, tolong pergi bersamaku, ya. Awalnya aku melakukannya untuk merubah pembicaraan, tapi tidak diterima oleh Leila-chan. Dia benar-benar mengabaikan penembakanku seumur hidup, kan? Aku benar-benar lupa bahwa dia adalah gadis yang tidak mau mendengarkan orang lain. Mungkin karena ketidakpekaannya sudah terlalu akut.

“Ketika aku bilang tolong pergi denganku, aku melakukannya untuk merubah topik pembicaraan, tahu? Karena pada saat itu aku merasa bisa jadi ada duel. Tapi itu sia-sia” (Kitsune)

“… Jadi begitu” (Rishe)

“Jadi begitu, ya” (Mia)

“Terima kasih Tuhan” (Lulu)

Rishe-chan terlihat masam, Mia-chan tersenyum seperti biasa, dan Lulu-chan terlihat lega dari lubuk hatinya. Siapa yang paling jujur? Jika aku harus menjawab maka adalah Lulu-chan, dia pasti memiliki kemanisan yang akan membuat seseorang menyayanginya.

Namun, apa ketiganya benar-benar peduli dengan penembakanku? Seperti yang kupikir, bukankah aku sebenarnya cukup populer?

“Tapi, kau tidak bisa lari dari duel ini, Kitsune” (Rishe)

“Eh?” (Kitsune)

“Aah~, siapa orang yang sewenang-wenang memutuskan duel melawan ayahku, aku bertanya-tanya?… meski awalnya aku harus memiliki kesempatan satu minggu~…” (Rishe)

“Uwah, kamu membicarakannya sekarang?” (Kitsune)

Mungkin karena Rishe-chan dulunya seorang ksatria sehingga dia tidak terlalu menyukai caraku lari dari duel. Bahkan jika memang begitu, tapi dia terlalu sering melakukannya. Seseorang mungkin akan mati, tahu? Aku mungkin akan mati, tahu?

Saat aku menatap Mia-chan dengan memohon bantuan, dia membalasnya dengan senyuman biasanya. Tidak bagus, aku tidak bisa minta bantuannya.

Saat aku menatap harapan terakhirku, Lulu-chan, dia menundukkan kepalanya. Gadis ini juga tidak bagus, dia tidak mengerti kontak mata. Untuk saat ini aku memutuskan untuk mengelus kepalanya.

“~” (Lulu)

Jadi seperti itulah, apa ada cara untuk melarikan diri dari sini? Finia-chan hanya terbaring di pundakku tanpa peduli masalah ini, petualang lainnya hanya mengalihkan wajah mereka dari senyuman Mia-chan.

Sepertinya tidak ada cara bagiku untuk melarikan diri, ya.

“…baiklah, baiklah, aku hanya perlu kesana kan?” (Kitsune)

Sambil mengeluh, aku bilang begitu. Sejujurnya rumor hanyalah rumor, tak ada yang diharapkan oleh Leila-chan, tapi betapa anehnya aku harus menderita seperti ini. Entah bagaimana ini menggangguku.

Masalah ini pasti ciri protagonis sebuah manga, tapi aku tidak butuh hal itu, tahu? Kau tidak perlu memaksa membawa masalah itu padaku. Atau tepatnya, rumor tentangku yang sudah menyebar sampai Kerajaan Grandile, ya, siapa sih yang menyebarkannya?

Sambil menggerutu dan mengeluh seperti itu, aku datang ke tempat latihan yang berada di bawah tanah guild. Leila-chan yang bilang akan menungguku berada disana. Meski lebih baik jika dia tersesat saat menuju kesini.

“Ah, kamu akhirnya datang, Kitsune-kun!” (Leila)

“Yah, yah, aku sama sekali tidak bisa kabur” (Kitsune)

“Ahaha, apa kau berpikir untuk melarikan diri? Tidak ada gunanya tahu? Mengabaikan undangan seorang gadis” (Leila)

“Orang yang menerima undangan seperti itu meski dia tahu akan merasakan sakit adalah orang sesat. Tapi disini aku adalah pemuda yang tekun dan benar” (Kitsune)

“Tapi aku belum bisa melihatmu seperti itu” (Leila)

Leila-chan bilang begitu sambil tertawa ceria. Tak bersalah dan hidup, seolah sesuai dengan ucapannya, dia tertawa sambil menunjukkan taringnya yang merupakan sifatnya yang paling menarik.

