I Kinda Came to Another World, but Where’s the Way Home? Chapter 7

Arc 1
Chapter 7 – Kemampuan Kitsune

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : Yoraikun

Aku adalah seorang Ideoogis, Sejenis peri spesial yang terlahir dari perasaan manusia.
Perasaan yang dipendam oleh orang tuaku, perasaan yang cukup kuat untuk melahirkanku terarah kepada Naginata Kitsune… Kitsune-san. Dengan demikian, aku adalah seorang Peri dari Cinta yang Tak Terbalas (Fairy of Unrequited Love). Perasaan kuat untuk manusia lain, seorang peri yang terlahir dari perasaan tersuci dan tertinggi. Perasaan itu berada didalam diriku sebagai sebuah inti.
Itulah mengapa, seperti orang tuaku, perempuan yang tidak pernah kutemui, aku menyukai Kitsune-san. Lebih tepatnya, hanya sehari sejak aku bertemu dengannya, tapi sekilas, aku yakin bahwa Kitsune-san adalah orang yang dicintai oleh gadis itu. Maksudku, pada saat aku melihatnya, Aku mulai menyukainya, jadi aku yakin itulah sebabnya.

Kitsune-san itu lemah. Bahkan jika aku memiliki kekuatan besar, Aku baru saja lahir, dan bahkan aku tidak sebanding dengan orang-orang yang benar-benar kuat. Namun dia jauh lebih lemah dariku. Jika kamu bertarung, Aku bertaruh bahwa aku akan menang tanpa harus menggunakan sihir.
Itulah kenapa jika aku tidak disini dan melindunginya, aku yakin dia akan mati dalam sekejap. Dia lemah dan rapuh, sebuah keberadaan yang seperti lilin samar yang akan padam bahkan jika kau hanya sedikit meniup kearahnya.

Di dalam hutan, Kitsune-san tidak akan dapat bertahan hidup. Dari penampilan dan perilakunya, kau akan merasakan ketidak sabaran dan kecemasan, tapi matanya selalu dipenuhi dengan kenekatan untuk mengatasi kesulitan yang ada. Diserang oleh serigala, dia tidak menyerah untuk berharap. Berhadapan dengan Laba-laba raksasa, dia tetap berdiri ditempatnya. Bentuk dari kenekatan menggenggam sesuatu untuk bertahan hidup sangat tidak enak dipandang, dan menyedihkan.
Mencoba untuk mengambil hidup anak itu, Binatang Magis lainnya muncul. Mereka menyerang Kitsune-san dengan serangan kejutan, dan dia menjadi tidak dapat bergerak karena racun. Apa yang muncul adalah sekelompok lebah. Sayap mereka berdengung dengan frequensi yang tidak menyenangkan saat mereka mendekat.

…. Aku harus melindunginya.

Pikiranku dipenuhi oleh pemikiran seperti itu. Aku tidak boleh membiarkan Kitsune-san mati. Maksudku, dia… sendirian. Tidak ada orang yang melihat. Tidak ada orang yang tahu. Tidak ada orang yang peduli. Mati dalam kesendirian… Aku tidak akan membiarkannya.

Pada saat itu, Kitsune-san menyembunyikan topeng (hidupku) dipunggungnya. Untuk melakukan hal itu, dia memaksakan tubuhnya yang lumpuh untuk melindungiku, Aku merasa senang. Pemikiran didalam diriku yang terarah kepadanya mulai bertambah besar. Cukup bahwa rasanya dadaku akan meledak.

…. Sekarang, aku merasa dapat melakukan apapun.

Aku telah bergerak sebelum kusadari. Aku mengepakkan sayap kebanggaanku, dan menyerang lebah yang mendekat. Aku tidak akan membiarkan Kitsune-san mati.

“…. Fairy Torch!” (Finia)

Sihir ini biasanya memerlukan beberapa persiapan, tapi diriku yang sekarang dapat menggunakannya secara langsung dan mengaktifkannya. Peri Ideologis terlahir dari perasaan yang kuat… seperti itu, jika peri itu sendiri mempunyai perasaan yang sama dengan yang melahirkannya, mereka bahkan akan menunjukan kekuatan yang jauh lebih besar.
Sebuah api putih kecil memusnahkan beberapa lebah sekaligus. Bahkan tanpa menyisakan abu sedikitpun, karena mereka benar-benar terbakar dan musnah sebelum menyentuh tanah.

