I Kinda Came to Another World, but Where’s the Way Home? Chapter 8

Arc 1
Chapter 8 – Red Eyes

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : Yoraikun

Kitsune dan Finia segera berpindah dari tempat itu. Tidak peduli seberapa kuat Finia, dan terlepas dari Kitsune yang akhirnya menyadari cara menggunakan statusnya, mereka akan sangat kalah jumlah terhadap seluruh koloni lebah. Selama mereka tidak yakin bahwa mereka berada dekat dengan sarang lebah itu, tidak bijak bagi mereka untuk tetap berada didekat area pertarungan tadi.
Juga, walaupun Kitsune tahu bahwa dia dapat memblock sengatan lebah, dia ragu apakah dia mampu memblok sebuah serangan dari serigala atau laba-laba kemarin hanya dengan tubuhnya. Sejujurnya, hal-hal yang menakutkan tetaplah menakutkan, dan dia tidak ingin mencoba menerima serangan terus menerus.

“Seberapa jauh lagi?” (Kitsune)

“Yeah, dari apa yang kulihat, kita hanya tinggal 1/3 perjalanan.” (Finia)

“Jadi tinggal 10km lagi. Kita sudah hampir sampai… jika kita bergerak seperti ini, kurasa kita akan sampai saat matahari terbenam?” (Kitsune)

“Jika kau belum mati, tentu saja!” (Finia)

Kitsune dan Finia terus mendekati Kota. Selama pertarungannya, Finia telah mengeluarkan lumayan banyak Mana, dan dia sedang duduk dibahu Kitsune, mencoba untuk memulihkannya. Mana adalah sesuatu yang pulih seiring berjalannya waktu, dan kecepatan pemulihannya berbeda-beda pada setiap orang. Ngomong-ngomong, Finia membual bahwa dia dapat pulih secara penuh dalam dua jam.
Di sepanjang jalan, Kitsune mencoba menguji statusnya saat dia berjalan.
Tidak ada cara yang bagus untuk menguji 【 Resilience 】, tapi untuk menguji 【 Dexterity 】 dan 【 Strength 】, dia mencoba sedikit berlari, dan memukul batu-batu disekitarnya.

Hasilnya adalah dengan 【 Vitality 】 dan 【 Dexterity 】 yang dimilikinya, dia mampu berlari sedikit lebih cepat, dan sedikit lebih lama, setidaknya, itulah yang dirasakan. Ketika memukul, batu itu hanya sedikit retak, dan mungkin karena 【 Resilience 】 atau 【 Pain Resistance Lv8 】 miliknya, tinjunya tidak terasa sakit selama atau setelah memukul batu itu.

“Oh iya, Finia-chan, sebenarnya apa itu Skill?” (Kitsune)

“Skill? Um, yah, singkatnya mereka adalah… apa yang orang dapat lakukan, kurasa?” (Finia)

Finia mencoba memeras pengetahuannya untuk menjawab itu.

Di dunia ini, Skill adalah kemapuan yang dimiliki seseorang.
Sebagai contoh, katakanlah pengamat A mempelajari anggar, dan terus melatihnya sampai batas tertentu. Dalam hal ini, mereka akan memperoleh 【 Anggar 】 sebagai sebuah skill.
Diantara skill-skill itu, ada Skill Aktif dan Passif. Skill Aktif adalah Skill yang memiliki level dibelakangnya, dan Skill Pasif adalah Skill yang tidak memilikinya.

Level yang ada pada Skill Aktif tergantung pada penguasaan skill, atau ruang lingkup efek-nya. Pada tingkatan seseorang, seberapa mahir mereka dapat menggunakannya, atau seberapa besar status mereka untuk memungkinkan skill itu digunakan. Jika itu meningkat, skill itu akan menjadi sesuatu yang sangat kuat.

Sebagai contoh, mari lihat 【 Fire Magic Lv3 】 milik Finia.
Dia mampu menggunakan sihir api, oleh karena itu, dia memperoleh Skill 【 Fire Magic 】. Sihirnya yang besar, serta keahliannya untuk memanipulasinya, bersamaan dengan pengalaman bertarungnya, mendapatkan evaluasi Skill 【 Lv3 】.

Level yang ada dibelakang Skill Aktif… Skill level mereka meningkat berdasarkan keahlian penggunannya.
Menempatkan hal itu secara bersamaan, level individu seseorang naik melalui pengalaman dan pengetahuan, dan Status dan bakat naik mengikuti hal itu. Level Skill dipengaruhi, dan meningkat berdasarkan level seseorang, status, penguasaan dalam menggunakannya, dan lingkungan.

