Commanding Wind and Cloud Chapter 7

Chapter 7 – Mantap Bro

Penerjemah : Beonovel
Editor : –
Sumber English : Qidian International

 

Banteng Tangguh Rudy dikenal sebagai murid terkuat ketiga di Tingkat Pertama! Dia bahkan bisa mengalahkan banyak senior Tingkat Kedua dalam hal kekuatan fisik murni. Qian Jin mungkin tidak bisa mengalahkan Rudy di pertandingan adu panco bahkan jika seorang mage merapalkan mantra magic [Strength of Bull] kepadanya.

Meskipun Rudy berasa dari keluarga biasa, dia terlahir dengan kekuatan besar. Beberapa orang bahkan menduga bahwa dia mungkin memiliki garis keturunan dari Barbar Utara.

“Bro, kau mau adu panco denganku?”

Rudy, yang duduk di sisi lain dari meja, mengangkat tangannya dan menghentakkan sikunya ke meja. Boom! Lengan yang hampir sebesar paha Qian Jin itu menimbulkan suara yang benar-benar keras.

Setelah terkena hantaman lengan Rudy, meja kayu itu sedikit berguncang.

“Ayo.” Rudy memukul meja dengan tangannya yang lain dan berkata, “Apa kau ingin aku mengeluarkan sedikit kekuatan melawanmu?”

Qian Jin ingin menerima tawaran itu, tapi setelah melihat wajah mencemooh dari murid Kelas Dua, dia menolak “tawaran” yang menggoda itu.

“Kau tidak perlu menurunkan kekuatanmu.” Qian Jin duduk dengan penuh percaya diri. Dia menatap lengan besar Rudy dan berpikir, “Bukankah dia seharusnya lelah? Dari penampilannya, dia tidak terlihat lelah sama sekali.”

Qian Jin meletakkan sikunya di atas meja tanpa ada pilihan lain dan mencengkeram tangan besar dan kasar Rudy.

“Eh?” Qian Jin mengangkat kepala karena kaget dan melihat Banteng Tangguh Rudy yang juga sedang melihat ke arahnya dengan kaget. Mata mereka bertemu dan saling menukarkan rasa keterkejutan. “Apa Rudi benar-benar berencana mengeluarkan sedikit kekuatannya?” Pikir Qian Jin.

Orang-orang yang pernah melakukan adu panco sebelumnya akan segera tahu kekuatan lawan hanya dengan cengkeraman tangan. Dengan merasakan itu, mereka bisa memprediksi peluang kemenangan.

Ketika tangan mereka bertemu, Qian Jin merasakan Banteng Tangguh Rudy seperti tidak menggunakan seluruh kekuatannya. Dia merasa aneh. Jika mereka adu panco seperti itu, peluang kemenangan Banteng Tangguh Rudy tidak lebih dari 30%.

Para penonton di tempat tidur dan kursi menguap karena bosan. Satu per satu merogoh kantong mereka, mengambil beberapa koin dan melemparkannya ke meja dan berkata, “Aku bertaruh untuk Rudy.”

“Aku bertaruh untuk Rudy juga”

“Sama!”

Setelah melemparkan koin ke meja, murid-murid dari Kelas Dua menatap murid-murid Kelas Satu dan menunggu.

“Eh…”

“Ini…”

Murid-murid Kelas Satu saling menatap satu sama lain. Mereka berkata pelan, “Kami akan bertaruh untuk Rudy juga…” Mereka jelas malu.

“Apa?” Setelah mendengar teman sekelasnya bertaruh untuk Rudy, Qian Jin merasa ingin memberikan pelajaran kepada mereka dengan menggunakan tinjunya. Mereka setidaknya teman sekelas yang dekat dengannya selama hampir satu tahun, jadi kenapa mereka melakukan hal seperti itu? Itu menghancurkan moral Qian Jin.

“Kalian bertaruh untuk Rudy juga? Jadi bagaimana pembagiannya nanti?”

“Bertaruh untuk Rudy? Kalian tidak bodoh ternyata. Kalian tahu kalau Rudy tidak terkalahkan.”

“Kalian terlalu lembek! Dia teman sekelas kalian.”

Murid-murid dari Kelas Dua menjadi ribut dan terus merendahkan Kelas Satu. Murid-murid Kelas Satu terlihat malu, tapi tidak ada yang berniat mengganti taruhannya ke Qian Jin untuk menunjukkan dukungan mereka.

Saat Rollin berjalan ke meja taruhan, Qian Jin memberikan tatapan menakutkan. Qian Jin tahu bagaimana karakter temannya itu; Rollin bukan seseorang yang mementingkan moral. Mengkhianati Qian Jin dan bertaruh untuk Banteng Tangguh Rudy adalah sesuatu yang bisa dilakukan Rollin dengan mudah.

