Commanding Wind and Cloud Chapter 6

Chapter 6 – Kekuatan Brutal

Penerjemah : Beonovel
Editor : –
Sumber English : Qidian International

 

“Baiklah, aku akan mengingatnya!” Kata Qian Jin sambil mengangkat ember kayunya. Di sisi lain, Gabriella membungkuk untuk melanjutkan kegiatannya lagi.

Qian Jin khawatir mengenai pengeluaran ekstra untuk seprai dan dengan cepat berjalan ke asrama. Ruang yang berisik tadi sekarang menjadi semakin berisik. Puluhan orang berteriak berbarengan. “Ini terlalu disayangkan!”

“Sebelum membeli seprai, aku harus melapor ke Instruktur Rodriguez. Orang-orang ini terlalu energik dan membutuhkan latihan tambahan…”

Sebelum frustasi Qian Jin menghilang karena seprai robek dan orang-orang yang berisik, dia melihat Rollin berlari ke arahnya seakan-akan dia sedang dikejar monster.

Qian Jin terkejut dengan kecepatan lari Rollin. Dia tidak pernah melihat Rollin berlari secepat itu, bahkan ketika Instruktur Rodriguez melatih Rollin dengan mengejarnya menggunakan tongkat. “Sepertinya aku harus memberitahu para instruktur agar melatih Rollin lebih keras dengan cara mengejarnya menggunakan gada berduri. Banyak potensi yang bisa ditemukan.” Pikir Qian Jin.

“Qian Jin, aku datang.” Rollin mengulurkan tangan besarnya. Dia meraih lengan Qian Jin dan membawanya ke dalam ruangan. Dia lebih bergairah menyeret Qian Jin ke dalam ruangan dibandingkan ketika dia mengejar gadis impiannya, Julius. Qian Jin penasaran; Rollin suka bergabung dengan apa pun yang menyenangkan, tapi ada gerangan apa dengan Rollin hari ini.

“Kenapa?” Tanya Qian Jin dengan santai sambil mengikuti Rollin ke pintu.

“Bukan sesuatu yang besar.” Senyum jahat muncul di wajah Rollin; wajahnya sedikit berlemak dan ada beberapa jerawat. “Aku hanya butuh sedikit bantuan.”

“Sedikit bantuan?”

“Rudy dari Kelas Dua sedang adu panco dengan orang-orang dari kelas kita. Semuanya kalah…”

“Rudy?” Qian Jin berhenti berjalan. Dia menarik lengannya dari genggaman tangan Rollin sambil menggeleng dan bertanya. “Si Banteng Tangguh Rudy dari Cabang Warrior? Tingkat Pertama, Kelas Dua?”

Rollin mengangguk “Ya, si besar Rudy.” Rollin meraih lengan Qian Jin lagi,

“Kau bercanda? Aku tidak mau!”

Qian Jin berbalik dan hendak pergi. “Apa kepala orang ini baru ditabok Rudy? IQ-nya jadi turun?” Pikirnya.

Siapa Rudy? Di Akademi Oakland, semua orang pernah mendengar nama Banteng Tangguh Rudy. Di antara semua murid Tingkat Pertama di Cabang Warrior, dia salah satu dari tiga murid yang memiliki fisik terkuat.

Banyak senior Tingkat Kedua di Cabang Warrior yang tidak bisa bersaing dengannya dalam hal kekuatan fisik murni.

Meskipun Qian Jin tidak pernah adu panco dengan Rudy, dia tahu bahwa menantang Rudy yang lebih kuat dari kebanyakan orang dewasa dalam adu panco sama dengan mencari masalah.

Insiden “orang terjelek” baru saja terjadi beberapa hari yang lalu. Qian Jin tidak ingin menumpahkan minyak ke api dengan dihajar oleh Banteng Tangguh.

“Qian Jin, Qian Jin…” Rollin mengejarnya dan berkata, “Ayolah bro, setidaknya kau adalah murid yang dipuji oleh Instruktur Rodriguez. Apa kau takut dengan Banteng Tangguh Rudy?”

“Takut?” Qian Jin berhenti berjalan dan menatap temannya. Dia menepuk bahu Rollin dan berkata, “Sejujurnya, jika kau memberikan tongkat untukku dan Banteng Tangguh, lalu kami melakukan latih tarung, aku akan mengalahkannya dengan mudah menggunakan satu tangan. Dan jika kau memberiku pedang, bahkan jika itu dua Banteng Tangguh Rudy, aku akan membunuh mereka berdua! Tapi jika kami harus beradu ponco yang bodoh itu, maka kau benar, aku tidak bisa menang melawannya.”

