Genjitsushugisha no Oukokukaizouki Arc 4 Chapter 0

Arc 4
Chapter 00 – Konferensi Meja Bundar (Kotatsu)

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : Larvyde

(Catatan Pengarang: Chapter terakhir berakhir di akhir tahun, tapi mari kita mundur ke satu setengah bulan sebelumnya)

 

Itu terjadi beberapa saat setelah penggabungan Amidonia telah diputuskan. Pagi itu, aku terbangun setelah mendengar suara BANG akibat pintu tertutup dengan keras, dan saat aku berguling dengan kepala yang masih setengah tertidur, dahiku menyentuh sesuatu yang lembut. Di saat bersamaan,

“Nnnh♪”

Aku mendengar sebuah erangan yang aneh…. Ada sesuatu yang tidak beres. Saat kepalaku mulai terbangun, aku mulai menyadari posisi saat ini aku berada. Pertama, kepalaku sedang dijepit dengan erat. Kelihatannya seperti seseorang sedang memelukku, dan karena itu, dahiku tertekan ke dada orang itu. Yang artinya perasaan lembut ini adalah….

Dengan bingung, aku menggunakan kekuatanku untuk melepaskan diri dari pelukan orang itu. Apa yang masuk ke dalam pandanganku setelah aku melakukan hal itu adalah wajah Roroa yang tertidur dengan nyenyak (sedikit mengeluarkan air liur, tapi anggap saja aku tidak melihatnya)

(Eh, apa? Ini, kenapa Roroa tidur disebelahku?)

Ruangan ini….. adalah Kantor Pemerintahan di Ibukota, Parnam. Aku tidak salah kamar, jadi bagaimana aku bisa tidur bersama dengan Roroa? Pakaian…. Ya, mereka masih berada ditempatnya. Tepatnya, kami berdua tidak mengenakan pakaian tidur, tapi masih mengenakan pakaian kasual kami. Eh…. Apa yang terjadi kemarin? Aku dengan memutar otakku dengan panik dan mencoba untuk mengingat apa yang terjadi.

“Kau pikir apa yang sedang kau lakukan?”

Sebuah suara sedingin es terdengar dari depan. Aku berbalik kesamping, berderit seperti robot yang kekurangan minyak di sendinya, dan melihat Liscia berdiri disana, tersenyum sambil menunjukkan aura Hannya*. Aisha berdiri dibelakangnya, dan karena suatu alasan dia berlinang air mata.
*TN: Hannya adalah Iblis Kecemburuan di Jepang

“…. Pagi Liscia, Aisha.”

“Jangan mengucapkan selamat pagi kepadaku!”

Saat Liscia mengatakan hal itu, dia menarik selimut yang menutupiku. Roroa meringkukkan dirinya seperti posisi janin karena kedinginan tapi kelihatannya dia tidak akan terbangun. Aku berharap agar kamu segera menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

“Kamilah orang yang butuh penjelasan! Aku bertanya-tanya apa yang terjadi saat Aisha datang ke kamarku sambil menangis, dan dia berkata ‘Saya pergi untuk membangunkan Yang Mulia dan menemukan dirinya sedang tidur bersama dengan Roroa!’ kau tau!”

“Kenapa anda meletakkan tangan anda pada Roroa sebelum Tuan Putri atau saya! Saya tidak bisa menerima hal ini!”

Aisha berteriak sambil berlinang air mata. Tolong, aku mohon padamu, jangan meneriakkan hal seperti itu dengan keras. Semua orang yang bekerja di Istana akan mendengarnya dan akan menggosipkan tentang shuraba* atau sejenisnya! Serina pasti akan menyebarkannya karena dia pikir itu akan menyenangkan!
*TN: Adegan pembunuhan (adegan saat istri mengetahui bahwa suaminya selingkuh)

“Tenanglah Aisha. Aku dan Roroa masih mengenakan pakaian, kan. Aku yakin ini tidak seperti yang kalian berdua bayangkan…. Mungkin.”

