Stranger’s Handbook Chapter 37

Chapter 37 – Duel di Pagi Hari?

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : Oyasumi Reads

Ketika tiba saatnya untuk bangun, aku ingin para maid yang membangunkanku.

Di pagi hari, aku ingin dibangunkan oleh senyum manis dari seorang gadis; Aku sangat enggan untuk bergerak jadi gadis itu berkata padaku:
“Ayolah, anda pasti tidur larut malam.”
Dan berkali-kali mengguncangku.

Apa yang paling membuatku merasa muak adalah dibangunkan oleh suara marah milik seorang pria.

Aku sudah sangat buruk ketika baru saja bangun, kau tahu? Aku tidak tahu siapa kau, tapi aku akan menghajarmu sampai kau mati.

Dengan kesal, aku bangun untuk mengganti pakaianku saat seorang maid masuk kedalam kamarku.

“Ah! Saya…. Saya minta maaf karena tidak mengetuk. Saya mencoba menghentikannya, tapi ksatria itu tetap mengatakan bahwa dia ingin berduel dengan Zest-sama dan menerobos masuk….”

Maid itu menundukkan kepalanya dengan buru-buru.

“Begitu, tidak usah khawatir tentang hal itu. Aku akan keluar setelah aku berpakaian, jadi tunggulah sebentar.”

“Baik.”

Dia membuka pintu dan memberikan beberapa perintah dengan suara rendah.
Sesaat kemudian, dia mendekatiku dan membantuku untuk berpakaian.

Tentu saja, itu bukanlah sesuatu yang tidak bisa kulakukan sendiri.
Tapi membiarkan para maid menolongmu adalah peraturan bangsawan yang lain.

Sejujurnya, siapa orang bodoh yang menggangguku di pagi-pagi buta, mengoceh tentang ingin melakukan duel denganku….
Maid ini mengatakan dia adalah seorang ksatria, tapi dia tidak mungkin memiliki status sebagai seorang ksatria biasa.
Jika ksatria biasa menyerangku, seorang bangsawan, tanpa pemberitahuan sebelumnya, meminta sesuatu seperti duel melawanku, tidak ada seorang pun yang akan protes jika dia terbunuh.

Lalu, bangsawan tingkat tinggi? Tidak, jika begitu, maid ini pasti mengenalinya.
Seluruh maid yang bekerja di Istana adalah para elite, tidak mungkin mereka tidak mengenali wajah orang itu.

Lalu apakah seorang bangsawan tingkat menengah?….. Itu bisa jadi.
Karena posisiku sebagai Imperial Mage Peringkat Pertama belum di beritahukan ke publik, mungkin dia adalah seorang baron atau seorang viscount…..

Ini akan merepotkan.

Aku selesai mengganti pakaianku, menghela nafas panjang dan membuka pintu.

“Kau tiba-tiba membangunkanku pagi-pagi buta begini, apa yang kau…. Hm?”

Aku melihat sekeliling ruangan, tapi tidak ada seorangpun didalamnya.
Dia juga tidak duduk di kursi.
Aku melihat ada teh yang disiapkan untuknya di atas meja, jadi aku yakin orang itu ada di sekitar sini beberapa saat yang lalu, tapi kelihatannya dia telah pergi.

Aku menatap kebelakang kearah maid yang tadi, tapi kelihatannya dia juga terkejut dengan kejadian ini.

Tanpa diduga, aku bersentuhan dengan sesuatu yang lembut dan hangat, di bahuku.
Ngomong-ngomong, dia memiliki bau yang sangat harum.

(Selamat pagi, tuan.)

“Pagi. Kelihatannya, kamu sedang berada dalam mood yang bagus.”

Spirit itu tersenyum, wajahnya berseri-seri.
Seluruh kekesalan yang kurasakan beberapa saat yang lalu benar-benar hilang; hatiku menjadi terasa hangat.

(Ya! Karena seorang pria berisik muncul ketika tuan sedang tidur, Saya membungkamnya. Puji saya!)

…… Kamu……. membungkamnya?

“Terimakasih, kamu hebat. Dan dimana pria berisik itu saat ini, jika aku boleh bertanya?”

Aku sangat ketakutan jadi aku memastikan untuk bertanya dengan nada lembut.

(Ehehe, saya terhubung dengan air mancur di dalam kota dan saya melemparnya kesana. Tuan, tolong usap kepalaku!)

“Ya, bagus. Bukankah sarapannya sudah siap sekarang? Ayo makan bersama.”

Sambil gemetaran, aku duduk dan mulai mengusap rambut spirit itu dengan lembut.
Aku akan memastikan untuk tidak membuatnya marah di masa depan….
Perasaanku secara perlahan mengambil alih diriku, aku benar-benar harus berhati-hati tentang hal itu.