“Serangan kejutan? Sempurna! Sekarang datanglah padaku, serangga! Aku, Peri Cantik Finia-chan akan mengalahkan kalian semua!” (Finia)

Perasaan sayang yang aku miliki terhadap Kitsune-san adalah kekuatan pendorong bagiku. Perasaan ini membuatku menjadi lebih kuat!

***

Bahkan Kitsune bisa memahami bahwa Finia pergi dari sisinya untuk mulai bertarung dengan lebah-lebah itu. Itu karena dia dapat melihat kilatan api, dan mendengar suaranya. Menggunakan api ditengah hutan memiliki resiko kebakaran, tapi jika Finia tidak melakukannya, mereka mungkin akan mati, jadi apa boleh buat.
Tapi dalam situasi seperti ini, terpisah dengan Finia menghasilkan sedikit kecemasan. Sayangnya, Kitsune telah terkena paralysis, dan bahkan dia tidak dapat menggerakkan satu jaripun. Jika dia terkena sengatan dari lebah lainnya…

Ada kemungkinan paralysis itu akan mempengaruhi otot-ototnya atau sistem sarafnya, dan memicu cardiac arrest atau serangan jantung.

Dari apa yang dilihatnya, disana ada banyak lebah. Berdasarkan pengetahuannya, Kitsune tahu bahwa lebah biasanya beroprasi pada area yang luas berpusat pada sarang mereka. Dengan demikian, tidak jarang melihat mereka bekerja sendirian.
Tapi dengan begitu banyak mereka yang saling berkelompok, sangat mungkin bahwa mereka berada di suatu tempat didekat sarang lebah-lebah itu. Jika itu masalahnya, suara-suara dari serangan Finia mungkin akan memancing mereka, artinya bukan hanya lebah yang ada disini… dalam kasus terburuk, ada kemungkinan bahwa sebuah pasukan besar dapat dikirim langsung dari sarang mereka.

“…Guh… sialan, Aku tidak dapat bergerak…” (Kitsune)

Dia mencoba berusaha, tapi tentu saja, efek paralysis itu masih belum hilang. Bahkan jika otaknya terus mengirim signal kepada ototnya untuk bergerak, convulsing sinew* nya tidak dapat melakukannya.
Melihat apakah ada sesuatu yang dapat dia lakukan untuk memecahkan situasi ini, Kitsune membuka layar statusnya.

*TN: Sejenis otot mungkin.

【 Status 】


Nama: Naginata Kitsune
Gender: Laki-laki Lv1 <Paralyzed>
Strength: 10
Staminan: 30
Resilience: 100
Dexterity: 10
Magic: 20

Title: 【 Otherworlder 】
Skill: 【 Pain Resistance Lv8 】 【 Eerie Constitution 】 【 World Language Translator 】 【 Status Discernment 】
Innate Skill: ???
Anggota Party: Finia (Peri)


Tapi tidak ada perubahan pada statusnya. Sebuah icon paralysis muncul untuk menunjukan status abnormalnya, tapi selain itu, itu sama persis dengan sebelumnya.

“Sialan…!” (Kitsune)

Dia menggertakkan giginya. Tidak ada rencana yang terbentuk di benaknya.
Dan disamping telinganya, kemungkinan suara terburuk datang.

…..Bzzzzz…..

Dengungan sayap. Punggung Kitsune tersandar di pohon, dan suara itu tidak datang dari belakang. Suara itu berasal tepat didepannya. Tidak dimana Finia sedang bertarung, tapi tepat didepan matanya.
Dia mencoba mengarahkan matanya keatas, dan disana, dia melihat seekor lebah terbang sendirian. Ujung penyengat berbentuk kerucut yang melekat di perut lebah itu mengarah kepada Kitsune.

“…. Status.” (Kitsune)

Kitsune dengan putus asa melihat Status Lebah itu.