“Dan kenapa kau tidak bisa mengatakannya dengan yakin!?”

“Yah, aku tidak benar-benar bisa mengingat apa yang terjadi saat aku tertidur…. Atau bahkan kenapa kami berdua tidur di tempat tidur yang sama sambil mengenakan pakaian kasual.”

“…….. kenapa kau tidak mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam?”

Aku mencoba mengingat urutan hal-hal yang terjadi tadi malam seperti yang Liscia katakan. Jika aku tidak salah, aku melakukan pertemuan larut malam dengan Roroa dan Colbert dan pegawai pemerintahan dari kedua negara dalam rangka untuk melakukan penyusunan skema perpajakan (Amidonia memiliki penduduk yang lebih sedikit dari Kerajaan, jadi setiap orang kelihatannya telah dikenakan pajak yang lebih tinggi) untuk menyelesaikan penggabungan Amidonia. Pertemuan itu adalah lanjutan pertemuan di hari sebelumnya, dan ada banyak hal yang ditetapkan. Itu adalah sebuah pertemuan yang berjalan terus menerus sambil diselingi istirahat. Pada akhirnya, tujuan dari pertemuan itu entah bagaimana berhasil tercapai setelah tanggal berganti, sekitar pukul tiga dini hari.

Lalu Colbert dan para pegawai dibubarkan, dan aku pergi menuju Kantor Pemerintahan dan menjatuhkan diri ke tempat tidur tanpa berganti pakaian. Aku langsung tertidur pulas setelahnya. Jadi, tentang situasi saat ini…. Roroa mungkin melewati ruangan ini untuk kembali ke kamarnya dan berakhir tidur disini. Lalu aku mengguncang bahu Roroa, yang masih tertidur pulas.

“Oi, Roroa. Bangun.”

“Mmmm…. Napa? Darling….. aku masih ngantuk.”

Sambil mengusap matanya yang masih mengantuk, Roroa terduduk di tempat tidur.

“Jangan bertanya napa padaku. Kenapa kamu tidur disini, Roroa?”

“Tenanglah, ok. Tadi malam aku terlalu ngantuk setelah pertemuan. Dan karena aku nggak punya kekuatan buat kembali ke kamarku, aku ngebiarin diriku buat tidur di tempat tidur Darling.”

Roroa mengatakan hal itu dan menguap lebar, dia kemudian beranjak dari tempat tidur dengan kaki goyah. Matanya masih setengah terbuka.

“Ok. Aku masih ngantuk. Aku akan balik ke kamarku dan tidur~!”

“Tunggu dulu! Sheesh…. Aisha, bisakah kamu antarkan dia ke kamarnya.”

Liscia tidak bisa membiarkan dia pergi sendirian dan meminta Aisha yang masih kebingungan untuk mengantarnya.

“Ya! Baiklah, Tuan Putri.”

“Dan bukankah aku telah berkata kepadamu untuk berhenti memanggilku Tuan Putri?”

“Ba, baiklah, putr… Liscia.”

Ah, sepertinya Liscia telah memberitahu Aisha untuk memanggilnya menggunakan nama bukan dengan gelar “tuan putri” karena Aisha telah menjadi permaisuri kedua dan posisi mereka telah berubah menjadi lebih dekat. Meskipun, Aisha kadang-kadang masih melakukan kesalahan. Aisha keluar dari Kantor Pemerintahan sambil menopang Roroa yang masih goyah dan mengantuk. Setelah melihat mereka berdua pergi, aku dengan takut berbalik kearah Liscia.

“Um…. Jadi itulah yang terjadi, bisakah kamu memaafkanku kali ini?”

“Sejujurnya….”

Kata Liscia sambil duduk dengan keras di atas tempat tidur.

“Ini terjadi karena ada tempat tidur disini, jadi bolehkah aku menghancurkannya?”

“Tapi, dimana aku harus tidur jika seperti itu?”

