I Kinda Came to Another World, but Where’s the Way Home? Chapter 9

Arc 1
Chapter 9 – Mempertahankan Kenyataan

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : Yoraikun

…. Gelap.

Untuk beberapa alasan, ini terasa nostalgia… yeah, ini adalah itu. Sama seperti dulu saat aku mati. Perasaan tenggelam kedalam lautan yang dalam dan dingin. Tapi dibandinkan dengan sebelumnya, perasaan terjatuh ini kelihatannya jauh lebih lambat… mungkin itu artinya luka-ku tidak terlalu fatal saat ini.
Tapi tak diragukan lagi bahwa aku akan mati jika seperti ini. Aku tidak ingin mati. Aku ingin entah bagaimana kembali kepermukaan, tapi aku tidak bisa merasakan tubuhku. Hanya kesadaranku yang tenggelam, dan bahkan jika aku mencoba menggerakkan tanganku, aku tidak memilikinya. Bahkan jika aku mencoba menendang dengan kaki-ku, aku tidak memilikinya. Ini buruk, aku tidak memiliki rencana apapun… jadi apakah aku akan mati…

Aku bertanya-tanya apa yang terjadi pada Finia-chan. Aku memastikan untuk melindungi topeng itu, jadi dia mungkin tidak mati karena hantaman itu… tapi aku ragu monster itu akan membiarkannya pergi. Saat aku mengingat mata merah itu… Aku masih sedikit merasa takut.

Dan.

…!

Aku merasakan sensasi tubuhku yang tenggelam kembali terangkat. Sesuatu membungkusku, dan menarikku keatas. Ini adalah salah satu kemungkinan yang paling sederhana, tapi mungkinkah aku masih…. Hidup.

Didalam kegelapan, aku melihat sebuah cahaya. Aku tidak dapat merasakan tanganku, tapi aku bermaksud untuk meraihnya. Perlahan, cahaya itu bersinar semakin cerah, dan saat seluruh tempat disekitarku tertutupi oleh cahaya putih… aku mendengar sebuah suara.

…ne..n! …tsu… n!

Ah, ini adalah suara anak itu. Sahabat terbaikku, suara Shiori-chan. Dia memanggilku. Aku harus pergi, atau sejenisnya….
Kesadaranku ditelan oleh cahaya, dan tersadar.

***

“Kitsune-san! Kitsune-san!” (Finia)

Didalam hutan, sebuah suara memanggil anak yang pingsan itu.
Pemilik dari suara itu adalah peri kecil… Finia. Dengan tangannya terarah pada anak itu, dia menggunakan sihir penyembuh lagi, dan lagi. Bahkan setelah kehabisan Mana, dia terus mengarahkan tangannya, dan mencoba mengaktifkan sihir itu, tapi tentu saja, tidak ada yang terjadi.
Kitsune tenggelam dalam genangan darahnya sendiri. Lukanya telah sepenuhnya disembuhkan dengan sihir itu, tapi dia kehilangan terlalu banyak darah. Wajah Kitsune terlihat pucat, dan setiap orang dapat melihat bahwa dia sedang berada dalam keadaan dimana dia dapat mati kapan saja.

“Kitsune-san! Bangun! Buka matamu…!!” (Finia)

Kehabisan sihir, dan terlalu lelah bahkan untuk terbang. Tidak aneh baginya untuk pingsan karena kelelahan, tapi Finia dengan putus asa terus memanggil Kitsune.
Saat Finia membuka matanya, monster miasma itu telah pergi. Di tempatnya, dia menemukan Kitsune jatuh dalam kondisi parah. Pertama, Finia tidak pernah melihat bentuk musuh itu. Apa yang menyerangnya, atau apa yang menyebabkan Kitsune menjadi seperti ini adalah hal yang benar-benar tidak dia ketahui. Dia dengan panik terus mengirimkan sihir penyembuhan pada Kitsune.

“Kitsune-sa.. haa..haa…!” (Finia)

Suara memanggilnya semakin samar, dan nafasnya mulai kacau. Dia jatuh berlutut dan terduduk ditanah. Memeluk jari Kitsune, yang kehilangan kekuatan didepan matanya, dia menghapus senyum yang selalu ada diwajahnya saat dia menangis. Air mata kecil terjatuh, dan bersamaan dengan isakan-nya, dia menangis dengan keras.

