I Kinda Came to Another World, but Where’s the Way Home? Chapter 22

Arc 2
Chapter 22 – Kerakusan Budak yang Tak Terbendung

Penerjemah : Nightcrow
Editor : Zen Quarta
Sumber English : AbsurtTL

Sudah seminggu sejak aku datang ke negara ini, Miniera, dan sekarang kami melewati gerbangnya untuk pergi keluar. Lulu-chan tampak gelisah untuk pergi keluar, tapi sambil kutuntun, meski lambat, dia mengikutiku melewati gerbang.

Tanaman obat yang menjadi objek misi ini, jika kuingat namanya rumput Hirashina yang tumbuh di sekitar negara ini, jumlah minimum yang harus kami dapatkan adalah lima puluh. Dengan batas waktu seminggu, mungkin itu jumlah yang cukup banyak.

Untuk klien, fakta bahwa misi rank H tidak populer bagi petualang sudah menjadi fakta umum, atau daripada itu, petualang rank H sepertiku cukup langka sama seperti petualang rank S.

Oleh karena itu, dengan memberi batas seminggu, mereka berharap ada petualang rank G keatas mau mengambil misi tersebut ketika waktu luang. Jika tidak ada yang mengambilnya, mereka terpaksa mengambilnya sendiri. Jadi itu artinya tidak ada yang lebih baik daripada saat ada seseorang mau mengambilnya.

Bagaimanapun, aku di negara ini. Naginata Kitsune (Petualang rank H) yang selalu mengambil misi yang sepele dengan antusias. Aku yang mempunyai tingkat keberhasilan misi 100%!

“Hmm, itu disekitar sini kan?” (Kitsune)

“Ya! Disinilah tempat tumbuhnya rumput Hirashina! Karena kita pernah kesini sebelumnya, aku tidak mungkina salah!” (Finia)

Jumlah misi yang telah kuambil minggu ini ada 17. Diantaranya, ada lima misi untuk mengumpulkan tanaman obat, dan dua diantaranya mengumpulkan rumput Hirashina seperti ini. Waktu itu, kami menemukan tempat ini dimana banyak tumbuh rumput Hirashina.

Sebagai ganti pada banyaknya tanaman itu yang tumbuh disini, ada hal buruk dimana ada banyak monster muncul disini, tapi sihir Finia-chan mampu menanganinya. Karena itulah ketika kami berlatih dengan Rishe-chan, aku lupa tentang benda yang disebut senjata.

“Lulu-chan” (Kitsune)

“Ya” (Lulu)

“Lima puluh tanaman obat seperti ini, bisakah kau membantuku mengumpulkannya?” (Kitsune)

Pada Lulu-chan yang juga melihat rumput Hirashina disebelahku, aku mengatakan hal tersebut sambil menunjukkan rumput Hirashina yang kuambil.

Sifat budak masih melekat dalam dirinya. Karena itu, ada kemungkinan bahwa dia adalah anak yang akan khawatir bila tidak diperintah.

Jika begitu, kupikir meminta sesuatu padanya akan menjadi hal yang lebih baik.

“Aku mengerti” (Lulu)

Lalu, Lulu-chan mulai mengumpulkan rumput Hirashina seperti permintaanku. Sambil berjongkok, dia dengan terampil mengambilnya. Jika begini, dia bisa memenuhi jumlahnya dalam sejam.

Ketika kami menyelesaikannya, haruskah kami pergi menaikkan level dengan berburu monster kecil? Ayo berpikir, apa yang terjadi dengan status weakened-nya? Hari ini dia tampak berbeda dengan kemarin.

Status, status


◇Status◇

Nama                           : Lulu Soleil

Kelamin                       : Perempuan Lv. 1

Strength                      : 150

Stamina                       : 100

Resistance                   : 50

Magic Power               : 100

 

Title                             : [Slave]

Skill                            : None

Innate skill                  : ???

PT Member                 : Naginata Kitsune, Finia (Peri)


Oh? Status weakened-nya yang kemarin telah hilang. Bukankah penyembuhannya cukup cepat, apa itu juga salah satu ciri demi-human? Sebuah kemampuan yang tidak tertulis dalam status, mungkin hal seperti itu juga ada huh? Aku agak tertarik dengan title-nya, dan juga dengan innate skill-nya yang masih tanda tanya. Aku berfirasat ada potensi tersembunyi pada dari kami.

