Stranger’s Handbook Chapter 45

Chapter 45 – Senyum Bea

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : Oyasumi Reads

“…….Bea, ini pertama kalinya aku melihat wajah tersenyummu. Itu lebih cantik dari yang biasanya.”

“…. Kamu membuatku malu.”

“Haha, sifat malu-mu membuat jantungku berdetak lebih cepat.”

“Hentikan itu!”

Dengan wajah memerah, Bea mulai memukulku berulang kali menggunakan tinjunya yang kecil.
…. Aku tidak bisa puas dengan hal ini.

 

Aku tidak terlalu mengerti alasan dibalik hal ini, tapi ekspresi Bea menjadi semakin lembut.

Selain itu, dia tersenyum.
Kemudian wajahnya menjadi merah cerah karena rasa malu.

Bea, yang selalu menunjukkan wajah berkerut dan selalu terlihat marah, dia….

Dia membuatku ingin lebih banyak menggodanya.

 

 

Tapi karena aku lengah saat menggoda Bea, fakta bahwa aku tidak menyadari kehadirannya membuatku segera menyesali perbuatan ini.

 

“Urm, kalian berdua, apakah kalian sudah selesai?”

Guru menunjukkan wajah cerah, seperti dia baru saja memakan sedikit gula.
Ah! Ini buruk.

“Guru, aku tidak menyadari kehadiranmu. Aku sangat minta maaf.”

“…. Ayah, apakah kamu melihatnya?”

Bea gemetaran, dan mengarahkan tatapannya kebawah.

 

Guru terbatuk, dan kemudian membuka mulutnya.

“…. Bea, kadang-kadang ketidaktahuan membuatmu merasa senang. Ba.. baiklah, ikuti aku.”

Kami mengikuti guruku, yang matanya sedang berputar-putar, keruang tunggu.

Ibu mertuaku, Lamia, yang kali ini mengenakan gaun, telah menunggu kami di sana.

 

“Bea, lama tak bertemu.”

Para pelayan di suruh pergi, jadi percakapan ini dilakukan dengan nada yang santai.

“Ya, ibu. Lama tak bertemu.”

Bea sedang duduk di sebelahku. Mungkin karena dia merasa malu, dia memeluk lenganku dan membenamkan wajahnya disana.

Ibu mertua membisu.
Guru menunjukkan ekspresi yang seakan mengatakan ‘tidak lagi’ di wajahnya…

 

“Baiklah, Bea… Kau menjadi anak yang cukup manja.”

Ketika dia mendengar itu, Bea memperkuat pelukannya di tanganku.
Kupikir dia bertindak sedikit terlalu jauh, tapi karena Bea ingin melakukannya, aku tidak dapat melakukan apapun.

Aku mengusap rambutnya dengan lembut dengan tanganku yang bebas.

Kemudian aku merasakan gelombang niat membunuh kuat yang datang dari arah guruku.

…….. Bagus sekali. Aku juga akan mengikuti permainan ini.

Aku mengeluarkan seluruh kekuatan sihirku.

 

“Hentikan, dasar bodoh! Apakah kalian tidak dapat melihat bahwa Bea menangis?”

 

Ibu mertuaku mengatakan hal itu, dan aku menatap Bea. Dia sedikit gemetaran, air matanya berjatuhan dari matanya.

 

“Bea, aku minta maaf.”

“Bea, akulah yang salah”

 

“Beneran deh… itulah mengapa pria itu bodoh….”

Aku dan guru sedang bersujud di depannya.
Bea mengangkat wajahnya dengan perlahan.

“Sudah sewajarnya bagi seorang istri ingin dimanja oleh suaminya. Sonia, ini adalah salahmu, kamu tahu itu?”

“Ya. Aku minta maaf, Lamia.”

Aku sedang tertawa dalam hati melihat penderitaan guruku, ketika ibu mertuaku gantian memarahiku.

“Zest, kamu juga. Jangan mengeluarkan kekuatan sihir dalam jumlah yang bodoh seperti itu! Kamu dapat membunuh orang biasa akibat hal itu, kamu tahu? Pikirkan tentang jumlahnya, dasar bodoh!”

“Aku sangat minta maaf, ibu.”

Di belakang Ibu mertuaku, guruku sedang mentertawakanku.
……. Sialan kau.

 

Sebagai hukuman, Ibu mertua memerintahkan kami untuk tetap duduk dalam posisi berlutut untuk sementara waktu, dan kami mematuhi apa yang dia perintahkan.
Kami tidak dapat melawannya atau membalas perkataannya.

Karena itu hanya akan memperburuk keadaan.

“Jadi, Zest, apakah kamu memiliki jawaban yang lebih baik? Beritahu kami.”