Ngomong-ngomong, tingkat standar Level Skill adalah sebagai berikut.

Lv1: Kelas Pemula
Lv2: Kelas Menengah
Lv3: Kelas Lanjutan
Lv4: Kelas Veteran
Lv5: Kelas Profesional
Lv6: Kelas Jenius
Lv7: Kelas Pahlawan
Lv8: Kelas Pahlawan Legendaris
Lv9: Inhuman (Dewa/ bukan manusia)

Kesembilan tahap itu. Didunia ini, bahkan diantara para praktisi tingkat tinggi, hanya sedikit yang memiliki bakat mencapai Lv7. Jika orang biasa dimasukan kedalam pelatihan yang mematikan, maka bakat terbesar yang dapat dia capai adalah Lv5. Lv6 keatas adalah ranah bagi mereka yang lahir dengan bakat alami dibidangnya.

“Hmm… apa yang dapat mereka lakukan, itu…” (Kitsune)

Kitsune berpikir. Dia akan mendapatkan skill dari hal-hal yang dapat dia lakukan, dan itu kelihatan masuk akal, tapi 【 Eerie Constitution 】, 【 Persistence 】, dan 【 Coercion 】 tidak terlalu cocok dengan hal itu.

“Aktif dan Pasif… begitu, jadi Skill yang kau aktifkan menggunakan keinginan, dan skill yang biasanya memiliki persyaratan.” (Kitsune)

“Ahaha! Yeah, mari lupakan hal itu!” (Finia)

Untuk sekarang, Kitsune telah sedikit mendapat gambaran tentang Level Skill. Dia tidak terlalu mengerti kriterinnya, tapi dia pikir dia akan mengetahuinya cepat atau lambat, jadi dia mengalihkan pikirannya.
Finia kelihatannya berpikir bahwa Skill hanyalah Skill. Dia tidak memikirkannya terlalu keras.

“Meski begitu, apa-apaan 【 Eerie Constitution 】 ini…. Ini sudah jelas adalah penyebab aku di bully.” (Kitsune)

“Skill seperti apa itu?” (Finia)

“Tidak tahu. Bukankah itu membuat orang berpikir bahwa aku menakutkan?” (Kitsune)

“Kitsune-san tidak menakutkan, kok.” (Finia)

Kitsune tidak mengetahui efek skill pasif miliknya. Saat dia bertemu dengan laba-laba dan lebah itu, dia telah memberikan rasa takut kepada mereka, tapi dia tidak menyadarinya.
Skill Aktif 【 Skill Discernment 】 miliknya terlalu rendah untuk diberikan sebuah Level Skill. Namun, itu juga sesuatu yang tidak dia ketahui. Kitsune mencoba memikirkan hal itu lebih keras, tapi dia berpikir dia tidak akan sampai kemanapun hanya dengan berpikir, dan dia mengesampingkan masalah itu.

“Bagaimanapun, untuk saat ini, kelihatannya monster setingkat lebah tidak akan menimbulkan bahaya, jadi apakah keamanan kita meningkat dari sebelumnya?” (Kitsune)

“Tapi saat ini, pertahanan Kitsune-san hanya cukup untuk memblok kerikil yang dilemparkan anak kecil, kau tahu? Kau tidak memiliki keamanan!” (Finia)

Dengan senyum cerah, Finia terus mengeluarkan kalimat yang menurunkan semangat. Kitsune berpikir mungkin Finia benar, saat dia menerobos tanaman dan berjalan kedepan

***

Setelah itu, mereka berjalan cukup jauh diselingi dengan istirahat saat mereka lelah.
Fakta bahwa mereka pergi sejauh ini tanpa bertemu satupun Hewan Magis adalah sebuah keberuntungan. Jarak yang tersisa menuju kota adalah 3km, jarak yang menimbulkan sedikit kelegaan, baik secara fisik maupun mental. Maksudku, mereka tinggal berjalan 1/10 perjalanan yang tersisa.

