I Kinda Came to Another World, but Where’s the Way Home? Chapter 5

Arc 1
Chapter 5 – Hari dimana Mereka Bertahan Hidup

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : Yoraikun

“untuk sekarang, ayo kita lari Finia-chan!” (Kitsune)

“Eh? Kita lari?” (Finia)

Terjepit diantara dua monster, hanya dengan Finia yang dapat bertarung, Kitsune tidak cukup bodoh untuk tidak dapat melihat kesempatan menang mereka, dan itu tidak seperti Kitsune dilahirkan sebagai seorang petarung atau apapun. Kesimpulan yang dia dapat adalah bahwa tindakan yang paling menguntungkan pada situasi ini adalah ‘Kabur’. ‘Kabur’ dan ‘Bertarung’ keduannya memiliki susunan huruf yang berbeda, tapi keduanya juga adalah strategi untuk memperoleh harga diri.

“Jadi, jika kau menyamakan hal positif dari…” (Kitsune)

“Kitsune-san, kakimu sangat lambat!” (Finia)

“Apakah itu sesuatu yang dapat kau katakan saat kau terbang?” (Kitsune)

Kitsune dan Finia melarikan diri. Tentu saja, hukum rimba tidak terlalu baik untuk membiarkan mangsa yang seekor predator temukan untuk lari. Kedua monster itu dengan cepat mengejar keduanya. Tekanan yang datang dari belakang sangat menakutkan, dan saat Kitsune selalu menyadari bahwa kakinya berada pada sisi yang lebih lambat, dia merasa lebih lambat dari sebelumnya.
Dengan itu, dia dipaksa merenung sambil berlari. Bagaimana cara mengalahkan kedua monster itu…. Atau cara untuk lari dari mereka.

“Hah… hah…! Pada saat seperti ini, didalam cerita, akankah ini menjadi saat ketika seorang petualang atau pahlawan yang benar-benar kuat muncul…!?” (Kitsune)

“Hal itu sangat tidak mungkin! Kau terlihat seperti seorang banci yang akan ditangkap!” (Finia)

“Kau kira aku ‘Goldn Bombr’ macam apa?” (Kitsune)

*TL: Parodi Sebuah grup musik yang anggotanya terlihat seperti banci.

Meskipun mereka bercakap-cakap seperti itu, situasi sekarang ini benar-benar gawat. Bagi Kitsune, keceriaan Finia adalah hal yang cukup dia syukuri.
Dia melirik kebelakang dan mengintip kearah kedua hewan itu. Berdasarkan apa yang dilihatnya, karena mereka berdua bertujuan untuk menangkap menusia sepertinya, mereka adalah karnivora. Dan sebagai serangga dan serigala, ras mereka harusnya sangat berbeda.

“…Lalu… mungkin aku bisa?” (Kitsune)

Kitsunen berpikir tentang Monster-monster itu, daerah sekitar mereka, kawan yang ada disisinya, dan apa yang dapat dia lakukan dengan semua informasi itu.

“…. Finia-chan.” (Kitsune)

“Ada apa, Kitsune-san!?” (Finia)

“…. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan.” (Kitsune)

Sebuah senyum tipis muncul di wajah Kitsune saat dia mengatakan itu.

***

… Kedua monster itu kehilangan jejak kedua mangsa yang mereka kejar.

Seperti yang Kitsune duga, kedua binatang itu adalah karnivora, dan didunia ini, keduannya adalah makhluk hidup yang termasuk kedalam jenis 【 Hewan Magis (Magic Beast) 】. Jika manusia normal bertemu dengan mereka, maka orang itu akan dipaksa menerima kematiannya, dan bahkan Hewan Sihir paling lemah dapat melahap banyak manusia seorang diri. Diantara monster-monster tersebut, Serigala dan Laba-laba itu berada disekitar tingkat pertengahan.

Serigala itu disebut sebagai 【 Varg Wolf 】, dan dari organ khusus yang ada didalam tubuhnya, dia dapat mengeluarkan api yang sangat panas. Sifat khusunya adalah serangan api-nya. Berbicara tentang sifat, kulit dan organ dalamnya memiliki resistensi yang menakutkan terhadap panas, dan bahkan dia dapat berenang dengan santai didalam magma yang menggelegak.

