Stranger’s Handbook Chapter 97

Chapter 97 – Setelah Sekian Lama

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : Yuda Jarkasih
Sumber English : Oyasumi Reads

“Lama tak jumpa, Paduka Zest. Anda terlihat baik-baik saja.”

“Saya bersyukur karena anda melakukannya dengan baik, Paduka.”

 

 

Orang yang menyambutku adalah orang tua dan wanita muda Jepang.

Kami bertemu lagi didalam kantor Grand Cathedral.

Pria tua itu kelihatannya semakin kurus dia memotong pendek rambut abu-abunya dan saat ini ia sedang mengeluarkan aura pria tua sejati.

Lalu untuk Wanita itu ia mengikat rambut chesnutnya kebelakang, dan dia tampak seperti orang yang ramah dan manis.

Gayanya juga bagus…. Bea menatap tajam ke arahku, jadi aku berhenti memikirkan hal itu.

 

 

“Lama tak jumpa, aku sangat senang karena kalian sehat-sehat saja. Kalian dapat pergi setelah selesai melakukan persiapan.”

 

Unit maid menyiapkan teh, dan kemudian meninggalkan ruangan.

Aku menunggu mereka pergi dan kembali memberi hormat kepada dua orang Jepang itu.

 

“Lama tak jumpa. Kalian dapat berbicara dengan santai sekarang.”
Mereka menatap sekilas ke arah Bea.

 

“Ahaha,, tidak apa-apa. Aku tahu kalau kalian adalah orang Jepang, sama seperti Zest-sama, jadi aku tidak akan menuntut kesopanan dari kalian.”

 

Bea mengatakan hal itu kepada mereka dan kelihatannya mereka dapat merasa lega.

 

“Ha, baiklah… itu membantu. Aku sepertinya tidak dapat terbiasa berbicara seperti itu.”

“Terimakasih. Aku juga tidak terlalu bagus dalam hal formalitas……”

 

Pria tua kurus itu menunjukkan senyum pahit dan wanita muda itu……..

 

“Aku dengar kalian ada tiga orang. Apakah terjadi sesuatu?”

“Tidak, tidak. Istriku sedang tidak enak badan jadi aku datang sendirian.”

 

“Istrimu…. Kamu pasti merasa sangat khawatir.”

“Aku yakin itu hanya flu biasa. Dia sudah tua jadi hal seperti itu sudah wajar.”

“Haha, dia berkata demikian sekarang, tapi sebelum kami berangkat, kakek merasa sangat khawatir.”

 

Setelah wanita itu menggodanya, pria tua itu mengirimkan tatapan singkat ke arah wanita muda itu.

Mereka juga tampak akrab.

 

“Kakek, apa itu?”

“Haha, aku sudah seperti seorang cucu bagi mereka. Kami tidak memiliki kenalan, jadi kami hidup seperti sebuah keluarga..”

 

Pria tua itu menunjukkan senyum malu saat wanita itu kembali menggodanya.

Mereka duduk saling bersebelahan dan bagiku mereka benar-benar terlihat seperti sebuah keluarga.

 

“……….. Aku adalah satu-satunya orang yang hidup seperti seorang bangsawan saat ini. Tapi Aku telah mengabaikan kalian semua.”

 

Pertama-tama, aku ingin menghilangkan segala kecemasanku.

Jadi aku mengeluarkan perkataan itu dengan berani.

 

“Zest-san, itu tidak seperti itu. Kamu mengabaikan kami? Apakah kami pernah meminta bantuan darimu?”

 

Pria tua itu menatap langsung ke arahku.

 

“Aku tidak berpikir bahwa kamu mengabaikan kami. Mereka…. Para iblis, mengatakan kepada kami bagaimana kamu melalui semua masalah untuk menjadi seorang bangsawan. Itu adalah sesuatu yang harus dirayakan, bukan untuk disesali.”

“Dia benar. Kepalaku dipenuhi pemikiran tentang diriku sendiri pada saat itu, jadi aku tidak akan mengeluh tentang apapun. Selain itu, gelar kebangsawanan adalah hal yang tidak mungkin bagiku, aku mungkin akan mati karena kekhawatiran.”

 

Itu adalah perasaan mereka yang sesungguhnya… aku mengkonfirmasinya menggunakan sihir pengamatan.

 

“Aku paham…. Lalu, ceritakan kepadaku tentang kehidupan yang kalian jalani, bagaimana keadaannya?”

