Stranger’s Handbook Chapter 121

Chapter 121 – Naga dan Atribut Sihir

Penerjemah : Zen Quarta
Editor: –
Proofreader: Yuda Jarkasih

Sumber English : Oyasumi Reads

“Itulah yang terjadi, Yang Mulia. Itulah sebabnya, saya akan mengambil komando pada masalah ini.”

“Yeah, tolong lakukan itu. Tapi Zest….. kamu harus belajar bagaimana caranya sedikit menahan diri. Kupikir aku akan mati.”

Sang Kaisar benar-benar kelelahan; dia meletakkan sebuah handuk basah di dahinya.
Perdana Menteri masih belum sadar.

“…. Urm, saya minta maaf.”

“Hahaha, duke Zest adalah orang yang cukup berani.”

Neebel menepuk bahuku beberapa kali, saat aku meminta maaf kepada sang Kaisar.
Jangan bertingkah seolah-olah kau tidak ada hubungannya dengan hal ini! Kau juga merupakan orang yang menyebabkan hal ini, kau tau?
Aku benar-benar ingin menanggapinya, tapi sekarang bukan saatnya untuk hal itu.
Aku harus segera mengumpulkan para naga itu.

“Yang Mulia, saya sedang terburu-buru jadi…!”

Aku membawa Neebel bersamaku dan berlari meninggalkan ruangan.
Aku benar-benar ingin menghindari kesalahan besar ini.

 

“Dimana naga yang paling dekat?”

Prajurit yang mengirimkan pesan beberapa saat yang lalu saat ini sedang memandu kami.
Dia menunjukkan ekspresi berani, dan menilai dari pergerakannya, dia bukanlah orang biasa.

“Ya, kalau begitu kita akan lewat sini….”

Dalam kasus terburuk, aku ingin menggendong prajurit ini dan berlari tapi….
Pria ini…. Dia memperkuat tubuhnya dengan kekuatan sihir.
Dia juga berlari dengan kecepatan yang cukup luar biasa.

“Kau cukup hebat. Siapa gurumu?”

“Ya pak! Guru saya adalah Lamia-sama.”

……… Yah, dia juga memasuki ruang dewan yang sedang dipenuhi oleh kontes kekuatan sihir bercampur niat membunuh milik kami.
Aku penasaran, apakah seluruh prajurit pembawa pesan dilatih oleh Ibu mertua?

“Murid Ibu mertua?….. Jika kau mau, kau dapat datang ke wilayahku. Aku tidak akan memperlakukanmu dengan buruk.”

“Terima kasih banyak!”

Karena suatu alasan prajurit itu mulai menangis, sambil meningkatkan kecepatannya dan memandu kami ke tempat dimana salah satu naga itu terjatuh.
Apakah kau begitu membenci pelatihan yang dilakukan Ibu mertua….. sampai kau mulai menangis?

 

Kami tiba di tempat, dimana para prajurit sedang mengelilingi seekor naga hitam, seluruh tubuh mereka terlihat gemetar.
Meskipun naga itu sedang pingsan, tubuhnya tetaplah besar, panjangnya sekitar 10 meter.
Sudah wajar jika mereka merasa takut.

“Turunkan senjata kalian. Aku akan menanganinya, jadi mundurlah.”

Para prajurit itu berbalik untuk melihat ke arahku, lalu mulai mundur dengan ekspresi lega di wajah mereka.

“Kita selamat. Paduka Zest ada disini.”

“Bagus, kita dapat merasa lega sekarang.”

“Syukurlah….. itu artinya kita tidak akan mati.”

Mereka duduk, dan berbicara dengan nada sepakat.
Ya ampun! Orang-orang ini membutuhkan lebih banyak latihan.
Saat aku melihat ke arah para prajurit yang menyedihkan itu, aku mendekati naga hitam itu.
Kelihatannya dia tidak memiliki luka luar, dia cukup keras, seperti yang diharapkan.

Aku menyentuh wajahnya, yang sama tingginya dengan badanku, dan mengaktifkan sedikit sihir penyembuhan.
Segera setelahnya, naga itu tersadar dan membuka matanya.

“Apakah kau menggunakan sihir penyembuhan? Aku akan memujimu atas hutan budi ini, manusia….. Namun! Jangan berani berpikir bahwa kau dapat membuatku menyerah hanya dengan itu.”

“……………”

“Fufu, kau terlalu terkejut untuk berbicara? Itu tidak dapat dihindari. Bagaimanapun, naga adalah makhluk terkuat. Kami tidak selemah kalian, manusia! Kalian harus mematuhi kami dengan tenang!”

Naga hitam itu berbicara sambil menunjukkan wajah sombong.
Dia sedang duduk, dengan ekor berada diantara kakinya, dan melingkar diperutnya…. Ekornya terlihat gemetar.

“Neebel-dono, apakah itu adalah cara para naga untuk mengintimidasi makhluk lain?”

“Tidak, itu adalah postur menyerah mereka. Yang satu ini adalah tipe yang suka pamer.”

Sepertinya ada berbagai jenis naga di luar sana…..

“Oh, Neebel-dono! Sempurna. Sebenarnya aku ingin menangani manusia ini sendirian tapi…. Karena baru saja terjatuh, aku melukai cakarku, sayang sekali, aku akan menyerahkannya kepadamu!!”

