I Kinda Came to Another World, but Where’s the Way Home? Chapter 3

Arc 1
Chapter 3 – Pertemuan dengan Seorang Peri

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : Yoraikun

Didalam hutan, udara terasa bersih dan hangat. Saat Kitsune mencoba memeriksa wilayah itu, tidak ada apapun yang benar-benar dapat dianggap sebagai kendala. Ditempat seperti itu, Kitsune memegang pisau dengan satu tangan dan dia memulai hari pertama bertahan hidup. Hal pertama yang dia lakukan adalah mengurus kebutuhan untuk bertahan hidup. Prioritas utamanya adalah mencari makanan.
Untungnya, salah satu buku yang dia baca selama 6 tahun masa SD-nya, adalah kumpulan tumbuhan yang dapat dimakan. Kitsune mulai menggunakan informasi itu, dan dengan hati-hati meneliti berbagai tanaman yang tumbuh disekitarnya saat dia berjalan.

“…? Ini aneh. Setelah pergi sejauh ini ditempat yang dikelilingi alam, ini aneh untuk belum menemukan satu atau dua tumbuhan yang dapat dimakan….” (Kitsune)

Dia berbisik pada dirinya sendiri.
Yang lebih membingungkan, dari apa yang dilihatnya, tidak ada satupun tanaman yang dia kenal. Bahkan tidak ditemukan satupun rumput liar dimana-mana. Itu lebih seperti disini hanya ada tumbuh-tumbuhan yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Dengan firasat tidak enak, dia mencoba memutar otaknya sedikit lebih keras, tapi dia masih tidak dapat menyimpulkan apa-apa. Jadi, dia memilih untuk mengesampingkan pemikiran yang tidak berguna itu.

“Hmm…” (Kitsune)

Untuk kebutuhan hidup, kelihatannya makanan harus didapat melalui berbagai percobaan dari apapun yang terlihat aman. Tapi, dia tidak memiliki keberanian untuk menguji mereka, jadi sampai malam tiba, Kitsune terus mencari sebuah tempat untuk berlindung.

“Didalam dongeng… biasanya adalah sebuah gua, tapi ada kemungkinan seekor beruang atau singa telah tinggal disana, jadi…. Sembarangan mendekati mereka adalah tindakan yang bodoh.” (Kitsune)

Untuk mengingat informasi dari beberapa buku tua yang pernah dia baca, dia mengulang isi buku tersebut dikepalanya dan menegaskannya. Tempat yang dapat dijadikan tempat berlindung terbaik adalah pinggir sungai, dengan bagian-bagian yang dapat dijadikan persembunyian, dan perlengkapan untuk berlindung dari angin dan hujan. Bahkan jika tidak ada makanan, berbagai makhluk hidup bergantung pada air untuk hidup. Bahkan jika ini adalah sebuah tempat, kota, negara, atau dunia yang tidak diketahui Kitsune, hal itu tidak akan berubah.
Oleh karena itu, didekat sini pasti ada sumber air, beberapa danau, kolam, atau sungai, dan Kitsune membuat pencarian untuk hal itu sebagai langkah pertama.

***

Aku berjalan cukup jauh. Aku menjaga arahku dengan cahaya matahari dan bayangan dibawah kakiku. Bagaimanapun, arah pertama yang kutuju adalah selatan. Tidak ada alasan khusus, aku hanya sedikit berpikir kata selatan memiki sedikit makna berair. Yap, Sedikit… alasan yang sama kenapa aku dibully, alasan yang tepat untuk seorang pemuda puber sepertiku.

Saat mencari air, kupikir hal pertama yang harus dilakukan adalah melihat pohon-pohon dan tanah.

Pohon hidup dengan mengambil air dari dalam tanah. Semakin dekat mereka dengan air, jumlah air yang mereka ambil akan berubah tergantung jarak mereka dengan sumber air.
Lalu, tanah harus diamati karena alasan yang mirip. Sebelum meluap, air mengalir dibawah tanah. Semakin dekat suatu tempat dengan sumber air, semakin tinggi kelembaban tanah diwilayah itu, atau dapat dikatakan, sampai batas tertentu, dengan menyentuh, atau dengan mengamati perubahan tingkat kelembaban. Kelihatannya.

