Stranger’s Handbook Chapter 74

Chapter 74 – Pembicaraan Tanpa Arah

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : Oyasumi Reads

“Begitu. Kami baru saja menceritakan sebuah cerita yang dalam.”

 

Ha ha ha.
Aku tertawa, tapi aku tidak dapat menghilangkan perasaan merinding ini.
Aku sama sekali tidak dapat memahami apa yang ingin dia sampaikan…..

Aku mengaktifkan sihir penguatan di tanganku yang gemetar, saat aku mengambil secangkir teh dan meminumnya.
Aku tidak dapat lagi merasakan rasanya, tapi karena tenggorokanku terasa kering, mau bagaimana lagi. Aku membutuhkannya.

 

“Hahaha. Paduka, Duke Zest, anda adalah lautan pada saat matahari terbenam….. Bagi kami yang berpegang teguh pada kasih tuhan pada saat malam tiba, sayang sekali.”

Sekali lagi, dia menghantamku dengan teka-teki yang membingungkan.
Apa maksud dari ‘lautan pada saat matahari terbenam’ itu!?……..
Orang ini ngeselin. Kuharap dia segera pergi.

Untuk sementara waktu, dia membandingkanku dengan sesuatu…. Itu adalah hal yang baik, kan?
Aku secara egois memutuskan hal itu. Bagaimanapun, tidak ada satupun yang dapat kupahami, jadi kenapa aku harus merasa terganggu? Bagaimanapun tidak ada gunanya mengkhawatirkan hal itu.

 

“Aku sangat menghargai hal itu, suster. Baiklah, bagaimana jika kita mulai membicarakan urusanmu kesini sebagai seorang utusan….. Apakah kamu membawa surat atau sejenisnya?”

Dia membeku untuk sesaat lalu dia mengeluarkan sebuah surat dari dalam kantong dadanya.

……… Jangan mengajari seorang suster untuk menyimpan surat di dadanya! Tempat itu bukan sebuah kontainer, kau tahu?
Ah, aku tidak melihat ada satupun halangan* di sana, jadi mungkin itulah sebabnya itu adalah tempat yang sempurna untuk membawa barang-barang, huh?
*TN: Dengan kata lain dia F-L-A-T!!

 

Dia menyerahkan surat itu dan aku membukanya.
Aku berdoa kepada tuhan agar isi dari surat ini bukanlah sejenis kitab suci lagi.

 

……….. Bagus. Isinya terlihat cukup bisa dipahami.

Itu benar-benar sebuah surat sangat resmi yang sudah lama tidak kulihat, dan itu bahkan dimulai dengan usapan salam.

Akhir-akhir ini, saat aku berpikir tentang surat, aku akan ingat pada kitab suci itu.
Yang Mulia juga sama saja, sejujurnya; itu hanya mengatakan ‘aku akan menyerahkannya padamu’.
Nama dan alamatnya benar-benar lebih panjang dari pada isinya. Aku benar-benar tidak ingin membaca surat seperti itu lagi.

 

Aku membaca surat yang di bawa oleh suster itu. Singkatnya, itu mengatakan:

‘Negara Suci Lilac mengakui bekas wilayah Kerajaan Tarminal sebagai wilayah Kekaisaran Grun.
Tindakan anda tidak semena-mena, melainkan keadilan. Kalian menyelamatkan penduduk dari diskriminasi antar ras, tanpa melakukan pertempuran.
Oleh karena itu, kami tidak akan menentang Kekaisaran Grun. Kita akan menjadi tetangga mulai dari sekarang, jadi kami mengharapkan beberapa pertukaran.’

Itulah ringkasan isinya.

Pengirimnya adalah Paus Garbera, pria yang memimpin Negara Suci Lilac.
Tidak banyak informasi tentang negara itu, karena mereka tidak terlalu terbuka. Cukup sulit untuk membayangkan sosok dari orang itu.
Tapi, jika aku menilainya dari surat ini, dia kelihatannya adalah orang yang mampu melakukan percakapan dengan benar.