Bagaimana? Kenapa mereka mengetahui hal itu?

“Haha, wajahmu mengatakan ‘Bagaimana kalian mengetahuinya?’…. Yah, kamu dan Bea sangat menikmati waktu kalian beberapa saat yang lalu. Bukankah itu sudah cukup jelas?”

Mereka tertawa padaku, menyiratkan bahwa aku terlalu mudah ditebak.
Seperti yang diharapkan dari mereka…..

 

“Ya, aku mendapatkan solusi yang lebih baik. Kita sebenarnya sudah salah sejak awal.”

Aku mengatakan kepada mereka keseluruhan ceritanya.
Kenyataan bahwa aku tidak mencapai spiritification itu sendirian.

Kenyataan bahwa spirit itu menyebut kami berdua sebagai tuannya.

 

Mereka berdua mendengarkan penjelasanku dan kemudian menghela nafas lega.

“Begitu. Jika seperti itu, maka keadaannya telah berubah.”

“Ya, masalahnya sudah benar-benar hilang. Itu bagus, kan, Bea?”

Ibu Mertua mengusap rambut Bea, dan dia kembali merasa malu.
Namun, saat aku melihat Bea yang benar-benar bahagia, hati terasa hangat.

Kakiku menjadi mati rasa.
Tapi karena saat ini aku belum di maafkan, aku harus menerimanya.

 

“Lalu, aku akan melaporkannya kepada Yang Mulia.”

Ibu mertuaku meninggalkan ruangan dengan cepat.

Kurasa dia ingin segera menyingkirkan kekhawatirannya.

“Lalu, aku akan menolong Lamia untuk sementara.”

Guru mengikutinya dengan goyah.
Apakah Bea sudah merasa baikan saat ini? Kakiku mulai benar-benar terasa sakit, kau tahu?…….

Hanya Bea, spirit dan aku yang tersisa diruangan ini.
Yah, faktanya spirit sedang terjebak oleh daya tarik kue yang ada di sini.

 

“…. Zest-sama, apakah kamu sudah menyesali perbuatanmu?”

Aku tidak bisa langsung menjawabnya.
Karena aku tidak menyesali apa yang telah kulakukan.

“…. Ya. Aku merasa bersalah dari apa yang kulakukan. Aku minta maaf Bea.”

Rasa sakit yang ada di kakiku membuat mataku sedikit basah, tapi aku tetap menatap Bea.

 

Terkejut, dia membuka lebar matanya, dan dia penasaran apakah dia membuatku menangis.
Dengan bingung, dia mendekatiku dan mengusap air mataku.

“Kamu… tidak perlu menangis…. Zest-sama, tolong jangan menangis.”

Wajah Bea tampak agak terganggu.

Haha, dia benar-benar manis.

Sebagai permintaan maaf, dia berkata ingin melakukan sesuatu untukku, jadi aku memintanya untuk mengizinkanku tidur dipangkuannya.
Dan anehnya, dia dengan cepat menyetujuinya.
Selain itu, dia bahkan mulai membersihkan telingaku dengan sebuah pembersih telinga.
Ini menakjubkan! Ini adalah mimpi seluruh pria untuk berbaring di pangkuan seorang gadis dan membiarkan telingamu di bersihkan.

Pangkuannya sangat lembut dan dia memiliki bau yang benar-benar harum….
Rasa sakit yang ada di kakiku sama sekali tidak menggangguku lagi….
Pembersihan telinga ini juga terasa nyaman… Ini adalah yang terbaik!

 

Dan demikian, aku baru saja hendak tertidur ketika…..

 

 

 

“Zest-sama, ini Albert. Sake jenis apa yang populer di antara para gadis, beberapa waktu yang lalu? Kami sebenarnya berpikir untuk meniru teknik anda dan………….. Maafkan saya!”

 

 

 

Albert, dasar bodoh! Kau orang bodoh sialan!!
Pikirkan terlebih dahulu apa yang akan kau katakan……

Itu sakit…. Bea, kamu menusukku menggunakan pembersih telinga itu. Itu sakit…..
Si bodoh itu, dia benar-benar berani melarikan diri…. Bea, itu sakit.

 

← PREV | Table of ContentsNEXT →

6 Comments Add yours

  1. Rais says:

    Anjir ngakak mulu akhirnya :v

    Like

  2. david says:

    Hah, ane rasanya kg percaya dgn sip nona muda tb2 brbh 180°. Tb2 baik. Apa karena ktmu ibunya yak, naluri peminumnya keluar.

    Like

  3. yuu shion says:

    Baru aja baca yang manis2, dah dapet flag lagi

    Like

  4. ko says:

    Korek terus sampe berdarah :v

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s