Lalu, karena percakapan itu berakhir disana, dia menarik kedua pedang pendek di pinggangnya. Daripada pedang pendek, mungkin lebih dekat ke pisau yang sedikit lebih besar, tapi ketika aku melihat Leila-chan yang terampil memakai keduanya di kedua tangannya, aku mengerti bahwa pedang itu adalah senjata yang biasa dia pakai.

“Senjata ini, aku memakainya untuk meniru orang yang kusukai yang juga memakainya. Awalnya aku memakai satu, tapi sepertinya dua lebih nyaman buatku, seperti ini” (Leila)

“Ooh, aku sama sekali tidak peduli” (Kitsune)

“Bagaimana dengan senjatamu, Kitsune-kun?” (Leila)

“Aku sama sekali tidak punya senjata. Karena aku sama sekali tidak bisa memakainya” (Kitsune)

Ketika aku mengatakannya, Leila-chan menatapku dengan heran dan menaruh kembali pedangnya di pinggang. Dia tampak sedikit kecewa, tapi dia menatapku dengan minat yang sama dengan tadi.

“Kau tidak memakai senjata sama sekali?” (Leila)

“Aku pernah memakainya di hutan, tapi rusak dan tidak bisa digunakan lagi” (Kitsune)

Pedang itu dirusakkan oleh satu serangan dari [Red Night] dan tidak bisa digunakan lagi, tapi sementara ini aku meninggalkannya di kamarku. Itu adalah benda dari duniaku, jadi kau bisa bilang itu mirip seperti pesona.

Meski demikian, saat aku melihat Leila-chan menggerutu ooh, aku mengerti, aku ingin menghentikannya karena aku merasakan firasat buruk darinya.

Setelah berpikir sejenak, dia mengangkat wajahnya dengan ekspresi sangat bahagia.

“Kalau begitu, aku juga tidak akan menggunakan senjata juga! Ayo bertarung dengan tangan kosong!” (Leila)

Berkata demikian, dia mempersiapkan tinjunya. Dia sepertinya melepaskan tinjunya beberapa kali ke udara, tapi karena terlalu cepat aku sama sekali tidak bisa melihatnya. Apalagi aku bisa mendengar suara sabetan di udara. Ada apa dengan pukulan pembunuh itu?

Mungkinkah dia lebih jago bertarung dengan tangan kosong daripada dengan senjata?

“Daripada memakai senjata, aku lebih jago bertarung dengan tangan kosong, tahu!” (Leila)

Sepertinya aku benar. Kalau dipikir-pikir, petualang rank C adalah petualang teratas, jadi artinya tidak mungkin mereka tidak bisa bertarung tanpa senjata, kan? Jika aku memintanya mengajariku, apa dia mau menerimanya? Atas nama latihan, apa aku bisa menyentuh berbagai tempat di tubuhnya? Penampilannya bagus, bagaimanapun, penampilannya.

“Hei, Leila-chan” (Kitsune)

“Ada apa, Kitsune-kun!” (Leila)

“Pada duel ini, aku belum melihat gunanya bagiku” (Kitsune)

Meski demikian, tidak ada gunanya bagiku dalam duel ini. Jika seperti itu, aku hanya akan menderita kesakitan, jadi sebagai ganti aku menerima duel ini, aku ingin sesuatu sebagai balasan jika aku menang tapi aku tidak akan dapat hukuman jika kalah.

Ketika aku mengatakannya, Leila-chan mengalihkan matanya saat mulai berpikir, tak lama kemudian dia mengambil keputusan.

“Kalau begitu, jika kau menang duel ini, aku akan memberimu hal yang kau inginkan” (Leila)

Kata-katanya bergema di kepalaku. Apapun, kata itu, aku mendengarnya dengan jelas. Hal itu, akan memberikan apapun yang kuinginkan? Apakah kau benar-benar mengatakan hal itu pada pemuda sepertiku yang masih dalam masa pubertas?

Aku terbakar dengan motivasi.

Aku meregangkan kepala dan kakiku. Sambil menggerakkan pergelangan tangan dan kaki, aku menarik napas dalam-dalam. Lalu, aku mengaktifkan skill [Overpower]. Itu tidak memberi efek yang bagus, meski begitu, aku akan menyimpan kartu as ku sebagai cadangan, karena [eerie Constitution] hanya bisa diaktifkan saat aku melawan musuh.