Laba-laba itu adalah seekor 【 Arachne 】, dan berdasarkan spesimen yang telah ditemukan sejauh ini, panjang maksimal tubuhnya adalah 5 meter. Sebagai laba-laba, dia dapat menggunakan benang perekat yang dibuat didalam tubuhnya untuk menangkap mangsa atau untuk melarikan diri. Gigitannya mengandung racun pelumpuh, jadi setelah tertangkap sekali, akan sulit untuk lepas darinya.

Tak perlu dikatakan lagi, keduannya bukanlah sekutu. Mereka adalah musuh yang memburu mangsa yang sama. Jika kau bertanya, mengapa saat saling berdekatan, keduannya tidak mulai bertarung? Itu karena keduannya memiliki pikiran untuk mencari makanan sebagai prioritas utama.
Setelah membunuh mangsanya yaitu Kitsune untuk mencegahnya melarikan diri, mereka akan saling membunuh untuk memperebutkan tubuh Kitsune.

Tapi sekarang mereka telah kehilangan apa yang disebut stok makanan. Tak terelakkan lagi bahwa mereka akan mengeluarkan kemarahan dari hal itu kepada musuh didepan matanya.

“Grrrrrr….!!”

“Krrrrrr….!!”

Kedua monster itu, yang masing-masing memiliki besar lebih dari 2 meter, salang memelototi satu sama lain. Mereka memijak tanah dan saling bertabrakan… dan pada saat itu.

“Sebuah celah” (Finia)

Mereka mendengar sebuah suara. Sebelum mereka bisa berbalik kaarah suara itu berasal, para Binatang Magis itu telah diterbangkan secara horizontal. Mereka melihat tempat mereka berdiri sebelumnya, dan melihat sebuah batang pohon yang berayun seperti sebuah pendulum. Mereka mengerti bahwa itulah yang manghantam mereka dari samping.
Mereka membetulkan postur tubuh mereka diudara dan mendarat.

Tapi….

“Kalian penuh celah!” (Finia)

Seorang peri kecil telah menanti mereka: Peri Ideologis, Finia. Dia mengangkat tangan kecilnya dan mengaktifkan sihir yang telah dia siapkan. Kali ini, itu bukan sihir ledakan tingkat rendah, tapi sebuah sihir api tingkat tinggi. Itu tidak membutuhkan perapalan, tapi itu membutuhkan sedikit persiapan untuk digunakan. Sihir itu adalah…

“…. Fairy Torch.” (Finia)

Nama sihir itu disebutkan, seolah-olah itu adalah lagu. Efeknya melahirkan sebuah api putih kecil yang terlihat tidak berbahaya. Panampilannya tidak mencolok atau menakutkan sedikitpun, tapi api putih kecil yang tampak seolah-olah akan padam saat ditiup angin itu memiliiki kekuatan yang cukup besar.
Dan setelah itu, Finia mengirim api itu kearah Vargh Wolf. Meskipun monster itu memiliki kekebalan terbesar terhadap api.

“GAAAAAAAH!!”

Dan karena itulah Vargh itu memilih untuk tidajk menghindarinya. Bagian menakutkan sihir ini bukan dari outputnya, tapi penampilan luarnya yang berkebalikan dengan kekuatannya.

Buktinya, mencoba menelan api putih kecil itu, serigala itu….

“Kau kalah karena hal itu, dasar anjing bodoh!!” (Finia)

Saat Finia mengatakan pendapatnya, tubuh Vargh meledak dari dalam, bersamaan dengan sebuah cahaya putih. Itu terus menyala putih, saat darah dan potongan daging berceceran ditanah.

“Yah… jadi makhuk hidup didunia ini juga memiliki darah berwarna merah.” (Kitsune)

Sementara tubuhnya bermandikan darah, Kitsune menggumamkan hal itu pada dirinya sendiri. Darah merah menetes turun dari Topeng Kitsune* yang ada dikepalanya, dan sebuah senyum tipis muncul diwajahnya. Matanya menatap langsung kearah laba-laba tadi.

*TL: Kitsune juga bisa berarti monster. Jadi yang dimaksud disini adalah topeng monster yang dimiliki oleh Kitsune.

“Ka….rrrroooo…!?”