Yah, itu terdengar cukup mudah. Bahkan jika itu adalah hal yang kubaca didalam buku, itu adalah sesuatu yang mungkin tetap kusadari bahkan tanpa membaca buku.

“Tapi ini aneh… aku tidak melihat satupun tumbuhan yang kelihatannya dapat dimakan, dan bahkan ada rumput yang belum pernah kulihat sebelumnya. Terlebih lagi, Jepang tidak memiliki hamparan hutan seperti ini. Yang terpenting, aku harusnya sudah mati.” (Kitsune)

Kenyataan bahwa aku masih hidup sangat membingungkan, dan luka yang kuterima telah menghilang tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. Sesuatu yang mustahil telah terjadi padaku dengan cara yang mustahil. Mungkinkah ini, kemungkinan kecil dari kemungkinan yang tidak ingin kupikirkan…

Ini bukan dunia tempat tinggalku…?

“….Reinkarnasi ke dunia lain? Ahaha, Perkembangan cerita macam apa ini? Benar-benar konyol.” (Kitsune)

Ahaha, tidak, tidak mungkin, imposibruh, kesempatan ‘nol’. Hal seperti itu hanya terjadi di fiksi murahan. Atau didalam fantasi para chuuni. Mari beranggapan bahwa aku telah dipindahkan ke negara lain karena suatu hal.

“…Yang benar saja?” (Kitsune)

Aku baru saja puas dengan jawaban itu, tapi kemungkinan itu telah hancur dalam sekejap. Saat aku berbalik, ada seekor hewan. Tidak, dari pada hewan, itu lebih seperti monster, bukan?
Penampilannya adalah makhluk mirip serigala berbulu hitam, tapi ukurannya sebesar beruang kutub. Dia memiliki mata haus darah dan berwarna merah, dan aku melihat taring tajam diantara mulutnya yang menggeram, dan yang paling penting, sesuatu yang tidak mungkin makhluk normal miliki…. Ada api yang keluar dari tenggorokannya.

“Ahaha, yap. Ini adalah dunia lain.” (Kitsune)

Tapi itu bukan sesuatu yang akan mengejutkanku. Itu tidak beda dengan imajinasi yang kubayangkan saat aku melamun, dan aku sudah terbiasa melakukan hal itu. Yah, meskipun aku tidak mengira hal itu akan benar-benar terjadi.
Meski begitu, dunia lain… kupikir aku harus menerimanya. Situasi ini, dan semua hal yang menyangkut dunia lain, aku tidak bisa menyangkalnya.

⌊ Grrrrrrr…..! ⌉

Meskipun aku mengatakan itu, hal pertama yang harus kulakukan adalah keluar dari situasi ini, kan? Sebagai senjata, aku memiliki pisau yang kurang lebih hanya pendukung mental. Aku tidak merasa mainan ini mempu menjatuhkan monster itu. Ini terlalu pendek, bukan? Saat aku mendekat empat langakh darinya, dia akan bergerak, dan tubuh besarnya… aku bertaruh itu memiliki kekuatan yang agak besar. Aku merasa bahwa satu kali serangan darinya akan membunuhku.

“Ok, ayo lari. Aku tidak terlalu ingin mati.” (Kitsune)

Aku berbalik dan dengan cepat mulai berlari.

⌊ GYAU!! ⌉

Wow, aku mendengar suaranya berlari dibelakangku. Sialan, dia benar-benar mengejarku, bukan. Terlebih lagi, dia pasti semakin mendekat. Dari awal aku tidak terlalu atletis, dan tidak mungkin aku bisa mengalahkan seekor hewan tingkat tinggi yang memiliki kemampuan melebihi manusia.