“Uee… Kitsune… sa…! Ueeeeeen! Kitsune-saaaaaaan!” (Finia)

Suara tangisan kekanak-kanakan terdengar. Air matanya mengalir, dan membasahi tangan Kitsune. Tangan Kitsune yang basah sedikit bergerak.

“…Jangan menangis… Finia-chan…” (Kitsune)

“! Kitsune-san!” (Finia)

“Keho… hah… hah.. kelihatannya entah bagaimana aku berhasil bertahan hidup.” (Kitsune)

“Yeah… itu sangat bagus…!” (Finia)

Masih dengan wajah pucat, Kitsune mengangkat tubuhnya. Mengamati sekelilingnya, dia menyadari bahwa monster itu telah pergi. Untuk saat ini, dia mengeluarkan nafas lega.
Dan saat dia menggunakan tangan kiri untuk menutupi wajahnya… dia menyadarinya.

“…? … Finia-chan… maaf, tapi wajahku… apa yang terjadi dengan bagian kirinya?” (Kitsune)

“…” (Finia)

Pada pertanyaan itu, Finia mengambil nafas dalam-dalam. Dia mungkin telah menyadari itu sebelumnya, tapi itu sulit dikatakan. Saat Kitsune melihat kearah mata Finia, dia menghindarinya, dan perlahan membuka mulutnya.

“… Mata kirimu… telah hilang…” (Finia)

Sama seperti yang Finia katakan, Kitsune telah kehilangan mata kirinya. Di tempat dimana mata kirinya berada, tidak ada apapun selain lubang berwarna merah gelap.
Mendengar hal itu, kitsune mendapat gagasan kabur tentang apa yang terjadi setelah dia berada diujung kematian, dan sebelum Finia membangunkannya. Sepertinya yang melakukannya adalah monster itu… Si Mata Merah. Saat Kitsune pingsan, monster itu telah memakan matanya.
Dia tidak tahu apakah itu adalah Hewan Magis, atau makhuk hidup yang benar-benar berbeda, tapi selama dia menyerang manusia, itu lebih dari cukup baginya untuk beranggapan bahwa dia memakan manusia.

Kitsune menguji perubahan dari kehilangan separuh pandangannya, saat dia memindahkan tangannya dari lubang dimana mata kirinya dulu berada.

“… Mataku, itu…” (Kitsune)

Menggunakan jarinya, Kitsune menepuk kepala Finia, yang melihat kearahnya dengan ekspresi khawatir, saat dia berdiri. Dia dengan gelisah melihat sekeliling, dan menemukan topeng Kitsune dibelakangnya. Dia mengambil langkah gontai, dan mengambil itu.
Dan dia meletakkan Finia yang sedang tertekan dibahu kanannya.

“Kitsune-san…” (Finia)

“Ini baik-baik saja… ayo kita terus berjalan…” (Kitsune)

Seolah-olah itu berlumpur, pandangan dari mata kanan menggelap. Dengan kulit pucatnya, wajahnya yang seperti hantu, dan sedikit keseraman. Tapi meski begitu, matanya yang berkabut masih memiliki semangat hidup. Saat ini, janjinya kepada Shinozaki Shiori adalah satu-satunya hal yang mendukung Kitsune. Dengan goyah, Kitsune perlahan-lahan berjalan kedepan. Jarak kekota hanya tinggal sedikit lagi. Kitsune memakai topeng yang ada ditangannya. Kali ini, dia tidak menggantungnya disamping, dia dengan tegas mengaturnya supaya topeng itu menutupi wajahnya. Untuk menutupi lubang dimata kirinya, untuk menyembunyikan kulitnya yang pucat, Kitsune mengenakan topeng berwajah Kitsune* itu.

*TN: Kitsune = monster

“Tinggal sedikit lagi…” (Kitsune)

Sedikit demi sedikit, tapi kakinya bergerak tanpa keraguan.

