Genjitsushugisha no Oukokukaizouki Arc 3 Chapter 3 (Recess)

Arc 3
Chapter 03 – Negosiasi (Recess)

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : Yukkuri

“Mungkinkah, alasan kenapa Anda memanas-manasi Julius-dono adalah untuk tujuan ini?” (Jeanne)

Saat Jeanne bertanya, aku tersenyum kecut dan menggelengkan kepalaku.

“Itu sebagian besar adalah pendapat jujurku. Berkat duo ayah dan anak itu, Pembangunan Kerajaan telah tertunda sehingga aku terjebak beban kerja yang tak di inginkan. Aku hanya ingin melampiaskan keluhanku.” (Souma)

“Apakah itu benar?” (Jeanne)

Jeanne bertanya tanpa menunjukkan kepedulian sedikitpun terhadap hal itu.

“Aku dapat mengatakan hal yang sama kepadamu, kenapa kamu tetap diam meskipun negara sekutu mu menerima ‘serangan verbal’.” (Souma)

“….. Karena saya tidak tahu apakah ‘mata’ milik warga ada disuatu tempat disini.” (Jeanne)

Ah, begitu. Jeanne mengambil tindakan pencegahan terhadap kemungkinan pembocoran jalannya negosiasi menggunakan Siaran Kerajaan untuk menghasut massa, sama seperti yang kulakukan selama pertempuran di Kota Benteng Naga Merah. Itulah sebabnya dia tidak membuat janji secara berlebihan dan hanya mengatakan kata-kata yang dia pilih dengan hati-hati. Hmm? Tapi saat aku bertemu dengannya di Pasar Van, bukankah dia mengagumi bagaimana Siaran Kerajaan di gunakan?

“Hanya dengan melihat siaran di pasar, apakah kamu sudah melihat sejauh itu?” (Souma)

“Karena itu benar-benar mengejutkan. Bahkan aku mencoba memikirkan batasan potensial dari penggunaan hal itu. Yah, kegunaan mereka mungkin tidak hanya sebatas pada hal-hal sepele, jadi ketika Julius-dono terus memanas, saya merasa tidak nyaman.” (Jeanne)

Jeanne mengatakan hal itu sambil tersenyum kecut. Seperti yang diharapkan, dia adalah lawan yang tidak bisa kuanggap enteng.

“Bahkan jika kamu khawatir tentang hal itu, sejak awal tidak ada satupun orb siaran di sini. Itu mungkin akan berbeda jika hanya Julius. Aku tidak bisa menunjukkan adegan yang tak enak dipandang dengan Jeanne-dono yang ada didepannya, karena aku khawatir bahwa hal itu akan menyebabkan rasa malu bagi Kekaisaran.” (Souma)

Bagaimanapun, kesalahan anggota perserikatan adalah kesalahan pemimpin perserikatan. Bahkan jika Kekaisaran adalah lawan di meja negosiasi, merek bukanlah musuh di medan perang. Atau lebih tepatnya, mereka adalah negara yang tidak ingin kamu perangi tidak peduli apapun yang terjadi. Jadi aku tidak bisa melakukan sesuatu seperti membocorkan proses negosiasi ke massa dan menyebabkan Kekaisaran merasa malu. Jeanne mengangguk dengan takjub sambil mengatakan “begitu”.

“Saya sangat terkesan oleh pertimbangan Anda. Biarkan saya memperkenalkan diri saya lagi dengan benar, Raja Souma. Saya adalah Jenderal Kekaisaran Grand Chaos, Jeanne Euphoria. Saya mengunjungi tempat ini sebagai perwakilan dari kakak saya, Maria Euphoria.” (Jeanne)

“Aku menyambutmu dengan senang hati, Jeanne-dono. Aku adalah orang yang berperan sebagai Raja Elfrieden, Souma Kazuya.” (Souma)

Seakan untuk mengulanginya dari awal, Jeanne dan aku memperkenalkan diri kami satu sama lain sekali lagi. Jeanne, yang hanya mengatakan beberapa kata sampai saat ini, benar-benar mengubah cara bicaranya dengan nada yang lebih ringan. Jeanne tersenyum kearah Liscia yang berada disampingku.

‘Saya juga menyapa Tuan Putri Liscia, saya senang melihat anda baik-baik saja.” (Jeanne)

“Jeanne-dono, juga, dalam keadaan yang baik.” (Liscia)

Liscia juga mengatakan hal itu sambil tersenyum.