“Kamu memiliki sebuah kamar untuk dirimu sendiri, kan? Atau apakah kamu ingin tidur di tempat tidur kita? Bergantian setiap hari?”

“Nah, aku akan menolak itu. Jika seperti itu kelihatannya aku tidak dapat tidur sama sekali….”

“Meskipun Markus selalu mendesak kita untuk ‘tolong buatlah seorang ahli wais!’?”

“Uuuh…. Berikan aku sedikit waktu. Aku masih memiliki hal yang harus dipikirkan.”

“Hal yang harus dipikirkan?”

Aku bangkit dari tempat tidur dan melakukan peregangan.

“Aku hampir tidak berhasil untuk memperbaiki Kerajaan, dan karena kekuatan kita telah meningkat karena bergabungnya Amidonia, kelihatannya kita tidak akan mendapatkan musuh asing dalam waktu dekat. Yah, Wilayah Raja Iblis adalah sesuatu yang berbeda, sih.”

“Ya….”

“Dan untukku…. Aku akhirnya dapat menerima kenyataan bahwa aku telah menjadi seorang Raja.”

“Aku harap kamu menyebut hal itu sebagai determinasi.”

“Determinasi….. yah, kurasa aku telah membulatkan tekadku.”

“Aku tidak terlalu mengerti perbedaannya…. Tapi apapun itu.”

“Tidak ada satupun halangan pada jalan yang ada didepanku, oleh karena itu….”

Penuh dengan keyakinan, aku membusungkan dadaku dan berkata,

“Aku akan berhenti menahan Liscia!”

Saat aku mengatakan perkataan yang mirip dengan manga tertentu, Liscia menatapku dengan mata dingin.

“Kamu menahan?”

“Tentu saja! Aku telah memilih kebijakan yang paling mungkin akan menyebabkan pemberontakan, dan bahkan selama peperangan, aku mencoba membuat hubungan dengan apa yang kupunya bukan?”

“Dan sekarang?”

*TN: Maaf, saya tidak yakin apakah terjemahan diatas sesuai atau tidak (jika kalian bingung silahkan lihat RAW englishnya)

Hm… yah, aku melanglang buana menggunakan Siaran Kerajaan dan semua, tapi aku selalu berhati-hati untuk tidak pernah melakukan apapun yang akan mengguncang inti masyarakat seperti tiba-tiba menyatakan “perbudakan adalah hal yang ilegal!” atau menciptakan persenjataan baru.

“Tapi mulai dari sekarang, aku ingin agar kamu membiarkanku melakukan hal-hal semauku.”

“Ya, tentu, tapi….. apa yang akan kau lakukan kepada kami?”

*TN: Ini juga aku ngk yakin apakah terjemahannya sesuai T_T

Ugh, dia menyadarinya. Kupikir aku dapat mengganti topiknya. Biarkan aku menegaskannya, aku sama sekali tidak keberatan melakukan hal seperti itu dengan Liscia dan gadis lainnya, faktanya, aku ingin bermesraan dengan mereka. Situasi ini membuatku merasa sekarat dalam beberapa cara….. tapi sebelum itu, ada hal yang harus kulakukan/ Ini juga demi kepentingan mereka.

“…. Y,yah, kamu akan segera memahaminya.”

“Kamu yakin bahwa kamu tidak mencoba membicarakan jalan keluarmu dari hal ini?”

Liscia mencoba menatap wajahku, tapi aku membalikkan wajahku dengan sekuat tenaga.

***

“Kita kekurangan personel.”

Kataku saat kami berlima: Aisha, Juna, Roroa, dan diriku sedang sarapan bersama dan duduk di sekitar kotatsu*.
*TN: Meja berbentuk bulat.

