I Kinda Came to Another World, but Where’s the Way Home? Chapter 2

Arc 1
Chapter 2 – Sebuah Awal yang tidak diketahui Kitsune

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : Yoraikun

Shinozaki Shiori menemani Kitsune diperjalanan menuju rumah sakit. Meskipun tindakan darurat telah dilakukan kepada Kitsune didalam ambulan, dia masih dalam keadaan dimana dia bisa mati kapan saja, jadi ekspresi mereka yang melakukan tindakan itu terlihat muram sepanjang perjalanan. Bagaimanapun mereka melihatnya, lelaki itu mengalami luka yang sangat serius.

Meski begitu, Shiori terus memegang tangan lelaki itu dengan kedua tangannya, sambil berdoa dengan putus asa untuk keselamatan lelaki itu.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba disebuah rumah sakit. Tapi rumah sakit itu tidak pernah menerima pasien dengan nama Naginata Kitsune. Karena nasib buruk, rumah sakit itu memiliki banyak pasien dengan kondisi parah, dan mereka kekurangan dokter untuk melakukan operasi. Jadi, pada akhirnya Kitsune dibawa kerumah sakit lain.

Shiori menjadi tidak sabar. Jika seperti ini, Kitsune akan mati. Tapi ketidak [[beruntungan Kitsune terus berlanjut. Rumah sakit selanjutnya dan selanjutnya tidak dapat menerimanya, dan anak itu terus berpindah dari tempat satu ke tempat lain dalam kondisi sekarat.

Dan akhirnya, rumah sakit keempat menerimanya. Dia segera dibawa ke ruang UGD, dan mereka mulai bersiap melakukan operasi… tapi apa yang terjadi selanjutnya adalah listrik rumah sakit yang mendadak mati. Alat-alat elektronik dirumah sakit itu berhenti beroprasi. Saat mereka dengan cepat berganti kesumber listrik cadangan yang mereka miliki agar mesin-mesin tetap berjalan, lampu rumah sakit itu tetap mati. Operasi itu dilakukan dengan pencahayaan yang minim, dan kesempatan kerberhasilannya mendekati 0%.

Ditengah-tengah operasi itu, jantung Kitsune berhenti berdetak, dan operasi itu berakhir setelah mereka menyatakan tidak ada cara untuk membawanya kembali. Tidak dapat bergerak dari ruang operasi, Kitsune tidak pernah muncul didepan Shiori lagi.

***

Kitsune-san keluar dari ruang UGD. Wajahnya pucat, dan dia tidak bergerak sama sekali. Saat aku menyentuhnya, dia amat sangat….dingin. Saat kami di perjalanan, dia terus melemah, tapi aku bahkan tidak dapat merasakan sedikitpun rasa panas samar yang Kitsune pancarkan.

….Dia telah mati.

Dia tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan operasi, jadi itu lebih seperti semua berakhir terlalu cepat. Rasanya sebuah lubang telah terbuka di dadaku, dan mulutku tidak mau bergerak seperti yang kuinginkan. Ini seperi tubuhku tidak lagi menjadi miliku.

“…. Saya minta maaf, dengan kemampuan kami… kami tidak sanggup menyelamatkannya.” (Dokter)

Perkataan dokter itu tidak masuk ketelingaku. Aku hanya memandang kosong kearah ekspresi damai yang dimiliki Kitsune-san.

Ini tidak seperti hidupku berkelebat didepan mataku, tapi kenangan singkat tiga bulan yang aku habiskan bersama Kitsune-san masuk ke kepalaku. Itu benar-benar waktu yang singkat. Itu benar-benar waktu yang terlalu singkat, tapi setiap kenangan itu bersinar didalam diriku. Mereka mulai kehilangan warnanya, kenanganku yang berharga…. Kenanganku bersama Kitsune-san.

“Um… silahkan ambil ini.” (Dokter)

“!” (Shiori)

Sebuah sapu tangan diberikan kepadaku. Saat aku mengalihkan pandanganku, dokter itu menatapku dengan penuh kesedihan, dan mataku tercermin dimatanya. Sepertinya aku… menangis.