 

“Para iblis mengurus kebutuhan sehari-hari kami. Aku tidak pernah menyangka bahwa, sebelum mati, aku akan datang ke dunia lain…. Ini adalah hadiah yang bagus untukku sebelum pergi ke dunia bawah. Aku bahkan memiliki seorang cucu saat ini.”

“Untuk saat ini, kami hidup dengan damai…. Kami juga tidak perlu bekerja, jadi berat badanku sedikit naik……..”

 

Jadi ras iblis benar-benar merawat mereka.

Untuk jaga-jaga, aku terus menggunakan sihir pengamatan sambil mendengarkan cerita mereka.

 

“Lalu….. kalian tidak perlu diselamatkan?”

“Diselamatkan? Siapa?”

“Eh? Apakah ada orang Jepang lain yang masih hidup?”

 

………… Mereka berkata jujur. Kelihatannya tidak ada masalah.

 

“………… kupikir kalian akan membenciku.”

 

Mereka berdua menatap kosong ke arahku, lalu aku kembali berbicara.

 

“Aku berpisah dari kalian semua, dan pada akhirnya menjadi seorang bangsawan dan mendapatkan kekuatan. Kenapa dia tidak menolong kita? Kenapa hanya dia? Hal yang seperti itu…….”

 

“Begitu. Orang-orang yang mati mengatakan hal yang sama.”

“Ah, orang-orang bodoh itu….. mereka semua sangat bodoh sampai-sampai tidak dapat tertolong lagi.”

 

………….. Itu adalah perkataan yang kasar.

 

“Kami adalah korban disini, jadi tentu saja kalian harus melindungi kami. Kalian juga harus meminta maaf kepada kami dan menawarkan ganti rugi!….. Lalu….. kalian juga harus mengajarkan sihir kepadaku, Dan jangan menipuku!”

“Ini hanyalah mimpi jadi tidak peduli apa yang kulakukan,, itu akan baik-baik saja…. Dan sejenisnya.”

 

………… Eh? Apakah mereka benar-benar sebodoh itu?

Aku bahkan tidak ingin menyelamatkan orang seperti itu.

 

“Mereka semua sangat bodoh sampai-sampai para iblis merasa kasihan kepada mereka. Itu adalah cerita yang memalukan, orang-orang itu hanyalah hambatan. Apa yang kami inginkan adalah untuk hidup damai di dunia ini.”

“Seperti yang dapat diduga, saat kamu tidak memiliki kemampuan pemahaman yang cukup, kamu harus mundur. Karena sudah jelas ini bukanlah Jepang, aku sering bertanya-tanya kenapa mereka tidak mencoba untuk beradaptasi.”

 

“Itu….. aku tidak tahu harus mengatakan apa……”

 

“Kami tidak menyalahkanmu, Zest-san. Kami juga tidak melakukan apapun untuk mereka. Jika kita ingin hidup tenang kita harus membiarkan hal itu terjadi.”

“Dia benar. Kami tidak dapat meminta bantuan dari orang asing. Kamu melalui berbagai masalah sendirian. Selain itu, aku benar-benar tidak dapat hidup sebagai seorang bangsawan. Apa yang kuinginkan hanyalah hidup dengan tenang.”

 

“………….. Aku paham. Jika seperti itu, kita tidak akan bisa sering berhubungan.”

 

“Mungkin itulah yang terbaik. Kami ingin menjalani kehidupan dengan tenang sama seperti penduduk dunia ini.”

“Itulah sebabnya kamu tidak perlu mengkhawatirkan kami. Kami cukup nyaman saat ini.”

 

Mereka berdua mengatakan hal itu lalu tertawa.

Ekpresi wajah mereka tampak tenang dan lembut, dan mereka kelihatannya benar-benar menemukan kebahagian.

Jika mereka mulai memiliki hubungan dengan kebangsawanan, bahaya hanya akan semakin meningkat…. Tapi jika mereka ingin hidup dengan tenang, akan lebih baik jika kami berpisah.

 

“Maka kami akan melakukan hal itu. Aku bahkan tidak mengetahui nama kalian, tapi jika terjadi sesuatu kepada kalian, tolong beritahu aku, aku akan mencoba mengatasi masalah itu semampuku.”

“Err, aku dan istriku tidak masalah dengan hal itu. Akan lebih baik bagi kita jika terus seperti ini, karena kami tidak mau terlibat dengan para bangsawan. Namun, cucuku masih muda, jadi saat kami sudah tidak ada lagi, tolong jaga dia.”

“Kakek?”

 

Pria tua itu menatapku sambil menunjukkan ekspresi serius.