【 Status 】


Nama: Palzy Signal
Ras: Hewan Magis Tipe Serangga Lv5
Strength: 3
Stamina: 50
Resilience: 15
Dexterity: 60
Magic: 0

Skill: 【 Paralyzing Needle 】 【 Colony Mobilization 】


Kelincahan lebah itu lebih tinggi dari pada Kitsune. Kamungkinan jika bahkan Kitsune dapat menyerang, dia tidak dapat mengenai Lebah itu.
Tapi kelihatannya Strength-nya hanya bernilai 3. Seperti kedengarannya. 3 berarti bahwa lebah itu lebih lemah dari pada Strength menusia rata-rata milik Kitsune. Jika seperti itu, maka apa yang menyebabkan sengatan itu mempu menembus tubuh Kitsune, sebagai tambahan, Kitsune memiliki Resilience 100?

“Apa ini….” (Kitsune)

Kitsune mencoba menggabungkan informasi yang didapat dari poin kemampuan yang ada di status Finia saat ini. Dia dapat memahami bahwa 【 Resilience 】 adalah, secara sederhana, 【 Defense 】 milik seseorang.
Dan membandingkan kekuatan yang ditunjukan Finia sejauh ini dengan Strength miliknya yang 12 kali lebih besar dari milik Kitsune, resilience milik Kitsune harusnya dengan mudah memberikan cukup pertahanan untuk mencegah sengatan lebah itu menembus dagingnya.

“Mungkinkah… Aku tidak menggunakan kekuatan yang ada di statusku..?” (Kitsune)

Dia berpikir. Mungkin dia melewatkan sesuatu hal yang penting. Bahwa dia tidak benar-benar menampilkan 100 poin resilience-nya.

Tapi tidak ada waktu untuk renungan sepele seperi itu.

Seperti yang dipikirkan Kitsune, Lebah itu telah menetapkan Kitsune sebagai musuh. Dia menembakkan sengatannya kearah Kitsune.

“…!?” (Kitsune)

Dan pada saat itu, Kitsune melihat dunia dalam gerakan lambat. Ujung sengatan yang mendekatinya juga terlihat lambat. Sasaran sengatan itu adalah bagian tengah dahinya, dan itu sudah pasti akan menyebabkan kematian baginya.
Dia teringat. Saat Finia menjelaskan bagaimana cara menggunakan sihir. Saat Finia menanyakan hal itu, dia menjawab bahwa dia telah tahu cara menggunakannya sejak lahir, dan dia melakukannya dengan intuisi.

Ringkasnya, apa yang Kitsune pikir dapat lakukan, tidak sesuai dengan apa yang tampil di Statusnya
Sebagai hasilnya… karena dia berpikir tidak mungkin tubuhnya mampu memblokir sengatan itu, jarum itu mampu melewati perbedaan statusnya, dan menancap didaging Kitsune.

(….Lalu….)

Dalam bidang pandangannya yang melambat, dia belum menyerah pada keinginan hidupnya. Percaya pada resilience miliknya, Kitsune meyakinkan dirinya bahwa tidak mungkin ujung sengatan itu mampu menembusnya. Dia memaksakan pendapat itu kedalam dirinya bahwa tubuhnya lebih dari cukup untuk mengatasi hal itu.

(Aku tidak ingin mati sekarang…!!)

Sengatan itu menyentuh titik diantara matanya, dan dengan momentumnya…

….Itu gagal melakukan apapun.

Sebuah suara seperti gigi yang saling beradu terdengar, dan sengatan lebah itu menempel di dahinya sebelum jatuh ketanah.

“…. 100 poin Resilience… bagus sekali, diriku.” (Kitsune)

Dia merasakan keringat mengalir diseluruh tubuhnya saat dia memperoleh pemahaman bagaimana cara menggunakan statusnya. Tidak ada rasa sakit, dan tidak ada luka yang tertinggal. Itu adalah kemampuan satu-satunya yang diberikan kepada anak itu, dan setelah mengalami hal itu, Kitsune mengluarkan senyum tipis diwajahnya.

Dan seolah-olah dia tidak pernah terkenan racun sebelumnya, dia dengan mudah berdiri.