Lalu, entah Leila-chan merasakan skill-ku, dia menggigit bibirnya. Mencengkeram tinjunya dengan telapak tangan yang lain, membuat suara *pakpak*. Matanya, daripada mata orang yang bertarung, seolah-olah dia adalah binatang yang melihat mangsanya, dan menyebarkan aura seperti dia akan segera meloncat ke arahku.

“Kau tampak sedikit termotivasi, kan?” (Leila)

“Baiklah, karena kau bilang akan mengabulkan permintaanku, itu menarik” (Kitsune)

“Omong-omong, kalau aku menang maukah Kitsune-kun memberikan yang kuinginkan?” (Leila)

“Tidak mungkin aku akan melakukannya, kan? Aku akan menerima duel ini, sebagai gantinya jika aku menang, kau akan mengabulkan apapun yang kuinginkan, dengan begitu kita impas, kan?” (Kitsune)

Leila-chan mengembangkan pipinya sambil berkata eh~. Ungkapan cemberutnya juga imut, tapi aku tidak akan menyerah. Pertama, untuk gadis polos sepertimu, kau tidak akan tahu apa yang terjadi padamu saat bilang akan mengabulkan permintaanku. Berpikir hal itu, aku tidak bisa merasakan senyum di wajahku.

Tapi, apa dia senang karena dia bisa berduel melawanku, dia kembali ke ekspresi bertarungnya. Dia tampak bersenang-senang, sebelum berpikir itu lucu, aku mengambil sedikit perhatian.

“Kalau begitu, ayo mulai!” (Leila)

Bersamaan itu, Leila-chan tiba di depanku dalam sekejap mata.

-terlalu cepat!?

Seakan menabrak wajahku, dia mengayunkan tinjunya dari bawah, tapi aku menghindarinya entah bagaimana dengan membungkukkan tubuhku ke belakang.

Mungkin dia tidak mengira aku bisa menghindarinya, Leila-chan membuat ekspresi kaget sesaat, tapi dia memutar tubuhnya di udara seperti sekarang dan melakukan tendangan berputar ke arahku. Kali ini aku tidak bisa menghindarinya…!

“-ugh…!?” (Kitsune)

Kekuatannya begitu hebat, tubuhku ditendang terbang. Lalu aku terbang kearah yang sama dimana kakinya diayunkan.

Aku tidak pingsan, tapi dengan menghadapi kenyataan bahwa aku terpental dua meter dari tempatku berdiri, itu membuatku sadar bahwa dia jauh lebih kuat dariku. Dia memiliki tinggi yang hampir sama denganku, tapi statusnya pasti jauh lebih tinggi dariku, kan?

Apalagi kurasa dia masih menahan diri. Meskipun aku sudah mengerahkan semua kekuatanku.

Aku tidak mengintip statusnya karena jika aku melakukannya, aku merasa seperti mengatahui sejauh apa status kami, tapi dengan ini kukira statusnya mungkin sepuluh kali lipat dariku.

Saat aku memikirkannya, tanpanya aku tahu tinjunya mencengkeram mukaku. Aku sama sekali tidak bisa melihat gerakannya. Kecepatan yang membuatku tidak bereaksi,

Jadi ini~~~kelas teratas ya…!

“U-hyaa!!” (Leila)

“A… ugh…!!” (Kitsune)

Membuat kepalaku tertekan ke belakang, aku coba menggerakkan kakiku ke belakang untuk menyeimbangkan tubuhku, tapi Leila-chan menggunakan kakinya untuk menendangnya, saat aku benar-benar terlempar ke udara, dia menghancurkan kepalaku ke tanah.

Kesadaranku bergetar, aku hampir pingsan tapi aku tidak merasa sakit mungkin karena skill [Pain Nullification Lv 2], kan?

Melepas tangannya yang menggenggam kepalaku, Leila-chan menunduk menatapku.

“Bahkan dengan itu kau tidak pingsan, ya. Biasanya duel selesai dengan itu, tapi karena kupikir kau pasti menarik, Kitsune-kun!” (Leila)

“Kokoh adalah satu-satunya keunggulanku” (Kitsune)

Saat aku berdiri, dia tidak menyerangku. Entah dia berpikir memiliki keuntungan, atau rencana tertentu, tapi aku tidak bisa melepas kewaspadaanku.

“Kalau begitu, aku akan menyerang lagi!” (Leila)

“…!” (Kitsune)

Leila-chan hilang. Tidak, dia terlalu cepatlah yang membuatnya hilang. Tapi kalau aku tidak pindah dari sini maka akan terjadi hal yang seperti sebelumnya.