Itulah pertama kalinya laba-laba itu merasakan bahaya dari anak itu. Dia tidak merasakan tekanan, dan dia tidak merasa bahwa dia berdiri didepan seseorang yang lebih kuat darinya. Dengan kehadiran lemah yang selalu ada pada Kitsune, Laba-laba itu terus merasa ketakutan. Tentu saja, itu tidak seperti Kitsune memiliki kartu truf. Itu tidak seperti dia melakukan sesuatu yang mengancam. Dia hanya berdiri disana, dengan tubuhnya yang bermandikan darah.
Tapi bahkan sebelum datang kedunia ini, Kitsune selalu memiliki sebuah sifat khusus.

Itu adalah 【 Repulsing Nature* 】 yang dimilikinya.

*TL: Saya ngk bisa menemukan arti yg cocok untuk kata diatas tapi secara kasar artinya adalah Rasa menjijikan yang alami (bawaan lahir :v ).

Bahkan oleh manusia dari ras yang sama, dia selalu dikucilkan karena beberapa alasan. Tapi itu tidak seperti ada alasan tertentu. Tanpa alasan apapun, aku hanya agak berubah menjadi seperti itu. Di dunia ini, kelihatannya itu juga berlaku untuk Hewan Magis.
Arachne itu dibuat ketakutan oleh anak yang berdiri didepan matanya. Dia merasakan keanehan dari kehadiran asing itu.

“Nah, sepertinya selanjutnya adalah giliranmu.” (Kitsune)

Tubuh Kitsune tergoyang saat dia mengarahkan jarinya pada laba-laba itu. Dan hanya dengan tindakan itu, laba-laba itu mundur satu langkah. Laba-laba itu berpikir, jika dia hanya mendekat dan menggigitnya, dia akan menang. Dia sangat yakin dengan hal itu. Meski begitu, dia tidak bisa mendekat. Tidak, dia tidak ingin mendekati anak itu.
Belum pernah terjadi hal seperti ini sebelumnya. Sampai sekarang, Kitsune terdaftar sebagai tidak lain adalah sebuah mangsa yang lemah. Tapi Serigala yang mampu bertarung dengannya telah dibunuh dengan mudah, bukan? Itu lebih dari cukup untuk menganggapnya sebagai ancaman. Dia tidak bisa menolak kemungkinan bahwa dia akan mati jika dia menangani situasi ini dengan ceroboh.

Dengan demikian, laba-laba itu membuat keputusan dengan instingnya. Itu, secara alami, seekor hewan yang berhati-hati akan menyembunyikan dirinya selama dia tidak yakin bahwa dia akan menang. Dia mengahargai dirinya sendiri. Selama dia tidak dapat memahami keberadaan Kitsune, dia memilih untuk tidak mendekatinya dengan mudah.

“Krrrrrrrrrr…!”

Mundur. Laba-laba itu mengeluarkan benang perekat dari belakangnya saat dia melintasi pohon untuk melarikan diri. Kitsune tidak mengejarnya. Dia tidak terlalu mengerti kenapa, tapi jika laba-laba itu memilih untuk melarikan diri, dia tidak perlu mengejarnya,

“…Whew, terimakasih, Finia-chan.” (Kitsune)

“Tidak masalah! Meski begitu, aku terkejut kau dapat bertahan dengan rencana berantakan yang penuh dengan lubang itu! Ini adalah sebuah keajaiban!” (Finia)

Kitsune yang terwarnai dengan warna merah tersenyum pahit mendengar kata-kata peri itu.
Rencana Kitsune adalah sebagai berikut. Mengikat sebuah batang pohon yang ditebang dengan sihir Finia ke salah satu tanaman yang menggantung diatas tempat itu untuk dikirim kearah para monster dan menghentikan pergerakan mereka. Lalu serahkan sisanya kepada Finia. Sejujurnya, dia bahkan tidak tahu sihir apa yang akan Finia gunakan.
Untuk saat ini, semuanya berakhir dengan baik, tapi jika batang pohon itu tidak mengenai sasaran, jika sihir Finia gagal untuk membunuh, jika laba-laba itu tidak mundur, kesalahan kecil dapat membuat situasi menjadi sangat buruk.