“Finia-chan” (Kitsune)

“Ya!” (Finia)

Oleh karena itu, harusnya hal itu akan sangat berguna bagi kami suatu hari. Untuk sekarang, lakukan yang dapat kita lakukan.

Didepan kami, muncul tiga ekor monster wild boar. Mereka monster adalah monster lemah sama seperti serigala itu, dan dengan statusku sekarang, serangan mereka tidak akan mempengaruhiku.Itu tampak sembrono, karena serangan mereka tampak menakutkan, tapi level serangan mereka tidak berdampak besar. Kelihatannya monster tersebut, dibanding ukuran mereka, kekuatan mereka tidak cukup besar.

“!?” (Lulu)

“Tidak masalah, Lulu-chan. Kau hanya harus mengumpulkan tanaman obat seperti itu, karena kami akan melakukan sesuatu pada mereka” (Kitsune)

Waktu yang tepat, ayo tunjukkan pada Lulu-chan. Seberapa hebat tuannya. Monster tersebut, ayo kalahkan mereka dengan cepat.

“Majulah, dasar babi kecil” (Finia)

◇ ◇ ◇

Dengan dipimpin Kitsune-sama, aku(Lulu) dibawa ke padang rumput diluar negara untuk mengumpulkan tanaman obat yang tertulis di misi.

Bahkan karena aku bangun kesiangan pagi ini. Aku pikir aku gagal sebagai budak. Bangun setelah tuanku, sebagai budak itu tidak dapat dimaafkan. Saat bangun, kantukku langsung hilang, dan lalu aku meminta maaf dengan wajahku terasa pucat.

Akhirnya aku dimaafkan oleh Kitsune-sama, tapi aku pikir aku harus membalasnya.

Setelah sarapan, Kitsune-sama memberiku pakaian bekas milik pemilik penginapan. Dengan warna hijau dan memudahkan pergerakanku, dan terlebih itu dibuat dari kain yang sangat bagus, pakaian manis yang tidak pernah sekalipun kupakai. Aku pikir sebagai budak, bolehkah memakai ini, tapi karena Kitsune-sama memujiku dengan mengatakan aku manis, itu memalukan tapi aku sangat berterimakasih.

Setelah itu, aku tahu Kitsune-sama adalah seorang petualang. Saat dibawa ke guild petualang, aku dapat peringatan sebelum memasukinya.

Aku harus tetap kuat ketika ada seseorang memanggilku, dan ketika seseorang mengangkat tangannya padaku, aku harus memukul selangkangannya. Aku sungguh memasukkannya dalam hati.

Ketika kami masuk, ada orang besar yang datang memanggil kami. Peri-sama pindah ke pundakkku, aku sangat takut, tapi Peri-sama memberiku saran.

“Lulu-chan, Lulu-chan, sekarang waktunya kau harus bersikap kuat! Majulah kedepan orang itu, dan ulangi apa yang kukatakan!”

Peri-sama memberiku kesempatan untuk membalas kesalahanku. Aku juga ingat apa yang dikatakan Kitsune-sama didepan guild, aku sungguh berpikir bahwa aku tidak punya kesempatan tapi aku akan mencobanya. Aku melangkah diantara Kitsune-sama dan orang itu, aku menatap orang itu dengan tajam. Dan lalu, Peri-sama berbisik ke telingaku. Setelah mendengarnya, aku mengulanginya.

Di, diam kau, bajingan”

Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi karena Peri-sama memujiku bahwa aku melakukannya dengan benar, jadi dengan ini harusnya baik-baik saja.

Dan lalu, orang itu berteriak sambil memandang rendah padaku. Aku takut, tapi Peri-sama berbisik lagi padaku. Tetap kuat, tetap kuat…!

Diam kau, jangan bicara padaku! Dasar bau….!”

Ketika aku mengatakannya, orang tersebut terkejut. Aku merasa telah melakukan hal yang buruk, tapi karena Peri-sama memujiku lagi, aku jadi berpikir ini harusnya baik-baik saja.

Setelah itu, orang tersebut mengangkat tangannya dan mengelap wajahnya.

