Jogakusei Tantei Volume 1 Chapter 2 B

Volume 1
Chapter 2 – Jangan Memutar-Mutar Rambut Kuncirmu (Bagian 2)

Penerjemah : Wahyuet
Editor : –

Sumber English : Renna’s Translations

Hari festival Akebi. Sejak pagi, seluruh sekolah dalam hiruk-pikuk yang besar. Karena penerimaan untuk umum akan dimulai pada 08:50, setiap kelas dan klub sibuk dengan-menit terakhir pemeriksaan di stand mereka.

Di kelas kami sendiri, sebagian besar siswa sudah berubah menggunakan kostum youkai mereka.

Youkai di sini, dan lebih banyak youkai di sana. Seperti itulah kurasa.

Aku selesai berganti, dan duduk di sudut ruangan untuk menunggu festival dimulai.

Aku memiliki telinga kucing di kepalaku, dan ekor bercabang melekat di belakangku. Dan akhirnya, teman sekelasku menggunakan tunta untuk menarik tiga kumis di masing-masing pipi.

“Hibari-chan, kau terlihat cocok sebagai Bakeneko”

“Te-terima kasih”

Setelah dia selesai berganti juga, Yue datang dan memujiku. Aku tidak bisa membantu tetapi merasa malu.

“Kau terlihat cocok juga, Yue-chan. Sangat cantik”

“Terima kasih. Itu sulit untuk memakainya”

Mengatakan itu, Yue otomatis mulai tertawa. Dia berpakaian seperti Kerakera Onna (Wanita terkekeh), dan tampak seperti dia sudah mendalami karakternya.

“Jika aku tidak tertawa, tidak akan ada yang tahu Youkai ku. Kekeke”

Bahkan ketika dia tertawa seperti itu, Yue sangat lucu. Itu tidak adil.

“Kalau dipikir-pikir, Touka-chan tidak ada di sini”

Aku telah melihat santai di sekitar ruangan sejak awal, tapi aku tidak melihatnya di mana saja.

“Dia meninggalkan kelas beberapa saat yang lalu. Dengan rambut yang sangat panjang yang mencapai sampai ke lantai”

Aku melirik jam. Masih ada beberapa waktu sampai pembukaan.

“Aku akan pergi dan melihat apa yang dia lakukan”

Aku melompat dari tempat duduk dan meninggalkan kelas. Aku punya ide yang cukup bagus ke mana dia mungkin pergi.

“Diam-diam menyelinap seperti itu…kau benar-benar seperti kucing”

Touka berdiri di depan pintu ke atap, melihat ke bawah.

“Apakah kau berpikir tentang Saho?”

Berdiri di sana di tangga remang-remang saat mengenakan wig panjangnya, dia tampak agak aneh. Seperti yang di harapkan dari Kejourou. Tanpa menjawab pertanyaanku, dia duduk di tangga.

“Ini hanya bagaimana tampilannya”

Pada pintu terdapat poster bertuliskan. “Dilarang”. Para guru harus menyegelnya karena apa yang telah terjadi dengan Saho. Aku bertanya-tanya apakah masih ada jejak darahnya di atas atap.

“Dia sering datang ke sini untuk menangis”

Touka bergumam, seakan berbicara sendiri. Dan seolah-olah didorong oleh kata-katanya sendiri, dia terus bebicara.

“Rupanya, dia tidak mendapatkan banyak waktu tidur karena mengkhawatirkan banyak hal. Berpikir kembali tentang itu sekarang, aku pikir itu mungkin lebih dari sekedar bullying”

“Apakah Saho berurusan dengan sesuatu yang lain, juga……?”

“Hei, Hibari. Kau menyebutkan bahwa kau mengenal seorang penulis, kan?”

Disinggung dengan tiba-tiba, aku tidak bisa tidak panik.