“Kelihatannya Resilience juga bekerja pada Status Abnormal.” (Kitsune)

Karena dia telah terjebak kedalam pemikiran bahwa racun itu bekerja, maka dia tidak mampu bergerak. Saat dia mengerti racun itu tidak akan mempan padanya, racun yang sejak awal tidak akan bekerja padanya kehilangan efeknya. Kitsune menangkap lebah yang sekarang tidak memiliki sengatan menggunakan tangan kosong. Kelihatannya lebah itu bingung kenapa serangannya tidak berhasil, dan karenanya, dia terlambat melarikan diri.

“Ketika kau tidak memiliki sengatan, kau tidak menakutkan sama sekali. Yah, kelihatannya kau tetap tidak menakutkan, bahkan jika kau masih memilikinya.” (Kitsune)

Kitsune menatap langsung ke mata lebah itu saat dia mengatakan hal itu.
Pada saat itu, tubuh lebah itu menegang. Sama seperti perasaan laba-laba yang sebelumnya dia temui, lebah itu merasakan aura berbahaya dari Kitsune. Dia mencoba melepaskan diri dan menggeliat. Dia tidak lagi peduli dengan apapun, dia hanya ingin menjauh sejauh mungkin dari Kitsune.

Menakutkan dan menjijikan.

Skill milik Kitsune, 【 Eerie Constitution 】 adalah sumber dari aura itu.

…. 【 Eerie Constitution 】: Saat berhadapan dengan musuh, ketika kau memiliki keuntungan psikologis di atas mereka, skill ini memungkinkan kamu untuk mengalahkan mereka dengan menghancurkan motivasi mereka.

Selama dia berdiri di posisi mental yang lebih tinggi, itu adalah skill menakutkan yang memungkinkannya mengalahkan musuh apapun terlepas dari perbedaan levelnya. Jika Kitsune tidak menganggap mereka sebagai musuh, atau dia berdiri di pada posisi mental yang lebih rendah, skill ini tidak akan aktif. Skill ini memiliki berbagai syarat, tapi setelah mereka terpenuhi, itu adalah sesutau yang akan memberikan kekuatan kepadanya.

“Gi…i…!”

Lebah yang masih tertangkap ditangannya, menatap langsung ke mata Kitsune. Tidak peduli seberapa keras dia mencoba untuk berpaling, dia tidak mampu melakukannya. Situasi itu terasa seperti siksaan baginya.
Menggunakan satu tangan, Kitsune menggenggam area didekat mulutnya, dan tangan lainnya memegang sayapnya.

“Terimakasih, Lebah-kun. Terimakasih, Kupikir aku akan bertahan hidup sedikit lebih lama.” (Kitsune)

Dengan suara sentakan, sayap itu telah sepenuhnya terlepas dari tubuh lebah itu. Lebah itu mencoba berteriak, tapi karena Kitsune khawatir itu akan menarik perhatian lebah lain, dia memasukan jarum beracun yang jatuh ditanah kedalam mulut lebah itu.
Rupanya, racun itu juga bekerja pada lebah itu sendiri, dan dia berhenti bergerak, dan mulai mengejang.

“Oh? Aku yakin bahwa racunmu tidak akan bekerja padamu. Maaf.” (Kitsune)

Kitsune melempar lebah itu ketanah, dan seperti kehilangan minatnya, dia mengalihkan perhatiannya ketempat lain. Dia tidak ingin membunuh lebah itu. Dia sangat berterimakasih kepada lebah yang mengajarkannya bagaimana cara untuk menggunakan statusnya. Meski begitu, seekor lebah tanpa sayap mungkin akan segera menjadi mangsa untuk Hewan Magis lainnya.
Namun, lebah itu merasa lega. Kenyataan bahwa Kitsune telah menghilang dari pandangannya jauh lebih menenangkan dari pada apapun. Bahkan jika, beberapa saat lagi dia akan mati ditangan hewan lainnya, dia berpikir itu baik-baik saja selama dia bisa menjauh dari Kitsune.

