I Kinda Came to Another World, but Where’s the Way Home? Chapter 29

Arc 3
Chapter 29 – Perbedaan Kitsune dan Nagi

Penerjemah : Nightcrow
Editor : Zen Quarta
Sumber English : AbsurtTL

“Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?” (Rishe)

Setelah selesai perkenalan, Rishe-chan bertanya. Finia-chan sedang duduk di pangkuan Lulu-chan yang duduk di atas kasur, sedangkan aku dan Rishe-chan duduk di kursi yang telah disediakan penginapan.

Saat itu aku duduk dengan menyandarkan punggungku, karena pertanyaan itu aku meluruskan punggungku seperti akan wawancara.

“Rishe-chan, apa kau tahu tentang hero yang telah dipanggil?” (Kitsune)

“Umm, ya… itu cukup terkenal diantara para ksatria” (Rishe)

“Hero! Apa itu, tampaknya itu sangat keren!” (Finia)

“Ah, Finia-chan dan Lulu-chan belum mendengarnya kan” (Kitsune)

Ayo berpikir, karena saat aku mendengarnya dari Grim-san, waktu itu Finia-chan dan Lulu-chan sedang memilih quest kami, jadi mereka tidak mengetahuinya. Yah, karena disini tidak akan ada yang mengganggu percakapan kami, jadi seharusnya tidak masalah menceritakan pada mereka sedikit demi sedikit.

“Tampaknya demon lord telah bangkit, kau tahu, jadi mereka memanggil hero. Kerajaan Grandile kan? Dan karena aku cukup penasaran jadi kupikir aku akan kesana” (Kitsune)

“Umm… Kerajaan Grandile.. pergi kesana memang tidak sulit, tapi disana adalah negara paling kuat, sebagai petualang jika kau tidak cukup kuat, kau akan dihancurkan, tahu?” (Rishe)

“Aku menyadarinya. Aku hanya tertarik dengan Hero yang dipanggil disana, dan aku tidak berniat untuk bertarung” (Kitsune)

Sejujurnya itu menakutkan. Apa yang menyenangkan dari hidup di negara yang dipenuhi penggila pertarungan? Minimal, yah, kupikir kami bisa meningkatkan kemampuan untuk mengumpulkan bahan mentah disana, terlebih, mengalahkan yang lemah meski sesama manusia seperti pembulian. Mereka benci orang lemah, atau bisa dibilang, meski hal itu akan memberi masalah bagi hero yang dipanggil di negara seperti itu.

Jika itu aku, tanpa ragu aku akan marah, ah, tunggu, sepertinya karena aku bisa dibunuh jadi aku hanya akan diam tentang itu.

“Jika begittu tidak masalah, tapi…” (Rishe)
“Itulah mengapa kita akan mengambil beberapa quest lagi jadi kita bisa menyimpan uangnya, lalu kupikir kita akan pergi kesana saat kita sudah memiliki kemampuan yang cukup untuk bertahan disana” (Kitsune)

“Begitu” (Rishe)

“Apa kita akan ke negara lain? Antisipasiku meningkat! Tidak peduli bagaimana mereka, Finia-chan ini akan membakar mereka jadi abu!” (Finia)

“Ya, terimakasih. Tapi tolong perhatikan waktu dan situasinya” (Kitsune)

Karena membakar orang bukanlah hal yang bagus. Sejujurnya jika Finia-chan benar-benar melakukannya, itu menakutkan. Dan tidak diragukan lagi itu akan membuat kita dicap sebagai musuh oleh orang sekitar kita. Saat itu, bisa saja ada orang yang tiba-tiba ditikam dari belakang, dan aku orangnya. Meski dia tidak melakukan apapun, dia akan dibunuh, dan aku orangnya!

“Yah, bagaimanapun, akhirnya selalu begitu… sekarang, bagaimana kalau kita ke guild untuk mendaftarkan Rishe-chan”(Kitsune)

Ayo berpikir, jika aku meninggalkan negara ini, artinya kau akan berpisah dengan Mia-chan dan yang lain, aku punya beberapa orang yang memahamiku saat SMP, dan kami berpisah saat SMA, tapi aku tidak pernah merasa kesepian. Jika kupikirkan, bagaimanapun ini adalah perasaan baru.

