Stranger’s Handbook Chapter 51

Chapter 51 – ketika Tidak Ada Toilet Didekatmu, Lakukan Didalam Cangkir!

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : Oyasumi Reads

Dengan teriakan kebahagian yang tak terhitung sebagai latar belakangnya, Toto sedikit gemetar……

 

 

Apakah aku harus pergi dan mencari toilet?
Tidak mungkin, kami tidak akan sempat….

 

Lalu, haruskah aku menyuruhnya untuk menahannya?
Itu juga tidak mungkin; kelihatannya dia telah mencapai batasnya…..

 

Aku mengambil sebuah cangkir berisi teh dan segera meminum isinya.

“Toto, mau bagaimana lagi. Gunakan ini. Kami akan mengulur sedikit waktu untukmu, jadi kamu bisa merasa tenang.”

Dengan sebuah senyum menyegarkan, aku memberikan cangkir itu kepadanya.

Jika seorang manusia yang melakukan hal seperti ini, aku yakin mereka akan di penjara atau sejenisnya, tapi dia adalah seorang spirit, jadi seharusnya tidak ada masalah, kan?
Tolong, jangan sampai ini menjadi masalah…….

 

Dengan takut, aku menatap Bea.

Kelihatannya dia baik-baik saja; dia mengangguk pada semua yang kukatakan, dengan ekspresi serius yang ada diwajahnya.

(Aku paham. Aku akan melakukan yang terbaik!)

Aku memutuskan untuk tidak menanyakan di bagian mana dia akan melakukan yang terbaik.
Itu adalah salah satu hal di dunia ini yang lebih baik tidak kau ketahui.

 

Kami meninggalkan Toto di ruang tunggu dan berjalan menuju teras.

 

Saat kami muncul di depan orang-orang, sorak-sorai menjadi semakin kuat lagi.

Ada puluhan ribu orang yang berkumpul di luar sana.
Dan mereka semua mengarahkan perhatian mereka kepada kami.

Itu agak membuat gugup.

Aku entah bagaimana berhasil menunjukkan senyum di wajahku dan melambaikan tanganku.

Bea… seperti yang diharapkan.
Dia menunjukkan senyum lebar dan melambaikan tangannya ke arah orang-orang.
Itu adalah hal yang hanya bisa dilakukan oleh wanita bangsawan.

 

Setelah beberapa saat, Toto juga datang ke teras istana.

 

Senyumnya dipenuhi oleh kebaikan, dan dia terlihat seperti seorang dewi.

Kenyataannya, dia hanya merasa senang dan lega setelah melakukan hal ‘itu’….
Aku akan diam tentang hal itu…….

 

Setelah kami tersenyum dan melambaikan tangan di depan orang-orang untuk sesaat, upacara untuk memulai debut kami telah selesai.

Kami kembali ke ruang tunggu, bersama dengan sang Kaisar.

 

“Ya ampun, kita akhirnya menyelesaikan tahap pertama.”

Dia melemparkan dirinya ke atas kursi dan meminum sedikit teh.
Kaisar benar-benar haus atau sejenisnya, karena dia meneguk satu cangkir ‘teh’ itu sekaligus.
………….. Cangkir itu………. apakah itu milik Yang Mulia?……….

Kami juga duduk dan seorang maid datang untuk membawakan kami sedikit teh.

“Siang nanti, kita akan melakukan upacara penganugerahan gelar di ruang pertemuan.”

Kaisar mengatakan hal itu, setelah dia cangkirnya di isi kembali.

“Sesuai keinginan anda.”

“Sesuai Keinginan anda.”

Kami berdua merendahkan kepala kami untuk membungkuk.

“Hentikan itu, paduka, Duke dan Duchess. Saat ini kalian dapat bertindak lebih santai kepadaku.”

Tersenyum, Kaisar menyeruput sedikit teh miliknya.

Hm? Kenapa sekarang dia menyandarkan kepalanya kesamping?

 

“Hmm, baiklah, mulai sekarang kalian adalah seorang duke dan duchess, dan juga merupakan kerabatku. Aku akan mengandalkan kalian. Sementara untuk wilayah kalian, aku akan mendiskusikannya terlebih dahulu dengan Frontier Count, dan setelah itu kami akan membuat keputusan. Aku berencana untuk memberikan sebagian wilayahku dan sebagian wilayah Frontier Count kepada kalian. Itu seharusnya tidak akan masalah.”

“Tentu saja, Yang Mulia.”

“Ya, Yang Mulia.”

“Haha, Bea, kamu masih terlalu kaku. Aku tidak keberatan memperlakukanmu seperti anakku sendiri, kamu tahu?”

Sang Kaisar tersenyum nakal.
Bea menunjukkan senyum pahit, tapi kelihatannya dia tidak membencinya.
Dia terlihat agak bingung.
Toto sedang meminum teh miliknya dengan caranya sendiri…… Kamu akan penuh lagi, kamu tahu?