Lokasinya adalah ruangan yang aku bangun di dalam istana karena Hakuya terus berkata kepadaku untuk ‘buatlah kamar anda sendiri’. Sebenarnya, aku telah lama berencana membuat kamar ini untuk menyimpan Musashiboy-kun, tapi karena itu akan menjadi ruanganku, aku mungkin harus membuatnya menjadi kamar yang megah. Ada juga biaya hidup (gaji) yang tidak pernah aku gunakan, jadi aku menggunakan uang tersebut untuk renovasi besar-besaran sesuai dengan keinginanku.

Sungguh megah. Dua buah ruangan kecil berukuran enam tatami yang diberikan kepadaku, dan dihubungkan oleh pintu internal, telah berubah menjadi sesuatu seperti kamar apartemen di Jepang. Salah satu ruangan dilengkap oleh lantai beralas karpet, dan sebuah meja kerja diletakkan di atasnya. Sehingga pemilik ruangan ini dapat membenamkan diri pada hobina dalam membuat pakaian dan boneka seperti Musashiboy-kun disini.

Lalu ruangan yang akan berperan sebagai tempat untuk kehidupan sehari-hari telah benar-benar berubah menjadi sebuah ruangan bergaya Jepang melalui selera seni milik sang seniman (aku). Setelah mendengar bahwa Kepulauan Naga Berkepala Sembilan memiliki tatami, aku memesan beberapa lembar dan menghamparkannya di ruangan ini. Juga, di bagian tengah ruangan ini terdapat sebuah bagian terpisah berbentuk lingkaran dimana terdapat sebuah meja bulat dengan selimut tebal yang terletak diantara kaki dan bagian atas meja. Bagian tengah yang terpisah itu jauh lebih rendah dan dilengkapi dengan alat penghangat yang telah dikembangkan oleh orang tertentu.

Sungguh menakjubkan. Seniman itu (aku) telah membuat sesuatu yang disebut “kotatsu”. Rongga yang biasanya digunakan untuk memasukan kaki dilengkapi dengan lapisan besi, dan dengan cerdik memungkinkan kaki untuk masuk kedalam tanpa menyentuh peralatan penghangat. Sebuah ruangan menakjubkan yang akan terasa hangat pada saat musim dingin dan akan memiliki ventilasi yang bagus dengan cara melepaskan selimut tebalnya di musim panas. Sebuah tempat menakjubkan yang merupakan hasil dari daya tarik yang dimiliki sang seniman (aku).

….. yah, aku berhasil membuat ruangan ini dibuat sedemikian rupa, tapi Liscia dan tunanganku yang lainnya merasa bahwa ruangan ini sangat sesuai dengan keinginan mereka (khususnya kotatsu), dan benar-benar menjadikan tempat ini sebagai tempat bersantai mereka. Setelah penggabungan Amidonia, Hakuya melarangku untuk menggunakan ruang makan umum dengan mengatakan, ‘tolong mengertilah, ini demi menjaga martabat anda’, sehingga aku dan para istri masa depanku sebagian besar melakukan sarapan dan makan malam di sini (makan siang biasanya dilakukan di kantor pemerintahan).

Hari ini juga, kami berlima, Liscia, Aisha, Juna, Roroa, dan diriku, sedang duduk dan sarapan di sekitar kotatsu. Menunya adalah roti, daging goreng, sup, dan salad, sebuah menu yang sederhana. Rombongan ini terdiri dari orang-orang yang tidak suka terlalu boros dalam hal makanan (diriku yang merupakan mantan orang biasa, Liscia dan Juna yang berasal dari militer, dimana persediaan makanan merupakan nyawa seseorang, Aisha, yang tinggal dihutan, dan Roroa yang mengatakan ‘jika kamu memiliki kelebihan pada anggaran makan, maka masukkan itu kedalam kas negara’), dan karena hal itu, menu makan kami sebagian besar sama dengan yang ada di ruang makan umum.

