Stranger’s Handbook Chapter 70

Chapter 70 – Sekali lagi, Ke Medan Pertempuran

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : Oyasumi Reads

“Hoho, kamu sudah sampai, cucu menantu-dono. Bea juga, ini sudah lama. Bagaimana keadaanmu? Kuharap baik-baik saja.”

“Tentu saja. Bagaimana denganmu, kakek? Bagaimana kesehatanmu?”
(Toto juga ada di sini, kakek.)

 

Frontier Count menunjukkan senyum lembut kepada mereka berdua, senyum yang tidak akan pernah dia tunjukkan kepadaku, saat dia menyambut kami.
Bagaimana bisa Toto tidak takut duduk di bahu Frontier Count? Dia benar-benar menakjubkan……

Aku mengumpulkan prajuritku dan menuju ke benteng, tapi aku memutuskan untuk mampir ke Kastil Frontier Count terlebih dahulu dan menyerahkan Bea dalam perlindungannya.
Itu karena Frontier Count tidak termasuk ke dalam strategi kali ini.

Tentu saja, guru dan ayah angkatku akan ambil bagian, tapi mereka tidak dapat meninggalkan langit yang ada di atas wilayah Frontier Count; bagaimanapun, mereka bertugas untuk melindungi perbatasan.
Dan dengan demikian, sang penguasa harus tetap berada di dalam kastilnya.

 

Namun, dia terus membual tentang hal-hal seperti betapa membosankannya berperan sebagai penjaga rumah atau tentang ketidaksiapannya untuk kehilangan para generasi muda saat ini.
Meski begitu……

(Kakek, ini lezat!)
“Begitukah? Aku masih punya banyak!”

Dia menyipitkan matanya dan mengusap rambut Toto…… Dia sangat memanjakan Toto. Mungkin karena dia terlihat dengan Bea kecil.

“Dengar, Toto-chan, jika sekarang kamu terlalu banyak makan, kamu nanti tidak dapat memakan makan malam. Jangan terlalu berlebihan, ok?”

“Hoho, itu tidak masalah! Kesini, minumlah sedikit jus buah.”
(Terimakasih, Kakek!)

 

Dia berubah menjadi orang tua bodoh yang suka memanjakan cucunya…. Tapi, aku sudah pasti dapat menyerahkan mereka berdua kepadanya tanpa perlu khawatir.

Kastil ini, yang akan menjadi tempat tinggal Bea dan Toto untuk sementara waktu, akan jaga oleh Frontier Count.
Hanya dengan membayangkannya sudah membuat keringat dingin mengalir di punggungku…… Orang tua yang terlihat bodoh menginjak seua musuh, sambil tersenyum ke arah cucunya.

 

“Lalu akan menyerahkan mereka kepadamu. Bea, Toto, aku akan berangkat sekarang.”
“Ya, hati-hati. Aku akan mendoakan keselamatanmu!”
(Papa, hati-hati.)

Saat aku memeluk Bea, Toto juga ikut bergabung.
Dia menggunakan seluruh tubuh kecilnya untuk dengan keras keras kepala menempel di kepalaku dan memelukku.

“Ya. Aku pasti akan kembali. Ke tempat dimanapun kamu berada, Bea…..”

Aku mencium Bea, yang benar-benar malu dan kemudian meninggalkan ruangan itu.
Tepat pada saat itu, aku memutuskan didalam hatiku bahwa aku akan menyelesaikan urusan ini secepat mungkin.

 

“Albert, kita berangkat.”
“Ya pak! Semuanya, mulai bergerak!”

Kami bergerak di jalan menuju benteng.
Pertama, kami harus bertemu dengan Pasukan Utama Kekaisaran.

 

 

Setelah empat hari perjalanan, kami tiba di benteng.
Karena kami juga membawa infanteri…. Kecepatan kami sedikit melambat.
Namun, saat ini kami sedang melakukan perang penaklukan, sehingga jumlah prajurit akan berpengaruh, Itu tidak dapat dihindari.

 

“Paduka, Duke Zest, ini sudah cukup lama. Saya Raiza.”

Seorang ksatria berkata kepadaku, saat dia keluar dari dalam benteng.
Dia adalah seorang pria besar yang mengenakan armor dan helm yang indah….. Rambutnya berwarna biru…. Ah! Dia adalah orang berambut biru itu!

“Lama tak jumpa, Count Raiza. Atau, mungkin aku lebih baik memanggilmu, Komandan Jenderal Pasukan Utama Kekaisaran.”