***

Saat ini adalah malam hari. Ketika langit menjadi sedikit suram, Kitsune dan Finia beristirahat di bawah sebuah pohon besar. Tanpa melepaskan topengnya, Kitsune bersandar pada pangkal batang pohon itu, dan tertidur. Disebelahnya, Finia tetap mengawasi wilayah itu.
Gadis itu, tidak, peri itu, selama hidupnya, tidak memerlukan makanan atau tidur untuk tetap hidup. Lebih tepatnya, dia bisa melakukan kedua hal itu, tapi itu bukan suatu keharusan. Semua peri hidup melalui perantara dimana mereka dilahirkan, 【 Alam 】, atau 【 Perasaan 】.

Meski begitu, peri memiliki tubuh dan nyawa sama dengan manusia. Sama seperti manusia, jika peri menerima luka parah, mereka biasanya akan mati.
Untuk Peri Alami, bahkan jika satu peri mati, peri lain akan lahir, tapi untuk peri Ideologis, bahkan jika item perantaranya masih ada, mereka tidak akan bangkit. Selama item itu berada dalam kondisi bagus, mereka tidak memiliki batas hidup, jadi mereka tidak akan mati oleh waktu. Tentu saja, mereka akan mati jika item itu dihancurkan.

Mengesampingkan hal itu, bagaimanapun, karena dia tidak butuh tidur, Finia melewati malam sambil berjaga. Ekspresinya berubah menjadi gelap secara drastis dari biasanya, dan dia melihat Kitsune lagi dan lagi. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah.
Dia menyesal. Setelah dia berkata akan melindunginya, keadaan sekarat Kitsune terasa seperti tanggung jawabnya.

“Kitsune-san…” (Finia)

Terlebih lagi, Kitsune membayarnya dengan hal yang tergantikan dari matanya. Itu adalah sebuah luka yang tidak mampu Finia sembuhkan dengan kekuatannya. Bahkan setelah menggunakan sihir penyembuhan, Finia tidak dapat mengembalikann apa yang telah hilang. Mungkin level sihirnya tidak cukup tinggi, atau itu adalah sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh sihir apapun. Finia memikirkann hal itu.

“Kitsune-san… Aku akan melindungimu…” (Finia)

Finia bergumam, saat dia mengepalkan tinju kecilnya. Sihirnya telah pulih, dan dia dapat menggerakkan tubuhnya.
Dia tidak boleh membiarkan Kitsune terluka lagi, dan bahkan jika itu harus dibayar dengan nyawanya, dia akan melindunginya. Sebuah tekad memuncak di mata berwarna kuning muda miliknya.

“Mulai saat ini… Aku akan menjadi mata kiri Kitsune-san.” (Finia)

Dia meletakkan tangannya diwajah Kitsune, yang tersembunyi dibalik topeng. Saat dia mengeluarkan suaranya. Suara kecilnya bergema didalam hutan yang suram, sebelum akhirnya menghilang.

***

Malam berakhir.
Kitsune membuka matanya, dan mulai berjalan bersama Finia di pagi hari. Percakapan yang mereka lakukan sebelum bertemu dengan monster miasma itu telah hilang, dan didalam keheningan yang canggung itu, mereka terus berjalan.
Dimalam sebelumnya, mereka telah berjalan cukup jauh, dan hanya tersisa jarak 1km menuju kota. Lingkungan disekitar mereka telah benar-benar berubah, dan jarak antara setiap pohon secara perlahan mulai melebar. Tinggi dari tanamannya juga mulai menurun. Mereka berharap bahwa mereka akan segara keluar dari hutan itu.

“…” (Kitsune)

“…” (Finia)

Wajah seperti apa yang Kitsune buat dibalik topengnya? Finia masih tidak tahu. Keadaannya sudah jauh lebih baik daripada kemarin, jadi setelah istirahat semalam, dia mungkin sudah pulih cukup jauh. Apa yang dia makan tiga hari terakhir adalah rumput dan buah yang terlihat aman. Tidak ada perubahan besar pada tubuhnya setelah memakan hal itu, jadi dia mengambil cukup banyak dari mereka, tapi persediannya telah hampir habis.
Setelah beberapa jam terlewati, Kitsune membuka mulutnya.

“… Finia-chan.” (Kitsune)

“! A-ada apa!?” (Finia)

“Maaf. Aku sudah tida apa-apa… Aku sudah mempu sedikit berpikir.” (Kitsune)

Mengatakan itu, dia melepaskan topengnya, dan tersenyum pahit. Dibaliknya adalah, tak berubah, sebuah lubang kosong dimana dulu mata kirinya… tapi tampaknya Kitsune memiliki beberapa tekad terhadap hal itu. Sebagai bukti, ekspresinya tidak lagi sedih.