“B-baik, ya, aku tahu seseorang tapi….daripada seorang penulis, dia, umm…lebih seperti orang aneh yang mencintai kopi”

“Aku ingin tahu apa yang penulis pikirkan ketika mereka sedang menulis…”

Mengabaikan kepanikanku, dia melanjutkan,

“Aku tidak ingat kapan, tapi Saho mengatakan padaku, tentang bagaimana penulis yang benar-benar menakjubkan. Cara mereka menempatkan pikiran mereka dalam kata-kata, seperti meniup kabut. Dia bilang dia tidak akan bisa melakukannya, tidak peduli seberapa keras ia belajar di sekolah”

Touka tidak mengatakan apa-apa lagi setelah itu, sehingga yang bisa aku lakukan adalah memainkan ekorku.

Saat itulah kami mendengar suara-suara dari beberapa siswa laki-laki berbicara dari belakang kami.

“Hei, jangan dorong!”

“Apakah kau memiliki cengkraman yang baik pada akhirnya?”

“Jangan menjatuhkannya!”

Ketika kita melihatnya, kami melihat anak laki-laki mencoba untuk membawa sekelompok kayu, kardus, dan bahan lainnya dari lantai lorong keempat.

“Kenapa kau melakukan ini di lantai empat, sih? Apakah kau tidak mempertimbangkan fakta bahwa kita harus membawanya turun pada hari festival?!”

“Ini adalah satu-satunya tempat yang mencolok yang memiliki cukup ruang, sehingga tidak ada pilihan lain”

Mereka tampaknya berdebat tentang sesuatu. Merasa penasaran, Touka dan aku mendekati mereka.

“Sialan! Kami tidak bisa melakukan presentasi dramatis, dan kami telah bekerja sampai pantat kami sakit”

Orang yang tampaknya pemimpinnya mengutuk berulang kali.

“Apa yang salah?”

“Ah…tidak, bukan apa-apa. Maaf menghalangi jalan. Jangan bilang siapa-siapa, tapi ini sebenarnya bagian dari monumen. Kita harus cepat dan membuat mereka di luar sebelum tamu pertama tiba. Guys, mari kita pergi!”

Kedengarannya seperti mereka adalah bagian dari kru produksi monumen.

Bagian pra-dibangun individu akan dikumpulkan untuk membuat monumen penuh. Aku ingat itu tertulis dalam buku panduan.

Sementara itu, sekelompok orang, masing-masing membawa sesuatu, berjalan turun sambil berteriak satu sama lain. Semua masalah yang mereka hadapai dengan mengangkut bagian-bagian tampakanya menunjukan betapa besar dan boros monumen tahun ini dibuat.

“Mereka benar-benar melakukannya tahun ini! Sialan!”

Kita mengikuti kru produksi turun ke lantai sua, kita tiba-tiba mendengar seseorang berteriak. Kedengarannya seperti itu datang dari lantai pertama. Kami berlari untuk melihat apa penyebab teriakan marah yang mendadak itu, dan melihat bahwa kerumunan kecil orang telah berkumpul disekitar pintu masuk di tempat loker sepatu.

“Apakah dia benar-benar berniat untuk menggangu!?”

Orang yang telah mengatakan ini adalah Igarashi-senpai, yang berdiri di tengah kerumunan.

“Apa sesuatu terjadi?”

Touka memaksa berjalan melalui kerumunan untuk bertanya padanya.

“Mereka sudah muncul lagi. Ex,”

Jawab Igarashi-senpai, dan mengangguk ke arah apa yang telah ia lihat. Di depan loker sepatu adalah papan buletin yang terbesar di sekolah. Dan di atasnya, kain besar telah menutup seperti spanduk. Di tulis pada kain merah terang itu adalah ini:

“Sebagai perwakilan dari siswa, aku akan menurunkan palu pada festival berarti ini. Hari ini, anda akan mendengar sinyal api pembersihan di bawah menara jam”

Itu agak sulit dibaca karena ditulis dengan penuh gaya, tapi bahkan aku bisa mengerti inti dari itu.