Hanya dengan melihat pemandangan itu mungkin akan membuat kami terlihat seperti keluarga biasa. Awalnya, Juna keberatan dan mengatakan ‘Saya saat ini masih belum menjadi selir yang resmi, apakah benar-benar tidak masalah jika saya berada disini?’ tapi setelah Liscia mengatakan ‘tawaran itu masih didiskusikan, jadi tidak masalah, bukan?’ sehingga diputuskan bahwa dia akan bergabung dengan kami. Yah, bagaimanapun, semakin banyak orang akan semakin meriah.

“Mbakyu Aisha, bisa ambilin selai itu~”

“Henhu, ihi hia (tentu, ini dia, dengan mulut penuh dengan roti)”

“Tunggu dulu, Roroa. Ada sisa makanan di pipimu” *usap* *usap*

“Mmm, makasih mbak Liscia.”

“Aisha-dono, apakah anda ingin sup lagi?”

gulp, to, tolong, Serina-san.”

“Ka, kami juga, MEMILIKI, kami juga memiliki roti lagi.”

“Tidak perlu terlalu kaku, Carla.”

“Sa, saya minta maaf, Juna-dono.”

Koreksi, satu-satunya perbedaan adalah, disini ada prasmanan berdiri seperti yang ada di sudut ruang makan sekolah dasar, dengan Serina-san, Carla, dan para maid yang lain berdiri disana, yang jelas-jelas tidak sesuai dengan suasana ruangan ini.

“Bagaimanapun, apakah kalian mendengarkanku?”

“Ya. Aku dengar, aku dengar.”

“Kamu benar-benar terlihat tidak mendengarkannya.”

“Kami dengar. Kamu berkata bahwa kamu pengen lebih banyak orang, kan?”

Mendengar Roroa berkata sebanyak itu, Liscia mengerutkan alisnya.

“Kamu masih mau lebih banyak lagi? Kupikir kita sudah punya cukup~personel pilihan disini.”

“Semakin banyak personel akan lebih bagus. Namun, aku tidak membicarakan personel semacam itu.”

“Maksudmu?”

“Mmm…. Mungkin ini adalah perumpamaan yang buruk, tapi jika kita memisahkan orang menjadi peringkat S, A, B, C, D, dan E, apa yang aku inginkan saat ini adalah orang berperingkat B dan C. Secara berurut.”

“Maaf, aku gagal paham.”

Aku meletakkan tanganku di bahu Roroa saat dia menggigit rotinya.

“Kita ambil Roroa sebagai contoh. Dia diberkahi dengan naluri bisnis. Dia dapat membuat dan mengelola uang dalam jumlah besar, dan mengubah uang itu menjadi keuntungan yang bahkan jauh lebih besar. Jika aku menerapkan cara di sebelumnya, maka aku akan memberikannya peringkat S. Tapi Roroa tidak mungkin bisa mengubah seluruh negara sendirian, bukan? Dia akan membutuhkan bawahan, para birokrat untuk bekerja padanya, dan selanjutnya, ‘orang yang dapat melakukan perhitungan aritmetika’ yang akan bekerja di bawah para birokrat tersebut. Apa yang kita butuhkan saat ini adalah ‘orang-orang yang dapat melakukan perhitungan aritmetika’”.

Dunia ini memiliki tingkat buta huruf yang tinggi, dan selain para bangsawan dan kstaria, hanya para pedagang yang dapat melakukan perhitungan aritmetika. Dengan kata lain, ‘orang yang dapat membaca dan menulis’ dan ‘orang yang dapat melakukan perhitungan aritmetika’ adalah orang dengan peringkat B dan C di dunia ini, dan hanya ada sedikit dari mereka di negara ini.

“Lalu bagaimana dengan memperkerjakan para pedagang yang bangkrut atau orang seperti mereka yang akan menjadi budak karena suatu alasan atau sejenisnya?”

Liscia memberi saran, tapi aku menggelengkan kepalaku.

“Aku sudah memutuskan untuk melakukan hal itu, tapi itu tidak berguna. Siapa saya bahkan dengan bakat yang biasa saja telah di lindungi oleh para bangsawan dan ksatria. Yah.. kurasa itu juga merupakan salahku.”

