Stranger’s Handbook Chapter 2

Chapter 2 – Sendirian

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : Oyasumi Reads

Halo, ini adalah pria paruh baya yang barusan ngompol.

Aku baik-baik saja.
Aku baik-baik saja karena itu belum tersebar.

 

Tampaknya salah satu ksatria sedang menungguku didepan ruangan.

“Saya minta maaf karena membuat anda menunggu!”

“Jangan khawatir! Sebelah sini.”

 

Aku berjalan ke arah yang dia tunjuk.

Sebuah koridor yang terbuat dari batu.
Itu benar-benar terlihat seperti ruang bawah tanah di istana Eropa abad pertengahan.
Dinding yang halus itu tampak tersusun rapi.
Apakah yang dilantai ini adalah sebuah karpet?
Kain biru kehijauan yang mengesankan ini….

Apakah itu adalah lampu listrik?
Lampu-lampu tersusun secara berurut dalam jarak yang sama.

Apakah ini Jepang? Apakah di Jepang ada sebuah organisasi yang bisa membangun ruang bawah tanah yang mirip dengan yang ada di istana eropa abad pertengahan? Atau apakah aku berada di negara asing?
Sebuah organisasi yang dengan mudah dapat membawa 10 orang atau lebih tanpa menggunakan passport, huh!?…

Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, ini sangat aneh.

“Err! Apakah aku boleh berbicara?”

“Tidak boleh! Diam dan bergerak!”

“…. Baiklah!”

 

Hmmm.
Aku ditolak dengan tegas dan dingin tanpa ada rasa kemarahan dalam suaranya…

Kejadian beberapa saat yang lalu dan interaksi barusan.
Para ksatria ini memiliki harga diri yang tinggi dan bertindak sesuai dengan tujuan. Atau begitulah kelihatannya.

Dan aku berpikir, mungkinkah kami sedang berada ditengah ujian atau proses klasifikasi?

“Ngomong-ngomong, kenapa kamu tadi cukup lama berada didalam ruangan?”

Ksatria yang mengikutiku bertanya.
Bagaimana aku harus menjawabnya?

“Yah, karena saya sadar bahwa kalian, tidak memiliki niat untuk menyakiti kami, Saya tinggal dibelakang untuk berurusan dengan orang-orang yang mungkin tidak menuruti petunjuk anda.”

“Begitu. Lanjutkan!”

“Dengan segala hormat, kalian telah membunuh dua orang dan memegang pedang yang terlumuri darah dan dilihat oleh semua orang. Sudah pasti, karena teror itu setiap orang akan mematuhi perintah anda tanpa terkecuali. Tapi ada juga wanita muda yang berada didalam ruangan itu.”

“Begitu. Ketakutan biasanya menyebabkan kebingungan dan kemungkinan untuk pingsan.”

“Ya, tepat seperti yang anda katakan.”

“Kenapa kamu berpikir bahwa kami tidak berniat menyakiti kalian?”

“Itu karena kalian membutuhkan kami untuk sesuatu. Atau, kalian mencari orang berbakat.”

Ksatria itu menghentikan langkahnya.

“Kalian tidak berniat untuk menyakiti kami? Itu sedikit agak berbeda, bukan!? Kalian tidak berniat menyakiti kami tanpa alasan yang jelas! Bukankah begitu yang benar?”

Aku membalikkan kepalaku ke arah ksatria itu sambil menanyakan hal itu….
Ah!

Dia tertawa dengan wajah yang sangat menakutkan….
Apakah aku mengacaukannya?

“Hahaha….! Kamu ke arah sini. Ikuti aku!”

Kamu?
Tampaknya dengan ini aku tidak dapat mengejar yang lainnya.

 

Setelah berjalan sesaat, ksatria itu memasuki sebuah ruangan.

Ruangan itu memiliki luas sekitar 20 tatami.
Apakah ini ruang tamu? Itu memiliki furnitur dan semuanya.
Kursi, meja, tempat tidur, dan yang lainnya….
Ini adalah ruang yang lengkap, huh?

“Pakai ini terlebih dahulu.”

Mendengar hal itu, sepasang celana panjang dan kemeja diberikan kepadaku.
Tidak ada celana dalam!

Tidak ada celana dalam….

“Kamu tunggulah disini setelah selesai memakai pakaian itu.”

Ksatria itu meninggalkan ruangan dengan cepat.

“Fuu….”

Aku menghela nafas.
Gempa bumi.
Tubuh telanjang.
Pembunuhan.
Terlalu banyak hal yang terjadi lagi dan lagi….

Tidak mungkin aku tidak merasa lelah.

Aku bertanya-tanya, apa yang akan terjadi mulai sekarang….
Tujuan mereka tidak jelas.
Kemampuan organisasi mereka juga tidak diketahui.
Tempat ini juga tidak dikenali.

Aku… mungkin juga akan mati, huh….
Tidak, kurasa aku pasti akan mati….

Aku tidak melihat kemungkinan untuk selamat dari sini tidak peduli sepositif apa aku memikirkan situasi ini.
Aku bertaruh bahwa tujuan mereka adalah sesuatu yang berbahaya dan juga menakutkan.

Mereka bahkan juga sampai membunuh manusia.
Sudah jelas bahwa mereka bukanlah semacam relawan atau bagian dari organisasi perdamaian.

Aku kembali menghela nafas sambil menurunkan tubuhku ke sofa.

“Haa…”

Aku berdoa agar itu tidak terlalu sakit…

Saat aku memikirkan hal itu, aku memeriksa kendi air.

Mereka tidak akan memasukan racun juga, kan…

Disebelah kendi air perak itu terdapat sebuah cangkir perak yang agak kotor.
Setelah melihatnya, tampaknya itu adalah air putih biasa.

Aku ingin minum kopi… aku memikirkan hal itu sambil menyeruput air putih hangat itu.
Aku mengingat kopi yang aku tinggalkan didalam mobilku.
Rokok dan juga kopi…. Kurasa aku tidak akan bisa menikmatinya lagi.

Gacha

Orang yang membuka pintu dan masuk kedalam ruangan adalah seorang pria tua yang memakai pakaian yang terlihat mahal.

“Jadi kamu adalah calon pahlawan dari dunia lain?!”

 

Ini……
Aku akan mati…. Mungkin……

← PREV | Table of ContentsNEXT →

4 Comments Add yours

  1. “Jadi kamu adalah calon pahlawan dari dunia lain?!” 😐 loh kok situasinya jdi kayak mau ngelamar kerjaan(pahlawan) gitu…jangan2 chapter berikutnya wawancara lgi.

    Like

  2. Ren says:

    Mantap, projek baru

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s