 

Namun……… bagaimanapun ada ‘namun’-nya.

Pada akhir surat, ada sebuah kalimat mengerikan.

‘Suster yang kami kirim akan membangun gereja baru disana dan dia akan di tunjuk sebagai pendeta yang baru.
Dia sangat paham dengan doktrin kami, dan dia bukan orang yang licik. Dia adalah gadis yang penurut dan jujur.
Terima kasih dan kami akan menyerahkannya kepada anda.’

 

Itu sudah jelas bagiku bahwa ada maksud tersembunyi di balik kalimat itu.

‘Aku telah mengirim suster itu untuk bekerja disana. Tidak ada apapun di kepalanya, selain doktrin, jadi dia adalah sebuah bidak yang sempurna yang tidak akan pernah mengkhianati kami. Bagaimana jika kalian memutuskan untuk membunuhnya? Itu akan menjadi alasan yang sempurna bagi kami untuk berperang.’

 

Artinya kemungkinan besar seperti itu.

Karena dia tidak dapat merampas bekas Kerajaan Tarminal, dia mengirimkan umpan….. Karena tidak memiliki alasan yang jelas untuk bergerak dan menyerang akan menjadi sangat tidak menguntungkan.
Saat aku memikirkan hal itu, itu terasa cukup konsisten. Paus ini benar-benar orang yang licik.

 

Suster ini tidak benar-benar kurang ajar.
Apa yang dia lakukan adalah berbicara tentang doktrin misterius miliknya.

 

Jika dia dihukum karena alasan itu, sesuatu seperti ini mungkin akan terjadi:
‘Kita harus memberikan hukuman kepada kafir yang bahkan tidak memahami doktrin itu’……

 

Doktrin milik Lilac sangat toleran dengan kepercayaan agama lainnya, oleh karenanya mereka terbilang ramah dengan orang kafir (yang tidak sepaham dengan mereka).
Namun, mereka mengikuti aturan dasar: ‘Jika kalian membunuh kami, kami juga akan membunuh kalian. Karena kami tidak kami tidak mengajak orang untuk masuk ke agama kami, kalian tidak punya hak untuk berbicara tentang kepercayaan kami.’
Mereka sudah pasti menyukai perselisihan.

 

Menyadari harapan tidak menyenangkan dari paus itu, aku menghela nafas panjang dan meminum sedikit teh.
Aku harus membicarakan dengan yang lainnya tentang apa yang harus kulakukan.

 

“Aku sangat memahami apa yang paus pikirkan. Kamu akan menjadi pendeta, benarkan, suster? Apakah kamu akan menggunakan gereja yang sudah ada?”

“Menerima bantuan dari saudara tercintaku dan menggunakan mereka untuk mempelajari dunia yang fana ini adalah ketidaksopanan bagi tuhan kami. Kapal yang mengapung di atas samudera hanya berharap pada naungan tuhan; itu sama seperti mencari bunga di dalam hutan.”
*TN: Sumpah aku juga nggak ngerti ini orang ngomong apa… :v

 

Kamu memahaminya, kan?
Kelihatannya senyum dan kepalanya lebih condong ke perasaan ragu, saat menanyakan hal itu kepadaku.

Aku sama sekali…. Tidak paham…….

 

“………. Memang.”

“Itu seperti berdoa kepada tuhan untuk rahmatnya. Sementara untuk Paduka, Duke Zest, aku berdoa demi kedamaian dan ketenanganmu. Baiklah, saya akan permisi kalau begitu.”

 

Dia berdiri dan membuat sebuah pose berdoa, sebelum meninggalkan ruangan ini.

 

Aku ditinggal sendirian dan meminum teh milikku yang sudah menjadi dingin.

“Kirim seseorang untuk membuntuti suster itu. Dan jangan sampai ketahuan.”
“Baik!”