“Hei, Aku bukan Zhuge Liang*. Aku tidak memiliki kepintaran seperti itu dikepalaku, dan itu adalah taktik tiba-tiba untuk mengatasi situasi ini, jadi tentu saja itu akan penuh dengan lubang.” (Kitsune)

*TN: Salah satu tokoh dalam cerita tiga kerajaan

“Uwah, betapa tak bergunanya kau sebagai manusia, Kitsune-san!” (Finia)

“Aku mulai bertanya-tanya dari mana kau mendapat kepribadian itu dan menyemburkan racun dengan sebuah senyuman.” (Kitsune)

“Aku adalah aku! Ini adalah diriku yang sebenarnya!” (Finia)

Kitsune tersenyum. Tampaknya dia mulai memahami kepribadian peri ini.
Dan melihat dirinya sendiri, dia menghela nafas. Dia tertutupi oleh darah. Jika seperti ini, seragam kebanggaannya akan rusak.

“Untuk saat ini, ayo kita pergi ke sungai yang kau katakan sebelumnya.” (Kitsune)

“Yeah! Umm… lewat sini!” (Finia)

Finia sekali lagi melayang tinggi di udara dan memberi arah. Kitsune mulai berjalan ke arah itu, dan Finia turun dan melayang disamping Kitsune. Senyum cerahnya sedikit membuat suasana menjadi lebih baik.

“Yeah… bau darah ini adalah…” (Kitsune)

Kitsune mengatakan itu saat sebuah senyum tipis muncul diwajahnya.

***

Setelah berjalan sebentar dan tiba disungai, mereka beristirahat sejenak. Tanpa diduga, sementara kota itu masih jauh, sungai ini ternyata cukup dekat, jadi tidak butuh waktu lama untuk sampai kesini. Kitsune telah mencuci blazer dan celananya disungai dan sedang mengeringkannya. Dia duduk bersila diakar pohon dan memakai kaos yang dikenakan dibawah blazernya. Mungkin karena lelah, Finia kembali masuk kedalam topeng Kitsune dan tidak akan keluar.

“…. Dan tunggu, jadi dia bisa kembali kedalamnya… dalam istilah manusia, itu seperti kembali masuk kedalam rahim ibunya… jika kau memikirkan baris itu… kupikir itu adalah sebuah fantasi?” (Kitsune)

Fakta bahwa topeng yang diterimanya sebagai hadiah ulang tahun telah berubah menjadi sebuah barang fantasi membuatnya kepikiran dan dia merasa hari perlahan-lahan mulai berakhir. Dia memandang langit yang mulai menggelap.
Peristiwa yang telah terjadi kembali muncul dikepalanya.

Dia mati didunia sebelumnya dan membuat sahabat terbaiknya menangis.

Saat dia berpikir dia telah mati, dia berakhir di dunia lain.

Dia diserang oleh serigala besar dan bertemu dengan Finia.

Dia diserang secara bersamaan oleh serigala dan laba-laba, tapi entah bagaimana dia berhasil selamat.

Setelah mencapai sungai, dia masih hidup, dengan suatu cara.

Hari ini, tampaknya dia telah berdiri di ujung kematian di sepanjang jalan. Meskipun dia telah mati, dia masih begitu dekat dengan hal itu. Bahkan jika dia selamat hari ini, dia tidak tahu apa yang akan terjadi di hari berikutnya. Dan semakin dia memikirkan hal itu, semakin dia kehilangan motivasi.

“…. Ini mungkin bukan waktu yang tepat untuk memikirkan cara kembali kedunia yang dulu.” (Kitsune)

Kitsune menggumamkan hal itu. Dia memakai seragamnya yang masih sedikit basah. Setelah menggantung topeng itu di kepalanya lagi, dia mulai mencari tempat untuk bersembunyi. Tapi sungai adalah perhentian hidup, dan jika dia berdiam disana, ada kemungkinan besar baginya untuk dibunuh oleh laba-laba itu, atau Hewan Magis lainnya. Jika dia tidak menemukan suatu tempat untuk menyembunyikan tubuhnya, maka dia mungkin akan mati saat dia tertidur.

“Hah… sudah mulai gelap… aku adalah orang malam, jadi tidak masalah, tapi ini adalah pertama kalinya aku menghabisan waktu ditengah hutan.” (Kitsune)

Dia menghela nafas satu demi satu.

PREV | Table of Content | NEXT

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s