“Tinggal sedikit lagi.” (Kitsune)

“Yeah! Manaku juga sudah pulih! Bahkan jika kita bertemu Hewan Magis, kita akan baik-baik saja!” (Finia)

“Dan tunggu, Finia-chan, bisakah kau membawaku, dan terbang kesana?” (Kitsune)

“Maaf, Kitsune-san! Sayapku hanya cukup untuk satu orang!” (Finia)

“Yah, kurasa mereka terlalu kecil untuk membawa dua orang.” (Kitsune)

Saat mereka memiliki sedikit kelegaan mental, percakapan mulai terjadi. Tapi mereka tidak lalai terhadap sekeliling mereka. Mereka masih berada didalam hutan, dan tidak aneh bagi Hewan Magis lain untuk muncul.

“Tapi… perutku keroncongan.” (Kitsune)

“Aku tetap dapat hidup, bahkan tanpa makanan, jadi aku tidak terlalu…” (Finia)

“… Dasar pengkhianat.” (Kitsune)

“Ahaha, kejamnya, Kitsune-san! Tidak… dalam hal ini, mungkinkah aku yang kejam…?” (Finia)

“Hei, cepat.” (Kitsune)

“Ah! Tunggu aku, Kitsune-san!” (Finia)

Meninggalkan Finia, yang melipat tangannya, dan mulai berpikir di tengah udara, Kitsune terus berjalan kedepan. Melihat itu, Finia dengan cepat terbang kedepan Kitsune.
Tapi pada saat itu, sebuah keanehan tejadi di udara.

Saat Finia mencoba pergi kebawah Kitsune, sebuah dampak menghantam Finia dari belakang.

“…!?” (Finia)

“Ap…!?” (Kitsune)

Kitsune menangkapnya saat Finia terlempar kearahnya, dan suasana tenang berakhir disana.
Fenomena yang menyebabkan Finia jatuh tidak datang dari dekat situ. Sesaat setelah Kitsune berbalik… ditengah perutnya, sebuah ujung tajam menusuknya dengan momentum yang menakutkan.

“Ap… ya…!?” (Kitsune)

Seluruh udara keluar dari paru-parunya, dan kekuatan itu membuat tubuhnya terlempar mundur. Bahkan setelah menghantam tanah, momentum itu membuatnya berguling diatasnya.

“Apa…?” (Kitsune)

Kelihatannya 【 Resilience 】 milik Kitsune melindunginya, dan meskipun dia ditusuk oleh sebuah benda tajam, itu tidak mengenai kulitnya, dan tidak meninggalkan luka sedikitpun.
Dia mengerahkan tenaga ketangannya untuk mengangkat tubuhnya, dan melihat kearah musuh yang menerbangkannya. Ditempatnya berdiri sebelumnya, terlihat sesuatu yang tidak dikenal.

【 ――――♪―――♡――― 】

Bentuk berantakan dari miasma berwarna hitam yang terkumpul, yang berkobar seperti api ada disana. Dan ditengah kegelapan itu… mata merah menatap kearahnya.

…. Mati.

Didalam kepala Kitsune, sebuah gambaran kematian muncul. Dia langsung memahaminya. Bahwa jika dia berhadapan dengan hal itu, jika dia bertarung dengan hal itu, dia akan terbunuh. Sangat tidak mungkin. Tidak ada harapan. Itu adalah monster dengan kemampuan yang jauh berbeda, dan dia memahami itu.
Dari dalam hatinya, ketakutan membuatnya gemetar. Kitsune membuka matanya dengan lebar, dan dengan cepat berdiri. Dengan kasar mencengkram Finia, yang jatuh tak sadarkan diri didekat kakinya karena dampak serangan tadi, dia lari dengan sekuat tenaga.

“Hah… hah… hah…! Apa-apaan itu…!” (Kitsune)

Kakinya lambat. Meskipun dia telah menjadi sedikit lebih cepat karena peningkatan status, dia merasa dia bergerak sangat lambat. Aura menakutkan yang dia rasakan dari belakang mendekat dengan perlahan.
Menakutkan, menakutkan, menakutkan, jika seperti ini, aku akan mati. Kitsune terdorong menuju kekacauan. Bahkan jika Bumi dan Langit terbalik, dia sangat yakin bahwa dia tidak bisa menang.

“―――♪―――♡―――♪”

Terlebih lagi, dia bahkan tidak merasakan niat membunuh dari Monster itu. Dia tidak ingin membunuh Kitsune. Monster itu sama sekali tidak berpikir seperti itu, tapi dia hanya mengejar Kitsune karena dia merasa itu menarik. Dan saat dia menangkap Kitsune, bahkan tanpa niat seperti itu, monster itu mungkin akan membunuh Kitsune.