“Kapan ini dimasukan di sini…..?”

“Apa yang mereka maksud dengan, ‘perwakilan dari siswa’, ya? Tidak ada yang meminta untuk itu!”

Semua anak laki-laki berteriak mengeluarkan komentar mereka.

“Hei! Tidak ada gunanya membuat begitu banyak kebisingan lebih dari sekarang! Festival ini akan segera dimulai. Semua orang, kembali ke kelas masing-masing!”

Juurou-senpai muncul, dan mulai cepat memberitahu semua orang. Dia kemudian merobek kain dari papan buletin, merobeknya jadi dua, dan mengepalkan itu.

“Membuat deklarasi perang seperti ini, dasar bajingan arogan!”

“Juurou-“

“Ya, aku tahu, itu mengatakan menara jam. Namun, komite disiplin akan mengawasnya dengan ketat, untuk memastikan bahwa tidak ada yang terjadi di mana saja di dekat itu”

Keduanya bertukar pandangan ketika mereka pergi. Ex. Orang yang telah menyakiti Saho. Dan sekarang mereka mencoba untuk mengganggu festival Akebi. Saat aku memikirkan hal itu, aku merasa diriku semakin kesal. Dan sementara masih merasa kesal, aku kembali ke atas. Dan kemudian, bel berdentang 08:50. Festival telah dimulai.

Itu adalah tontonan duniawi.

Dari laingi-langit tergantung banyak bola api.

Mereka tidak terlihat seperti jiwa manusia, tetapi api dari medan perang kuno yang menyedihkan, jiwa yang dendam muncul di tempat perang.

Meskipun festival budaya ini seharusnya damai, tetapi itu berubah menjadi sesuatu yang menyerupai medan perang.

Teman sekelasku, yang telah berubah menjadi youkai, perlahan berkeliaran di sekitar kelas.

Si Dodomeki (setan bermata banyak), dengan mata yang tak terhitung jumlahnya di lengan dan kakinya.

Si Uwan, yang menyerang pelanggan tanpa alasan karena mereka pergi, dengan berteriak ‘Uwan!’ pada mereka.

Yue juga tertawa terus, memainkan perannya sebagai Kerakera Onna dengan baik sekali. Dia harus tertawa bahkan jika tidak ada yang lucu, jadi itu peran yang merepotkan.

Nah, dibandingkan dengan anak yang tergantung di langit-langit sejak festival dimulai sebagai Tenjou-kudari (gantungan langit-langit), Yue tampaknya lebih mudah.

Sebagian besar pelanggan yang berjalan memiliki wajah terkejut karena mereka melihat sekeliling dengan cemas.

Aku tidak bisa menyalahkan mereka, karena mereka disambut adegan duniawi lainnya ini ketika mereka akan ditujukan untuk mengambil istirahat dengan berkunjung ke kafe.

Kau bisa mengatakan bahwa konsep-bijaksana, kami berhasil membuat sebuah Youkai Jazz club. Namun, aku tidak tahu berapa banyak milai di musik jazz yang dimainkan samar di seluruh kelas.

“SELAMAT DATANG! Lewat sini. Silakan”

“Kyahh! Ini Bakeneko!”

Aku memandu pasangan ke tempat dudk mereka dan menyerahkan mereka daftar menu. Setiap wanita yang melihat menu akan selalu membiarkan beberapa ucapan seperti, “Oh, saya” atau “Nah, sekarang”, dan membuat ekspresi perasaan campur aduk.

  • Kerosene Coffe (dibuat oleh Bakeneko)
  • Shuten-douji (pemimpin iblis yang haus sake)
  • Black tea (non-alkohol)
  • Castella yang digali oleh goblin (ini tidak busuk)
  • Kama-itachis sweet been jelly (irisan dengan cinta)

Dengan menu yang tampak seperti itu, itu wajar saja.