Aku memutuskannya, dan terus membelai miniatur Nona Muda yang sedang tersenyum itu.

 

Aku memutuskan untuk mengabaikan tentara yang telah di lempar keluar.
Karena spirit-lah yang melakukannya, mau bagaimana lagi.
Aku akan menjadikan itu sebagai alasan.

 

Setelah aku selesai makan, aku membaca beberapa surat yang di kirimkan para bangsawan kepadaku.
Siapa yang pertama kali harus ku temui? Aku sampai pada sebuah kesimpulan bahwa aku akan membicarakannya dengan guruku sebelum memutuskan masalah seperti ini.
Ada beberapa bangsawan yang berafiliasi dengan Keluarga Frontier Count, jadi aku tidak bisa memutuskan urutannya sesuka hati.

Setelah itu, aku menghabiskan seluruh sore hariku untuk memilih urutan yang tepat.
Aku ingin melakukannya dengan acak, tapi masyarakat bangsawan tidak akan memaafkan hal itu.
Ini benar-benar menjengkelkan.

 

Aku menghela nafas, dan tanpa buang-buang waktu lagi, seorang maid datang untuk menjemputku.
Pesta kedua: Sebuah pertemuan dengan seluruh bangsawan yang ada di Ibukota Kekaisaran.

Ngomong-ngomong, seluruh kota sedang dalam perayaan. Makanan dan minuman di bagikan secara gratis untuk siapa saja di pinggir jalan, jadi ini seperti sebuah festival besar.
Pasti sulit bagi para prajurit untuk menjaga keamanan publik saat ini, tapi itu tidak masalah. Bagaimanapun besok adalah giliran mereka untuk berpesta.

 

Maid itu memanduku menuju pintu masuk untuk tamu utama di aula pertemuan.
Dengan tanda dari Yang Mulia, pintu itu akan terbuka dan aku akan masuk ke aula itu.
Guru sudah ada di sana; dia masuk kedalam melalui pintu masuk yang lain.
Karena tamu utama malam ini adalah aku dan spirit ini, tidak ada yang bisa dilakukan.

Pintu itu terbuka secara perlahan.
Baiklah sekarang, mari bersiap-siap untuk memiliki sesi menyelidiki satu sama lain yang bagus, para bangsawanku tersayang!
Aku sekali lagi mengusap kepala spirit dan mulai berjalan.

 

 

“Oh! Apakah itu adalah sang Spirit?”

“Peringkat pertama yang baru ternyata masih muda.”

“Kelihatannya dia belum memiliki selir saat ini.”

“Hee? Apakah dia di izinkan mengenakan pakaian hitam?”

“Hmm…. Sungguh sombong.”

 

Pesta itu dipenuhi bisikan semacam itu.
Saat aku berbicara dengan Yang Mulia, sebagian besar bajingan itu mulai berkumpul di sekitarku.

Dalam sebuah pesta, seorang pria tidak bisa mendekati seorang wanita yang belum pernah dia temui sebelumnya.
Pertama, ayahnya atau kerabat laki-lakinya yang lain harus berbicara denganku, dan hanya setelah itu, aku aka diperkenalkan kepada Nona itu.
Itu selalu seperti ini.

Sekali lagi, cukup mengesalkan, ada juga sebuah peraturan untuk peringkat para bangsawan.
Mereka yang memiliki peringkat lebih rendah tidak di izinkan untuk memulai percakapan dengan orang-orang yang berperingkat lebih tinggi dari mereka.

Ini belum resmi saat ini, tapi Yang Mulia telah mengatakan kepada mereka bahwa aku akan menjadi Imperial Mage Peringkat Pertama yang baru.
Sehingga, mereka memperlakukanku seperti seorang Marquis saat ini.
Satu-satunya orang yang dapat ku ajak berbicara dengan bebas, pada pertemuan pertama, adalah para anggota keluarga Istana Kekaisaran, para duke dan marquis laki-laki.

Tanpa peraturan ini, seluruh pesta akan menghasilkan beberapa mayat.
Tidak melakukan apapun selain menyapa beberapa ribu bangsawan yang ada di sini, kepalaku sudah terasa sakit.

Seperti peraturan keluarga Istana Kekaisaran, satu-satunya yang dapat ku temui dan ku ajak berbicara dengan bebas adalah anggota Keluarga Kerajaan.
Biasanya, para duke dan marquis adalah petinggi di wilayah kekaisaran, jadi mereka tersebar di berbagai tempat.

Itulah sebabnya, semua orang menatap dari kejauhan; mereka hanya bisa menungguku untuk memulai percakapan dengan mereka.
Sekali lagi, itulah sebabnya, apa yang bisa kudengar adalah suara bisikan.