“Apa-apaan ini…! Aku tidak paham…! … Hah.. hah…!!” (Kitsune)

Nafasnya kacau-balau, dan staminanya mulai habis. Keadaan mentalnya sedang hancur, dan tanpa sadar dia mengeluarkan air mata dari matanya.

“Agu!?” (Kitsune)

“―――♪―――”

Miasma hitam itu melompat kearahnya, dan menebas punggungnya. Pertahanan yang dimiliki Kitsune karena 【 Resilience 】 yang tinggi, robek seperti kertas, dan darah menyembur keluar dari punggungnya. Dari momentum tabasan itu, Kitsune jatuh ketanah.

“Gy… uu…!” (Kitsune)

Dia mencoba bangkit, tapi dia tidak dapat bergerak dengan benar. Karena Skill 【 Pain Resistance Lv8 】 miliknya, dia tidak merasakan sakit sedikitpun, tapi tubuhnya sudah pasti terluka. Sudah wajar bahwa luka itu akan menghalangi gerakannya.
Tapi bahkan setelah jatuh kedepan, Kitsune bangkit, dan ia terhuyung sambil terus berlari. Melihat tindakan Kitsune, mata merah yang ada didalam Miasma itu menyipit. Mereka tidak tampak memiliki rasionalitas sedikitpun, tapi kelihatannya mereka telah memiliki ketertarikan yang berbeda dari sebelumnya kepada Kitsune.

“Gu.. hah… hah…!” (Kitsune)

Setiap kali dia menggerakkan kakinya kedepan, luka dipunggungnya terbuka, dan dia merasa seperti akan terjatuh. Setiap kali dia berjalan, tanah terwarnai merah oleh darahnya, karena hal itu jalan yang dia ambil dengan mudah dapat diketahui.
Tapi Monster Miasma itu tidak mengejar anak itu lagi. Kecepatan Kitsune yang terhuyung-huyung terlalu lambat, dan karena itu, monster itu dengan santai bergerak dibelakangnya. Monster itu kelihatannya sedang mengamati Kitsune, saat dia bergerak tanpa tujuan disekelilingnya. Mata merah itu tatap tertuju kepada Kitsune sepanjang waktu.

“Hah… hah….!” (Kitsune)

Ketakutan Kitsune terhadap monster itu semakin mengacaukan nafasnya. Aura manakutkan yang membuatnya seolah-olah akan pingsan, dan tekanan bahwa dia mungkin akan mati di detik berikutnya, membuat keadaan mentalnya mencapai batas.

“Ku… Uwaaaaaaah!!” (Kitsune)

Tidak tahu apakah dia baru saja menaikan teriakan perang, atau teriakan biasa, Kitsune mengeluarkan suara nyaring saat dia mengeluarkan bagian pisau rusak dari dalam sakunya, dan mengayunkannya. Monster itu menghindarinya dengan mudah. Dia bahkan berhasil merebut pisau itu dari tangan Kitsune.

“Ap…!?” (Kitsune)

“――――?―――♪―――☆”

Setelah menatap pisau itu sesaat, Monster miasma itu membuang pisau itu seolah-olah dia tidak tertarik padanya. Dan menatap langsung ka wajah Kitsune, dan mendekat kearahnya.

“Apa-apaan ini… kenapa ada monster seperti ini disini… bagaimana aku bisa tahu…!” (Kitsune)

“―――♪♪♪”

Saat dia menggumamkan hal itu, monster itu menyipitkan matanya dalam kegembiraan. Itu tidak seperti dia mengatakan apapun, tapi perasaan itu tersampaikan dengan jelas.
Kitsune menatapnya, dan karena suatu alasan, dia merasa pikirannya tengan dengan sendirinya. Bahkan jika dia akan terbunuh disaat berikutnya, dia masih hidup sekarang ini.

(…. Aku tidak tahu apa itu… tapi aku masih hidup. Aku masih bisa bergerak…!)

Menatap Peri Finia ditangannya, dia teringat.

(Janjiku kepada Shiori-chan… aku harus menjaganya…! Aku tidak boleh mati sekarang…! Aku tidak ingin mati…!)

Dia merasakan ledakan energi dari dalam tubuhnya. Tubuhnya bergerak. Meskipun lukanya belum sembuh, dia dapat bergerak dengan mudah.
Mungkin dia telah terstimulasi karena terlalu dekat dengan kematian. Mungkin itu adalah adrenalin, dia memikirkan hal itu, saat dia mengangkat tubuhnya.