“…. Apa?” (Shiori)

Saat aku mencoba menggosok tanganku kewajahku, aku menyadari mereka telah dipenuhi air mataku yang meluap. Sepertinya aku mulai menangis tanpa kusadari. Aku menerima sapu tangan yang diberikan dokter itu, dan mengusap mataku. Tapi itu tidak berhenti sama sekali.

“Ap-apa? Ah… maaf…hiks…kenapa….!” (Shiori)

Mungkin karena tubuhku seperti bukan milikku lagi, saat aku mulai berkonsentrasi pada air mataku sendiri, indra tubuhku mulai kembali normal. Sebuah isakan yang tidak ada sebelumnya, keluar dari bibirku.

“Shiori!” (Ayah)

“Shiori-chan!” (Ibu)

Aku mendengar suara langkah kaki yang berlari mendekatiku dari belakang, dan suara-suara yang memanggil namaku. Saat aku berbalik dengan perlahan, aku melihat ayah dan ibuku. Dengan ekspresi khawatir, mereka berlari kearahku.

“Hah..hah… Shiori, apakah kau baik-baik saja? Sebuah panggilan datang dari sekolah, dan kami sangat khawatir…!” (Ayah)

“Apakah kau terluka? Aku dengar kau mengalami sesuatu yang menakutkan…!?” (Ibu)

Ayah dan ibu mengkhawatirkanku. Aku senang dengan hal itu, tapi… bahkan menaikan suaraku untuk menenangkan mereka adalah…hal yang mustahil untukku. Sebaliknya, dengan memeluk ibuku, sesuatu didalamku akhirnya meledak.

Emosi hitam dan gelap yang berputar-putar didalam dadaku mulai mengalir sekaligus. Seiring dengan suara tangisanku…

“UWAAAA…Ib…u… UWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!!!!” (Shiori)

Ekspresiku berantakan. Aku tidak bisa menghentikann air mataku yang mengalir. Aku benar-benar mengeluarkan teriakan yang menyedihkan. Tapi aku tidak dapat hidup tanpa melakukannya. Maksudku, Kitsune-san telah… mati. Dia sudah mati, yang artinya kami tidak akan pernah bertemu lagi.

Salam pagi kami,

makan siang bersama,

diam-diam berbicara satu sama lain dikelas,

bermain bersama sepulang sekolah,

itu semua… telah berakhir.

Hanya tiga bulan. Jika dibandingkan dengan teman yang telah kumiliki sampai sekarang, itu adalah hubungan terpendek yang kumiliki. Tapi bagi diriku, itu mungkin… adalah yang paling penting. Itulah mangapa aku sangat sedih. Itulah mengapa aku mengeluarkan air mata ini.

“Uwa….aa…! Kitsune-san! Jangan mati…!! Kenapa….Kenapa kau harus mati…! Bagaimana dengan janji kita…!? Uwaaaaah!” (Shiori)

Didada ibuku, aku mengeluarkan emosiku yang bercampur aduk. Tidak ada tujuan atau awal atau akhir. Aku hanya mengeluarkan apapun yang ada didalam pikiranku. Dengan emosi yang tidak stabil itu, air mata yang tak dapat kuhentikan terus mengalir keluar.

“Shiori…” (Ibu)

Ibu dengan kuat memelukku. Aku tidak dapat melihat wajahnya, tapi tubuhnya gemetar. Dia juga menangis.

“Kitsune-san… dia menyelamatkanku….! Dia mempertaruhkan nyawanya, dan berjuang untukku…! Tapi! Aku… jika dia akan mati, maka aku tidak menginginkan bantuannya sama sekali!!” (Shiori)

“Shiori!!” (Ayah)

Dari tangan ibuku, sepasang tangan lain dengan kuat menarikku. Itu sangat tiba-tiba, jadi aku dengan panik berbalik. Disana ada, Ayahku, yang selalu membuat wajah ramah, memandang padaku dengan ekspresi serius.