Aku mundur beberapa langkah, mengambil jarak yang cukup jauh. Lalu, Leila-chan muncul di tempat awalku sambil mengayunkan tinjunya.

Melihat ekspresi terkejutnya, aku merasa telah membuat balasan padanya. Tapi, bahkan kau bertanya padaku, apa aku bisa melakukan sesuatu.

Jika aku tidak menyerang maka aku tidak akan dapat apapun.

“Kali ini… giliranku” (Kitsune)

“Oh?” (Leila)

Kali ini aku menyerang. Dari sana, aku menuju ke arah Leila-chan. Aku memang unggul dalam ketahanan, tapi selain ketahananku, status kelincahanku juga meningkat cukup pesat. Karena kekuatanku terlalu langka hingga aku tidak bisa mengeluarkan semua kelincahanku, tapi setidaknya tubuhku jadi mudah untuk bergerak.

Sepertinya dia berniat menghadapiku, dia tidak pindah dari tempatnya. Lalu, aku sampai pada jarak dimana kepalan tangan kami saling bertubrukan, pada saat itu juga,

Kepalan Leila-chan mengenai wajahku.

Bersamaan muncul suara yang keras, kepalaku gemetaran.

Tapi, aku bisa menahannya karena sama sekali tidak merasa sakit.

“!?” (Leila)

“Ugh- aaa!!” (Kitsune)

“Ap…!!” (Leila)

Bahkan setelah menerima pukulan, tubuhku masih maju. Kaki yang menopang tubuhku tidak bergetar sama sekali, karena aku sama sekali tidak merasa sakit, jadi kakiku yang maju tidak melambat sama sekali.

Sambil terus maju, aku memegang pakaian Leila-chan. Lalu, dengan menggunakan kekuatan pukulannya, aku menarik tubuhnya ke atas.

Tidak peduli seberapa tinggi status mereka, hal itu tidak mempengaruhi berat dan tinggi badannya, oleh sebab itu untuk seorang gadis, tidak mungkin aku tidak bisa mengangkatnya ke atas!

“O-hyaa!!” (Kitsune)

Aku melemparnya dengan gerakan ippenzeoi*.

TL Note: *Gerakan melempar musuh dengan kedua tangan memegang kedua pundak lawan

“Aha!” (Leila)

Tapi sebelum aku melemparnya, dia berguling diatas punggungku. Aku yang melemparnya dengan seionage* kehilangan keseimbangan di udara. Karena itu, aku langsung jatuh ke tanah dengan menghadap ke bawah. Mendengar suara tubuh Leila-chan mendarat di tanah, aku segera me-roll tubuhku dan menghadap keatas.

TL Note: *Gerakan melempar pundak, lanjutan ippenzoi

Tapi, sebelum aku bisa berdiri, dia segera datang dan mengunciku. Sambil meletakkan tangan kanannya di wajahku yang kaku, dia meletakkan tangannya di leherku lagi. Gerakannya terlalu cepat…!

Saat ini mungkin terlihat seperti aku terdesak, tapi tidak diragukan lagi dia bisa mengambil nyawaku saat ini. Jika dia memakai pisaunya, kepalaku akan langsung terputus, kan?

“Ini kekalahanku… ya” (Kitsune)

Mengendurkan kekuatanku, aku bilang begitu dan mengakui kekalahan duel. Tapi, itu belum berakhir.

“Ha… ha… n…” (Leila)

Masih memegang leherku, wajahnya turun hingga di depanku. Ekspresinya tampak gembira, berbeda dari sebelumnya, matanya seperti dia kehilangan akal dan dipenuhi hal liar. Pipinya memerah, napasnya agak erotis.

“Ah, umm… Leila-chan?” (Kitsune)

“Aha… ahahaha….” (Leila)

Dia menjulurkan lidahnya dan menjilat bibirnya sendiri, apa yang terjadi padanya? Mengabaikan kebingunganku, dia mengangkat tangannya dari leherku, dan menggunakan tangan itu untuk menyentuh pipiku dan membelainya.

Pada saat itu, aku merasa hawa dingin menjalar ke punggungku, membuka mataku lebar-lebar, aku tidak bisa bergerak seperti seekor katak yang di tatap oleh seekor ular.

Lalu, wajahnya yang memerah dan gembira lebih mendekat padaku,

“Umm!?” (Kitsune)

Dan dia menutupi bibirku dengan bibirnya.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

3 Comments Add yours

  1. Tracelley says:

    baaajigurr…. dpt ciuman pertama nih :v

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s