 

Kami sedang mengobrol santai, ketika pintu ruangan terbuka dan Perdana Menteri masuk kedalam.

 

“Maaf karena telah menyela pembicaraan kalian Yang Mulia, Paduka, Duke dan Duchess.”

Dia mengatakan hal itu dan menundukkan kepalanya.

“Oh, apakah ini sudah saatnya? Zest, Bea, aku akan membicarakan sesuatu dengan Perdana Menteri terlebih dahulu, jadi kalian dapat bersantai dan menunggunya untuk saat ini. Aku akan mengirimkan seseorang kepada kalian nanti.”

Dia menepuk bahuku dengan agak bersemangat dan kemudian meninggalkan ruangan bersama dengan Perdana Menteri.
Yang Mulia terlihat cukup sibuk.
Aku berpikir bahwa orang dengan posisi tinggi hanya duduk dengan santai di kursinya dan memberikan perintah seenaknya, tapi kelihatannya aku salah.

 

Kami bertanya kepada seorang maid tentang makan siang kami, dan kelihatannya kami akan melakukannya di ruangan ini.

Aku harus menghabiskan sedikit waktu, jadi aku sedikit bermain dengan Bea dan Toto.

Akhir-akhir ini, Toto suka bermain ‘lihat ke arah sini’[1].
Segera setelah kalah, dia ingin memainkannya lagi.
Karena terlalu bersemangat, dia sering menyentuh daerah dada Bea, yang menyebabkan dadanya mulai memantul-mantul. Itu juga sangat bagus.

 

 

Setelah kami selesai makan siang, Bea membawa Toto ke toilet.

Akan menjadi sangat merepotkan jika dia kembali mengatakan dia tidak dapat menahannya lagi.

 

Setelah kali ini dia melakukan ‘itu’ dengan benar di toilet, Toto sedang berada dala mood yang sangat bagus.
Seperti yang diduga, dia tidak benar-benar suka melakukannya di dalam cangkir.

Tentu saja.
Sulit untuk mengkonfirmasi apakah seorang spirit merasakan rasa malu atau tidak, tapi aku bertaruh dia tidak suka pipis didalam sebuah cangkir yang ada di ruang tunggu.

 

(Mama menyuruhku memakainya! Bagaimana penampilanku?)

Dia mengatakan hal itu, dan menunjukkan pita baru miliknya kepadaku.

“Kamu terlihat sempurna, Toto, kamu sangat manis.”

Dia menaikan dadanya dengan bangga.
haha, dia benar-benar manis.

 

Kami berdua mengusap rambut Toto yang benar-benar manis ini, ketika seorang maid datang menemui kami…

“Ini sudah waktunya. Tolong ikuti saya.”

Maid itu meyakinkan kami bahwa semuanya telah di persiapkan dan kami mengikutinya.

Setelah upacara penganugerahan gelar, hari ini akan berakhir.
Tinggal sebenar lagi, aku akan melakukan yang terbaik.

…………. Aku juga harus membeli beberapa souvenir.

 

Aku sedang khawatir tentang souvenir yang nanti akan kubeli, ketika aku menyadari bahwa kami telah sampai di depan ruang pertemuan.

Di belakang pintu, Kaisar dan para bangsawan sedang menunggu kami.
Bagus!

 

Aku sekali lagi menyemangati diriku sendiri dan melihat ke arah para prajurit yang menjaga pintu, dan mengangguk kepada mereka.

 

Pintu itu terbuka dengan perlahan.

 

 

(Kalau dipikir-pikir, paman Yang Mulia itu tadi minum dari cangkir yang aku gunakan, bukan?)

 

 

Kami menerima pesan telepati yang mengejutkan tepat saat Yang Mulia yang sedang duduk di kursi yang sangat mewah, masuk kedalam pandangan kami…….

Bea dan aku dengan putus asa mencoba untuk menahan diri kami agar tidak tertawa terbahak-bahak.
Ini adalah awal dari sebuah pertemuan, dimana kami tidak di perbolehkan untuk tertawa.


[1] ‘Achii muite hoi’ (lihat ke arah sini) adalah bagian kedua dari permainan ‘janken’ (batu-gunting-kertas), dimana saat kamu menunjuk sebuah arah menggunakan jarimu, pemain lain harus melihat ke arah yang berlawanan, atau mereka akan kalah

 

← PREV | Table of ContentsNEXT →

4 Comments Add yours

  1. Michiko says:

    Hahahahahahaha. Apakah raja minum ‘itu’ di cangkir yang ‘itu’?

    Like

  2. david says:

    Yah, Ela ternyata yg mulia. Ssh jg membedakan perckpn kalo kg ad nama di akhirannya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s