Namun, bukan berarti kami tidak akan bertemu lagi, jadi jalani saja.

“Ayo pergi” (Kitsune)

Kami mulai bergerak.

◇ ◇ ◇

—di sisi lain, di saat bersamaan. Di Kerajaan Grandille.

Hero yang dipanggil, bernama Serisawa Nagi.

Tingginya mungkin sekitar 181 cm. Penampilannya kurus daripada berotot, tapi dia memiliki otot yang kencang di tubuhnya, itulah sifat fisik yang disebut otot tipis. Tubuhnya juga panjang, dengan fitur yang bagus, dengan gelar Hero-nya, bisa dibilang dia orang yang tampan.

Saat dia dipanggil dia sedang pulang kerumah dari sekolah jadi dia memakai jaket dan seragamnya, saat dia berpikir dia diselubungi cahaya, tiba-tiba ada gadis berdiri di sampingnya, itulah saat dia mendapat kesadarannya kembali.

Lalu, muncul gadis miko bernama Cecil, dengan tenang dia meminta sesuatu pada Nagi. Nagi yang memiliki rasa keadilan yang kuat, setelah mendengarnya, dia meminta penjelasan lebih rinci.

“Hiat!!” (Nagi)

“Guah…!?” (Other)

“Cukup! Pemenangnya adalah Nagi!” (Other)

Lalu, dua hari setelah dipanggil. Tujuan pemanggilannya adalah karena mereka memintanya untuk mengalahkan demon lord, saat Nagi mendengarnya dia menenangkan dirinya karena itu adalah alasan yang layak.

Lalu, tentang saat dia bisa mengalahkan demon lord dia bisa kembali ke dunianya, tentang beban yang dibawa miko disampingnya, tentang kemampuan tersembunyinya yang bisa menyelesaikan segalanya, jika dia mendengar sebanyak itu lalu sudah cukup. Karena Nagi memiliki rasa keadilan tinggi, dia memutuskan untuk menerima tugas dan tanggungjawabnya sebagai hero.

Setelah itu, Nagi ikut latihan di latihan ksatria Kerajaan Grandile. Aslinya, di dunianya dia telah belajar kendo, aikido, dan seni beladiri lainnya, dia bahkan seorang top ranker yang banyak memenangkan kompetisi nasional, untuknya, setelah ikut latihan dia menjadi jauh lebih kuat.

Dia akan menyerap segala yang dipelajarinya seperti spons, dan dia akan menguasainya setelah berlatih beberapa kali. Juga, sebagai hero, tampaknya kemampuan disiknya menjadi beberapa kali lebih kuat daripada saat dia di dunianya, dan sudah cukup kuat untuk mengalahkan ksatria biasa pada latihan pertamanya.

“Haah… haah… fiuh….” (Nagi)

“Nagi-sama, jika kau berkenan” (Cecil)

“Ah, ya, terimakasih Cecil-san” (Nagi)

Dia juga memenangkan pertandingan latihan ini. Cecil yang datang setelah pertandingan berakhir memberinya kain untuk mengelap keringatnya. Lalu, Nagi menerimanya dan berterimakasih sambil mengelap keringatnya.

Nagi telah diberitahu tentang posisi gadis bernama Cecil di sampingnya. Dia adalah gadis miko, setelah memanggil Hero, dia harus memberikan jiwa dan raganya pada Hero.

Nagi tidak berniat melakukannya, tapi jika dia memintanya, apakah menjadi pelayan malam atau melakukan pengorbanan, dia akan melakukannya, kan. Karena Nagi bisa melihat matanya, dia mengerti secara sekilas.

“Aku tidak masalah jika kau memanggilku Cecil saja” (Cecil)

“Jika kau bilang begitu aku juga tidak butuh akhiran ‘sama’….” (Nagi)

“Nagi-sama adalah Hero, jadi aku harus menghormatimu” (Cecil)

“Atau begitulah pikirku….” (Nagi)

Faktanya, dia tidak berpikir bahwa dia sedekat itu dengan Cecil. Dengan hanya dua hari setelah mereka bertemu, banyak yang tidak diketahuinya dari Cecil, tapi seperti yang diduga karena dia mencurahkan jiwa dan raganya untuk Hero, Nagi merasa ada dinding diantara mereka.