“Huh? Apakah kalian berdua sudah saling kenal?” (Souma)

“Tidak. Kami hanya bertemu sekali saat kami masih kecil. Mungkin itu sebelum munculnya Pasukan Raja Iblis?” (Liscia)

“Mungkin begitu. Pastinya itu terjadi saat anda memaksa ikut saat negosiasi antara Raja Sebelumnya dan Menteri Luar Negeri? Karena kami memiliki umur yang sama, kami bermain bersama-sama.” (Jeanne)

Begitu, karena mereka memiliki hubungan sebagai sesama keluarga kerajaan.

“Tuan Putri Liscia telah menjadi jauh lebih kuat dibanding dirinya dimasa lalu. Saya dapat mengetahuinya hanya dengan melihat.” (Jeanne)

“Jeanne-dono juga. Bahkan pada saat itu, saya tidak bisa mendaratkan satu pukulan pun.” (Liscia)

Tidak, tunggu dulu! Kenapa pembicaraan mereka tentang bermain bersama berubah menjadi cerita tentang mendaratkan pukulan!? Eh? Mungkinkah, bermain itu maksudnya bermain pedang? Meskipun mereka berdua adalah Tuan Putri?

“Kalian berdua mungkin terlalu tomboi sebagai seorang Tuan Putri.” (Souma)

“….. Pada saat itu bahkan Marcus yang biasanya lembut menjadi marah.” (Liscia)

“Menteri Luar Negeri kami juga menangis. Hahaha.” (Jeanne)

Tidak-tidak-tidak-tidak, itu bukan sesuatu yang bisa ditertawakan, bukan? ….. Jangan merasa nostalgia karena telah menyusahkan Marcus dan Menteri Luar Negeri Kekaisaran yang belum pernah sekalipun kutemui. “Baiklah, biarkan kenangan itu berakhir disini.” Jeanne menghentikan percakapan itu.

“Saya ingin mulai membicarakan masalah yang sebenarnya dengan serius, tapi.” (Jeanne)

“… Aku paham. Untuk saat ini, mari kita mengganti tempat untuk berbicara.” (Souma)

Dalam kesempatan ini, aku ingin berbicara jujur tanpa halangan dengan Kekaisaran. Untuk alasan itu, akan lebih baik jika lokasi negosiasi adalah sebuah tempat dimana kedua sisi akan merasa nyaman. Aku juga menginginkan pena dan kertas.

“Dan, sebelum itu… Liscia, tolong panggil Serina-san kemari.” (Souma)

“Baiklah.” (Liscia)

Liscia mengangguk dan segera pergi, setelah beberapa saat, dia kembali dengan seorang wanita yang mengenakan gaun maid. Wanita ini adalah chamber maid milik Liscia. Dia sedikit lebih tua dariku, dan merupakan tipe chamber maid cantik dan pintar yang terlihat bagus saat mengenakan kacamata. Dia sedikit menaikan ujung roknya dan membungkuk kearahku dan jeanne.

“Saya datang sesuai panggilan anda, Yang Mulia.” (Serina)

“Serina-san. Di ruang tamu, ada Putra Mah-… Duke Amidonia, Julius-dono. Karen mungkin diskusiku dengan Jeanne-dono akan memakan waktu yang lama, tolong temani dan hibur dia sebagai teman minum.” (Souma)

Serina membungkuk dengan hormat mendengar perintah itu.

“Saya akan melakukannya dengan senang hati. Oleh karena itu, Yang Mulia, saya meminta izin untuk membuka Akkou Liquor yang ada di ruangan bawah tanah istana ini.” (Serina)

Saat dia mengatakan hal itu, aku merasa bahwa mata Serina-san berkilau aneh untuk sesaat. Dia tidak terlihat seperti itu, tapi mungkin dia sebenarnya adalah seseorang yang cukup pemabuk. Karena itu untuk menghibur tamu, maka tidak masalah untuk meminum apa yang dia inginkan, kan?

“Aku akan mempercayakannya pada pilihan Serina-san. Jika itu untuk menghibur tamu, maka aku akan mengizinkannya.” (Souma)

“Saya dengan senang hati akan melaksanakannya. Tolong serahkan hak istimewa untuk ‘menuangkan minuman’ untuk Julius-dono kepada saya.” (Serina)

Saat dia menjawab, Serina menunjukkan senyum sedingin es dan kemudian membungkuk sebelum meninggalkan ruangan. Meskipun aku terganggu dengan senyum itu, karena dia berkata bahwa dia akan menghibur Julius, maka itu mungkin akan baik-baik saja. Saat aku memikirkan hal itu, aku melihat orang yang berada di sekelilingku dan melihat bahwa Liscia dan Hakuya memiliki wajah tegang.