“Apa maksudmu?”

“Karena aku mengubah bagaimana hal-hal di evaluasi.”

Apa yang dipanggul bangsawan dan ksatria di negara ini, sederhananya, adalah ‘orang yang memiliki wilayah sendiri’. Perwira militer yang memiliki wilayah sendiri adalah ksatria, pegawai negeri yang memiliki wilayah sendiri disebut bangsawan. Jadi tidak ada perbedaan seperti ‘count’ dan ‘baron’ diantara mereka, siapa saja yang memiliki wilayah yang luas akan dianugerahi gelar ‘duke’.

Ada para bangsawan, yaitu ‘bangsawan birokratis’, yang keluar dari wilayah mereka untuk bekerja di ibukota atau ibukota provinsi sebagai seorang birokrat, menyerahkan pengelolaan wilayahnya kepada bawahan, dan ada juga ‘bangsawan teritorial’, yang mengabdikan seluruh hidup mereka untuk mengelola wilayah mereka sendiri. Diantara para bawahanku, Hakuya dan Markus adalah bangsawan birokratis, dan Penguasa Altomura, Wyst merupakan bangsawan teritorial. Hubungan kekuatan yang mereka miliki juga datang dari berbagai jenis, jika ada bangsawan birokratis seperti Hakuya yang kuat di bidang politik, maka ada juga bangsawan birokratis pedesaan yang bekerja di kota milik bangsawan teritorial yang kuat.

Sebaliknya, ksatria berafiliasi dengan militer, dan untuk itu, mereka menyerahkan pengelolaan wilayah mereka kepada orang lain. Tentu saja, itu bukan aturan mutlak, karena ada para pensiunan ksatria yang menjadi bangsawan seperti Wyst, dan ada jug ksatria yang mengirimkan anak mereka ke badan militer dan melakukan pengelolaan wilayah mereka sendiri.

Saat ini kenaikan dan penurunan status ksatria dan bangsawan (atau dengan kata lain, pemberian dan pengambilan wilayah), yang sebelumnya, dalam kasus ksatria, berkisar pada menginvestigasi mereka yang telah melakukan banyak jasa di militer dan mendapatkan kenaikan pangkat di militer, dan menurunkan pangkat mereka yang melakukan pekerjaan dengan buruk, tidak mematuhi perintah, atau melakukan kegagalan strategi—yang artinya tidak pernah ditanyakan apakah mereka mengelola wilayah mereka dengan baik atau tidak. Tanggung jawab untuk pengelolaan wilayah yang buruk jatuh kepada para bawahan, dan dengan memecat mereka, para ksatria sendiri akan terlepas dari tanggung jawab itu (meskipun situasi itu terus berlanjut, para ksatria tidak akan menerima hukuman).

Dalam kasus bangsawan, bangsawan birokratis mendapatkan kenaikan pangkat ketika mereka bekerja di ibukota dan ibukota provinsi dan mengharumkan nama mereka sendiri. Mereka yang tidak memiliki kemauan yang kuat untuk masuk kedalam politik nasional akan di serahkan kepada bangsawan teritorial jika mereka didukung oleh jumlah wilayah tertentu, dan biasanya bekerja disana sebagai birokrat teritorial. Akan lebih menguntungkan jika mereka bekerja dengan cara seperti itu. Juga, mereka yang tidak memiliki nama yang harum dan sudah puas dengan wilayah mereka, sebagian besar akan tetap bertahan sebagai bangsawan teritorial. Namun, bangsawan teritorial harus bertanggung jawab jika terjadi kegagalan pengelolaan wilayah, sementara bangsawan birokrat diperlakukan sama dengan para ksatria.

Dan pada bagian mana aku mengubah cara pengevaluasian mereka?

“Menambahkan kedalam cara evaluasi yang sudah ada, aku memberikan bobot pada kemampuan mereka dalam mengelola wilayah.”