“Namun, kau jadi semakin kuat kan. Ksatria biasa tidak bisa jadi lawanmu lagi” (Cecil)

“Tidak, jalanku masih panjang… menyisihkan fisikku, teknik berpedangku masih buruk” (Nagi)

“Fi, fisik?” (Cecil)

“Ah, umm… ini tentang kemampuan fisikku” (Nagi)

“Begitu… Nagi-sama berkeinginan besar untuk meningkatkan dirimu kan” (Cecil)

Untuk Cecil yang tertawa kecil, bahkan untuk Nagi, dia melihatnya sebagai gadis yang manis. Rambut hitamnya sesuai dengan pakaian mikonya, dia tampak sangat polos. Di titik ini jika itu di dunianya, dia berpikir tanpa ragu bahwa Cecil akan jadi sangat populer diantara lawan jenis.

“Namun, seberapa kuat Demon Lord? Karena aku harus mengalahkannya….” (Nagi)

Disini, Nagi mengubah pembicaraan. Karena dia baru datang ke dunia ini, dia tidak tahu tentang dunia ini. Seberapa banyak dia harus jadi kuat, seberapa kuat magical beast dan demon disini, dia yang tidak meninggalkan kastil tidak mengetahuinya.

Untuk pertanyaan itu, Cecil berpikir sambil menyembunyikan senyumnya. Lalu, dia menjawab dengan sedikit suram.

“Demon Lord… sangat kuat. Mungkin, kami tidak bisa mengalahkannya meski jika bertarung dengan semua ksatria negara ini. Pemimpin ksatria dan ksatria penyihir, jika kami bertarung bersama petualang terkuat mungkin kita bisa mengalahkan pengikutnya, tapi kami tidak bisa melakukan sesuatu terhadap Demon Lord” (Cecil)

“Sekuat itukah….” (Nagi)

“Ya, itulah mengapa kuharap Nagi menjadi lebih kuat lagi. Karena Hero adalah harapan dunia ini” (Cecil)

Dengan kata-kata yang diucapkan Cecil sambil tersenyum, hal itu penuh dengan kesungguhan. Nagi tidak tahu bahwa dia di posisi sebagai harapan dunia, dia bingung karena tiba-tiba berada di posisi itu.

Keberadaan yang tidak bisa dikalahkan bahkan dengan mengumpulkan setiap orang kuat di dunia, Demon Lord. Diminta untuk mengalahkan keberadaan itu, sejujurnya dia pikir mustahil untuk lari.

Namun,

“Yah, ayo lakukan yang terbaik” (Nagi)

Seperti itulah, bahkan jika dia adalah Hero, daripada menyelamatkan orang yang tidak dikenalnya, dan sejenisnya yang ingin diselamatkan olehnya, Nagi pikir dia merasa terdorong untuk memenuhi permintaan gadis di sampingnya.

Aku butuh menjadi lebih kuat, tidak… aku harus menjadi lebih kuat.

Bahkan jika dia diberitahu memiliki kekuatan untuk menyelamatkan dunia, dia tidak tahu apakah dia memilikinya atau tidak. Tapi, selama masih ada kemungkinan, jika dia bisa jadi bantuan, dia pikir dia akan melaluinya dengan segenap kekuatannya.

“Ini, terimakasih” (Nagi)

Memberikan kain yang digunakan mengelap keringatnya pada Cecil, dia memegang pedang kayunya lagi. Dia memiliki cukup jiwa bertarung, sekarang, dia akan menggunakan setiap detiknya untuk jadi lebih kuat. Jiwanya membara, penampilannya mengayun pedang dengan tajam, benar-benar seorang Hero.

Ksatria disekitarnya, melihat dirinya, mereka bisa merasakan sinar harapan menjadi lebih terang.

Itulah Hero.

Orang yang akan menjadi harapan manusia, si pemandu.

Sinar harapan yang akan mengalahkan semua kejahatan dan menyelamatkan dunia.

Ancaman Demon Lord, mulai muncul. Bahkan sekarang, banyak orang mati di tangan magical beast dan demon. Sambil memikirkannya, Nagi bersungguh-sungguh mengayun pedangnya. Dia melakukan semua yang mereka ajarkan padanya, dan menguasai semuanya.