“Y-yeah! Aku harusnya yang meminta maaf… Aku berkata bahwa aku akan melindungimu, namun…” (Finia)

“Ahaha, jangan khawatir tentang hal itu. Aku tidak yakin Finia-chan mampu menandingi monster itu… yang kebih penting… aku senang karena kau selamat.” (Kitsune)

“…Yeah.” (Finia)

Dia turun dari bahu Kitsune, dan meletakkan wajahnya kepadanya. Luka emosional mereka belum sembuh sepenuhnya, tapi ekspresi keduannya telah sedikit melembut.

“Ah… Finia-chan, lihat.” (Kitsune)

“Eh… ah!” (Finia)

Diarah yang Kitsune tunjuk… terbentang sebuah padang rumput. Mereka akhirnya keluar dari dalam hutan. Dan diseberang padang rumput itu… mereka melihat sebuah kota.
Dalam tiga hari ini, memikirkan betapa sulitnya mereka datang jauh-jauh kesini, ekspresi Kitsune dan Finia menjadi cerah.

“Kita berhasil…!” (Kitsune)

“Ayo! Kitsune-san!” (Finia)

Menanggapi perkataan Finia, Kitsune mulai berlari. Hanya tersisa kurang dari 800m untuk sampai kekota, jarak yang dapat mereka tempuh dalam sekejap dengan berlari. Dengan status Kitsune yang telah meningkat, itu adalah sesuatu yang dapat dia lakukan dengan mudah. Mereka secara perlahan mendekati kota.
Tapi disana, rintangan terakhir muncul.

“Ap…!” (Kitsune)

“Bahkan disini…!” (Finia)

Berjarak sekitar 500m dari kota, hewan iblis* berdiri didepan mereka. Apa yang keluar adalah beberapa hewan berbentuk serigala seukuran anjing peliharaan. Dari rasa permusuhan dimata mereka, Kitsune tahu bahwa mereka melihatnya sebagai mangsa.

*TN: Di englishnya tertulis Demon Beast, tapi saya tidak tahu apakah ini sama dengan Hewan Magis (Magical Beast) atau tidak, jadi saya tulis seperti itu saja.

“… Begitu, tapi itu buruk… dengan level kalian, kalian bahkan tidak akan pernah mampu menggores monster yang sebelumnya.” (Kitsune)

Kitsune tidak takut. Setelah benar-benar merasakan ketakutan dari kematian, dan setelah mengalaminya untuk kedua kalinya, dia telah mendapat kekuatan mental yang tidak takut terhadap apapun. Setelah mengalami ancaman terbesar itu, semuanya tampak biasa saja.
Dan untuk Kitsune, itu adalah kekuatan yang paling menguntungkan.

“Status.” (Kitsune)

Kitsune mengaktifkan 【 Status Discernment 】 miliknya.

【 Status 】


Nama: Naginata Kitsune
Gender: Laki-laki Lv4
Strength: 140 (+100)
Staminan: 160 (+100)
Resilience: 280 (+100)
Magic: 120 (+100)

Skill 【 Persistence 】 IN EFFECT
Title: 【 Otherworlder 】
Skill: 【 Pain Null Lv1 (NEW!) 】 【 Eerie Constitution 】 【 World Language Translator 】 【 Status Discernment 】 【 Persistence 】 【 Coercion 】 【 Near Death Experience (NEW!) 】
Innate Skill: ???
Anggota Party: Finia (Peri)


“Hmm? Karena suatu alasan, 【 Pain Resistance Lv8 】 milikku berubah. Yah, kurasa itu baik-baik saja… saat bertarung dengan monster itu, ada sesuatu yang mulai kupahami.”

“GRRRR…!”

“Itu adalah tentang bagaimana cara mengaktifkan Skill ini…!” (Kitsune)

Saat dia mengatakan itu, dalam sekejap, serigala itu melihat sesuatu. Sesuatu seperti makhluk hidup, namun dengan bentuk yang tidak mirip apapun… ya, itu adalah kematian itu sendiri.

… 【 Eerie Constitution 】.