Di koridor yang panjang, Rollin melihat Qian Jin dengan tatapan tak berdaya. Dia tahu bahwa Qian Jin benar. Namun sebagian besar dari murid Tingkat Pertama, Kelas Satu dikalahkan oleh Banteng Tangguh Rudy.

Hanya Qian Jin satu-satunya yang belum bertanding.

Saat ini, menang atau kalah bukan hal yang penting lagi bagi orang-orang dari Kelas Satu. Yang penting adalah mereka tidak kehilangan keberanian untuk berkompetisi; mereka tidak ingin melihat siapa pun di kelas itu kehilangan keberanian.

“Rollin, lebih baik kau cari orang lain saja. Panggil aku ketika Banteng Tangguh ingin bertarung dan aku akan berjanji bahwa aku akan mengalahkannya sampai dia menjadi orang terjelek di Akademi Oakland.” Qian Jin berbalik dan menghela nafas setelah itu. “Adu Panco? Kutu enerjik macam kalian semua harusnya merasakan kemiskinan seperti yang kurasakan sekarang! Aku cemas memikirkan di mana aku bisa mencari uang untuk membeli seprai, dan kalian menghabiskan energi untuk sesuatu seperti adu panco?”

“Beli seprai?” Rollin, yang kecewa, memikirkan sesuatu setelah mendengar itu. Dia mengambil langkah besar untuk mencapai Qian Jin. Setelah menepuk bahu Qian Jin, dia berkata, “Qian Jin, kau butuh uang untuk membeli seprai kan? Kenapa tidak mencoba adu panco saja? Ada taruhannya. Jika kau kalah, aku akan membayar taruhan itu. Tapi jika kau menang, kau akan mendapatkan semua uangnya. Gimana?”

“Taruhan? Menang? Uang?” Qian Jin seperti orang yang sedang merapal mantra. Dia berhenti dan berpikir dengan cepat, “Ada uang kalau aku menang. Jika aku kalah, yang terburuk hanya malu saja. Aku sudah merasakan rasa malu yang lebih dari cukup dengan insiden ‘orang terjelek’, jadi dipermalukan lagi tidak masalah untukku. Selan itu, mungkin Banteng Tangguh sudah lelah setelah adu panco dengan banyak orang; aku mungkin beruntung. Jika aku menang, aku punya uang yang cukup untuk membeli seprai baru.”

“Ingat apa yang kau katakan. Jika aku menang, semua uang menjadi milikku.”

Setelah Qian Jin mengatakan itu, dia berjalan ke ruangan dengan kecepatan penuh. Itu bukan karena dia tidak sabar dengan uang, tapi dia tidak ingin memberikan banyak waktu istirahat untuk Banteng Tangguh, Banteng Tangguh mungkin sudah memulihkan sebagian besar kekuatannya. Kalau itu terjadi, peluangnya untuk menang akan menipis.

“Yo, satu lagi? Sepertinya ini adalah orang terakhir dari Kelas Satu. Bukankah kau orang terjelek itu? Apa? Kau masih belum cukup malu? Apa kau akan lebih puas jika Rudy menendang pantatmu?”

Itu dikatakan oleh seorang murid dari Kelas Dua yang duduk di dekat pintu.

Dia kecil dan mirip seperti monyet. Sangat jahat kata-kata yang diucapkannya. Itu membuat Qian Jin ingin mencari tongkat dan menghajarnya sampai dia menjadi murid terjelek kedua di akademi.

Orang-orang yang duduk tertawa keras. Namun, beberapa teman sekelas Qian Jin menatapnya iba.

Sebagai teman sekelas, mereka tahu kemampuan Qian Jin. Dia bisa digolongkan sebagai salah satu dari sepuluh teratas dalam hal kemampuan bertarung, tapi dalam hal kekuatan fisik, dia mungkin bahkan tidak masuk 50 teratas di antara 150+ murid Tingkat Pertama.

← PREV | Table of ContentsNEXT →

2 Comments Add yours

  1. Michiko says:

    Yeaaahh chapter 6 update
    gk sabar nunggu chapter 7
    semangat!

    Like

  2. yuu shion says:

    Ah ga sampe panco,,
    Ditunggu lanjutannya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s