Naga itu berkata demikian dan menunjukkan cakarnya.
Cakarnya memang terlihat agak kotor, tapi itu sama sekali tidak terluka.
Jangan bilang dia tidak akan bertarung karena alasan itu? Bukankah naga seharusnya kuat?

Karena terkejut, aku melihat ke arah Neebel hanya untuk menemukan bahwa dia sedang sangat malu.
Kurasa dia tidak menyangka naga itu akan begitu ketakutan dan tak berguna.
Begitu juga dengan para prajurit, mereka tidak dapat mempercayai mata mereka.

“Zest-sama, apakah kamu baik-baik saja!?”

Dalam suasana yang rumit ini, aku mendengar suara Bea.
Apa? Kenapa dia ada disini?…… Apakah dia mengkhawatirkanku?
Mata kami bertemu, dan dia tersenyum sambil mendekati kami.

“Aku bersyukur karena kamu tidak terluka, Zest-sama. Sekarang semuanya baik-baik saja….. jika kamu berbicara dengan mereka, mereka sebenarnya cukup penurut.”

“Kami tidak akan melawan anda, ma’am!”

“Kami akan mengikuti anda, tuan kami!”

“Suami Nona muda? Dia terlihat kuat.”

“Toto-san, itu sakit.”

(Ahahaha, Papa! Kadal ini bisa terbang!)

 

Bea berkata sambil tersenyum, dan membawa bardiche kesayangannya di bahunya…. Dia ditemani oleh empat ekor naga.
Jika kau berbicara dengan mereka, huh?…….. Mereka memahaminya, Aku sangat memahami perasaan itu.

Setelah itu semuanya berjalan mudah.
Para naga hitam, yang telah menjadi peliharaan setia milik Bea, pergi untuk membangunkan para naga emas.
Saat ini mereka semua sedang berkumpul di halaman dalam……

Semua naga emas gemetar saat mereka melihat Bea.
Kami sama sekali tidak dapat berbicara dengan mereka.

Namun, saat aku mendekati mereka, mereka berubah sepenuhnya.

“””Kekuatan sihir ini! Masbro, kami akan mengikutimu!”””

“Ara, kekuatan sihir ini benar-benar terasa nyaman!”

“Hei, hei, kamu dapat menaiki ku, kamu tahu?”

Ya. Naga-naga itu sangat menyukaiku.
Saat para naga hitam menyukai Bea, para naga emas menjadi luar biasa tertarik kepadaku.

“Haha, kalian benar-benar akrab….. Itu bagus…..”

Saat Neebel melihat hal itu, matanya benar-benar kehilangan cahayanya…..
Karena kesalahannya sendiri, diplomasi intimidasinya gagal total.

Dia menjelaskan kepada kami bahwa naga-naga itu sangat tertarik kepada mereka yang memiliki atribut kekuatan sihir yang sama dengan diri mereka sendiri.
Sebaliknya, mereka merasa sangat jijik dan lemah terhadap mereka yang memiliki atribut kekuatan sihir yang berlawanan.
Itulah sebabnya naga emas jatuh karena kekuatan sihir beratribut kegelapan milik Neebel dan naga hitam jatuh karena kekuatan sihir beratribut cahaya milikku.

Dalam situasi yang ekstrim itu, ketika mereka melihat seseorang yang memiliki kecocokan yang sempurna dengan kekuatan sihir mereka sendiri….. dan terlebih lagi seorang pengguna sihir yang kuat…. Itu semua berubah menjadi seperti yang sudah kau lihat.

….. Hmm? Neebel-san, apakah kau menangis?
Kaulah yang melupakan fakta penting itu dan melepaskan seluruh kekuatan sihirmu, ingat?

“Bagaimanapun….. berkat penjelasan duke Zest, sekarang saya mengerti bahwa anda tidak mendukung rencana bangsa elf. Sekarang saya akan kembali dan menyerahkan semuanya kepada anda…… Tolong jaga anak-anak ini untuk sementara. Mereka tidak mau pulang, jadi….”

Neebel meninggalkan istana dengan langkah goyah.
Kesedihan terlihat memenuhi suasana disekelilingnya…. Dia tampak agak menyedihkan.
Aku akan mengirimkan surat dan hadiah untuknya nanti.

 

Setelah aku melihat Neebel yang malang pergi, aku berjalan menuju ruang dewan untuk melapor kepada sang Kaisar.
Bea dan Toto membawa para naga hitam jalan-jalan.
Para naga emas menunggu dengan patuh di halaman dalam, bermandikan sinar matahari.

“Putra menantu-dono, selamat.”

Ibu mertua menyapaku sambil memainkan kipas besinya.

“Ibu mertua, maaf tapi aku sedang dalam perjalanan untuk melapor kepada Yang Mulia….”

 

“Putra menantu-dono? Kamu mencoba memancing prajurit pembawa pesan yang telah sangat lama kulatih dengan benar, bukan? Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, jadi laporanmu itu bisa ditunda.”

 

Dia mengangkat daguku menggunakan kipas besinya, dan apa yang bisa kulakukan pada saat itu adalah menurut dan mengatakan ‘Baik’.
…………. Ibu mertuaku sangat jauh lebih menakutkan dari pada sesuatu seperti naga dan lainnya.

Aku kemudian memahami perasaan yang dimiliki oleh prajurit pembawa pesan yang menangis itu……

← PREV | Table of Contents | NEXT →


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook

3 Comments Add yours

  1. Rais says:

    Pertamax

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s