“Nama-namanya mungkin tampak aneh, tapi aku jamin rasanya baik-baik saja”

Pada kenyataanya, itu hanya nama yang tampak mencurigakan, rasanya normal. Dan selain itu, kopinya adalah kopi instan. Kopi instan lebih mahal karena baru-baru ini telah diimpor, tapi tidak ada waktu untuk mempersiapkan itu langsung dari biji kopi untuk setiap pelanggan di kelas.

Setidaknya, kita bisa mendapatkannya dengan diskon sedikit karena koneksi ayahku. Saat aku sedang berjalan di sekitar, pelanggan lain datang.

Sejujurnya, aku duga kita akan memiliki lebih banyak waktu luang,tapi Youkai Jazz cafe telah berubah jadi populer.

“Itu pasti karena keluargamu memiliki sebuah kedai kopi. Kau begitu baik melayani pelanggan, Hanamoto-san!”

Meskipun teman sekelasku memujiku seperti itu, aku merasa tertekan sepanjang waktu untuk melayani mereka. Apakah karena deklarasi perang dari Ex itu? Tidak, aku tahu apa alasan sebenarnya. Ini adalah fakta bahwa Saho telah melemparkan bayangan pada hatiku.

“Kami mungkin akan sibuk nanti sore, sehingga ambilah istirahat sebelum mereka datang”

“Roger-“

Berpikir bahwa aku telah sedikit memperbaiki suasana hatiku, aku mengambil tawaran itu dan pergi meninggalkan kelas.

Ketika aku pergi untuk mencuci tangan, aku mengambil kesempatan untuk melihat bayanganku di cermin. Aku tidak berpikir aku tampak buruk. Mungkin.

Jika sensei melihat aku sekarang, apa yang akan dikatakannya? Apakah itu pujian untukku? Tidak, mungkin akan lebih seperti –“Ahaha! Kau menyebutnya kucing? Aku pikir kau rakun yang sedang meniru manusia!”

Aku mendesah, dan pergi ke koridor. Itu sudah sekitar jam sepuluh, dan sekolah penuh sesak dengan orang-orang. Semua orang di sekitar usiaku yang tidak aku kenali pasti siswa yang berasal dari sekolah lain.

Dan salah satu dari mereka, seorang gadis berjalan ke arahku dari arah lain, ,menarik perhatianku. Meskipun dia tampak seperti dia masih di sekolah menengah, bahkan dari jauh, ia tampak menggemaskan mengenakan sewater putih dan rok dengan pola bunga. Namun,, pada wajahnya bekas luka mengerikan tampak. Itu hampir tidak bisa disebut kecil, membentang dari pipi kirinya ke telinganya.

Pertama-tama, itu adalah bekas luka yang membuat aku memandangnya lama. Ketika kami melewati satu sama lain, aku ragu untuk melihat ke arahnya, dan hanya menatap ke langit luar sebagai gantinya.

Aku masih punya banyak waktu tersisa untuk istirahat, tapi karena itu sedikit memalukan berjalan di sekitar dengan menggunakan kostum, aku kembali ke kelas.

Haruskah aku berganti dengan pakaian normal lalu pergi melihat-lihat? Tapi kemudian semua orang mungkin akan menuduh aku tidak memperdulikan Youkai Jazz cafe, jadi aku memutuskan lebih baik menyerah pada gagasan itu.

Tetapi bahkan jika aku berjalan di sekitar sekolah dalam kostum ini, itu mungkin akan akan menjadi kelas lain yang sedang melakukan rumah hantu akan mendapatkan keuntungan dari iklan tidak langsung itu.

Ketika aku berhasil kembali ke kelas, di luar ada kerumunan yang tidak ada di sana sebelumnya. Ada baik dari siswa dari kelas lain, dan dari sekolah lain, juga. Satu-satunya hal yang sama dari semua orang itu adalah mereka semua perempuan.

“Aku ingin tahu siapa dia?”

