Stranger’s Handbook Chapter 65

Chapter 65 – Benteng yang Tak Bergerak

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : Oyasumi Reads

“Kita hanya memiliki sebuah strategi sederhana yang harus di ikuti hari ini. Zest-dono akan menembakkan mantra sihir besar secara acak. Aku dan Sonia akan menyerang musuh yang tersisa, tapi jika saja masih ada musuh yang bisa mendekati benteng ini, kalian yang akan mengalahkannya…. Paham.”

Itu sangat mudah di pahami.
Sebuah strategi yang menakjubkan, Frontier Count…..

 

 

 

“Katakan, masih ada musuh di sekitar sini, kan?”
“Ya, seharusnya masih ada di sekitar tempat dimana Zest-dono menembakkan mantra besar itu.”

Booooooooom

“…………… seperti disana.”
“…………….. Benar.”

 

“”Kami tidak punya kerjaan dan ini membosankan.””

Booooooooom

 

“Usaha Zest-dono tidak setengah-setengah.”
“Dia kelihatannya masih memiliki cukup kekuatan sihir yang tersisa. Dia meneriakkan sesuatu, bukan?”
“……………. Zest-dono, dia tidak pernah setengah-setengah.”

 

 

Para prajurit yang melindungi benteng tidak pernah mendapat kesempatan untuk terlibat dalam pertempuran.

Mereka sangat terkejut, melihatku, sang pahlawan duke, yang terus mengeluarkan sihir raksasa dan menembakkannya ke arah musuh, sendirian.
Bagaimana dia bisa melakukan itu terus meneru?…….. Dapatkah paduka mengalahkan seluruh musuh itu sendirian?
Itulah yang mereka pikirkan……..

 

Namun, kenyataannya hampir tidak semanis itu……

 

 

 

“Lumat itu! Zest-dono.”

“………………. Baiklaaaaaaaaah!”

Jika aku tidak berteriak untuk memotivasi diriku sendiri, kurasa aku akan pingsan…… aku dengan putus asa mencoba mengontrol kekuatan sihirku yang mulai tak terkendali dan menekan mereka kembali kedalam tubuhku.
Jika aku lengah bahkan dalam sekejap, mantra sihirnya tidak akan aktif………
Dengan hati-hati, aku kembali mengumpulkan kekuatan sihirku….. Bagus, ayo!!

Boooooooom

Itu mendarat tepat di sasaran, kelihatannya. Seluruh kekuatan sihirku keluar dari tubuhku……..
Lututku sedang menertawakanku, huh?
Aku memukul mereka dan mengembalikan kesadaranku; aku entah bagaimana berhasil tetap berdiri.
Aku mengonsumsi banyak kekuatan sihir, tapi masalahnya adalah kekuatan fisik dan mentalku….. atau dapat dikatakan, kemampuan berkonsentrasiku….. semakin berkurang sedikit demi sedikit.
Aku telah mengetahui hal itu.
Ini…. Terlalu berat…….

 

“Zest-dono, tolong tembakkan sihir ke arah sana juga.”

 

“……………Yaaaaaaaaaaa!”

Sialan! Jangan mengatakannya dengan santai seolah-olah itu adalah hal paling mudah di dunia…….
Aku sekali lagi memaksa kekuatan sihirku yang hampir lepas kendali masuk kedalam tubuhku dan mencoba membayangkan sebuah ledakan.
Aku mengkompresi dan mengkompresi dan mengkompresi kekuatan sihirku dengan nekat untuk menembakkan sihir besar lainnya.
Kedua tanganku mulai bercahaya, tapi itu belum siap saat ini.
Aku memaksa diriku untuk membuatnya menjadi lebih kuat dan lebih kecil…. Dan aku berhasil melakukannya!
Sebelah sana, katamu? MAKAN INI!!

Booooooooooom

Bagus, itu…… berhasil….. Sialan……. Kesadaranku mulai memudar…….
Apa? Ada sesuatu di mulutku….. Aku tidak bisa bernafas.
Aku akan mati jika aku tidak meminumnya!?

Entah bagaimana…. Aku meminum hal itu.

 

Apa? Wajahku berada didekat tanah….. Ah, apakah aku tertidur……?

Aku berdiri dengan perlahan dan menggelengkan kepalaku.
Aku baik-baik saja. Karena suatu alasan, kesadaranku terasa sangat jelas.

“Zest-dono, selanjutnya tembakkan ke sebelah sana.”

 

“………………. Baiklaaaaaaaaah!!!”