Sederhananya, selain metode evaluasi yang sudah ada, aku membuatnya menjadi seperti itu sehingga ‘memerintah wilayahmu dengan baik akan memberikan lebih banyak keuntungan’ dan ‘memerintah wilayah dengan buruk akan memberikan lebih banyak kerugian’. Aku mengirimkan para Kucing Hitam sebagai pengawas, mengumumkan bahwa para bangsawan dan ksatria yang memerintah wilayah dengan baik akan mendapatkan wilayah perluasan wilayah, dan para bangsawan dan ksatria yang memerintah dengan buruk akan mendapati wilayah mereka di kurangi atau di sita.

Apa yang terjadi sebagai akibat dari hal itu adalah para bangsawan dan ksatria yang telah menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada bawahan mereka saat ini kembali mengalihkan pandangan ke wilayah mereka dengan panik. Mereka yang memiliki bawahan yang kompeten atau hanya bawahan biasa tidak memiliki masalah, tapi mereka yang memiliki bawahan tidak kompeten akan sangat terpengaruh. Beberapa dari mereka mengundurkan diri dari birokrasi dan kembali ke wilayah mereka untuk membangun pemerintahan yang bagus. Namun sebagian besar ksatria, yang tidak memiliki kemampuan dalam memimpin, dan para birokrat yang memiliki kesempatan untuk mengharumkan namanya, dengan panik mencari bawahan dan orang yang dapat diandalkan untuk bekerja di bawah mereka.

“Nenek-dono menyebutkan bahwa itu menghasilkan kebingungan. Untuk beberapa saat para ksatria berkeliaran di jalanan sambil bergumam ‘personel~ personel~’ seperti sedang kerasukan.”

“…. Ya. Sebenarnya, Aku juga berpikir bahwa aku sudah berlebihan.”

Semangat para bangsawan dalam mencari personel melewati ekspetasiku, siapapun, bahkan orang biasa, yang dapat membaca dan menulis atau melakukan perhitungan aritmetika akan didekati seperti orang bijak dan diperlakukan dengan sopan (karena mereka akan dihukum jika mengambil atau mempekerjakan mereka dengan paksa). Saat mereka mengetahui bahwa ada orang-orang yang dapat membaca dan menulis dan melakukan perhitungan aritmetika di antara para budak (selain budak kejahatan), pelacur, dan bahkan mereka yang tinggal di tempat kumuh, mereka pergi sejauh itu untuk menawarkan jalan keluar dari perbudakan dan kemiskinan kepada mereka.

Apabila mereka yang dapat membaca dan menulis ataupun melakukan perhitungan aritmetika diperlakukan seperti itu, orang yang berbakat di perlakukan lebih baik lagi. ‘Aku ingin menjadikan mereka sebagai bawahanku!’ ‘Tapi mereka tidak memiliki peringkat yang cukup untuk hal itu!’ ‘Aku tahu, ayo kita masukan mereka kedalam keluarga kita dan memaksa peringkat mereka naik!’. Sebagai hasilnya, atau berkat tindakan itu, ada banyak orang biasa dan budak yang menerima kenaikan peringkat yang luar biasa. Aku berkata kepada Kaisar Wanita Maria untuk melakukannya dengan perlahan, tapi bukankah aku baru saja mengubah sistem peringkat kami tepat didepan matanya?

Para penjual budak yang melihat hal ini sebagai kesempatan, mengajarkan para budak mereka untuk membaca dan menulis dan mengajari mereka melakukan perhitungan aritmetika, sehingga hal itu mengembalikan keseimbangan dari pasokan dan permintaan dan sedikit mendinginkan situasi itu. Karena hal itu, bagaimanapun, negara ini sekarang seperti kaleng soda kosong dalam hal orang berbakat. Kurasa ini adalah hal yang bagus, sih, karena orang-orang dituntun ke kehidupan yang lebih baik berkat hal ini….

“Tapi kemudian kamu mengalami krisis orang-orang berbakat, kan?”