Bayangan hitam yang menyembunyikan diri di sudut ruangan menghilang.
Dia adalah salah satu mantan petualang terpilih yang terdaftar dalam Unit Intelijen milikku.

 

“Untuk saat ini, kami harus mengadakan sebuah rapat…..”

Aku menggumamkan hal itu tanpa kusadari.
Situasinya jauh lebih gelap dari pada yang kuduga sebelumnya…. Dan aku merasa sangat lelah……

 

Aku mengumpulkan seluruh staff manajemen didalam ruang pertemuan.
Yah, untuk saat ini mereka hanyalah Albert dan Guruku.

Guru baru sampai kemarin.
Dia membawa 200 ksatria hitam bersamanya.
Bagaimanapun, kelihatannya kekaisaran tidak berniat menjual tempat ini.

 

“Berdasarkan laporan unit intelijen, suster itu sedang berada di area gereja, melakukan beberapa renovasi. Aku percaya dia akan menggunakan tempat itu sebagai markas untuk melakukan komunikasi dengan negaranya.”

“Begitu. Namun, menggunakan agama untuk melakukan hubungan diplomasi benar-benar merepotkan.”

“Paduka, haruskah kita membunuhnya?”

Albert…… diamlah, sialan.

 

“Untuk saat ini, aku ingin memberitahukan hal ini kepada Kaisar dan menunggu persetujuannya. Seperti yang dapat diduga, perkataanku tidak cukup berat dalam masalah ini.”

“Memang. Kamu mungkin harus lebih banyak mengambil keuntungan dari ibukota kekaisaran, jangan terlalu menahan diri.”

Guru, kamu benar-benar bisa di andalkan.

“Lalu, untuk saat ini kita hanya akan melihat dan menunggu…. Guru, kamu akan tinggal disini untuk beberapa saat, kan?”

“Ya, itu benar. Dan aku benar-benar tidak keberatan jika kamu menggunakanku.”

 

Bagus….. sampai saat ini, aku hanya bekerja dengan para otak otot, jadi aku benar-benar senang saat dia mengatakan hal itu.
Aku memiliki penasehat saat ini.

 

Aku benar-benar membutuhkan beberapa pegawai sipil cerdas lainnya sebagai bawahanku, jika tidak situasi ini mungkin akan menjadi rumit.
Bagaimanapun, pekerjaan yang harus di selesaikan terus meningkat.

 

“Ngomong-ngomong, Zest, aku memiliki sesuatu yang harus kubicarakan denganmu.”

 

 

Suaranya begitu rendah sampai-sampai terdengar seperti dimiliki oleh makhluk lain, yang merayap di bawah tanah, dan matanya lebih gelap dari pada kegelapan itu sendiri.
Aku merasakan sensasi terbakar di kulitku saat aku melihat niat membunuh yang sangat besar keluar dari tubuhnya.

 

Huh? Kenapa dia marah?
Albert! Kau pasti…. Dia menghilang……
Anjing itu, dia berani melarikan diri!?

 

 

 

 

“kudengar kamu memiliki sebuah alat sihir yang merekam tubuh telanjang Bea, apakah aku benar? Aku tidak membesarkannya untuk menjadi orang tak bermoral, kamu tahu? Apa yang kamu lakukan kepadanya?”

Guru mendekatiku, kekuatan sihirnya benar-benar berada pada level max.

 

 

 

 

 

Kamu akan mengerti jika kita bicarakan.
Sebaliknya, kamu tidak akan pernah mengerti jika kita tidak membicarakan hal ini.

Kekuatan sihirnya mirip seperti cambuk yang mengiris lantai batu. Saat aku melihatnya mendekatiku, aku kembali berpikir untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

 

……………….. Aku mungkin akan mati.

← PREV | Table of ContentsNEXT →


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

4 Comments Add yours

  1. Afaro16 says:

    wkwkwk udh lama gak muncul kalimat sakral itu :v

    Like

  2. Ko says:

    Akhirnya keluar juga quote andalan

    Like

Leave a Reply to Ko Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s