 

 

 

Pada hari itu, apa yang kulakukan hanyalah menembakkan sihir besar ke arah yang di tunjuk oleh Frontier Count dan guruku…. Itu adalah tugas yang ‘mudah’ dan aku melakukan yang terbaik untuk menyelesaikannya……
Katakan apapun yang kau mau, tapi aku benar-benar kelelahan………
Karena sihir ledakan area itu, aku menggunakan jumlah kekuatan sihir yang tidak biasa.

Dibandingkan dengan sihir penguatan dan sihir penyembuhan yang kugunakan sampai saat ini, sihir itu mengonsumsi kekuatan sihir sepuluh kali lebih besar.
Kenyatannya, aku kehabisan kekuatan sihir beberapa kali.
Dan pada saat itu Unit Maid akan memaksaku meminum semacam obat pemulih…..
Itu adalah hati penyiksaan bagiku.

Namun, itu cukup bagus untuk mempertahankan markas kami.

Memang, hanya untuk membela diri sendiri…..

Jika aku keluar ke medan pertempuran dan menembakkan mantra sihir itu dengan tingkat kesuksesan tinggi, aku akan segera di kelilingi oleh musuh dan terbunuh dengan cepat.
Konsumsi kekuatan sihirnya terlalu tidak menguntungkan…..

 

Perutku membuat suara aneh saat para Maid membopongku ke kamarku.
Terimakasih……
Aku sangat kelelahan sampai-sampai aku tidak dapat mengatakan sepatah katapun.

Aku roboh ke tempat tidurku seperti hendak pingsan.
Para maid mengelap tubuhku menggunakan handuk dingin.
Ah, itu terasa nyaman. Terimakasih.

Meskipun aku ingin berterimakasih kepada mereka, membuka mulutku adalah sebuah tugas yang terlalu merepotkan.

Aku memutuskan bahwa aku tidak akan pernah lagi menggunakan sihir ledakan………..

Aku benar-benar mempercayai hal itu.
Itu terlihat mudah bagi orang-orang yang ada di sekitarku, tapi bagiku itu terlalu berat.

Ini…… hanyalah sebuah kematian……….

Para maid meninggalkan ruangan setelah mereka selesai membersihkan tubuhku..

Aku pasti akan berterimakasih kepada mereka nanti. Aku terasa nyaman saat ini jadi aku dapat bersantai dan tidur.

 

 

 

 

“Serangan musuh!! Serangan musuh!! Musuh melakukan serangan malam!”

 

Aku mendengar suara tajam. Itu terdengar seperti suara cambukan?

 

“……………. Maju sini! Kalian tidak berniat membiarkanku beristirahat, huh?”

Aku melompat bangun dan diselimuti oleh semangat yang aneh.

 

 

“Dimana musuhnya!? Aku akan melumat mereka semua!!”

“Gahahahaha, Zest sangat bersemangat! Ayo!”

 

“Ikuti Paduka!!”

 

 

“Dia tak henti-hentinya menembakkan mantra sihir dangan cara seperti itu di siang hari, dan sekarang dia bertarung begitu ganas dengan sebuah pedang?”
“Zest-dono bukan orang yang setengah-setengah.”

 

“Apakah ini yang kalian sebut serangan malam? Beraninya kalian!? Setelah aku selesai dengan kalian, kalian tidak akan pernah mau melakukan serangan nokturnal lagi!”

 

 

“…….. Dia juga merupakan seorang monster saat menggunakan pedang.”
“Dia berada pada level yang sama dengan Komandan Ksatria.”
“……….. Aku bersyukur karena dia berada di pihak kita.”
“Aku baru saja memutuskan untuk tidak melawan bendera pedang dan ular.*”
“””…… Benar.”””
*TN: Lambang keluarga Zest

 

 

 

Setelah para penyerang bodoh itu akhirnya terpencar, aku kembali ke kamarku tapi….

Seorang maid sedang menungguku sambil tersenyum.

 

 

“Paduka, ini adalah saatnya pertemuan.”

Kupikir juga begitu…………….

← PREV | Table of ContentsNEXT →


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

11 Comments Add yours

  1. Afaro16 says:

    sialan mereka. mereka tak tau bagaimana capeknya zest :v

    Like

  2. Rawing says:

    Makasih min buat translate nya hehe

    Like

  3. yuu shion says:

    Kakakakakaaa,,
    Si zest ngemaso..

    Like

  4. Trè says:

    terkutuk dah itu maid :v
    saatnya pertemuan… :v

    Like

  5. GoeMooN says:

    Cheat pembawa sial xD

    Like

  6. Ko says:

    Wkwkkwk ngga ada istirahat

    Like

  7. BlueSky says:

    Makasih bang min….
    Ditunggu lanjutannya….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s