“Shiori… itu adalah sesuatu yang seharusnya tidak kau katakan! Dia berjuang demi dirimu…! Dan didalam pertarungan itu, dia akhirnya menyelamatkanmu! Perasaannya, keberaniannya, mereka bukanlah sesuatu yang dapat disangkal oleh orang yang dia selamatkan!!” (Ayah)

“!!” (Shiori)

“Kau harus hidup untuknya! Kau harus hidup dengan bahagia! Untuk orang yang telah berjuang untukmu… itu adalah harapan terakhirnya.” (Ayah)

Perkataan ayah seolah-olah telah memukulku. Dengan air mata masih mengalir diwajahku, aku sekali lagi melihat Kitsune-san yang tidak bergerak. Aku dengan lambat mendekat kearahnya, dan… mengenggam tangannya yang dingin.

“Kitsune-san…Kitsune-san…Aku baik-baik saja, kau lihat… karena kamu, aku selamat…! Terimakasih…terimakasih…!” (Shiori)

Aku mengumpulkan kata-kata, saat aku merasa lubang didadaku terisi sedikit demi sedikit. Seperti itu, dengan mengucapkan rasa terimakasihku kepada Kitsune-san, aku terpaksa menerima kematiannya… mungkin orang yang yang kehilangan orang yang mereka sayangi harus melihat kedepan disaat seperti ini. Mereka menerima kematian, dan untuk memastikan apa yang orang itu tinggalkan tak pernah mati, mereka harus memikulnya.

Dan jika mereka menghabiskan banyak waktu untuk memikul beban hidup orang itu, maka perlahan, keberadaan orang itu, kebaikannya, perasaannya akan mengisi lubang didadaku.

Dan, ini adalah langkah pertamaku.

“…!…Ini…” (Shiori)

Didalam saku Kitsune-san ada topeng Kitsune* yang kuberikan kepadanya. Mungkinkah dia terus membawanya selama ini? Jika begitu, aku benar-benar… bahagia. Kupikir sebaiknya mengeluarkannya dengan hati-hati… Kitsune-san, jadi kau benar-benar menyukai itu….

*TN: Kitsune disini juga bisa berarti monster (baru sadar :v)

Ah, begitu…

“Aku benar-benar bodoh… baru menyadarinya setelah dia pergi…” (Shiori)

Mungkin karena dia begitu dekat. Waktu yang kuhabiskan bersama Kitsune-san, waktu yang kuhabiskan disampingnya begitu nyaman. Aku selalu berada disampingnya, jadi aku tidak pernah menyadari ini.

Kitsune-san, Aku….

“Selamat tinggal Kitsune-san… Aku mencintaimu…!” (Shiori)

…..Telah jatuh cinta kepadamu.

***

Setelah beberapa saat, Kirsune-san dibawa kekamar mayat. Untuk mengurus beberapa hal seperti menghubungi keluarganya, dan mengisi beberapa dokumen, keluarga Shinozaki tinggal di rumah sakit. Ayah dan Ibu kelihatan masih khawatir padaku, tapi… Itu baik-baik saja. Jika aku terus menangis, Kitsune-san akan menertawakanku.

Saat Ayah dan Ibu berbicara dengan dokter, aku bersandar di sofa yang berada diruang tunggu. Diluar sudah gelap, dan kelihatannya cukup banyak waktu telah berlalu sejak itu terjadi.

“….” (Shiori)

Sendirian, aku menatap langit-langit sambil mengambil nafas dalam-dalam. Setelah menangis agak lama, aku merasa cukup lega. Itu tidak seperti aku benar-benar telah menerima kenyataan bahwa Kitsune-san telah mati, tapi kupiki aku telah cukup pulih untuk menjalani kehidupanku sehari-hari.

