Stranger’s Handbook Chapter 48

Chapter 48 – Albert, Si Anjing Bodoh

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : Oyasumi Reads

“Meskipun aku adalah seorang anjing Kemonobito, aku herbivora.”
“”””Wahahahahahahaha!””””

“Aku tertawa terlalu banyak…..”
“Albert-san adalah orang yang bodoh.”
“Dia sejak awal memang bodoh.”
“Apakah dia berpikir bahwa pose itu keren.”
“Dia bukanlah apa-apa melainkan orang gila.”

 

Di perjalanan pulang, kami bertemu dengan para ksatria hitam, dan mereka menghabiskan seluruh waktu mereka untuk mengejek Albert.

“Dasar bodoh, tutup mulut kalian! Diam dan berjalanlah!”

Albert tersentak.

“Albert, kaulah yang bodoh di sini.”
“Albert, diam.”
(Apakah Anjing blasteran ini adalah peliharaanmu? Dia perlu lebih disiplin, papa.)

“Y… ya! Maafkan saya!”

 

Ketika mereka mendengar bahwa kami hendak pergi ke Kota Benteng, para ksatria hitam menyimpulkan bahwa mereka harus mengawal kami.
Awalnya, mereka benar-benar mengawal kami dengan bersungguh-sungguh, tapi aku agak terlalu cepat menemukan mereka.

Itu adalah pada saat penyamar berpakaian hitam muncul.
Aku mengatakannya, sebelum para penjaga muncul, kan?
Itu adalah pekerjaan untuk mereka.
Saat aku mengatakan hal itu, maksudku bukan para penjaga kota, tapi para ksatria hitam ini.

Namun, mereka segera kehilangan minat untuk memberikan ‘perlindungan’; bagaimanapun, ibukota kekaisaran adalah tempat yang aman.
Mereka memutuskan bahwa mereka tidak memerlukan ‘pengawal’ dalam jumlah besar, jadi mereka bergantian mengawasi kami.
Karena ada banyak gadis muda dan cantik di depan kafe itu, mereka mulai menggoda mereka.
Dikalahkan dala permainannya sendiri, sudah diputuskan bahwa akulah yang bertugas untuk memberi pelajaran kepada Albert.

 

Hasilnya…..

 

“Ini adalah pertama kalinya seorang bawahan menggodaku.”

“Saya benar-benar minta maaf.”

 

Adalah ini….

 

Secara harfiah, Albert saat ini sedang diseret bersama kami; saat kereta terus berjalan, Albert menjadi cukup kacau.
Suaranya yang terus-menerus menghantam tanah terdengar agak mengganggu, tapi selama itu tidak berakhir dengan kematian instan, aku masih dapat menyembuhkan lukanya; tidak ada masalah disini.

 

Kami akhirnya sampai di istana kekaisaran.

Albert sudah tidak dapat bergerak lagi, jadi aku menyerahkannya kepada ksatria hitam dan kembali ke ruanganku.
Saat ini sudah sore.

 

Di hari yang sama, guruku, ibu mertuaku, Bea, Toto, dan Aku akan bertemu untuk melakukan makan malam keluarga.
Bagaimanapun, Bea tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Ibunya.
Jadi aku ingin kami melakukan makan malam bersama.

 

“Lalu? Seberapa jauh kalian pergi?”

Perkataan itu menyangkut di tenggorokanku……

 

Karena aku tersedak, Bea mulai memukul punggungku.
Guru, ini adalah tindakan pengobatan ‘medis’.
Tolong jangan melepaskan niat membunuhmu.

“Apakah kamu baik-baik saja, Zest-sama?”

Bea menatap mataku dan bertanya, dia tampak khawatir.
Ah! Dia telalu manis.

“Terimakasih Bea, aku baik-baik saja sekarang. Mencium baumu dan mendapati punggungku di tepuk olehmu, dapat memulihkan semua sakit yang mungkin aku miliki.”

“Hentikan itu, Zest-sama!”

Dia mulai memukuliku menggunakan tinjunya yang mungil lagi.

Seperti yang selalu kukatakan, guru, ini….. yap, ini hanyalah godaan.
Aku akan mencoba untuk menahan diriku.

 

“Aku minta maaf. Tapi untuk menjawab pertanyaanmu, aku dapat menjamin bahwa hubungan kami sangat murni.”

Sebenarnya itulah kenyataannya.
Hubungan kami memang murni dan ‘bersih’.

Ibu mertuaku membisu untuk beberapa saat, kemudian dia mulai berbicara sambil tersenyum pahit.

“Bukan itu yang kami tanyakan. Kami ingin tahu kemana kalian pergi hari ini, seperti tempat mana di kota ini….”
“Bohong!! Zest, kamu berbohong kepadaku!”

 

…..Ap… apa ini?