“Lihat;ah! Dia sangat bersemangat!”

Banyak suara melengking berceloteh sekaligus. Mendorong tubuhku ke dalam kerumunan itu, aku berhasil masuk ke kelas dan melihat ada seorang laki-laki, dusuk sendirian di meja dekat jendela. Dan di sampingnya, anak yang memerankan Tenjou-Kudari menjelaskan sesuatu.

“Seperti yang aku katakan, namanya mungkin aneh, tapi rasanya baik-baik saja…..”

“Aku tidak punya masalah dengan namanya. Aku tidak peduli bahkan jika kau menyebutnya kopi baby oil atau bahkan susu yang diperas dari payudara wanita. Aku menanyakan kenapa cafe ini membuat kopi dengan rasa yang buruk. Bawakan aku seorang yang dapat membuat secangkir kopi yang layak”

Kata pria itu acuh tak acuh. Bukan itu ia bicara sangat cepat, atau bahkan keras, tapi untuk beberapa alasan, tidak ada yang berani membalasnya. Semua orang di dalam kelas sedang menonton dari kejauhan, hampir seolah-olah menunggunya untuk pergi.

Si Tenjou-Kudari tampaknya telah dipaksa untuk turun dari langit-langit, juga. Dia mungkin telah diberitahunya seperti ini,

“Apakah kau benar-benar berniat untuk melihat ke bawah pada pelanggan seperti itu?”

Begitu mengerikan. Tidak lama kemudian, pelanggan itu melihat ke arahku, dan menyeringai dengan senang.

“Jadi kau ada di sini, bagaimana pun, gadis bakeneko. Oi, Kudou Renma telah tiba”

Apa yang kau pikirkan dengan melakukan itu, Sensei?

“Cepat dan buatkan aku kopi”

“Aku menolak”

“Lepaskan aku-! Nya-!”

Setelah itu, sang penulis menarik kerah bajuku, dan membawa aku keluar dari kelas seperti kucing. Memang benar aku berpakaian sebagai bakeneko saat ini, tapi masih! Semua temas kelasku sedang menonton! Ahh! Itu sangat memalukan dan rasanya seperti wajahku menyemburkan api! Aku sangat malu bahkan merasa kuncirku yang aku banggakan akan meringkuk seperti siput.

“Diam. Kau kucing tidak sopan. Aku datang jauh-jauh ke sini dan kau menolak untuk membuatkan aku kopi? Dalam hal ini, bukanya kau seharusnya memberikan aku tur sekolah, bukan”

“Aku tidak mungkin membuat kopi setelah semua keributan yang telah kau lakukan! Jika kau mengatakannya sebelumnya aku akan setidaknya lebih siap…..bukankah kau bilang kau tidak akan datang kemarin”

“Aku tidak bilang begitu. Aku hanya mengatakan aku tidak peduli tentang itu”

Melarikan diri dari genggaman sang penulis, aku berjalan mantap menyusuri lorong, membayar semua keluhannya dari belakangku.

“Karena aku tidak punya waktu untuk minum kopi pagi ini, jadi ada apa dengan perlakuanmu ini? Aku akan menginjak ekormu”

Hal egois apa yang barusan kau katakan!

“Ayo, aku akan memberikan tur sekarang, jadi pastikan kau mengikuti aku”

“Omong-omong, apakah Ex muncul? Selama aku di sini, aku tidak keberatan dihibur dengan trik murahan”

Sekali lagi, kata-kata yang kekanak-kanakan.

“Mereka tidak menunjukan diri mereka, tetapi mereka memberi semacam peringatan. “Anda akan mendengar api sinyal di bawah menara jam,” katanya. Menara jam adalah bangunan tua, yang terletak di antara bangunan utara dan gymnasium. Sebelum perang, itu digunakan sebagai gedung sekolah, tapi karena sebagian besar dihancurkan oleh api karena serangan udara, hanya bagian menara jam yang utuh”

“Api sinyal, hm? Hmph, begitu biasa”

“Sensei, jangan bilang kau sudah mengetahui jawabannya hanya dari itu!”