“!” (Kitsune)

Sebuah bayangan hitam melewatiku dengan kecepatan yang menakutkan, saperti hewan itu tiba-tiba berada didepanku. Pada saat ini, dalam sebuah cerita… seorang pahlawan, atau seorang rival, atau beberapa petualang legendaris akan datang untuk menolong, atau sang protagonis akan membangunkan beberapa kekuatan tersembunyi, tapi itu tidak mungkin.
Kenyataan bukanlah cerita fiksi. Situasi seperti itu tidak akan datang begitu saja.

“Shiori-chan….” (Kitsune)

Tapi aku berjanji…. Saat aku kembali, kami akan melakukan sebuah kencan di taman bermain. Jadi aku tidak ingin mati, atau setidaknya, satu kematian sudah lebih dari cukup.
Sebuah pisau. Tidak memiliki pengalaman bertarung. Tidak memiliki keinginan bertarung. Tapi….

….Kupikir aku akan mencobanya. Selama masih ada sedikit kesempatan untuk menang, aku tidak akan menyerah!

Aku dapat mengatakan sesuatu yang keren seperti itu.

“Majulah, hewan sialan.” (Kitsune)

Aku akan mencobanya…aku tidak mau menjadi seorang pria yang tidak dapat memenuhi sebuah janji.

***

Kitsune dan monster itu. Dari keduanya, monster itu sudah pasti memiliki pergerakan yang lebih cepat. Keempat kakinya dengan gesit memijak tanah, saat dia mendekati anak itu. Dia mengayunkan cakarnya dan mengincar leher Kitsune.
Tapi Kitsune entah bagaimana mampu mengimbangi pergerakan itu, dan menangkis cakar itu dengan pisaunya

⌊ GRAAAH!! ⌉

“Uu… gu…!?” (Kitsune)

Namun, lengannya tidak memiliki kekuatan untuk menahan dampaknya. Kitsune terpental. Kakinya meninggalkan tanah saat dia terpental kesamping. Dia bertabrakan dengan sebuah pohon didekatnya.

“Gu… owo. Seberapa besar kekuatan yang dimilikinya?” (Kitsune)

⌊ Grrrr…! ⌉

Pisau itu telah benar-benar patah menjadi dua. Satu-satunya senjata yang dimilikinya dengan sekejap dihancurkan. Dia tidak bisa melakukan perlawanan lagi.

“Jadi aku mendapatkan game over di hari pertama bertahan hidup… harusnya ada batasan untuk ketidakadilan….” (Kitsune)

Kitsune berbicara sendiri saat dia bersandar di pohon yang telah dengan paksa berkenalan dengannya, dan kemudia berjonkok. Dia telah menggunakan pisau itu untuk bertahan, tapi itu tidak benar-benar berguna. Punggungnya telah mengeluarkan beberapa suara yang tidak menyenangkan ketika bertabrakan dengan pohon, dan seorang siswa SMA yang tidak bisa berdiri lagi tidak mungkin bisa menahan serangan seperti itu lagi.
Tubuh seperti apa yang dimiliki para protagonis di manga dan anime itu? Kitsune memikirkan hal itu sambil melihat hewan itu.

“Ya ampun… aku mungkin kuat menahan rasa sakit, tapi tetap saja ada batasan seberapa banyak luka yang dia berikan…” (Kitsune)

⌊ GRAAAAAAAAA!!!! ⌉

“……” (Kitsune)

Kitsune mencoba membuat lelucon untuk menenangkan dirinya, tapi raungan monster itu membuatnya menelan kata-katanya. Dia pikir dia akan bergantung pada kesempatan menang yang sedikit itu, tapi sesuatu yang mustahil tetaplah mustahil. Dia bahkan tidak bisa menangkis serangan pertama. Tidak mungkin seorang manusia yang lemah mampu mengalahkan monster seperti itu.

