Stranger’s Handbook Chapter 39

Chapter 39 – Pertarungan di Lapangan Latihan

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : Oyasumi Reads

“Aku akan menerima permintaan maafmu, namun kamu harus segera menyingkir.”

Komandan itu menuruti perkataan guru, dan berlari kesamping.

Prajurit yang lain mengikutinya dan menjaga jarak mereka.

Itu adalah hal yang wajar, karena aku telah memperkuat seluruh tubuhku dengan kekuatan sihir, dan bersiap untuk bertarung.

Hanya pria berarmor ‘yang terlempar’-lah yang mendekatiku.
Apakah dia bodoh atau ceroboh… atau apakah sebenarnya dia benar-benar kuat?

Jika begitu, mari kita tes saja sebarapa kuat dirinya?….

“Majulah, Zest-dono, tarik pedangmu! Dan bertarunglah melawan saya dengan adi-sghsaj.

 

Pria bearmor yang terlempar itu jatuh kebawah, sambil mengatakan omong kosong.
Oh ya, karena pria berarmor ini telah di lemparkan oleh Spirit, aku akan memanggilnya ‘pria berarmor yang terlempar’.

“Zest, pasti ada yang salah denganmu karena menyerangnya sebelum dia dapat menyelesaikan pidatonya….”

Gumam guruku, sambil tersenyum pahit kearahku.

“Maafkan aku. Kupikir dia kuat jadi aku hanya ingin mengujinya….”

“Benar, dan itu tadi adalah serangan biasa, yang datang dari depan. Salahnya sendiri kenapa dia tidak menghindarinya.”

“Ya. Aku setuju, ayah.”

 

Para prajurit yang mendengarkan percakapan itu, mereka semua tercengang.
Apakah ini adalah pertama kalinya mereka melihat bagaimana orang dari Frontier Count berlatih? Apa yang baru saja kalian lihat, aku melihatnya setiap hari, kau tahu?

Pria berarmor yang terlempar itu kembali terlempar dan jatuh ke tanah. Aku mendekatinya dan mulai merawat lukanya.

“Dasar bodoh, kenapa kau tidak menghindarinya? Setelah kau berdiri di depan musuhmu, pertarungan sudah dimulai, jangan sampai lengah! Aku akan menyembuhkanmmu dengan sihir penyembuh, jadi, berdirilah!”

Aku berkata kepadanya dan sedikit menjauh, dan pria berarmor yang terlempar itu mulai menaikan kakinya, dengan kikuk.

“Bagus. Ketidaksiapan adalah musuh terbesar yang dimiliki seseorang, paham? Baiklah sekarang, kau sebaiknya menghindar kali ini.”

Sama seperti sebelumnya, aku memperkuat diriku dengan kekuatan sihir dan menyerang kakinya. Sebuah serangan dari depan lagi.
Oh! Dia terlempar lebih jauh kali ini. Dan aku baru saja pemanasan.

Aku segera mendekatinya dan mulai memberikan sihir penyembuhan.

“Bagus, kau baik-baik saja sekarang. Mari kita lanjutkan… berdiri!”

Pria berarmor yang terlempar itu mencoba berdiri dengan goyah.
Ooh! Kau memiliki nyali, bukan?
Aku tidak membencinya.

“Gah, anda sangat kuat. Saya tidak akan perna-hafkafahva

Pria berarmor itu jatuh ke tanah, dan mulutnya membuat suara yang aneh.
Kali ini aku memegang bahunya dan memukul perutnya, oleh karenanya dia terlempar seperti sebelumnya.
Berjalan mendekatinya setiap saat itu terlalu merepotkan, jadi aku mengubah metodeku.

“Seperti yang kukatakan, gerakkan tubuhmu bukannya mulutmu, dasar bodoh!”

Aku menyembuhkan dirinya dan dengan segera, pria berarmor itu berdiri dan mempersiapkan kuda-kudanya.