“Mereka kemungkinan besar mengacu pada bahan peledak”

“Jadi……bom?”

Jika mereka melakukannya di tengah-tengah kerumunan orang-

“Namun, jika mereka melakukan sampai sejauh itu, aku lebih memilih mereka untuk melakukannya dengan sedikit bakat”

“Sesikit bakat…..?”

“Misalnya…Ah, aku tahu. Pertama, saat membaca keras-keras ‘Dogura Mogura’ dengan suara melengking selama berjam-jam dengan intercom sekolah-“

“Aku sudah mendengar lebih dari cukup, terima kasih”

Jika memungkinkan, aku ingin mereka untuk menahan diri dari membaca hal luar biasa aneh yang ada di novel misteri di festival budaya yang menyenangkan ini. BTW, aku pertama kali membaca novel itu ketika aku masih SD, dan karena itu, aku memiliki mimpi buruk yang sangat kaleideskopik yang tidak bisa aku jelaskan pada siapa pum, dan berlari ke kamar ayahku untuk menangis.

Sejak awal, semua siswa perempuan melewati lorong sambil mendesah, “Oh astaga” dan berhenti untuk melihat kembali sang penulis. Namun, jangan tertipu! Aku ingin mengatakan ini pada gadis-gadis itu. Meskipun orang ini memiliki wajah se[erti dia melompat dari layar perak, dalamnya, ada sesuatu yang tidak bisa dimengerti, campur aduk di dunia yang sepuluh kali lebih gelap daripada Edogawa Ranpo “Kisah aneh pulau panorama”

Saat aku berjalan menyusuri lorong sambil memikirkan hal itu, aku bertemu dengan seseorang yang berdiri di tengah itu.

“Maaf!”

“Ah, tidak, tidak apa-apa. Ini salahku sendiri karena tidak berhati-hati, baik…….”

Senyum agak sedih muncul di wajah lemah lembut dari pria paruh baya sambil menundukan kepakanya. Melihat lebih dekat, aku melihat kamera tergantung di lehernya.

“Apakah kau mengambil gambar dari gestival?”

“Ya. Untuk putriku yang dirawat di rumah sakit. Dia banyak berharap untuk hari ini, jadi setidaknya aku ingin dia melihatnya”

Ketika aku mendengar itu, pikiran itu datang.

“…Permisi. aku ingin bertanya, tapi, kau adalah….Saho-san’s….?”

“Oh? Apakah kau teman Saho?”

Orang itu adalah ayah Saho. Kalau dipikir-pikir dia memiliki fitur wajah yang mirip dengan Saho. Pada saat itu, ibu Saho telah menemani putrinya sementara dia tetap tertidur di rumah sakit.

“Aku ingin menujukan padanya foto setelah dia bangun. Meskipun benar bahwa dia dibully oleh beberapa siswa, dia mengatakan kepada kami bahwa dia telah membuat beberapa teman baik, dan bahwa dia menikmati kegiatan klubnya. Itu sebabnya aku ingin percaya bahwa ia tidak melakukan apapun untuk melukai dirinya sendiri”

Setelah mengatakan itu, ayah Saho menundukan kepalanya sedikit dan pergi. Untuk sementara waktu, aku tidak bisa bergerak dari tempat ini.

“Sensei, pagi itu, langit begitu indah. Namun, ada begitu banyak darah. Bahwa sepanjang waktu, sampai seseorang menumukan dirinya, di atap itu, di bawah langit yang…aku bertanya-tanya, adalah Saho membuat darahnya sendiri?”

Sang penulis tidak mengatakan apa-apa untuk pertanyaanku, dan hanya menatap diam di belakang kepalaku.

