Stranger’s Handbook Chapter 99

Chapter 99 – Keinginan Ibu Mertua-ku

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : Yuda Jarkasih
Sumber English : Oyasumi Reads

“Ara. Lama tak jumpa. Apakah kamu sehat-sehat saja, putra menantu-dono?”

“Lama tak jumpa, ibu mertua. Err…… Kamu mengenakan pakaian barat yang sangat atraktif.”

 

Ibu Lamia sedang meminum teh dengan gaya elegan di kantorku.

Dia mengenakan seragam maidnya yang biasa…… aku penasaran, apakah ada yang meminta untuk mengenakan seragam itu, yang membuatnya terlihat seperti wanita dewasa yang atraktif?

Karena aku terburu-buru datang kemari, kakiku gemetar seperti bayi kuda yang baru saja lahir, jadi aku menggunakan sihir penguatan di kedua kakiku.

Aku mengambil nafas panjang agar dia tidak menyadarinya, lalu duduk di depannya.

 

“Bulan madu, huh? Itu sangat indah, aku cemburu, kamu tahu?”

“Guru akan langsung pergi jika ibu mertua memintanya untuk melakukan itu juga. Aku ingin menanyakan rahasia dibalik hubungan pasangan yang langgeng, seperti kalian berdua.”

 

Kami mulai melakukan percakapan ringan.

Peraturan bangsawan sangat ketat bahkan di dalam sebuah keluarga.

‘Justru karena itu adalah keluarga, itu akan menjadi latihan yang sempurna’ itulah yang guru katakan.

 

 

“Kamu tahu, putra menantu-dono……”

 

Akhirnya, kami dapat membicarakan topik utama.

Aku meminum sedikit teh dan mempersiapkan diri

 

“Apakah kamu beraliansi dengan Negara Suci Lilac untuk memulai pemberontakan atau sejenisnya?”

“…………. Apa?”

 

Apa-apaan dengan pertanyaan berbahaya itu?…… Jangan bilang ibukota kekaisaran mempercayai hal itu!?

 

“Ibu mertua, itu tidak mungkin. Jangan bilang kalau ibukota kekaisaran mencurigaiku tentang hal-hal seperti itu?”

“Sekelompok bangsawan membuat keributan tentang hal itu, cuma itu. Namun, karena masalah ini tidak bisa diabaikan, aku dikirim kemari.”

 

Dia menunjukkan wajah kerepotan, sambil mengayunkan kipas besinya.

Kipas besi itu sangat berat sampai-sampai, saat dia meletakkannya di atas meja, kayu meja itu mulai berderit………..

 

“Tapi, mengirimkan anggota keluarga……….. seorang kerabat untuk menyelesaikan masalah ini tidak benar-benar akan berhasil…….”

“Tapi…….. hanya aku satu-satunya yang bisa melakukannya, karena aku adalah imperial mage.”

 

…………. Yah, mau bagaimana lagi karena kami memonopoli peringkat teratas.

Jika mereka mengirimkan mage yang tidak berbakat, mereka tidak akan bisa mengalahkanku.

Jika mereka menginginkan kemungkinan menang terkecil, ibu mertua-ku adalah satu-satunya pilihan……… Selain itu……….

“Aku paham. Jadi mereka hanya ingin agar aku menganggap ini hanyalah formalitas dan tidak lebih.”

“Bagus karena kamu cepat memahaminya. Kamu tidak benar-benar dicurigai. Tapi formalitas juga merupakan hal yang penting………… sejujurnya itu cukup merepotkan.”

 

Ibu mertua tersenyum dengan manis.

Mereka membutuhkan seseorang untuk memeriksanya secara formal.

Apakah bangsawan ibukota kekaisaran tidak lelah memikirkan tentang formalitas?

 

“Itulah sebabnya, separuh dari pekerjaanku disini sudah selesai. Yang tersisa hanya membawa Nona Muda Tsubaki ke ibukota kekaisaran bersamaku, tapi…….. bagaimana keadaannya?”