Dia adalah komandan tertinggi dari Pasukan sang Kaisar, sebuah pasukan yang terdiri dari 20.000 prajurit.
Count Raiza yang berambut biru terlihat seperti seorang pria berumur 40-an.
Dia menjadi terkenal di masa mudanya sebagai seorang tentara yang menakjubkan, sang Kaisar mengakuinya. Dia adalah seorang viscount, tapi Yang Mulia menganugerahkan gelar Count kepadanya dan mempercayakan kepemimpinan Pasukan Kekaisaran kepadanya. Count Raiza adalah orang yang sangat menakjubkan.

Juga, dia adalah tangan kanan sang Kaisar.

 

“Paduka, panggil saja saya Raiza. Untuk saat ini, Anda bisa beristirahat di dalam benteng.”

“Tidak. Kita harus melakukan rapat terlebih dahulu. Jika kita membuang waktu-waktu, Kerajaan Tarminal akan kembali menyerang dan itu akan merepotkan.”

Raiza membungkukkan kepalanya dalam persetujuan dan mengantarkan kami kedalam benteng dalam diam.
Kami langsung menuju ke ruang rapat, karena aku ingin agar kami bergerak secepat mungkin.

Apa yang diputuskan selama rapat adalah ‘Dalam invasi ke Kerajaan Tarminal, Komandan Tertinggi Raiza akan memimpin Pasukan Utama Kekaisaran untuk melakukan penyerangan, sementara aku akan melindugi bagian belakang, saat aku mengikuti di belakangnya’’.
Mereka ingin agar Pasukan Utamalah yang bersinar dalam perang ini, jadi kurasa aku harus mengikutinya dengan patuh; bagaimanapun, akulah yang melindungi benteng ini beberapa waktu yang lalu.

Kerajaan Tarminal baru saja di kalahkan, jadi itu seharusnya akan menjadi sebuah kemenangan yang mudah.
Kelihatannya kami akan tetap aman bahkan tanpa memberikan perlindungan bagian belakang…..

Tapi yah, karena Yang Mulia memintaku secara langsung, aku memutuskan untuk mengikuti mereka untuk saat ini.

 

Kami tinggal di benteng untuk semalam dan mulai bergerak di keesokan harinya.

Perbatasan dengan Kerajaan Tarminal memang sangat dekat, tapi akan butuh waktu sekitar 10 hari untuk mencapai ibukota kerajaan.
Kami akan berada di jalan untuk sementara waktu…..

 

Sama seperti yang kami duga, kami tidak bertemu satu musuhpun selama tiga hari.
Tapi saat kami melewati beberapa desa dan kota lagi, kami masih tidak dapat menemukan satupun prajurit musuh.

Kami bertanya kepada penduduk tentang hal ini, dan mereka mengatakan bahwa tidak ada satupun prajurit yang terlihat di sekitar sini setelah beberapa hari lalu saat sejumlah prajurit yang compang-camping melewati tempat ini.

Pembelotan?
Apakah kamu benar-benar memojokkan Kerajaan sampai sejauh ini?

Kami mengirimkan beberapa pengintai lagi dan meningkatkan kecepatan pergerakan kami.

 

Meski begitu,, prajurit musuh tidak muncul…. Itu terasa sedikit aneh.
Tidak peduli bagaimanapun kau melihatnya, itu aneh….. Apakah terjadi sesuatu.

 

Kami menemukan jawabannya setelah kami tiba di Ibukota Kerajaan.

 

 

 

“Saya memiliki pesan untuk Paduka, Duke Zest! Ibukota Kerajaan akan menaikan bendera putih, tapi pintu gerbangnya akan tetap tertutup dan meriam yang ada siap di tembakkan kapan saja, kami ingin menyerah, jadi kami akan mengirimkan seorang pembawa pesan!”

 

 

Bukankah ini jebakan?…….
Aku bukan satu-satunya orang yang berpikir demikian.
Namun, perkataan yang kudengar selanjutnya melemparkanku kedalam kekacauan yang tidak perlu.

 

 

“Pembawa pesannya adalah seorang pria kemonobito, perwakilan ibukota kerajaan saat ini! Dalam rangka untuk penyerahan diri kami, dia meminta untuk di izinkan melakukan hal itu dihadapan Albert-dono!”

 

 

“……… Sebuah coup d’état?”
“……… Ya, kemungkinan besar begitu.”

Bukannya membuat mereka jatuh, sekarang aku harus mengikuti diskusi yang benar-benar merepotkan……
Ya ampun!

← PREV | Table of ContentsNEXT →


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

4 Comments Add yours

  1. irvanmaryono says:

    “……… Ya, kemungkinan besar begitu.”

    kwkw

    Like

  2. putraeka01 says:

    lanjut min…..

    Like

  3. aldzdiv says:

    Pertamax 😡

    Like

Leave a Reply to putraeka01 Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s