“…Apa yang harus kulakukan mulai besok?” (Shiori)

Sekarang saat aku memikirkan itu, orang yang selalu pergi kesekolah, makan siang, dan bermain bersamaku adalah Kitsune-san, dan aku cukup menjauhkan diri dari murid lain… itu terasa canggung.

“Ehehe.. tapi Kitsune-san pasti akan mengatakan sesuatu seperti..” (Shiori)

…Jika berbicara dengan mereka itu susah, maka biarkan mereka yang berbicara kepadamu. Lihat, mereka berbicara denganku setiap hari, kan?

Pada akhirnya, dari pada berbicara, itu lebih seperti mereka mengejekmu, kawan, tapi kupikir itu tergantung bagaimana kau melihat hal itu. Besok, jika aku pergi kesekolah, aku akan mencoba memanggil seseorang. Lelaki… yah, Aku akan menahan diri untuk berbicara dengan laki-laki sementara waktu. Maksudku, sesuatu seperti itu telah terjadi…

“Fufufu, Kitsune-san benar-benar menakjubkan…” (Shiori)

Bahkan setelah dia mati, Kitsune-san yang berada di hatiku terus menyemangatiku. Aku benar-benar terjebak padanya. Memikirkan itu lagi, itu sedikit agak lucu.

Setelah menunggu sebentar, seorang suster muda yang kebingungan mulai berlari kearah dokter. Aku bertanya-tanya apa yang terjadi.

“D-dokter! Ini tentang Naginata Kitsune-kun!” (Suster)

“…Apakah sesuatu terjadi padanya?” (Dokter)

“Hah…hah…tubuh Naginata Kitasune-kun… menghilang!” (Suster)

Eh?

“Apa!? Apa yang kau bicarakan…!?” (Dokter)

“Saya tidak tahu… saat aku memalingkan pandangan darinya sebentar, tubuhnya menghilang tanpa bekas!” (Suster)

Kitsune-san menghilang?

“…Cari itu. Tidak mungkin sebuah mayat dapat bergerak dengan sendirinya… itu pasti berada di suatu tempat! Cari!” (Dokter)

“Y-ya!” (Suster)

Suster dan dokter itu berlari dengan wajah cemas. Aku melihat mereka dengan kebingungan. Pada saat itu, didalam hatiku, firasat aneh muncul. Sesuatu diluar imajinasi kami telah terjadi. Kitsune-san menghilang, dan ini sudah pasti awal dari suatu hal.

“Kitsune-san… Kemana kau lari..?” (Shiori)

Aku bergumam, dengan suara kecil yang orang lain tidak dapat dengar.

Dalam sekejap Kitsune menghilang dari dunia. Dan dengan sekejap dia menyebrang kedunia lain, dan memulai hidupnya yang kedua kali.

***

“Hahaha! Ini bagus. Dia meninggalkan perasaan cinta murni yang sangat bagus! Inilah mengapa kalian para manusia sangat menarik!”

Dinding berwarna putih, lantai, langit-langit, tidak ada jendela, tidak ada perabotan apapun, Di sebuah ruang putih sederhana, sebuah entitas tertentu tersenyum dengan gembira.

Itu mungkin bukan manusia. Dia memiliki bentuk manusia, tapi itu pasti sesuatu yang lain, sesuatu yang berada diluar nalar. Mungkin sebuah konsep, mungkin sebuah hukum. Mungkin makhluk hidup, mungkin makhluk tak hidup. Mungkin sebuah dunia, mungkin juga seorang dewa. Sebuah ketidaktahuan yang besar, sesuatu yang memilki kekuasaan tertentu.

Eksistensi itu menderu dengan tawa didalam ruangan putih yang kosong.

“Ya, ya, tapi kukira sangat disayangkan jika manusia yang menarik mati begitu mudah. Dan sekarang, aku sedikit menginginkan sebuah happy ending. Tapi mungkin tiga menit berikutnya, aku akan membuat bad ending juga… jadi, mengapa kau tidak mencobanya lagi… Kitsune-san?

