Stranger’s Handbook Chapter 33

Chapter 33 – Pertemuan Dengan Yang Mulia, Kaisar

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : Oyasumi Reads

(Tuan, istana ini sangat besar!)

“Itu benar.”

(Tuan, itu sangat berkilauan!)

“….. Ya”

 

Kami saat ini sedang berjalan di dalam istana, dalam perjalanan kami untuk bertemu dengan Kaisar.

Prajurit yang memandu kami terus melihat dari balik bahunya mengirim tatapan sekilas.
Itu wajar saja mengingat ini mungkin pertama kalinya dia melihat pria paruh baya yang berbicara dengan sebuah boneka yang duduk di bahunya.

“Zest, aku tahu kamu bersenang-senang, tapi jangan terlalu bersemangat.”
“Ya, Ayah. Aku minta maaf.”

Dia berkata seperti itu karena di sini ada orang lain yang melihat.
Sebagai terjemahannya, itu akan menjadi seperti ini:
‘Apakah spirit-san bersenang-senang? Namun, kita tidak boleh membeberkannya sekarang!’
‘Aku sudah tahu itu.’

Karena ini tentang sebuah kejadian yang sangat langka, sebuah spiritification yang melegenda, orang pertama yang harus kami beritahu adalah Yang Mulia.
Karena itu, aku harus menderita sedikit lebih lama.

Buku harian tukar itu terus berbicara kepadaku,
Dia jelas-jelas sedang bersemangat dan mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi dan terus menerus berteriak.

Hei, jangan terlalu banyak bergerak! Rok-mu terangkat……

Dia mengenakan pakaian yang sama dengan saat dia pertama kali terbentuk.
Sebuah pakaian hitam yang terbuat dari kulit halus yang sama dengan yang ada di sampul buku harian tukar dengan hiasan emas yang cantik di sana-sini dan ada sebuah sabuk yang terbuat dari rantai mithril yang melingkar di pinggangnya.

Aku dengan bersemangat membetulkan posisi rok milik boneka lucu ini.

…… Prajurit itu menatapku dengan wajah yang sangat jelas, di matanya, aku tidak diragukan lagi adalah orang mesum.

Guruku, yang berjalan di sebelahku, memalingkan wajahnya, dan sedikit gemetar.
Dia pasti sedang tertawa.

Prajurit itu menatapku seperti aku adalah ‘hal’ yang menjijikkan…. Seorang pria paruh baya yang meraba-raba sebuah boneka kecil. Dan pria aneh lainnya yang melihat dari sisi yang berlawanan dan sedang gemetar.

Para maid yang kami temui di sepanjang jalan berteriak setiap kali mereka melihat kami. Dan dengan cara ini, kami akhirnya tiba di ruang pertemuan.

Para prajurit yang bertugas melindungi pintu, mempersiapkan tangan mereka pada pedang yang ada di pinggang mereka untuk sesaat, tapi aku berpura-pura tidak melihatnya.
Ketika prajurit yang memandu kami mulai mengumumkan kedatangan kami, pintu itu terbuka dengan perlahan.

“Sonia Varnam, Komandan Divisi Sihir dari Keluarga Frontier Count Varnam dan Zest Varnam-dono.”

Prajurit yang ada di pintu masuk berteriak.

Aula penonton terlihat di penuhi oleh para bangsawan.

Kami berjalan di atas karpet biru mewah yang tergelar didepan kami dan ketika kami mencapai garis batas yang memisahkan karpet berwarna biru dan karpet berwarna merah, kami berlutut di lantai dan menundukkan kepala kami.
Ngomong-ngomong, jika kamu melangkah ke karpet merah, itu berarti ucapan ‘sayonara’ secara fisik.

 

“Angkat kepala kalian.”

Aku mengangkat kepalaku dan melihat ke arah orang yang sedang duduk di atas takhta yang sangat tinggi.

Dia adalah pria berbadan kekar dengan rambut pirang pendek dan mata biru.
Orang ini…. Apakah dia sang Kaisar?

“Lama tak berjumpa Sonia, sudah berapa tahun berlalu?”

“Ya, ini sudah lima tahun. Saya sangat senang melihat anda baik-baik saja, Yang Mulia.”

Dia mengangguk dan beralih untuk menatapku.
Sungguh tekanan yang luar biasa… apakah ini adalah aura dari orang yang telah mencapai puncak?

“Jadi kamu adalah Zest?…. Begitu. Sekarang aku paham kenapa Keluarga Frontier Count sangat menghargaimu. Kamu memiliki ekspresi yang bagus dan kekuatan sihir yang luar biasa.”

“Terima kasih banyak atas pujian anda.”