Kitsune tidak menyadarinya, tapi ini adalah kemampuan dari Skill 【 Persistence 】 yang aktif. Selama mentalnya tidak menyerah terhadap kelangsungan hidupnya, itu adalah Skill yang sementara akan memungkinkan tubuhnya bekerja diluar batasnya. Jika dia mengaktifkan 【 Status Discernment 】 saat ini, dia akan memahaminya.

【 Status 】


Nama: Naginata Kitsune
Gender: Laki-laki Lv4
Strength: 140 (+100)
Stamina: 160 (+100)
Resilience: 280 (+100)
Dexterity: 150 (+100)
Magic: 120 (+100)

Skill 【 Persistence 】 in EFFECT


Itulah yang terjadi. Kitsune berlari menggunakan tubuhnya, yang bisa bergerak lagi. Lebih cepat dari sebelumnya, Monster miasma itu sepertinya agak terkejut.
Tapi meski begitu, dia dengan mudah mengikuti dibelakang Kitsune. Terlepas dari peningkatan status karena 【 Persistence 】 , Kitsune masih berada jauh dibawah monster itu. Perbedaan yang sangat besar itu hanya sedikit tertutup, tapi masalah utamanya tetap tidak berubah.

“Hah.. hah.. seperti yang kukira.. apakah aku akan mati?” (Kitsune)

Nafasnya mulai sesak, dia berlari secepat yang dia bisa, tapi moster itu telah berlari dengan santai disampingnya.

(Pikiranku sudah cukup pulih untuk memecahkan hal ini, kurasa. Ini adalah adrenalin, kan… Uwah, aku masih tidak merasa akan menang.. tapi jika aku bisa berlari seperti ini di sepanjang jalan menuju kota…!)

Kitsune memiliki kecepatan seperti jika dia tidak pernah berlari sebelumnya saat dia berlari dijalur yang akan membawanya ke kota. Tekanan luar biasa yang ada padanya masih menghancurkannya, tapi pada akhirnya, semua lawan yang dia hadapi sampai sekarang adalah monster yang mampu membunuhnya, sehingga bila satu yang lebih kuat muncul, itu tidak akan mengubah banyak hal.

“Atau itulah yang coba aku pikirkan!” (Kitsune)

“―――――!―――♡”

Kitsune tiba-tiba berhenti, dan mengubah arahnya. Monster itu tetap sedikit berlari kedepan, sebelum berhenti, dan mengubah arah untuk mengejar Kitsune.
Tapi karena hal itu, Kitsune mampu mendapatkan sedikit jarak. Monster itu mungkin akan segera mendekat, tapi tetap saja, dia ada disana. Sebelum Kitsune berdekatan dengan moster itu, dia mencoba membuat sebuah rencana.

“…. Aku tidak memiliki apapun!?” (Kitsune)

Saat dai berlari, dia menyadari hal yang cukup mengejutkan. Saat dia berada didalam hutan, disini tidak ada apa-apa. Tanpa satupun rancana di benaknya, dia dengan mudah tersusul.

“―――♪♪―――♡”

“Hah… Si sialan berwana hitam ini.” (Kitsune)

“――――!”

Suasana disekitar Kitsune berubah. Dia berhenti, dan menatap monster itu. Itu tidak seperti dia akan membiarkannya berlari dengan tenang menuju kota, dan bahkan jika Kitsune mencoba lari, monster itu jauh lebih cepat. Dia memutuskan bahwa lari adalah hal yang tidak mungkin.

“Tunggu, ada sekitar 3km sebelum sampai kekota, kan… itu terlalu jauh jika aku ingin berlari… Apasih yang kupikirkan?” (Kitsune)

“――――?”

Kitsune bergumam pada dirinya sendiri sementara matanya terisi dengan semangat hidupnya. Perasaan bahwa dia tidak ingin mati bercampur dengan 【 Persistance 】… melebihi kegilaan monster miasma itu.

Singkatnya, persyaratan aktivasi 【 Eerie Contitution 】 telah terpenuhi.

“Bagaimanapun, lari tanpa bertarung bukanlah gayaku.” (Kitsune)

“――――?―――??”