Mengangkat tangannya” dan mengelap wajahnya.

Aku tiba-tiba ingat perintah Kitsune-sama. Ketika ada seseorang yang mengangkat tangannya lalu pukullah selangkangannya. Aku harus memasukkannya dalam latihan.

Aku mengepalkan tinjuku, dan memukul selangkangannya. Ada sensasi aneh di tinjuku, tapi hatiku merasa senang. Aku melakukannya. Aku melakukannya seperti perintah Kitsune-sama. Dengan ini aku bisa membalas kesalahanku pagi tadi! Pikirku.

“Kitsune-sama… aku, aku melakukannya”

Ketika aku mengatakannya, Kitsune-sama memujiku. Jika aku bisa membantu Kitsune-sama seperti ini, aku benar-benar akan mendapat pujian lebih. Aku tidak tahu alasannya, tapi bagaimanapun Kitsune-sama sangat baik pada budaknya (aku). Dengan ini, mungkin aku tidak akan dibuang.

Dan sekarang. Aku, yang dibawa ke padang rumput ini, mengumpulkan tanaman obat sesuai perintah Kitsune-sama. Tapi tanganku terhenti.

Itu karena, pemandangan didepanku yang tidak dapat dipercaya.

“Finia-chan! Cepat lakukan! Mati! Aku akan mati!” (Kitsune)

“Serahkan padaku! Aku akan meledakkan mereka bersama” (Finia)

“Bukankah itu artinya aku akan mati juga!?” (Kitsune)

Kitsune-sama dengan tenang menantang tiga wild boar. Tubuhnya seperti pahlawan dari cerita dongeng, aku pikir dia keren.

Tapi, jauh dari cerita dongeng, Kitsune-sama sekarang diinjak oleh tiga monster. Diinjak oleh tiga monster yang menyerangnya bersamaan. Dia tampak tidak terluka, tapi Kitsune-sama berjuang mati-matian menahan serangan para wild boar.

Aku dengan takutberpikir apakah dia baik-baik saja, tapi Peri-sama segera mengarahkan tangannya kedepan, monster tersebut meledak dalam sekejap.

Sekilas, dari kepala mereka muncul cahaya menyilaukan, dengan melihatnya aku mengerti monster tersebut telah mati. Mungkin sihir, tapi tiga dalam sekali serangan, terlebih dengan akurasi yang menakjubkan, tidak ada keraguan bahwa kemampuan sihir Peri-sama cukup tinggi.

“Fiuh…, itu kemenangan yang mudah kan?” (Kitsune)

“Apa Kitsune-san melakukan sesuatu?” (Finia)

“Ya, karena aku menahan serangan mereka, bukankah itu menghasilkan kesempatan emas untuk Finia-chan untuk menyerang” (Kitsune)

“Kau benar-benar pintar memuji! Seperti yang diduga dari Kitsune-san, hanya mulutmu yang benar-benar menjadi pengecualian” (Finia)

“Aku bukan apa-apa dibanding kau yang bisa menusuk hati seseorang” (Kitsune)

Kitsune-sama dan Peri-sama berselisih. Tapi aku tidak merasa mereka memiliki hubungan buruk, waktu makan, Kitsune-sama selalu membagi makanannya pada Peri-sama, Kitsune-sama melihat Peri-sama dengan ramah, dan senyum Peri-sama pada Kitsune-sama benar-benar murni, sejujurnya aku tidak mengerti.

Tapi, melihat mereka, aku pikir aku sedikit iri.

“Ah… aku harus mengumpulkannya….” (Lulu)

Tiba-tiba aku sadar, aku mulai mengumpulkan tanaman obat lagi. Kitsune-sama benar-benar ramah, tapi itu tidak berarti dia tidak akan marah. Saat dia berbicara denagn penjual budak, dia tampak marah terhadap sesuatu.

“Lulu-chan, apa kau sudah selesai mengumpulkannya?” (Kitsune)

Kitsune-sama bertanya sambil melihatku. Aku belum mencapai jumlah yang dibutuhkan, sambil berpikir dia akan marah padaku, aku langsung menundukkan kepalaku saat menjawab.