“Bagus. Kelihatannya kau DAPAT melakukannya jika kau mencoba. Majulah, aku akan membiarkanmu menyerangku kali ini.”

Tanpa mengatakan apapun, dia menyerangku menggunakan pedangnya.

Sebuah tebasan sederhana dari atas… Sasarannya adalah bahu kiriku, tampaknya.
Aku bergegas menuju sisi kirinya, menyerang tangannya yang sedang memegang pedang menggunakan ayunan tangan kananku, dan mengubah arahnya.
Pria beramor itu sedikit terdorong kebelakang, tubuhnya terasa berat, tapi aku melompat kebelakangnya dan menendangnya.

“Apa-apaan itu? Amati musuhmu dengan seksama. Kau bertarung dengan seseorang yang, meskipun tidak memakai pelindung, tapi tampak percaya diri. Pikirkan apakah mereka bisa menggunakan seni bela diri atau tidak! Jika kau melakukan itu, kau tidak akan dipukuli menjadi bubur seperti ini.”

 

Aku menyembuhkannya dan melemparkannya.
Aku kembali menyembuhkannya dan membantingnya ke tanah.

Para prajurit yang lain menonton itu dengan tercengang.
Mereka menyaksikan latihan itu, mencoba menanamkannya ke dalam ingatan mereka dan tidak akan pernah melupakannya.

 

“Seperti yang kukatakan, jika kau menusukku, kau harus cepat mundur tepat setelah melakukannya.”

“Kau menyerah setelah kehilangan satu kaki? Apakah perang memiliki peraturan, dasar bodoh?”

“Apakah armor itu hanya hiasan? Serang aku menggunakan benda itu. Gunakan semua yang dapat kau gunakan dan terus bertarung!”

“Ha? Apakah pedangmu hancur? Jadi apa? Ada banyak orang yang membawa pedang di sisi lapangan, pergi dan curi salah satu.”

 

 

Aku memberinya beberapa pelajaran, dan dia secara perlahan mengasah pergerakannya.
Sungguh, pelajaranku sepuluh kali lebih lembut dari pada guruku.
Aku akan memperkuat dirimu sedikit lebih cepat.

 

“Whoa! Pria berarmor itu mulai bisa menghindar.”

“Kesampingkan hal itu, dia terus bertarung bahkan setelah dia dikalahkan sampai sejauh itu… Dia miliki tekad.”

“Ya, tekad yang menakjubkan.”

“Namun, pria berpakaian hitam dari Frontier Count itu benar-benar monster.”

“””Bagaimanapun itu adalah Pasukan Frontier Count…..”””

…… Sungguh kata-kata yang kasar.
Jika aku adalah monster, lalu bagaimana dengan guru dan ayah angkatku?
Bahkan saat ini, aku masih belum bisa mengalahkan mereka berdua.

 

Dia sedikit menjadi lebih baik, jadi mungkin aku harus berhenti.
Dia berubah menjadi target yang sempurna untuk melampiaskan kemarahanku; aku juga merasa agak lebih segar.

“Baiklah, kita akan berhenti sampai disini. Latihan selesai. Kau melakukannya dengan baik dan kemampuanmu cukup meningkat. Karena kemampuanmu meningkat dengan sangat cepat, aku menjadi bersemangat dan berakhir menggunakan lebih banyak kekuatan dari yang kuinginkan… apakah kau baik-baik saja?

Setelah semua yang kulakukan, datang sambil meminta maaf sekarang adalah hal yang kejam.
Namun, para prajurit yang menyaksikan hal itu sangat tergerak, bahkan beberapa dari mereka mulai menangis.
Aku berhasil menipu mereka.

 

Pria berarmor yang terlempar itu menatapku dengan tubuh gemetar.

 

Apakah dia baik-baik saja? Apakah aku terlalu berlebihan….?
Aku tidak tahu siapa dia, tapi jika pria berarmor ini adalah seorang bangsawan dan dia berakhir hancur di tanganku, itu mungkin akan berubah menjadi sesuatu yang buruk.

