Commanding Wind and Cloud Chapter 44

Chapter 44 – Gabriella Dan Gloria (1)

Penerjemah : Beonovel
Editor : –
Sumber English : Qidian International

Peringkat keenam dan peringkat ketujuh berdasarkan kemampuan bertarung di Tingkat Pertama kalah dalam sekejap ketika melawan peringkat kedelapan. Mereka kalah begitu cepat bahkan mereka sampai tidak bisa mengatakan apapun tentang itu.

Rodriguez mengayunkan lengannya ke udara dengan penuh semangat. “Itu murid favoritku! Dia tidak hanya bertarung 1 lawan 2, tapi juga menang dengan mudah!” Pikirnya.

“Ini terlalu keren!” Rodriguez tersenyum. Ketika dia melihat ke lokasi duel, dia mendapati bahwa Qian Jin sudah tidak ada. Pin di dada Zelda dan Fabio Carras juga sudah diambil olehnya.

“Blacksmithing lagi? Penempaan menggunakan 2 tangan?” Fick menyipitkan matanya sambil berpikir. “Apa anak ini belajar blacksmithing sebelumnya? Tunggu sebentar! Blacksmith hanya menggunakan satu tangan ketika menempa. Mengapa anak ini bisa dengan lancar menggunakan kedua tangannya dalam memeragakan penempaan? Apa mungkin dia berpikir bahwa blacksmithing adalah teknik bertarung yang kuat?”

Direktur Pelaksana juga mengayunkan lengannya, tapi dia mengayunkannya ke bawah dengan marah. Dia bahkan tidak melihat ke 2 murid yang kalah; dia dengan cepat meninggalkan hutan kecil.

Murid senior berdiri di tempat mereka dan memikirkan semua yang terjadi dengan seksama. Dilihat dari pertarungan dan bagaimana mudahnya dia memenangkan pertarungan, sepertinya hanya Durk, murid peringkat pertama di Tingkat Pertama yang bisa mengimbangi Qian Jin.

Rodriguez tidak langsung pergi. Dia mengelus dagunya sambil merenung. “Sejak kapan? Qian Jin sudah memiliki energi warrior tingkat 5! Secara teori, itu berarti Qian Jin suah menjadi warrior tingkat 5! Dia setingkat denganku, instrukturnya, dalam hal energi warrior?”

“Aku benar-benar punya kemampuan prediksi yang hebat.” Rodriguez tertawa. “Aku tidak sabar… aku tidak sabar untuk melihat bagaimana Qian Jin saat berada di Tingkat Ketiga nanti. Dia mungkin akan menjadi legenda di Akademi Okaland dan menjadi murid lulusan pertama yang berhasil masuk ke Akademi Warrior dan Mage Lanjutan Fortitude! Itu adalah akademi paling terkenal; itu sebanding dengan Akademi Raja Iblis di pihak iblis.”

 

Beberapa saat yang lalu –

“Ah, sudah kubilang, duel membosankan.” Qian Jin mengangkat tinjunya sambil meregangkan lehernya. Dia menepuk punggung penantangnya dan berkata. “Jika kalian berlatih keras, kekuatan kalian akan meningkat.”

Hutan kecil menjadi tenang seperti biasanya. Para murid senior tidak bisa lagi menyebut Qian Jin sebagai orang yang arogan. Pertarungan yang baru saja terjadi sangat luar biasa.

“Adik iparku…” Rollin berteriak dan memecah kesunyian di hutan kecil itu.

“Pergi sana!” Qian Jin menendang pantat Rollin.

“Oke! Kalau aku pergi, kau akan menjadi adik iparku?”

“Bro, aku mengerti kalau kau ingin menyingkirkan adikmu, tapi jangan kau dorong teman baikmu ini ke dalam lubang yang dalam.”

“Ayolah bro, menyerah saja. Aku tidak akan menyakitimu…”

“Oke, aku harus pergi!” Qian Jin berbalik dan bergegas meninggalkan hutan. Tak lama kemudian, sosoknya menghilang ke dalam hutan.

“Bro…” Rollon mengelus dagu tebalnya sambil menatap ke tempat Qian Jin sebelum menghilang. “Kau akan menjadi adik iparku.” Katanya sambil tersenyum.

 

Sudah malam, bulan tinggi di langit.