Saat latihan selesai, Nagi telah melakukan 100 pertarungan latihan dengan ksatria biasa, dan memenangkan semuanya.

◇ ◇ ◇

Cecil Dimietta, sekarang menjaga Hero. Memberikan bahunya pada Nagi yang kelelahan setelah latihan, dia membawanya ke kamar yang telah disediakan untuknya. Setelah mengelap keringat Nagi yang terengah-engah, dia memberikannya air untuk minum. Tampaknya Nagi telah mencapai batasnya dengan terus menerus mengayun pedangnya. Bahkan tangannya tergores, dan keringatnya bercucuran keluar.

“Haah… haah… aku lelah” (Nagi)

“Nagi-sama, tolong lebih perhatikan kondisimu” (Cecil)

“Hahaha… haah… haah… aku terlalu terpikat pada itu, haah… haah… fiuh….” (Nagi)

Sambil berkata demikian pada Cecil yang menasehatinya dengan khawatir, Nagi mengatur kembali nafasnya sedikit demi sedikit. Lalu, saat nafasnya sudah normal, dia merasa jijik dengan keringat di sekujur tubuhnya.

“Keringat ini, benar-benar menjijikkan, kan….” (Nagi)

“Kami telah menyiapkan bak mandi, tapi, akankah engkau gunakan?” (Cecil)

“Terimakasih, kalau begitu ayo gunakan itu” (Nagi)

Dipimpin oleh Cecil, Nagi dibawa ke pemandian umum yang besar. Sambil memikirkan bahwa pemisahan pemandia laki-laki dan wanita juga terjadi di dunia ini, dia memasuki pemandian laki-laki. BTW, berbeda dari Kitsune, dia bisa membaca tulisan dunia ini, jadi dia bisa membaca tanda pemandian laki-laki. Tapi dia tidak memiliki skill untuk melihat status.

Melepas pakaiannya, dia memasuki area pemandian, tampaknya tidak ada orang disana. Karena Nagi merasa dia ingin mandi dengan tenang jadi itu hal bagus jika tidak ada orang lain, itu yang dipikirkannya saat melepas pakaiannya.

“Ha, …hmm?” (Nagi)

“…..” (Cecil)

“…umm, mengapa kau disini? Cecil-san?” (Nagi)

“Aku, aku berpikir untuk… menggosok punggungmu” (Cecil)

Melepas bajunya, dia menyadari bahwa Cecil disini. Dia terkejut karena dia pikir Cecil akan masuk pemandian perempuan atau mungkin kembali ke kamarnya.

Karena Nagi setengah telanjang di depannya, wajahnya menjadi memerah malu dan matanya melihat kemana-mana. Seringkali dia akan memandang sekilas tubuh Nagi, tapi itu sangat jelas.

Tapi, sebagai gadis yang akan selalu bersikap tenang sejak pertemuan pertama mereka, tindakan Cecil adalah hal yang baru.

“Ah… tidak, kau tidak perlu melakukannya sejauh itu….” (Nagi)

“Ti, tidak… it, itu… juga bagian dari tugasku….!” (Cecil)

“Wajahmu memerah,…. juga, ini memalukan” (Nagi)

Dengan penampilan polosnya, tampaknya jiwanya juga sama, jadi dia tampak malu hanya dengan melihat tubuh setengah telanjang lawan jenisnya. Menahan wajah memerahnya, Nagi dapat merasakan malu dan bimbang di ekspresi Cecil.

Namun, bahkan dia tidak tampak akan pergi, Nagi tidak bisa meminta dirinya untuk mengusir Cecil. Malu dengan masih tersimbah keringat, Nagi adalah yang tersudut disini.

“…Baiklah, lalu, bisakah kau berbalik?” (Nagi)

“Y, ya….” (Cecil)

Setelah memastikan Cecil telah berbalik, Nagi langsung melepas celananya. Lalu dia memakai kain di pinggangnya untuk menyembunyikan kemaluaannya.