“Aku telah mendengar tentang masalah dengan Imperial Mage dan aku mengakui pertarungan kalian secara resmi. Namun, bertarung untuk pernikahan…. Itu benar-benar seperti sebuah dongeng.”

Yang Mulia tersenyum lebar.
Kelihatannya aku tidak akan di salahkan saat ini, tidak ada yang dapat menentang keputusan Yang Mulia, Kaisar.

“Saya sangat berterima kasih. Saya menerima bimbingan dari ayah angkat saya, jadi….”

“Ha ha ha, itu benar. Ayah angkatmu adalah Galef yang itu! Jika begitu, itu benar-benar tidak dapat di hindari.”

 

Ayah angkat, apa yang telah kamu lakukan?…..
Ketika aku menyebutkan ayah angkatku yang menikahi teman masa kecilnya, Kaisar itu tertawa terbahak-bahak.

Kau melakukan sesuatu, kan? Aku akan bertanya kepadanya setelah aku pulang.

 

Tawa Yang Mulia mencapai titik dimana dia tidak dapat berhenti dan salah satu bangsawan mengambil kesempatan ini untuk terbatuk dengan kuat.

“Saya memiliki sesuatu yang ingin di tanyakan, Yang Mulia.”

“Perdana Menteri, bicara.”

Dia adalah seorang pria paruh baya dengan fisik yang bagus.
Jadi itu adalah Perdana Menteri.

 

“Baik, Yang Mulia! Urm, Zest-dono…. Boneka apa yang duduk di bahu anda? Apakah anda pikir lelucon seperti itu selama pertemuan dengan Yang Mulia akan di maafkan?”

 

Seluruh aula terdiam.

 

Suara berbisik dapat terdengar.

“Jadi itu bukan sebuah ilusi optik!” “Kamu bisa melihatnya juga?” “Kukira aku terlalu banyak minum tadi malam….”

Itu menjadi agak berisik.

Namun, Yang Mulia mengangkat tangannya dan aula itu kembali terdiam.

 

“Zest, aku merasa ada arti di balik hal itu, kan? Katakan kepada kami.”

Itu memang benar.
Hanya orang gila yang mau melakukan hal seperti itu.

Jadi ada kemungkinan bahwa itu akan di tubuh sebagai sebuah ketidaksopanan secara tiba-tiba…..
Tidak, karena guruku mengurus masalah ini, dia mungkin membuat beberapa rencana.

Aku dengan lembut meletakkan buku harian tukar itu di lantai.

“Ini adalah kenyataan bahwa buku kami mengalami proses spiritification. Hei, sapa Yang Mulia, Kaisar.”

Buku harian tukar itu berjalan dengan langkah terhuyung, mengangkat tangannya yang kecil kepada Yang Mulia dan melambaikan tangannya sambil tersenyum dengan manis.

“Mengingat baru satu hari setelah proses spiritification berlangsung, dengan rendah hati saya meminta anda untuk memaafkan kekasaran ini, Yang Mulia.”

Aku dengan cepat membungkukkan kepalaku.
Buku harian tukar! Membungkuk, kau harus membungkuk!

Harapanku tidak mencapai dirinya…. Buku harian tukar itu terus melambaikan tangannya ke arah Yang Mulia.
Ya, dia terlihat sangat lucu, tapi bukan itu masalahnya.

 

 

Aula pertemuan dipenuhi kesunyian.

Orang yang memecah kesunyian itu adalah Yang Mulia, yang berdiri dan mengatakan:

 

 

“Kirim utusan ke setiap negara! Seorang pahlawan besar yang berhasil melakukan spiritification telah lahir di Kekaisaran kita! Selanjutnya, buka kas nasional dan umumkan kepada semua orang di Ibukota Kekaisaran! Kita akan mempersiapkan sebuah pesta yang sangat besar!”

 

“Ini adalah kembalinya sang pahlawan!” “Cepat, siapkan kuda tercepat!” “Kamu dapat menggunakan uang sebanyak yang diperlukan, kita akan berpesata dengan gaya yang megah!” “Katakan kepada semua orang untuk memulai persiapan. Liburan harus di tunda.”

 

Aula pertemuan benar-benar berubah menjadi sarang lebah.
Aku dengan lembut mengusap kepala buku harian tukar, yang ketakutan karena keributan yang sedang berlangsung. Pada saat itu aku sekali lagi menyadari betapa menakjubkannya prestasi spiritification ini.

 

“Zest, bersiaplah. Pestanya akan berlangsung tiga hari berturut-turut!”

Aku tidak memiliki kekuatan yang dibutuhkan untuk menjawab guruku yang sedang tersenyum….

 

← PREV | Table of ContentsNEXT →

4 Comments Add yours

  1. david says:

    Habis zest, nyambut tamu undangan 3 hr berturut2 keok-keok.

    Like

Leave a Reply to adi putra Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s