“Ah, benar juga, jika aku hanya membiarkannya seperti ini, lebah ini akan dimakan oleh monster lain, kan?” (Kitsune)

Meskipun lebah itu tidak mengerti perkataannya, dia merasa putus asa saat Kitsune berbalik. Dengan lambat, Kitsune mendekat kearah lebah itu. Jika dibandingkan dengan standar manusia, itu terasa seperti jika lebah itu berjalan 13 langkah menuju tiang gantung*.
Kitsune mengangkat tubuh lebah itu.

*TL: Kalian tahu sendiri gimana rasanya kan :v

“Jadi, lebih baik jika aku membunuhmu, kan?” (Kitsune)

“Gi…!?”

Dari senyum tipis milik Kitsune, lebah itu merasakan kebencian. Bahaya yang terasa dari kehadiran yang mengerikan itu meningkat, dan lebah itu tanpa sadar mulai gemetar ketakutan. Insting Hewan Magis itu dipenuhi oleh rasa takut, dan dia yakin tidak ada cara dia bisa menghindari kematian.

“Sampai sekarang, aku tidak bermaksud membunuhmu, tapi saat aku memikirkan keadaanmu, mungkin membunuhmu akan lebih baik bagimu… Yah, selamat tinggal.” (Kitsune)

Kitsune kembali menjatuhkan lebah itu ketanah, kali ini, dia juga menginjakkan kakinya ke atasnya.
Suara berderak aneh terdengar, dan dibawah kakinya… lebah itu telah mati terinjak.
Saat lebah itu melihat kaki Kitsune turun kearahnya, dia merasakan semangatnya runtuh. Pada akhirnya, sensasi itu terasa seperti itu tidak lebih dari masalah orang lain baginya saat hidupnya berakhir seperti membalikkan telapak tangan.

“Nah… hmm?” (Kitsune)

Setelah membunuh lebah itu, Kitsune merasakan ketidaknyamanan pada tubuhnya. Tanpa jeda, dia memastikannya dengan Skill Status Discernment. Bagus sekali, pikirnya saat dia mematikan kondisi dirinya sendiri.

【 Status 】


Nama: Naginata Kitsune
Gender: Laki-laki Lv4 (↑4UP)
Strength: 40
Staminan: 60
Resilience: 180
Dexterity: 50
Magic: 20

Title: 【 Otherworlder 】
Skill: 【 Pain Resistance Lv8 】 【 Eerie Constitution 】 【 World Language Translator 】 【 Status Discernment 】 【 Persistence (NEW!) 】 【 Coercion (NEW!) 】
Innate Skill: ???
Anggota Party: Finia (Peri)


Kelihatannya levelnya telah naik. Fakta bahwa dia telah membunuh seekor Hewan Magis,dan levelnya sendiri yang masih sangat rendah, memberinya kenaikan level yang besar. Tapi fakta bahwa dia masih tidak sebanding dengan status Finia di level 1 membuktikan kembali bahwa dia memang lemah.

“Yeah…. Lagipula, Resilience-ku meningkat, jadi aku akan mengesampingkan hal itu.” (Kitsune)

“Kitsune-saaaaaaan!” (Finia)

“Whooops…!” (Kitsune)

Seperti lebah-lebah itu bukan tandingannya, Finia bergegas kembali tanpa terluka. Melihat area dari mana dia bertarung, ada tanah hangus disana-sini, tapi tidak ada sisa tubuh atau darah. Semua korbannya telah terbakar habis.
Kitsune berpikir ‘Finia-chan benar-benar tidak menunjukan belas kasihan’, saat dia benar-benar merasa senang karena berhasil melewati situasi itu.

 

*Catatan Pengarang: Ngomong-ngomong ini adalah status Finia setelah pertarungan.

【 Status 】


Nama: Finia
Gender: Perempuan Lv3 (↑3UP)
Strength: 150
Stamina: 540
Resilience: 130
Dexterity: 180
Magic: 1550

Title: 【 Fairy of Unrequited Love 】
Skill: 【 Light Magic Lv3 】 【 Mana Recovery Lv2 】 【 Healing Magic Lv3 】 【 Fire Magic Lv3 】
Innate Skill: ???
Anggota Party: ◎Naginata Kitsune


Perbedaan pendapatan Exp karena alasan pribadi pengarang.

PREV | Table of Content | NEXT

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s