“Dia baik-baik saja, aku melatih…….. ahem, mengajarnya dengan keras. Dia tidak akan mempermalukan kita.

 

“Begitu. Aku senang mendengarnya. Ah, tentang para pembantu pribadi itu, dia kembali kerumah orang tuanya. Orang tuanya mengetahui bahwa dia melakukan sesuatu yang tidak sopan…… itu menjadi masalah yang cukup serius.”

“Ya ampun!”

 

Pembantu pribadi….. mungkin itu adalah salah satu pengikut Tsubaki yang dulu?

Aku percaya bahwa dia sedang dilatih di tempat Frontier Count atau sejenisnya? Sudah kuduga.

 

“Juga, keributan besar terjadi saat wig milik Yang Mulia menghilang, kamu tahu?”

“……… Astagfirullah!”

 

Dia memelototiku.

Itu bukan aku! Toto-lah yang menerbangkan wig milik sang Kaisar!

 

“Mau bagaimana lagi. Tapi jangan terlalu banyak melakukan kejahilan, ok?”

“Aku dengan senang hati menerima saranmu, Ibu mertua.”

 

Dia berkata kepadaku sambil tersenyum.

Jika kau menginginkan terjemahan bebasnya, maka ini dia:

‘Aku merasa sedikit sakit karena semua ini, jadi aku tidak peduli lagi.’

‘Seperti yang kuduga, kau marah karena hal itu. Aku paham perasaanmu.’

Atau sesuatu yang mirip dengan kalimat itu.

 

Karena, tentu saja, kami tidak dapat mengatakan hal itu dengan keras, kami harus mengatakannya secara tidak langsung.

Akhir-akhir ini aku mulai terbiasa dengan hal itu.

 

Setelah itu, kami berbicara tentang bulan madu, souvenir….. dan juga tentang keadaan wilayahku saat ini.

Perkampungan nelayan yang ku bangun tampaknya menjadi topik panas di ibukota kekaisaran.

Karena hanya ada beberapa tempat yang melakukan penangkapan ikan, ikan menjadi cukup berharga.

Aku memberikan souvenir yang dia pesan.

 

Setelah kami berbicara sebanyak itu hari sudah mulai gelap.

Aku dapat melihat matahari tenggelam melalui jendela…… Aku penasaran apakah besok akan cerah.

 

 

Kami menghentikan pembicaraan dan aku menurunkan kewaspadaanku untuk sesaat; ibu mertua menggunakan perubahan itu untuk mendekatiku dan duduk di sebelahku.

……….. bau harum mulai tercium dan jantungku mulai berdegup kencang.

 

“Err, putra menantu-dono…… Tidak……. Zest!”

 

Dia berbicara dengan nada yang sangat erotis, saat dia melingkarkan lengannya ke tubuhku dan menunjukkan tatapan manja ke arahku.

Itu cukup efektif karena dia terlihat seperti Bea versi dewasa.

 

“Ada apa, ibu mertua?”

 

Aku bertanya kepadanya dengan cepat, agar aku tidak semakin tergoda dengan dadanya yang menyentuh lenganku.

Apakah dia menggodaku? Ini… Tapi dia adalah….. ibu mertuaku……..

 

“Kamu tahu, aku punya permintaan kepadamu Zest…. Apakah kamu mau mendengarkannya?”

“………. Jika itu adalah sesuatu yang dapat kulakukan, maka tentu saja.”

 

Aku mencoba memberikan jawaban se-ambigu mungkin kepadanya.

Aku tidak mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’.

 

Ibu mertua-ku semakin memperdalam senyum Frontier Count yang dia tunjukkan, dan dia terlihat cukup menakutkan pada saat itu.

 

“Kamu tidak perlu sewaspada itu. Ini hanyalah permintaan sederhana…….. ini tentang rambutku, kamu tahu?”

“………………….”

 

“Hei? Ada apa? Wajahmu memucat……… aku hanya ingin agar kamu menyentuh rambutku lagi.”