“Sudah selesai” (Nagi)

“Ya… uuuh!” (Cecil)

“Hmm?” (Nagi)

Cecil berteriak dengan aneh saat dia melihat Nagi, dan membuat ekspresi tenangnya menjadi lebih memerah. Penampilannya yang yang hanya mengenakan sebuah kain, pantat, dan sebagian besar tubuhnya terlihat. Dengan keringat mengalir di sekujur tubuhnya, itu adalah perangsang yang kuat bagi gadis naif sepertinya.

Menggelengkan kepalanya untuk menenangkan dirinya, pandangannya langsung turun ke bawah.

“Aku akan masuk dahulu… jika tampaknya ini terlalu sulit bagimu kau tidak perlu memaksa dirimu” (Nagi)

Nagi memasuki area pemandian dengan tersenyum pahit. Cecil bernafas lega. Wajahnya tetap memerah, tapi dia dalam keadaan dimana dia memiliki rasa penasaran yang besar setelah melihat tubuh telanjang lawan jenis untuk pertamakalinya.

Melepas pakaian mikonya, dia hanya memakai baju hadajuban* putih tipis yang dia gunakan sebagai dalaman. Menggulung manset, lalu dia mengikatnya dengan tali setelah digulung sampai setengah pahanya. Lalu, stelah mengambil nafas, dia memasuki area pemandian dimana Nagi masuk sebelum dia.
TL Note: *Baju hadajuban adalah yukata. Pakaian untuk mandi di Jepang.

“Nagi-sa—kya!?” (Cecil)

“Eh?” (Nagi)

Membuka pintu, saat dia mendekati bak mandi dimana Nagi berada, dia terpeleset. Karena itu, dia memasuki bak mandi dengan kepala dahulu, dia membuat percikan besar dan lalu tenggelam dalam air.

“Blublublublub!?” (Cecil)

“Cecil-san!?” (Nagi)

Nagi yang bingung mengangkat Cecil yang tenggelam. Cecil mengangkat wajahnya, meskipun dia terbatuk-batuk, tampaknya dia tidak terluka.

Nagi mendesah lega dengan apa yang dilihatnya, dan merasa lega. Tapi, pikirannya berhenti disana.

“*ugh* *ugh*… Maafkan aku… Terimakasih banyak” (Cecil)

“…..” (Nagi)

“? Nagi-sama? …ada ap…!?” (Cecil)

Cecil yang merasa ragu dengan Nagi yang diam saja, dia mengusut pandangan Nagi. Lalu, pandangan Nagi tidak hanya pada dirinya, saat dia melihat kebawah dirinya, pakaian putihnya basah kuyup.

—dan tubuhnya terlihat melalui itu.

Cecil memakai celana dalam, tetapi dia tidak memakai atasan. Karena pakaiannya basah, dari dada busungnya hingga putingnya terlihat, segalanya terlihat jelas.

“Kyaa!?” (Cecil)

“Ah… ma, maaf!” (Nagi)

Dia langsung menutupi dadanya dengan kedua tangannya. Dan saat kesadaran Nagi kembali, dia mengalihkan pandangannya.

Tubuhnya yang telah dilihat Nagi, perasaan malunya karena menunjukkan aibnya, wajahnya menjadi lebih memerah daripada saat melihat tubuh Nagi.

“Ah, umm… karena aku akan menutup mataku, tidak masalah jika kau pergi sekarang” (Nagi)

“Ma, maafkan aku… lain kalu aku akan menggosok punggungmu…!” (Cecil)

Dengan ucapan Nagi, Cecil langsung meninggalkan area pemandian.

Setelah memastikannya, sekaligus mendesah hebat, Nagi menampar wajahnya yang memerah dengan tangannya. Seperti yang diduga, melihat gadis telanjang, dan melihatnya dari pakaian transparan memang membuat gairah yang berbeda, tampaknya hal itu bahkan membuatnya tidak bisa mengalihkan matanya dari Cecil.

“…itunya, cukup besar, kan….” (Nagi)

Cecil Dimietta. Miko Kerajaan Grandille, umurnya tujuh belas tahun. Sama dengan Nagi, tapi dibalik pakaian mikonya, ada dada yang cukup besar.

Hero, Serisawa Nagi yang melihatnya, sedang termangu-mangu.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

 

4 Comments Add yours

  1. Lightre says:

    Beda banget nasibnya…

    Like

  2. neikat says:

    Ini yg d tunggu2

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s