Siang dan malam sangat berbeda di Akademi Oakland. Saat ini, semuanya sunyi. Setelah seharian berlatih dan belajar, murid-murid pergi ke kamar tidurnya masing-masing.

Qian Jin memainkan 2 pin yang baru saja dimenangkannya. Mood-nya sangat baik.

2 pin yang baru saja didapatkannya menandakan bahwa dia sudah semakin dekat dengan pusat Susunan Konsentrasi Energi Warrior. Qian Jin tidak ingin terlibat dalam pertarungan membosankan memperebutkan peringkat sebelumnya, tapi begitu terseret ke dalamnya, dia tidak berencana untuk merendah atau menghindari tantangan.

Karena dia tidak bisa lari dari masalah, dia tidak ingin repot-repot menghindarinya. Fakta bahwa teknik penempaan yang dipelajarinya sangat berguna dalam pertarungan membuatnya sangat senang.

Sambil bersiul, dia berjalan kembali ke kamarnya. Dia tiba-tiba berhenti; di bawah sinar rembulan, dia melihat 1 sosok yang familiar dan 2 sosok asing di samping sumur.

“Gabriella?”

Dengan bantuan pencahayaan dari sinar bulan, Qian Jin terkejut melihat Gabriella yang berusaha mempertahankan topi di kepalanya di depan 2 murid warrior bertubuh tinggi. “Ini seharusnya waktu di mana para mage bermeditasi. Kenapa dia ada di sekitar sumur?”

“Ayolah Gabriella. Apa kau tidak lelah memakai topi ini sepanjang hari? Bagaimana kalau kau lepaskan saja dan membiarkan kami melihat betapa jeleknya dirimu. Tenang saja, ini sudah malam. Meskipun kau jelek, aku berjanji bahwa aku tidak akan berteriak ‘mayat hidup’ ketika melihat wajahmu.”

“Kau tidak mau melepaskannya? Jadi kau tidak mau berteman dengan kami? Kami sangat sedih dan kecewa. Kau harus menebusnya. Jika kau tidak ingin kami melihat wajahmu, kau harus mencuci pakaian kami. Itu pilihanmu.”

Di bawah langit malam, suara 2 laki-laki terdengar sangat mendominasi. Gabriella meletakkan kedua tangannya di atas topi sambil menghindari tangan kedua warrior itu. Dia berkata dengan takut-takut. “Kalian… kalian bilang kalau aku mencuci pakaian kalian, kalian akan berhenti mem-bully-ku…”

“Kami tidak mem-bully-mu…” Si murid botak yang 8 inci lebih tinggi dari Qian Jin dan telanjang dada meraih ujung topi runcing Gabriella. “Kami hanya menunjukkan keramahan kami. Kau sendiri yang tidak menerima pertemanan ini dan menyakiti perasaan kami.” Dia seperti sedang menganggu anak anjing.

“Benar!” Murid warrior lain dengan tinggi yang sama menyilangkan tangan di dadanya dan berkata. “Kau menyakiti perasaan kami. Karu harus mencuci pakaian kami untuk memperbaikinya. Jika tidak, kami akan melepaskan topimu…”

“Tidak…” Gabriella meninggikan suaranya dengan takut-takut. “Apa ini terakhir kalinya aku mencuci pakaian kalian?” Dia terdengar seperti hampir menangis.

“Tentu saja; ini terakhir kalinya.”

Senyum kemenangan muncul di wajah 2 murid warrior itu. Qian Jin, yang berdiri agak jauh, bisa tahu bahwa keduanya tidak tulus mengatakan itu. Ada eskpresi mengejek di wajah mereka, seperti… seperti…

“Seperti ekspresi yang paling kubenci!” Qian Jin mengerutkan dahinya. Ekspresi itu memicu serangkaian kenangan yang tak diinginkannya.

Jika itu terjadi sebelumnya, dia pasti akan mengabaikan hal-hal yang tidak berkaitan dengannya. Dia akan menutup mata, menutup telinganya dan berpura-pura tidak tahu mengenai apa yang terjadi.

Rasa keadilan? Qian Jin tidak pernah menganggap dirinya sebagai pahlawan. Dia hanya seorang produk gagal yang tidak bisa membangkitkan garis keturunan di dalam dirinya.

← PREV | Table of ContentsNEXT →


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

2 Comments Add yours

  1. Wahyudi says:

    Rute Gabriella bakalan terbuka?

    Like

  2. ko says:

    Korban selanjutnya? :v

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s