Penampilannya adalah seorang wanita. Rambut hitamnya sedikit tercampur dengan warna biru, dan itu tumbuh sampai bawah bahunya. Matanya yang biru memberikan kesan nakal, karena mereka terlihat seperti memandang sesuatu yang jauh.

Jari indahnya, yang putih dan ramping tiba-tiba menunjuk kearah depan. Dan diujung jarinya, sesuatu berubah. Tidak, itu bukan sesuatu… takdir milik Kitsune telah berubah.

Kematian berubah menkadi kehidupan.

Kehidupan yang telah berakhir akan terus berlanjut.

“Sekarang, didunia itu, apa yang akan kau lakukan?”

Tidak pasti apakah baik-baik saja untuk menyebutnya wanita, tapi wanita itu… entitas itu dengan bahagia mengoyangkan tubuhnya kekanan dan kekiri sambil menaikan tepi mulutnya.

Dan disana, eksistensi yang lain muncul. Apa yang muncul adalah seorang gadis. Dia memiliki suasana rapi disekitar dirinya, dan penampilannya terlihat seperti berumur 14 tahun. Rambut hitam lurusnya memanjang sampai kelutut.

“Jadi kau masih memiliki urusan.”

“Ara… um, Michiko-chan, lama tak jumpa.”

“Itu bukan namaku.”

“Tapi Sakiko-chan, kau tidak pernah memberitahuku siapa namamu.”

“Itu juga bukan Sakiko. Dan tunggu, kau tidak bisa hanya menambahkan –ko kesemua hal dan berpikir itu akan berhasil.”

“Oh, mungkinkah kau memiliki nama asing?”

Gadis yang muncul itu adalah, seperti seseorang (meskipun bukan manusia) yang sudah ada disini sejak awal. Dia adalah utusan, atau mungkin bawahan dair eksistensi seperti dirinya. Jika kesalahan besar terjadi, dia adalah eksistensi yang dapat disalahkan oleh yang lain, seperti berkata, “Sekretaris melakukan semuanya”. Posisi semacam itu.

“Lebih penting lagi, kau seenanya pergi dan melakukan sesuatu lagi, kan?”

“Ya, aku membangkitkan seorang manusia, dan mengirimnya ke dunia lain.”

“Apakah kau pikir sesuatu seperti itu diijinkan?”

“Siapa yang akan menghentikannya? Aku adalah yang terkuat, dan aku sangat penting, kau tahu.”

“Aku.”

“Begitu…”

Wanita ini menjilat bibirnya saat berdiri. Gadis tadi merasakan sesuatu yang buruk, dan mundur kebelakang.

Tapi karena beberapa alasan, wanita itu telah berdiri dibelakangnya. Dia memegang bahu ramping gadis itu dengan kuat. Mata wanita itu mengeluarkan cahaya yang mencurigakan dan berbahaya, seolah-olah dia adalah binatang yang telah menemukan mangsanya.

“Ap-apa yang kau coba lakukan?”

“Tidaktidaktidak, kupikir akan bagus jika aku memnti izin kepada Sachiko-chan.”

“Aku bukan Sachi-ko… dan lagi, apa yang kau… hya!?”

Wanita itu menjilat telinga gadis tadi. Sensai itu menyebabkannya melompat kedepan dengan sekuat tenaga. Wajahnya memerah, dan dia memegang telinganya sambil menatap wanita itu.

“Sekarang, bagaimana jika aku meminta ijin secara langsung kepada tubuhmu?”

“Ap…apa…!?”

“Terimakasih untuk makanannya ♪.”
Wanita itu berkata sambil bergegas menuju gadis itu. Dan beberapa saat setelah itu, teriakan gadis tadi menggema didalam ruangan putih itu

(Nah… Kitsune-kun, Aku telah melakukan sebanyak ini untukmu, jadi…. Apakah kau akan menghiburku?)

Wanita itu memiliki senyum geli diwajahnya saat memikirkan hal itu.

PREV | Table of Content | NEXT

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s