“Ap-apakah ada yang salah?” (Souma)

“Souma…. Akkou Liquor adalah minuman keras yang terkenal karena ‘kuat’.” (Liscia)

“Meskipun rasanya enak, jika seseorang tidak terbiasa meminumnya, maka mereka akan dengan cepat pergi ke alam mimpi. Sebenarnya, untuk meminumnya secara normal, anda harus meletakkan satu sampai tiga tetes dari minuman itu kedalam jus atau teh.” (Hakuya)

Liscia menjawab dan kemudian Hakuya melengkapi penjelasannya sambil membuat ekspresi seakan dia merasa sakit kepala.

“Eh? Lalu, jika dia ‘menuangkan minuman’ menggunakan minuman keras itu, maka…” (Souma)

“Waktu minum itu akan berakhir hanya dalam 10 menit.” (Liscia)

“Jadi maksudmu itu akan menjadi sama sekali tidak menghibur!” (Souma)

Yah, karena Julius dapat dikatakan sebagai seseorang dari negara musuh, itu tidak terlalu penting, tapi… Serina-san, berkebalikan dengan sikap tenangnya, dia ternyata cukup licik. Saat aku memikirkan hal itu, Liscia berbicara sambil meletakkan jari ke pelipisnya.

“Souma, ada tiga orang yang tidak bisa ku kalahkan. Mereka adalah Ibu, Duke Carmine, dan kemudian Serina.” (Liscia)

“Dia adalah chamber maid Liscia, kan? Kenapa dia ada pada tingkat yang sama dengan Ratu sebelumnya dan Jenderal Angkatan Darat?” (Souma)

“Itu karena Serina adalah seorang maid yang benar-benar sempurna bukan hanya karena memiliki wajah dan tubuh yang menarik, tapi dia juga baik dalam pekerjaannya, dan juga sopan dan perhatian kepada orang lain. Juga, bagi anak tunggal sepertiku, dia adalah seseorang yang kuanggap sebagai sosok seorang kakak. Namun… hanya ada satu hal buruk tentang dirinya.” (Liscia)

“Hal buruk?” (Souma)

“Itu.. bagaimana aku harus mengatakannya, sifat sadis?…. atau lebih tepatnya, berperilaku seperti anak yang selalu menggoda sesuatu yang membuatnya tertarik…” (Liscia)

“Maksudmu… dia adalah seorang ‘super-S*’?” (Souma)
*TN: Super Sadis :v (suka nyiksa orang :v)

Saat aku menanyakan hal itu, Liscia memiliki mata dari seseorang yang melihat sesuatu yang jauh.

“Ketika aku masih menjadi anak nakal, Marcus adalah orang yang selalu menegurku, tapi orang yang melakukan hukuman adalah Serina. Tentu saja, karena Serina hanyalah seorang maid, dia tidak akan melakukan sesuatu seperti hukuman fisik, tapi sebagai gantinya, dia akan memberikan serangan mental. Setidaknya…. Jika hanya setidaknya… tidak, hal itu juga…. Ah geez, kenapa dia selalu dapat menemukan sisi burukku.” (Liscia)

“Seberapa banyak dia mengetahui kelemahanmu……?” (Souma)

Sambil menenangkan Liscia, yang sedang menundukkan kepalanya kebawah karena malu, Aku menghela nafas. Serina-(Super-S)-san, sungguh anak yang menakutkan…. Aku dapat melihat disudut pandanganku bahwa Jeanne sedang mencoba untuk menahan tawanya.

← PREV | Table of ContentsNEXT →

8 Comments Add yours

  1. Slime San says:

    Aku super (M)…$_$

    Like

  2. nama ku siapa?? says:

    lanjut min~~

    Like

  3. aryuga91 says:

    Keren min

    Like

  4. klo diibaratkan negara amidonia sama elfrieden itu mirip negara korut sama korsel

    Like

  5. touya says:

    Harus sabar menanti kelanjutannya ni,,,
    Semangat tl-nya zen..

    Like

  6. Budi Setiadi says:

    Makin seru ~ sankyu min

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s