Tatapan Qian Jin membuat Rollin merinding. Rollin tahu bagaimana karakter teman sekamar dan teman terbaiknya itu.

Biasanya, Qian Jin sangat ceria dan sopan kepada orang lain. Namun setelah seseorang mengusiknya, maka orang itu akan menjadi sangat tidak beruntung. Qian Jin memegang prinsip “mata untuk mata”.

Rollin tidak bisa melupakan apa yang terjadi 2 bulan lalu. Saat itu, Caesar, murid Cabang Warrior di Tingkat Pertama Kelas Tiga mendorongnya ke kamar mandi bersama 2 orang lain dan menghajarnya hingga babak belur. Caesar melakukan itu hanya untuk memperingatkan Rollin agar tidak mendekati dan mengejar Julius lagi. Pada malam harinya,setelah Qian Jin melihat bekas-bekas bengkak keunguan di tubuhnya dan mengetahui apa yang terjadi, Qian Jin berkata, “Memangnya mengancam dan memukuli pesaing bisa membuatmu mendapatkan gadis yang diincar? Ini tidak akan berakhir di sini.”

Awalnya, Rollin berpikir Qian Jin hanya mengatakan itu untuk melampiaskan kemarahan sesaat. Namun 1 bulan setelah kejadian itu, Qian Jin menantang Caesar secara langsung untuk berduel di Kelas Simulasi Pertempuran. Setelah duel dimulai, Qian Jin dengan tangan kosong melemparkan Caesar, yang menggunakan tongkat kayu sebagai senjata, ke tanah dan menghajar Caesar sampai babak belur juga.

Pertarungan itu berlangsung sangat singkat. Qian Jin melemparkan Caesar ke tanah dalam sekejap mata setelah pertarungan dimulai. Berdasarkan aturan pertarungan, Caesar sebenarnya sudah kalah pada saat itu. Namun Qian Jin tidak memberikan kesempatan bagi lawannya untuk menyerah. Dia mendaratkan pukulannya ke mulut Caesar, yang tentu saja membuat Caesar tidak bisa berbicara. Kemudian dia menghajar Caesar dengan spektakuler, yang hampir tak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah akademi. Ketika para instruktur menyadari ada sesuatu yang salah dan memisahkan mereka, Caesar yang biasanya terlihat tampan, sudah tidak bisa diidentifikasi lagi. Rumor mengatakan bahwa ketika Caesar pulang ke rumahnya saat libur, butuh beberapa menit bagi ibunya untuk menyadari bahwa orang yang ada di depannya adalah putranya sendiri yang telah dia besarkan selama bertahun-tahun.

Qian Jin bisa menjadi agresif demi temannya, teman sekamarnya. Rollin menduga jika dia mengkhianati hubungan erat mereka, dia mungkin akan dihajar sampai mati oleh Qian Jin dan dikubur di hutan.

“Aku..” Rollin terus-menerus menghela nafas sambil meletakkan beberapa koin di samping Qian Jin, lalu berkata dengan enggan dan tak berdaya, “Aku bertaruh untuk Qian Jin!”

Murid-murid dari Kelas Satu melihat Rollin seperti melihat orang bodoh dan murid-murid dari Kelas Dua mengacungkan jempol dan berkata dengan serentak , “Mantap bro!”

Tentu saja, setelah mengetahui Banteng Tangguh Rudy jauh lebih kuat dari Qian Jin, fakta bahwa Rollin masih bertaruh untuk Qian Jin membuat orang-orang berpikir bahwa otaknya sudah tidak berfungsi secara normal lagi.

Qian Jin menatap Rollin seakan berkata, “Kau tahu apa yang harus kau lakukan.” Qian Jin kemudian mencengkeram tangan Rudy sedikit kuat saat mempersiapkan diri untuk yang terakhir kalinya sebelum adu panco yang sebenarnya dimulai.

Setelah merasakan peningkatan kekuatan dari kedua tangan Qian Jin, alis coklat tebal Rudy hampir melompat. Dia mengerutkan dahi dengan ekspresi terkejut di wajahnya.

Selain 2 murid yang memiliki garis keturunan Barbar keenam, Rudy tidak pernah tahu ada seseorang yang sangat kuat di antara murid-murid Tingkat Pertama.

← PREV | Table of ContentsNEXT →

2 Comments Add yours

  1. yuu shion says:

    Keren si qian jin

    Like

  2. Michiko says:

    Wahahahaha good job!
    Keep spirit! Mantap bro!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s