“Sensei, aku benar-benar ingin mencarii pelakunya, dengan kedua tanganku sendiri”

“Aku ragu kau akan mendengarkan bahkan jika aku mencegahmu sekarang. Selain itu, itu bukan berarti aku bisa menghentikanmu”

“Sebenarnya, setelah aku merencanakannya lagi tadi malam, aku teringat sesuatu. Ketika aku menemukan Saho di atap, genangan daarahnya sudah keriing sebagian. Ini berarti telah terjadi lama sejak ia mulai berdarah. Aku tidak bisa mengabaikan fakta itu karena aku begitu terganggu oleh keanehan itu”

Aku memiringkan kepalaku untuk melihat lagi padanya.

“Namun, aku akhirnya menyadari bantuanmu kemarin”

Kopi yang telah tumpah di meja Kudou-sensei. Kopi yang kering sepenuhnya setelah satu hari.

“Saho hanya bertindak sebagai murid teladan, dan hanya masuk sekolah saat pintu gerbang dibuka…kalau dia sudah mulai pendarahan setelah itu, darah tidak akan kering sampai batas tertentu. Dengan kata lain, ia menyelinap ke sekolah sebelum gerbang dibuka, atau bahkan selama malam sebelumnya. Aku tidak, mempertimbangkan kemungkinan itu sama sekali. Sensei, itu sebabnya kau memberitahu petunjuknya, kan? Sehingga aku dapat mengingat yang telah lalu”

Sang penulis mendengarkan pidatoku, bibirnya mengitari puas, senyum berbentuk bulan sabit, seperti yang biasa pelaku dalam novel detektif lakukan.

“Jika itu yang terjadi, apa yang dapat aku simpulkan dari itu? Pergi dan katakan, hibari”

Aku bisa mendengar detak jantung sang penulis saat ia berdiri di belakangku. Dia mulai bermain-main dengan telinga kucingku. Aah, aku sedang dipermainkan iblis.

“Malam itu, Saho dipanggil keluar, ke atap sekolah, oleh Ex. Mungkin Saho telah tahu tentang salah satu rencana radikal Ex, salah satu yang penting”

Jantungku mulai berdetak cepat, juga. Sang penulis mempertanyakannya lebih lanjut,

“Lalu, siapa Ex tepatnya?”

Ex. Berbagai penanggulangan yang dilakukan oleh sekolah-patroli ketat yang dipimpin oleh komite disiplin, keamanan menyeluruh, dan pengawasan yang berlebihan-seseorang yang tindakannya lain dari yang lainnya.

“Seorang siswa dengan posisi yang memungkinkan dia untuk mendapatkan informasi melebihi yang tidak bisa dilakukan oleh siswa normal “

Dalam deklarasi pagi ini, “Wakil dari siswa” telah tertulis. Aku tidak berpikir bahwa bagian itu bohong. Bahkan jika tindakan Ex ini agresif, mereka tampak seperti tipe orang yang ingin menegaskan pendapat mereka. Jika itu terjadi, kemungkinan besar mereka tidak akan menahan diri dengan menyatakan sesuatu yang palsu. Sebaliknya, aku yakin mereka akan gembira karena dapat mengatakan bahwa mereka berpihak pada siswa.

“Namun, itu tidak bisa mempersempit kemungkinannya siapa orangnya”

Seolah-olah menekankan hal ini, sang penulis mulai bermain-main dengan rambutku.

“Ingat. Aku telah mengatakannya, saran yang penting, bukan? Waktu itu, cobalah melihat dunia dengan cara lain”

–Si aktivis tak dikenal, Ex.

–Pesan Saho yang tertinggal dengan darahnya, “X”

Melihat dunia dengan cara lain—

Sesaat berikutnya aku berlari.

“Sensei, aku berjanji akan melanjutkan turnya nanti”

Itu mereka.

Ada seseorang yang cocok dengan semua kriteria.

Ex adalah…Orang itu.

PREV | Table of Content | NEXT

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s