Serigala itu mengambil langkah mundur. Itu karena suasana disekitar Kitsune telah berubah. Mengerikan. Menyeramkan. Aku tidak ingin berada lebih dekat. Tekanan menakutkan itu cukup besar bagi pemikiran itu untuk memasuki pkiran serigal-serigala itu. Meskipun dia lemah dan mereka dapat mengatasinya jika mereka melompat bersamaan kearahnya, dia adalah keberadaan berbahaya yang tidak ingin mereka dekati.

“Ah… ini juga.” (Kitsune)

Mengatakan itu, sebuah senyum tipis muncul di wajah Kitsune. Skill selanjutnya diaktifkan.

… 【 Coercion 】.

Tekanan yang dipancarkan kepada serigala itu menjadi semakin berat. Mereka merasa mereka akan dihancurkan. Tidak peduli bagaimanapun mereka ingin melarikan diri, mereka tidak dapat mengambil satu langkahpun. Perasaan intimidasi yang besar membuat kaku tubuh mereka sampai sejauh itu.

“Skill Aktif dapat digunakan hanya dengan memikirkan atau melakukan tindakan, tapi… kelihatannya skill pasif memiliki beberapa syarat yang harus kau penuhi untuk menggunakannya… itu seperti 【 Eerie Constitution 】 milikku. Untuk menggunakannya, Aku harus memiliki semacam pemicu psikologis. Dalam kasusku, itu terkait erat dengan rasa takut… Skill-ku mungkin hanya dapat diaktifkan saat aku miliki kondisi mental yang stabil.” (Kitsune)

Serigala itu tidak punya pilihan selain mendengarkan monolog Kitsune dengan tenang. Mereka tidak dapat bergerak.

“Dan Skill-ku adalah semacam hal yang mengintimidasi kondisi mental musuh… Apakah kau pikir aku takut?” (Kitsune)

Dengan senyum tipis dimukanya, Kitsune mendekati Serigala itu. Dia menepuk kepala mereka yang tidak dapat bergerak, dan berjalan melewati mereka.

“Sampai jumpa. Sekarang kau paham bahwa kau tidak dapat meremehkan manusia lemah… jangan menyerang mereka secara bersamaan.” (Kitsune)

Mengatakan itu, dia melepaskan skill miliknya, dan para serigala itu juga terlepas dari kelumpuhannya. Tapi tanpa melakukan hal yang bodoh seperti menyerang Kitsune… mereka lari menuju hutan dalam ketakutan. Kitsune hanya membalikkan kepala untuk melihat mereka, sebelum dia mulai berjalan lagi dengan senyum tipis di wajahnya.

“Kitsune-san, apakah itu tidak apa-apa? Tidak membunuh mereka?” (Finia)

“Tidak masalah. Saat ini, selama kita masih hidup.. itu sudah cukup.” (Kitsune)

“… Itu benar. Yeah! Itu sangat benar!” (Finia)

Finia tersenyum cerah. Dan Kitsune tersenyum tipis. Saat mereka berdua kembali ke diri mereka yang biasa, Kitsune tiba di pintu masuk kota.

“… Hah… hah… kita akhirnya sampai…!” (Kitsune)

“Yeah…!” (Finia)

“Bagus sekali…” (Kitsune)

Tapi disana, Kitsune kehilangan kesadaran. Bahkan jika dia telah pulih, rasa lelah telah menumpuk pada tubuh dan mentalnya. Dari perasaan lega karena telah sampai dikota, dia terjatuh, seolah-olah tombolnya telah dimatikan.

“Kitsune-san! Kitsune-san!?” (Finia)

Finia memanggilnya dengan khawatir. Tapi melihatnya bernafas dengan normal, dia sangat lega karena mengetahui bahwa Kitsune hanya tertidur.
Namun, dia tidak bisa meninggalkannya disini. Sebuah ekspresi kesulitan muncul di wajahnya.
Dan disana…

“Um… Apakah el.. maksudku, apakah kau baik-baik saja?” (???)

“Eh?” (Finia)

Sebuah suara seperti itu menyapa mereka.

PREV | Table of Content | NEXT

7 Comments Add yours

  1. dikaici says:

    sankyuu min

    selalu di tunggu update nya

    Like

  2. masih ada lanjutan gk nih?

    Like

      1. tolong di percepat yah updatenya
        dah gk sabar baca lanjutannya

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s