“Belum… saya belum selesai mengumpulkannya” (Lulu)

“Begitu, tidak apa-apa, lakukanlah dengan santai” (Kitsune)

“Ap, ya” (Lulu)

Kitsune-sama mengatakannya, dan membelai kepalaku. Tangannya yang membelai lembut kepalaku terasa hangat dan nyaman. Aku menyadari kemarin, tapi tampaknya kepalaku yang dibelai adalah kelemahanku. Merasa nyaman, aku tanpa sadar menggosok kepalaku pada tangannya.

“Baik, karena kami akan mengalahkan monster yang mencoba mendekat kesini, jadi ketika kau selesai mengumpulkannya tolong panggil kami” (Kitsune)

“Ha….” (Lulu)

Kitsune-sama menarik tangannya. Merasakan tangan hangatnya pergi, aku tersadar. Jawabanku juga tidak jelas. Aku harus fokus.

Setelah itu, aku mengumpulkan tanaman obat sedangkan Kitsune-sama dan Peri-sama bertarung melawan monster. Tanpa kusadari, aku telah memenuhi jumlahnya, aku tak sengaja mengumpulkan lebih dari 100, tapi ketika aku menoleh ke Kitsune-sama yang melawan monster kesepuluh. Penampilannya tampak tenang, tapi segera berubah.

Ketika aku berkata telah selesai, Peri-sama meledakkan monster yang menyerang Kitsune-sama, dan mereka mendatangiku.

“Ya, tampaknya kau mengumpulkan terlalu banyak kan?” (Kitsune)

“Saya minta maaf….” (Lulu)

“Tidak tidak, aku pikir semakin banyak lebih baik. Kau melakukannya dengan baik” (Kitsune)

“Kau hebat Lulu-chan! Bahkan aku pasti sudah kelelahan setelah mengumpulkan lima!” (Finia)

“Aku pikir akan lebih baik jika Finia-chan mencoba lebih keras” (Kitsune)

Kitsune-sama dan Peri-sama memujiku. Aku senang dipuji seperti ini, tapi aku merasa sedikit gelisah oleh fakta bahwa mereka tidak pernah memarahiku.

Terlebih, melihat mereka berselisih lagi, aku pikir apa aku akan bisa bersama mereka seperti ini. Untuk budak yang berpikir demikian, itu sangat rakus.

“Oke Lulu-chan, sekarang ayo lihat bagaimana kau bertarung” (Kitsune)

“Eh….” (Lulu)

Dan lalu, Kitsune-sama mengatakannya padaku. Bertarung? Melawan monster? Aku memang budak, aku harus mengikuti perintahnya….

Tapi, aku akan mati jika melawan monster. Karena aku bahkan tidak pernah bertarung melawan mereka sekalipun.

“Ti, tidak….” (Lulu)

Oleh karena itu, aku membalas dengan jawaban seperti budak pada umumnya, dan menolak perintahnya. Aku berpikir tanpa ragu bahwa dia akan marah. Mungkin dia akan bilang bahwa dia tidak butuh budak yang tidak mendengarkan perintahnya.

“Begitu. Ayo pulang” (Kitsune)

“Eh?” (Lulu)

“Hmm? Mengapa kamu bingung, Lulu-chan? Sudah kukatakan di awal kan? Bahwa kau tidak perlu melakukan hal yang tidak ingin kau lakukan” (Kitsune)

Berbeda dengan yang kupikirkan, Kitsune-sama mengatakannya padaku tanpa marah. Dia memang mengatakannya, aku tidak pernah berpikir bahwa aku boleh menentang perintahnya. Bukankah itu artinya aku diperlakukan bukan sebagai budak, namun sebagai keluarga atau temannya. Bukankah itu hal yang kuinginkan, keinginan itu seperti mimpi. Bukankah seolah-olah aku diijinkan untuk jadi orang yang serakah.

Hal itu tidak termaafkan.

“Itu… itu tidak bagus….” (Lulu)

Karena itu, aku… mengatakannya.

PREV | Table of Content | NEXT


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

5 Comments Add yours

  1. david says:

    Trus gmn donk nasib, si oppai.
    Mntb hsl TL nya lanjtkn…

    Like

  2. GoeMooN says:

    Oh, Lulu chan 😀

    Like

  3. ko says:

    Kitsune kau tercyduk :v

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s