Ibu mertuaku bertanya tempat mana yang kami datangi saat berada di kota, kan?
Lalu apa-apaan yang guru katakan? Apanya yang bohong?

“Sebuah hubungan yang murni? Jangan berbohong kepadaku! Aku mengetahuinya dengan jelas.”

Dia menunjukkan ekspresi iblis di wajahnya.

 

Ibu mertuaku menatapnya, wajahnya tidak menunjukkan eksperesi apapun…Sialan, dia menakutkan.
Bea dan aku bertukar tatapan.
Kami berdua terlihat agak bingung. Apa yang dia bicarakan?

Toto memutuskan bahwa hal ini tidak ada hubungannya dengannya, jadi di menghabiskan waktunya untuk memakan kue.
seperti itulah dirinya….

 

“Aku mengetahuinya…… Aku telah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, kamu mencium Bea!”

 

Dengan nafas berat, guruku mengatakan hal itu.

 

Huh? Jadi kau melihatnya!

 

Bea yang duduk di sebelahku, wajahnya benar-benar memerah, dan dia mulai sedikit gemetaran.
Memang benar…. Kami melakukan itu.
Apa yang salah….?

 

Bang….

 

Sebuah suara berat bergema di dalam ruangan itu.

Itu adalah kipas lipat milik ibu mertuaku.

 

“Sonia, aku penasaran dimana kamu melihat hal itu?”

“Di… Didalam kamar Zest.”

Guru, sekarang kau mulai berbicara dengan penuh hormat?
Aura intimidasi yang dimiliki ibu mertua tidak bisa di anggap enteng.

“Sonia, berhenti mengungkit tentang pasangan muda yang segara akan menikah yang saling mencium satu sama lain. Dan saat kami melihat mereka melakukan hal itu, kammu harus berpura-pura tidak melihat apapun, itu adalah hal yang normal, kamu tahu?….. Kamu bahkan pergi ke kamarnya. Kelihatannya kau sudah lupa, tapi kamu bahkan tidak lebih baik ketika kita masih bertunangan… Ingin pada saat itu kamu….”

“Maaf, Lamia, akulah yang salah, jadi tolong hentikan itu. Aku tahu! Kadang-kadang, aku benar-benar ingin berduaan denganmu dan bersantai. Bisakah kita pergi ke ruangan kita? Ayolah, kita pergi!”

Mereka pergi dengan kecepatan yang agak menakutkan.

……. Jadi guru melakukan sesuatu selama masa pertunangan mereka.
Aku nanti akan menyelidikinya.

 

Tapu baiklah, itu juga berlaku untukku, dan kelihatannya ibu mertuaku tidak keberatan jika aku mencium Bea, jadi aku bisa merasa tenang.

 

Merasa lega, aku melihat Bea hanya untuk melihatnya menatap kebawah dengan malu, sangat malu.

“Apakah kamu baik-baik saja, Bea?”

Aku mengusap rambutnya.

“Ya, aku baik-baik saja sekarang.”

Dia tersenyum dan dia mendekat kearahku.

 

Aku dapat merasakan suhu tubuhnya.

Aku memeluknya dengan lembut dan dia juga memelukku.

“Bea, baumu benar-benar bagus, aku menyukai aroma bunga ini.”

“…….. Zest-sama, kamu bau teh hitam.”

 

Tak lama kemudian, aku perlahan mendekati wajahnya.

 

Itu seperti bibir kami saling tertarik satu sama lain.

 

Seolah-olah mereka meminta untuk selalu bersama….. (Aku juga ingin mencium kalian!)

 

Ya, kamu juga berada di sini, Toto…..

Kami berdua mulai tertawa.
Aku mencium pipinya, dan Toto terlihat sangat senang.

Gadis ini luar biasa.
Aku harus menyerah untuk mencium Bea hari ini.

Aku mengantar Bea menuju kamarnya, dan aku kembali ke kamarku.
Aku mandi dengan cepat, dan naik ketempat tidurku.

Besok, panggilan dari Kaisar seharusnya sudah datang.
Kami harus memutuskan apa yang akan kami lakukan selanjutnya.

Aku tertidur sambil memikirkan hal itu.

 

 

“Benar-benar pagi yang indah…. Namun, aku akan lebih bahagian jika bisa menghilang saat ini….”
Gumamku dalam hati.

 

 

 

Kelihatannya aku… mengompol……?

← PREV | Table of ContentsNEXT →

6 Comments Add yours

  1. david says:

    Msh kpkrn dgn jln crtanya pas msk chapter nie bnyk main2nya.

    Like

  2. Gingga penguasa kegelapan says:

    Kutukanya dah diangkat kah pas ciuman pertama?

    Like

  3. Kuro says:

    lanjutttt teruss

    Like

Leave a Reply to Zen Quarta Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s