 

………… Lagi?……….. Dia ingin aku mengusap rambutnya lagi?

Kamu juga menginginkan hidangan sampingan!? Iyakan, ibu mertua!?

 

Tidak, ini berbeda…… ini bukan seperti itu…………

Dia bukan tipe ibu mertua yang nakal, jadi pasti ada alasan di balik hal itu!

 

“Urm, ibu mertua. Rambutmu?”

“Ahaha, kamu ingat bahwa dulu kamu pernah mengusap rambutku kan? Saat itu, rambutku menjadi lembut dan berkilau. Mungkin itu adalah efek dari sihirmu? Tolong, lakukan hal itu lagi.”

 

 

Jadi aku salah paham?………..

Kupikir ini aneh; jalan cerita seperti ini, dimana seorang wanita menggoda menantunya, hal seperti itu hanya terjadi di manga.

 

“Baiklah. Aku akan mencobanya.”

 

Aku mulai mengusap rambut ibu mertua-ku, sambil membayangkan hal itu.

Iklan Sampo dan Conditioner.

Aku membayangkan gambaran lembut dan halus………. Daya tarik yang ada pada rambut wanita, dikepalaku.

 

Aku mencoba mengalirkan sedikit kekuatan sihir ketanganku saat aku membelai kepalanya, dan rambutnya menjadi semakin dan semakin cantik.

………… ini cukup menarik.

 

Aku terus mengusap rambutnya dengan kedua tanganku, sambil mengamati efeknya.

 

 

Saat aku mengusap rambutnya sambil melamun, ibu mertua-ku tertidur.

Wajah tidurnya mirip dengan Bea.

 

Aku terus mengusap rambutnya, sambil memikirkan seberapa miripnya mereka berdua.

 

 

 

 

“Ara, Zest-sama. Aku sangat senang karena kamu begitu akrab dengan ibuku.”

(Wooa, Papa dan Mama Lamia sedang membuat anak!?)

 

 

 

Aku memalingkan kepalaku dengan perlahan dan melihat dua wajah yang sedang menatapku. Mereka mengintip kedalam kantor.

Itu adalah duo gadis berambut hitam yang lain.

 

 

“Zest-sama……. Bisakah kita pergi jalan-jalan?……. mari kita sedikit berbicara.”

(Ah~ Aku sungguh mengantuk. Aku akan tidur disamping Mama Lamia.)

 

 

Duo itu masuk kedalam ruangan, dan berbicara dengan nada kosong dalam suara mereka.

Aku ingin mengatakan kepada mereka bahwa ini semua adalah kesalahpahaman.

 

Tapi, karena aku membaringkan ibu mertua di atas sofa dan menggunakan pahaku sebagai bantal, sambil mengusap rambutnya sampai dia tertidur, sudah jelas akulah yang salah disini.

……………….. Selamat tinggal semuanya. Aku akan pergi mencari udara segar…………

← PREV | Table of ContentsNEXT →


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook

12 Comments Add yours

  1. chicken fist says:

    tgn nya punya efek begitu, jadi wajar kalo bea jadi tambah cakep >.<

    thx 4 chap

    Like

  2. GoeMooN says:

    Selamat bersenang2 zest :v

    Like

  3. miller says:

    Semoga kau tenaang di alam sana zest !!😂😂

    Like

  4. afaro16 says:

    oi! adegan ZestxIbu mertua nya masih kurang :v

    Like

  5. BlueSky says:

    Keluar lagi dah tu istighfar’nya…. :v

    Like

  6. Ko says:

    Koin peduli zest :v

    Like

  7. Mage says:

    Mati dah lu zest

    Astagfirullah nya bikin melintir dah hahahah

    Like

  8. Mage says:

    Mati dah lu zest

    Astagfirullah nya bikin melintir dah hahahah

    Like

  9. Kuro says:

    kelar dah lu zest :v

    Like

Leave a Reply to Ko Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s