Aku merasa khawatir, jadi aku pergi untuk memeriksanya, tapi dia mulai berbicara, dengan agak kesulitan, tepatnya.

“Zest-dono…. Saya… saya….”

Ah! Kelihatannya aku telah merusaknya……

Aku melihat ke arah guruku dan dia menatap balik ke arahku dengan tatapan ‘kau melakukannya kali ini’.
Guru? Pelajaranku jauh lebih lembut dari pada dirimu, kan?
Kau jauh lebih parah, kau ingat?

 

Guru mendekat ke arahku dan aku bertanya kepadanya dengan suara rendah.

 

“Guru…. Apakah aku benar-benar merusaknya?”

“Zest, tidak ada orang yang akan hancur dengan mudah dari apa yang kamu lakukan.”

Guru, jangan mengatakan perkataan menakutkan seperti itu…..
Ini bukan hal yang besar bagimu? Yah, jika itu adalah dirimu, maka kau akan menekannya lebih jauh lagi…..

 

“Namun, dia bertindak aneh…. Haruskah kita kembali?”

“Apa yang harus kita lakukan…. Mungkin jika kamu bertarung dengannya sekali lagi, dia akan kembali normal… Hahaha.”

 

…….Guru, seperti yang kupikirkan, kau tidak pernah menunjukkan belas kasihan. Terlalu menakutkan!

 

Dia mungkin telah merasakan bahwa tubuhnya kembali berada dalam bahaya, jadi pria berarmor itu mempersiapkan dirinya.
Oh, bagus, aku merasa lega! Jangan mati, pria berarmor, bertahanlah!

Perasaanku kelihatannya telah sampai kepadanya dan dia mulai berbicara.

 

“Mampu bertarung dengan orang yang kuat seperti ini… Tidak, apa yang saya terima dari anda adalah pelajaran, dan untuk itu saya merasa sangat bersyukur. Zest-dono… bagaimana saya harus membayar hal ini?”

 

Kau benar-benar menghantam tempat yang salah.
Karena suatu alasan, perkataan bersyukur dari pria berarmor itu bahkan membuat guru terganggu.

 

“Zest, mungkin kamu BENAR-BBENAR merusaknya… apa yang harus kita lakukan?”

“Guru, ini juga mulai membuatku panik. Haruskah kita meninggalkannya disini?”

 

Kami berdua sedang kesulitan memilih cara yang tepat untuk menangani mainan yang rusak ini, tapi pria berarmor itu kelihatannya tidak melihatnya seperti itu.

 

“Sial! Saya masih belum memperkenalkan diri. Maaf tentang hal itu.”

Dia mulai melepas armornya.
Yah, mungkin akan lebih baik untuk membiarkannya melakukan apapun yang dia inginkan…….
Diam…. Atau aku dapat menyalahkan orang lain dan kembali kerumah.
Tapi siapa dan bagaimana?

Kami harus melakukan ini, kami harus melakukan itu… Guru dan aku sedang mendiskusikan masalah itu ketika pria berarmor itu selesai melepaskan armornya.
Dia memberi hormat untuk pertama kalinya.

 

 

“Izinkan saya memperkenalkan diri saya, Saya adalah Cain, seorang tentara bayaran yang suka berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Senang bertemu dengan anda!”

 

 

“Seorang…. Tentara bayaran?…. bukan seorang bangsawan?”

Aku bertanya dengan suara serak.

“Ha? Saya adalah warga biasa. Apakah itu masalah?”

 

 

“Seorang… penyusup! Tangkap dia!!”

 

 

Komandan prajurit dan prajurit yang lain menyerangnya tanpa ampun dan membawanya pergi…….

Apa-apaan yang coba dilakukan orang bodoh itu?…..

 

← PREV | Table of ContentsNEXT →

5 Comments Add yours

  1. david says:

    Lah , tentara bayaran. Ta kirain bangsawan.

    Like

  2. ko says:

    Wkwkwk bafuan akhirnya :v

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s