“Oh, iya. Zest, biarkan aku memperkenalkan putriku. Dia adalah Tsubaki.”

Tsubaki?….. Apakah itu Camellia Jepang?
Aku ingat mereka pernah mengatakan sebelumnya, bahwa pernah ada pahlawan asing lain yang datang dari dunia lain.

“Saya senang bertemu dengan anda, Zest, Peringkat Pertama selanjutnya. Saya adalah Tsubaki. Saya dengar itu adalah nama sebuah bunga yang di sukai pahlawan legendaris-sama.”

Dia sedikit mengangkat gaunnya dan sedikit menekuk lututnya.
Nona muda yang sangat manis ini, yang terlihat berumur sekitar 10 tahun, adalah cerminan dari Kaisar Wanita.
Dia mungkin merasa gugup, karena senyumya sedikit kaku.

“Terima kasih atas sapaan sopan anda, Yang Mulia, Tuan Putri Tsubaki. Saya Zest. Spirit ini belum memiliki sama sekarang, tapi bisakah anda memberikan kehormatan untuk menyapanya juga?”

Dia menyapa spirit itu dengan anggun, seakan dia adalah aktris yang sedang manggung, lalu dia tersenyum lebar, dan terlihat cukup kekanak-kanakan.
Hehe, anak-anak sungguh manis.

“Ya, saya tidak keberatan. Spirit-sama, senang bertemu dengan anda. Saya Tsubaki…. Nama saya adalah Tsubaki.”

Dia membenarkan perkataannya; meskipun masih begitu muda dia benar-benar bertindak dengan sangat baik. Wajahku mulai mengendur tanpa kusadari.
Seorang gadis kecil melakukan yang terbaik untuk melakukan sapaan dengan benar…. Bukankah itu adalah pemandangan yang menarik?

Spirit itu kelihatannya juga menyukai Tuan Putri Tsubaki, jadi dia meloncat ke udara dan terbang ke arahku, hanya untuk berhenti di depan wajahku.
Meniru Nona Muda itu, dia membungkuk dengan sopan dan tersenyum manis.
Saat Tuan Putri Tsubaki melihat hal itu, wajahya tertutupi senyuman; kelihatannya dia juga jatuh hati kepada spirit ini.

(Apakah saya melakukannya dengan benar, tuan?)

“Ya, kamu luar biasa.”

Aku dengan lembut mengusap rambutnya dan dia menyipitkan matanya seperti seekor kucing; dia kelihatannya sangat menikmatinya.
Haha, dia terlalu manis.

 

Di dalam suasana yang nyaman itu, guruku bergabung dengan kami dan kami berangkat untuk melakukan sapaan.
Namun, Tuan Putri Tsubaki tidak mau meninggalkan sisi spirit, jadi kami membiarkannya menemani kami.
Sehingga, kami tidak bisa menyapa seluruh bangsawan yang ingin kamu sapa.

Yang Mulia terlalu memanjakan gadis kecilnya…. Aku cukup memahaminya sih.

Berkat kehadirannya, para bangsawan tidak bisa membicarakan hal-hal yang rumit, jadi semuanya berakhir dengan sedikit sapaan sopan.
Sebaliknya, itu agak menolongku.

 

Setelah kami selesai dengan sapaan, kami duduk di kursi yang telah di siapkan untuk kami di dekat dinding. Aku tidak pernah bosan melihat spirit dan Tuan Putri Tsubaki bermain bersama, dan dengan cara itu pesta itu telah mencapai akhir.

 

“Aku lebih dari merasa senang karena melihat semua orang menikmati malam ini dan dengan hangat menyambut kelahiran Peringkat Pertama yang baru. Kita, juga, harus berjuang untuk kesejahteraan kekaisaran kita.”

 

Dengan perkataan Yang Mulia, pesta itu akhirnya selesai.
Itu berakhir hanya seperti itu dan apa yang kulakukan sebagian besar adalah bermain dengan Tuan Putri Tsubaki.

Namun, aku lebih senang dengan perkembangan ini.
Karena aku dapat menghindari kelicikan para bangsawan….

Mengawal Tuan Putri Tsubaki, aku melewati pintu tamu utama, saat dimana dia menunjukkan senyum menggairahkan, tanpa sedikitpun jejak kekanak-kanakan didalamnya, dan berbisik:

 

 

“Zest-sama, terima kasih telah menemaniku malam ini. Para bangsawan mengirimkan restu mereka kepada kita.”

 

 

Wanita keluarga Kekaisaran, meskipun masih kecil, mereka benar-benar menakutkan…..
Apakah dia hanya menjebakku?…. Perutku terasa sakit…..

 

← PREV | Table of ContentsNEXT →

 

4 Comments Add yours

  1. david says:

    Tsubaki-sama, kecil tapi pikiran dewasa.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s