Monster itu jauh lebih kuat dari pada Kitsune. Meskipun mereka belum pernah bertemu dengan moster itu sebelumnya, dia memiliki level yang sama dengan naga, dan binatang tertinggi lainnya sama dengan bencana.
Namun, 【 Eerie Constitution 】 bekerja tanpa memperdulikan perbedaan level tersebut. Terlepas dari perbedaan kemampuan yang sebenarnya, itu adalah skill yang bekerja melalui keunggulan psikologis.

“Aku akan melawan, dan melawan, dan melarikan diri sebelum aku mati. Datanglah kepadaku, monter hitam!” (Kitsune)

“―――♪”

Mendengar perkataan anak itu, monster yag kebingungan itu menampilkan emosi kegembiraan. Rasa tertarik yang dimilikinya kepada Kitsune meningkat dari yang sebelumnya. Tekanan yang dia berikan bahkan semakin meningkat, tapi karena Kitsune telah melihat monster yang jauh lebih kuat dari Kitsune, tekanan itu tidak berpengaruh kepada keunggulan psikologisnya.

“Orya!!” (Kitsune)

“―――☆☆”

Dia mengambil batu yang ada ditanah, dan melemparkannya kearah monster itu. Tentu saja, monster itu menghindar… tapi pada saat itu, Kitsune berhasil mendekat, dan melangkah tepat didepan monster itu. Kecepatan yang meningkat karena 【 Persistence 】 melampaui apa yang telah diantisipasi monster itu.

“Sebuah Celah!!” (Kitsune)

Dia mengeluarkan gagang pisau yang patah, dan mengayunkan sisa mata pisau kearah monster itu secara horizontal. Didalam miasma itu, tepi pisau itu menyerempet sesuatu, dan saat pisau itu keluar kari kegelapan, pisau itu ditutupi sedikit darah.

… Aku dapat melakukannya. Serangan itu berhasil!

Pada saat Kitsune memikirkan itu…

“――――♪☆♡♪☆☆☆♡♪”

Monster itu mengeluarkan teriakan yang tidak bisa dijelaskan dalam suara. Pada teriakan itu, 【 Eerie Constitution 】 dihalau dengan paksa, dan 【 Persistence 】 juga kehilangan efeknya.
Kitsune membuka matanya dengan terkejut, tapi keraguan sesaatnya adalah hal yang fatal.

“aa… Ha…!?” (Kitsune)

Saat dia menyadari itu, dia telah menari di langit.

Dia tidak tahu apakah itu naik atau turun, dan dia tidak dapat mengetahui apa yang terjadi dalam sekejap itu. Apa yang dia pahami adalah bahwa dia telah diterbangkan diatas hutan, dan terlentang di atas langit.
Dan kemudian…

“Gofuh…!?” (Kitsune)

Dari mulutnya, darah muncrat keluar. Dia melihat darah merah yang terkena gaya gravitasi, dan jatuh ketanah. Dan didalam dadanya, terasa…. Sakit.
Apa yang terjadi kepada Kitsune adalah sebuah serangan uppercut-esque* yang dilakukan oleh monster miasma itu dengan kecepatan yang menakutkan. Serangan itu menghantam perut Kitsune, dan kekuatannya yang besar cukup untuk mengirim Kitsune terbang ke langit. Terlebih lagi, tingkat kerusakan yang diberikan oleh serangan itu cukup untuk melewati efek 【 Pain Resistance Lv8 】 milik Kitsune yang meniadakan rasa sakitnya.

*TN: Entah serangan apa itu :v

(…Ah, ini tidak bisa bergerak lagi… tubuh ini.)

【 Persistence 】 dan 【 Eerie Constitution 】 telah dibatalkan, dan kerusakan yang menghalangi gerakannya kembali muncul. Saat dia merasa tubuhnya mulai turun, Kitsune memperoleh pemahaman tentang batas-batas tubuhnya sendiri.

(Aku tidak ingin… membiarkan Finia-chan mati…)

Kitsune mendekap tubuh Finia dengan erat, saat dia mengarahkan punggungnya ketanah. Dia memindahkan topengnya, dan memeluk itu disamping Finia. Seperti ini, bahkan jika mereka bertebrakan dengan tanah, topeng dan gadis itu akan tetap hidup.

“Shiori-can… aku minta maaf.” (Kitsune)

Saat tubuhnya menghantam tanah, dia mengatakan kalimat itu saat kesadarannya mulai memudar. Hal terakhir yang dilihat Kitsune adalah, mata merah… melihat Kitsune yang terjatuh dengan gembira.

PREV | Table of Content | NEXT

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s