Kata Liscia sambil mengirimkan tatapan menusuk kepadaku. Ya Ma’am. Anda benar Ma’am.

“Merekrut bakat luar biasa seperti Aisha atau Juna atau Roroa akan lebih mudah bagi negara yang dapat memusatkan kekayaan dan kekuatan mereka. Namun, akan sangat sulit untuk mengumpulkan orang-orang berbakat dari jalanan. Terlebih lagi, para bangsawan dan ksatria yang melayang di atas mereka sudah pasti akan menolaknya.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan?”

“Mendapatkan orang-orang berbakat dari negara lain…. Dan melakukan ‘itu’”

“Itu?”

Liscia memiringkan kepalanya, dan aku menunjukkan senyum lebar ke arahnya.

“Pendidikan”

← PREV | Table of ContentsNEXT →


Jika kalian menemukan kesalahan pengetikan atau kesalahan penerjemahan jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah postingan ini atau di FP Facebook.

24 Comments Add yours

  1. El says:

    Min kok ga ada penjelasan siapa yg lagi ngomong, pas percakapan., kyk chapter sblm2 nya, jd sedikit membingungkan min… Mohon d perbaiki , terimakasih.. 😀

    Like

  2. garry1016 says:

    holding back artinya menahan diri,,,

    you were holding back?? artinya km menahan diri selama ini?

    I’ve been choosing policies that are least likely to cause an uprising,
    artinya
    aku selalu memilihi ketentuan/peraturan yang memiliki kemungkinan terkecil untuk menyebabkan pemberontakan

    “But from now on, I’ll have you let me do things the way I like it”
    “Well, sure, but … what does that have to do with not touching us?”
    artinya
    “tapi mulai sekarang, aku akan membuat km membiarkan ku melakukan segala sesuatu sesuka ku”
    “baiklah/tentu saja, tapi… apa hubungannya (resolusinya) dengan tidak menyentuh (ena ena) dengan kami”

    Like

  3. Yoyo says:

    Versi pdf kapan keluar min??

    Like

  4. Adhra says:

    Pembukaan yang sangat baik XD

    Like

  5. Anonymous says:

    di chap ini gx ada tulisan nama orang yg berbicara yah? Jd bingung siapa yg berbicara dan dari sudut pandang mana

    Like

  6. derva says:

    Larvyde

    Sudah update min please tolong ditransletkan terimakasih atas kerja kerasnya selama ini…

    Like

  7. tonski says:

    ayo kita lakukan ‘itu’ 🙂

    Like

  8. david says:

    Rindu rasanya baca lnjtn a realist kingdom si souma, thank udh update dn di. tL kn.

    Like

  9. cahroy says:

    Thankz minn.. atas prolog arc 4 nyaa…

    Like

  10. >apa yang harus dilakukan dengan tidak menyentuh kami?”
    >apa yang akan kau lakukan kepada kami/bagaimana dengan kami?
    btw thx capternya ^_^

    Like

    1. Zen Quarta says:

      ok akan saya perbaiki.. 😀

      Like

  11. firold says:

    Ntapz soul di tunggu chapter berikutnya min yg semangat ya :v

    Like

  12. mage says:

    akhirnya berlanjut juga thanks min

    Like

  13. cih….cepat nafkahi 4 istrimu itu souma!!

    Like

  14. zukhruf says:

    mantap min, lanjut terus biar barokah min

    Like

  15. derva says:

    Yeaaaaaahhhhhhh…..Akhirnya Detta… Yhank min….Mudahan sehat selalu

    Like

  16. Kayuri says:

    Di tunggu, seru nih

    Like

  17. hahahahaha ditunggu episode selanjutnya min XD

    Like

  18. GoeMooN says:

    Mantap, Chapter kali ini dibuka dgn ngakak…
    Thank min, slalu dinanti lanjutannya 😀

    Like

  19. BlueSky says:

    Makasih bang min….
    Di tunggu update selanjutnya….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s