“Tapi tetap saja….! Aku benar-benar tidak bisa…. Menyerah dulu….!” (Kitsune)

Dia berdiri dengan kakinya yang gemetar. Dia menjatuhkan gagang pisaunya dan mengangkat tangannya. Itu hanyalah sebuah keputus asaan. Dia berharap sebuah keajaiban akan datang disaat terakhir dan mencoba untuk pergi tanpa menyerah. Tapi itu adalah keputusan terbaik yang bisa dia buat.

“Jika kau pikir kau bisa membunuhku, maka cobalah.” (Kitsune)

Sampai saat terakhir, hanya aura kekuasaannya yang berada pada tingkat tertinggi. Hewan itu dengan santai berjalan kearah Kitsune dan mengangkat cakar besarnya. Kitsune tidak menutup matanya dan juga tidak mengalihkan pandangan. Dia tidak menyerah untuk hidup.

⌊ GRAAAAAAAAAH!!! ⌉

Pada saat itu.

Di depan Kitsune dan monster itu, sesuatu bersinar. Kedua pandangan mereka diselimuti oleh cahaya putih murni, dan hewan yang mencoba menurunkan lengannya itu tertembak jatuh.

⌊ GYAAH!!!? ⌉

Hewan itu mengeluarkan teriakan keras dan melompat jauh kebelakang. Melihat asap hitam mengepul dari kaki depannya, dia terus waspada terhadap cahaya tadi saat dia… kabur.
Saat hewan itu menghilang dari pandangan, Kitsune bernafas lega, sambil punggungnya terjatuh ketanah. Dia tidak memiliki kekuatan lagi untuk berdiri.

“….. Dan cahaya apa tadi?… Aku akan sangat sial jika itu adalah musuh….” (Kitsune)

Kitsune menatap objek berkilau di langit di atas kepalanya, saat dia menggumamkan itu dengan bingung. Objek bercahaya itu turun sampai didekat mata Kitsune.

“Yo!” (Peri)

Cahaya itu meledak, dan dari dalamnya, manusia seukuran boneka disertai suara anak kecil muncul.
Rambut hitam panjang dan mata kuning muda. Pakaian biru laut, dan dipunggungnya yang kecil terdapat sepasang sayap transparan.

Peri, adalah satu-satunya kata yang dapat digunakan untuk menggambarkannya. Penampilannya sama seperti Shinozaki Shiori yang berukuran mini.
Kitsune kebingungan, tapi peri itu terus mendekat tanpa sedikitpun rasa takut. Dan setelah beberapa kali berputar diudara, dia mengeluarkan senyum indah.

“Halo, bagaimana keadaanmu!? Siapa namamu?” (Peri)

Peri itu kembali berbicara dengan mengabaikan luka-luka Kitsune. Itu benar-benar salah tempat, dan peri itu terus saja salah membaca suasana. Kitsune memandang peri itu, atau lebih tepatnya, pada bentuk yang membuatnya bernostalgia. Dia membuka matanya dengan lebar.

“Hmm? Hah? Ada apa? Apakah aku mengatakan sesuatu yang aneh?”

“Ah… tidak, bukan itu, tapi…” (Kitsune)

“Benarkah? Baguslah kalau begitu!” (Peri)

Kurasa itu masalah yang tidak terlalu penting, pikir Kitsune. Kelihatannya peri itu tidak terlalu perhatian. Untuk sekarang, peri itu menanyakan namanya, dia memutuskan untuk menjawab. Seorang peri muncul. Mungkinkah ini adalah sesuatu dari dunia lain lagi? Dia berpikir sambil membuka mulutnya.

“Namaku Naginata Kitsune.. aku akan senang jika kamu memanggilku Kitsune-san.” (Kitsune)

“Nama yang menarik! Katsune-san, kan? Senang bertemu denganmu!” (Peri)

Peri itu mengatakan hal itu sebelum dia kembali mengeluarkan senyum indah.

PREV | Table of Content | NEXT

5 Comments Add yours

  1. dikaici says:

    lanjut dong om

    sankyuu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s