Fremd Torturchen Chapter 1 A

Volume 1
Chapter 1 – Empat Belas Iblis A

Penerjemah : Yukihito
Editor : Ceremonial
Sumber English : Bakatsuki

torturchen_v01_bw04

Duduk di sebuah bukit terpencil, ada sebuah kastil dikelilingi oleh hutan lebat. Setiap sudut benteng ini telah dibangun dari batu dingin yang menjengkelkan. Daripada sebuah kastil, akan lebih baik untuk menyebutnya sebuah benteng.

Setelah menghabiskan tiga hari di dalam ruangan yang menyesakkan. Siapa saja akan dilanda mimpi buruk akan dihancurkan(dihimpit) oleh batu. Jalan yang rumit berarti seseorang dapat mati di dalam labirin jika dia tersesat. Desain kastil jelas menunjukkan tidak ada pertimbangan sama sekali untuk dikunjungi penduduk setempat, lebih tepatnya, ada rasa penolakan seluruh.

Dapur yang tidak nyaman untuk digunakan sama sekali, selalu diselimuti perasaan sesak seperti sel penjara.

Tetapi, bahkan dibawah tekanan suasana semacam itu, bahan makanan tetaplah bahan makanan.

Mengenakan celemek tukang daging, Sena Kaito menggulung lengan kemeja katun dan menyilangkan lengannya dengan ketidaksenangan. Di depannya ada banyak sekali jeroan, menumupuk seperti gunung kecil. Potongan-potongan daging, lembut dan berkilau dengan bentuk yang rumit, yang mengeluarkan bau yang khas.

Kaito menghela napas dan memutuskan untuk memotong ke atas usus pertama, jadi dia menggunakan pisau tajam untuk membuka usus yang panjang. Selanjutnya, ia menghapus membran putih di sekitar jantung. Sementara ia mengurus sejumlah besar isi perut dalam diam seperti seorang biarawan pertapa, tiba-tiba dapur bergetar keras. Meskipun pecahan batu jatuh dari atas, Kaito mengabaikan situasi itu, dan bertindak seolah-olah tidak ada yang terjadi.

Bahkan jika kastil ini akan segera runtuh, dan mengakhiri hidupnya, ia tidak peduli sama sekali.

Ia membuka sebotol wine yang tampak mahal yang ia telah ambil dari gudang wine tanpa izin kemudian dituangkan setengah dari itu ke piring perak yang pada awalnya digunakan untuk tempat buah. Kemudian tanpa ragu-ragu, ia merendam beberapa jenis jeroan dalam wine bersamaan dengan bumbu yang namanya aneh.

Sementara ia melanjutkan pekerjaan memasak dengan ekspresi serius, seluruh kastil bergetar lagi, tapi Kaito masih membiarkan hal itu mengganggunya. Bahkan jika setengah kastil itu hancur, semua akan baik-baik saja selama dia selamat tanpa cedera. Damainya dunia, tapi suara jahat menghancurkan perdamaian ini.

“Pelayan, pelayan!”

berdasarkan logika namanya Kaito dan bukan “pelayan,” Kaito memutuskan bahwa dia bukan orang yang dipanggil dan dengan tegas mengabaikan suara itu. Akhirnya, cara memanggilnya berubah.

“Kaito!”

“Berisiknya! Aku mendengarmu! Aku akan segera datang!”

Takut hidupnya berakhir jika ia terus mengabaikan suara itu, Kaito menaruh hati yang ditutupi dengan tepung ke meja, kemudian bergegas ke koridor. Setidaknya koridor memiliki beberapa jendela kaca berwarna, yang agak meringankan perasaan sesak. Tetapi karena kaca itu, pola menjijikannya membuat rasa takut kaito terpantul ke lantai. Berlari di koridor warna-warni, Kaito menaiki tangga spiral dan membuka pintu ganda besar.

Hembusan angin kencang menyambutnya. Di dalam ruang singgasana, dengan karpet tentunya, secara harfiah singgasana yang megah. Bahkan ada beberapa permadani kuno tergantung di ruangan, mengisi ruang dengan kekhidmatan. Namun, seperempat dari semua hal itu kini telah hancur, terdapat sebuah lubang besar di dinding, memperlihatkan langit biru yang menyegarkan.

Itu benar-benar konyol. Apa yang sebenarnya terjadi sehingga bisa menghancurkan setengah benteng.

Di depan sisa-sisa kehancuran yang tak masuk akal ini, seorang gadis berdiri dengan tangan menyilang, kaki berbentuk sempurnanya berdiri di puing-puing, menunggu Kaito dengan angkuh. Dengan klik tumitnya menyentuh tanah, ia berpaling ke arah Kaito.

Rambut hitam dan cantiknya berkibar di udara sementara mata merahnya menusuk Kaito.

Sebuah senyum yg sama sekali tidak terlihat senang menggantung di wajah cantiknya. Kaito melihat wajah menjijikkannya. Dengan kuku dicat hitam, dia menunjuk ke luar dan berbicara dengan suara seperti burung, seperti kucing yang makan mengisi perutnya.

“Lihatlah, Kaito.”

Kaito dengan patuh melihat keluar lubang. Langit biru jernih dan hutan hijau menyegarkan ini diselimuti oleh warna merah lengket dan bau karat seperti, itu memuakkan.

Di depannya adalah kejadian mengerikan seperti neraka.

Puluhan tiang besi telah tumbuh keluar dari tanah, menusuk makhluk menyeramkan.

Dengan mengkerutkan wajahnya, Kaito mengamati mayat menyedihkan yang tubuhnya hancur.

torturchen_v01_bw05

“Apa yang kau pikirkan, Kaito?.”

“Apa lagi yang bisa ku katakan …? Ini tidak hanya menakutkan tapi juga menyedihkan.”

“Hmph, apa penjelasan yang tepat untuk kemampuanmu. Tidak hanya kata-kata mu tidak mencukupi dalam menggambarkan ekspresimu, tetapi kamu juga tidak memiliki akal untuk menyenangkan tuanmu. Kamu seorang pria yang membosankan.”

Gadis itu mengangkat bahu. Di depannya, binatang menakutkan, sebuah penggabungan dari mayat manusia, sudah mati. Pada kulit binatang aneh itu terdapat ratusan wajah, melekat satu sama lain dengan merentangkan pipi dan kulit kepala mereka untuk membatasi, mengeluarkan erangan kesakitan yang hina. Alih-alih surai, kembali binatang itu mengeluarkan lengan manusia dengan sejumlah besar payudara tergantung dari perut kembungnya.

Gadis itu mengejek dengan aneh dan dia berkata:

“Ikuti aku, Kaito. Para Kesatria telah menyatakan perang pada ku. Atau lebih tepatnya, ia telah datang untuk berkelahi.”

Gadis itu menjilat bibir merahnya, gembira. Melebihi macan tutul dan serigala, dia lebih seperti singa raksasa yang kelaparan. Menekan rasa jijik dalam hatinya, Kaito berpaling dari mayat binatang itu dan menghela napas.

“Aku tidak keberatan, tapi makanan akan siap dalam satu jam. Apakah Anda bertarung atau menyiksanya, lakukan itu setelah makan.”

Satu-satunya alasan mengapa Sena Kaito saat ini terjebak dalam situasi yang kacau ini karena dia telah dibunuh.

← PREV | Table of ContentsNEXT →

5 Comments Add yours

  1. ragna says:

    Next Chapter kapan Di Translet Min

    Like

    1. Zen Quarta says:

      Translatornya ilang….

      Like

  2. Konakona says:

    😐 terlalu pendek….dan serasa baca bakemonogatari

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s