 

“Anak ini akan sendirian. Tolong….. tolong……”

“Kakek, itu tidak masalah! Kamu tidak perlu khawatir!”

 

Pria tua itu membungkuk dengan panik, tapi wanita itu mencoba menghentikannya.

Meski begitu, dia tetap tidak berhenti.

 

“Aku adalah seorang bangsawan, oleh karena itu aku dapat membantu satu atau dua wanita, aku juga sangat setia dengan istriku, jadi kamu dapat merasa tenang. Angkat kepalamu sekarang.”

“Terima kasih banyak, sekarang aku dapat mati tanpa penyesalan kapan saja.”

“…………. Hentikan! Apa yang harus kamu lakukan adalah hidup lama, dasar kakek bodoh!”

 

Wanita itu berlinang air mata, tapi pria tua itu menghiburnya dengan mengusap ramburnya.

Dia mengkhawatirkan cucunya…. Jika hanya itu, aku pasti akan membantunya.

Jika mereka meminta bantuanku dengan paksa, aku pasti sudah menolaknya. Tapi ini berbeda.

 

“Sekarang semuanya baik-baik saja karena kami masih hidup, tapi saat kami sudah tiada dan kamu akan sendirian, itu akan menjadi berat, kamu tau? Itu tidak akan jadi masalah jika kamu mendapatkan seorang suami, tapi jika kamu tidak dapat melakukannya, kamu harus meminta Zest-san untuk memberikan pekerjaan kepadamu. Jika hanya kamu, menjamin keselamatanmu akan menjadi lebih mudah jadi kamu dapat bekerja, kan?”

 

“Itu tidak masalah, sungguh! Aku tidak ingin menikah dan aku tidak ingin bekerja! Aku akhirnya dapat menjalani kehidupan yang menyenangkan, jadi jika aku mulai bekerja aku merasa bahwa aku akan kalah atau sejenisnya!”

 

……………. Dan saat itu aku berpikir bahwa itu adalah kesepakatan yang baik. Apakah gadis ini akan baik-baik saja?

 

“Selain itu, aku menyukai pria yang menyukai pria lainnya! Aku bukanlah objeck yang tertarik pada hal romantis!”

 

 

……………. Gadis ini busuk.

 

Setelah itu, pertarungan antara pria tua dan gadis pecinta fujoshi berlanjut.

Itu menjadi konyol; aku telah menghabiskann cangkir tehku yang ketiga dan menjadi sedikit mengantuk, tapi perang argumen itu belum selesai saat ini.

Mungkin akan lebih baik jika meninggalkan gadis ini sendirian…….

 

 

 

“Paduka Zest, kami akan pergi sekarang. Kuharap anda akan baik-baik saja.”

“Paduka. Terimakasih atas alat sihir perekam ini! Aku akan menjaganya dengan baik!”

 

Wanita muda itu sangat senang menerima hadiah yang kuberikan, jadi dia sedang sangat bersemangat.

Konflik mereka akhirnya berakhir dan mereka hendak pergi, saat itu terjadi kepadaku.

 

“Ya, kuharap kalian juga akan baik-baik saja. Aku juga ingin mendengar namamu…. Atau mungkin mendengar nama wanita muda itu. Itu akan mempermudah jika kita perlu melakukan komunikasi.”

 

Aku sama sekali tidak memiliki niat tersembunyi. Aku tidak begitu bodoh sampai-sampai memiliki niat tersembunyi kepada seorang gadis fujoshi.

 

 

“………….. Zu…… Mari.”

 

 

Wanita itu berkata dengan malu-malu.

 

“Apa? Aku tidak dapat mendengarmu.”

 

Pria tua itu terus menerus menatap kebawah, dia tidak menatap ke arahku.

Wajah gadis fujoshi itu menjadi benar-benar merah.

 

 

“Aku Mizuta Mari*!! Apakah sekarang anda mendengarnya, Paduka!!”
*TN: Mizuta Mari jika di ucapkan akan memiliki arti yang mirip dengan genangan air (kolam).

 

 

Bertahanlah, kamu tidak boleh menertawakan nama orang lain, jadi bertahanlah!

 

 

“Ada apa? Kamu benar-benar memerah, Mizuta Mari.”

(Lihat Papa, kolam itu bergetar.)

 

 

 

 

Setelah Bea dan Toto memberikan serangan akhir, aku tidak dapat menahannya lagi.

Aku tertawa terbahak-bahak, dan saat kolam kecil itu tertutupi air liur, dia terus gemetaran yang tampaknya akan berlangsung selamanya…..

← PREV | Table of ContentsNEXT →


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s