I Kinda Came to Another World, but Where’s the Way Home? Chapter 1

Arc 1
Chapter 1 – Apa yang Kitsune Tinggalkan

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : Yoraikun

Gelap gulita.

Disini gelap, dan aku tidak dapat merasakan apapun. Itu tidak seperti mataku tertutup, dan aku berani bertaruh kalau apa yang kulihat bukan kelopak mataku. Kupikir mungkin aku sudah mati. Aku berpikir bahwa aku tak ingin pergi, tapi pada akhirnya, dengan keadaan dan luka itu, kupikir mati adalah hal yang wajar. Aku mengingkari janjiku. Aku ingin pergi ketaman bermain. Sekarang saat aku benar-benar memikirkan hal itu, bukankah itu adalah sebuah kencan? Terlebih lagi, Kencan dengan seorang gadis cantik. Hidupku selalu melakukan ini padaku kapanpun ada hal-hal yang terlihat baik.

— Aku membuatnya menangis…

Apa yang tertinggal di ingatanku, adalah adegan dimana wajah Shiori belinang air mata. Perasaan air matanya yang hangat menetes satu demi satu kewajahku. Perasaan itu masih tertanam kuat diingatanku.

“Kitsune-san… kenapa… jangan tinggalkan aku…?” (Shiori)

Aku mendengar sebuah suara. Itu adalah Shiori. Tapi disini masih gelap gulita, dan ini tidak terasa seperti au memiliki tubuh, jadi aku tidak dapat menggerakkan jariku.

Jika aku membuka mataku, mungkin aku bisa melihat wajah Shiori-chan lagi, tapi aku tidak merasakan sensasi kelopak mata yang dapat kubuka.

Jika aku mengangkat tanganku, mungkin aku dapat menyentuh Shiori-chan, tapi aku tidak memiliki tangan untuk diangkat.

Jika aku membuka mulutku, maka aku mungkin dapat membuat percakapan kecil seperti biasa dengannya, tapi aku tidak memiliki mulut untuk mengucapkan kata-kata.

Manjengkelkan, yah, itu menjengkelkan. Bagiku yang tidak dapat membuat seorang wanita tersenyum… lelaki macam apa aku ini?

“Kitsu…san! Ki— -n….!” (Shiori)

Suaranya semakin menjauh. Ah, kelihatannya aku benar-benar mati sekarang. Ini terasa seperti aku tenggelam kedalam laut yang dingin dan dalam. Jadi ini kematian… ini adalah pertama kalinya bagiku, tolong jangan terlalu kasar. Oh tunggu, aku tidak memiliki mulut untuk mengucapkan itu.

Yah, hidupku tidaklah menyenangkan… tapi ku rasa pada akhirnya, aku melindungi sahabatku jadi itu terasa agak sesuatu. Tapi karena aku membuat sahabatku menangis, kurasa itu tidak ada artinya. Itu adalah kepuasan diri dan pengorbanan diri.

Tapi sepertinya ini sudah cukup.

Kesadaranku benar-benar larut kedalam kegelapan dan menghilang

***

Dari saat dia lahir, Naginata Kitsune bukanlah seseorang yang disukai orang lain. Dari hari kelahirannya, dia tidak pernah merasakan kehangatan pelukan seorang ibu. Dan semua itu disebabkan karena Dia bukan seorang anak yang ingin dilahirkan

Saat ibunya melahirkannya, dia adalah seorang murid SMA berumur 17 tahun, dan tidak diketahui siapa ayahnya. Mengapa wanita seperti itu melahirkannya? Alasannya karena ibunya hidup didalam lingkungan prostitusi anak SMA. Keinginannya untuk memiliki uang membuatnya memakai pakain terbuka untuk menarik pria paruh baya, dan dia mendapat 【 Bayaran 】 yang ditukar dengan tubuhnya.

Tentu saja, dia tidak sedikitpun ingin memiliki anak, jadi dia menyiapkan pencegah kehamilan, tapi pria lain dengan paksa mendekatinya, dan pada akhirnya, dia hamil. Alasan dia tidak tahu siapa ayah anaknya karena matanya ditutup dan diikat saat itu terjadi. Dengan kata lain dia diperkosa.

Dia mencoba melakukan aborsi. Dia berpikir membesarkan anak itu menyusahkan, dan dia juga tidak menyukai anak kecil. Tapi orang tuannya tidak mengijinkan itu. Mereka berkata anak itu tidak bersalah, dan mereka tidak mengijinkannya membunuh anak itu. Karena anak itu dilindungi oleh orang tua sang ibu, Kitsune lahir dengan selamat.

Dan Ibu yang melahirkannya, meskipun dia dilahirkan dari rahimnya sendiri, ibunya menolak untuk membesarkannya. Orang yang membesarkan anak itu adalah orang tua wanita itu—Kakek dan Nenek Kitsune.

Dia hanya dibesarkan dengan penuh cinta sampai dia memasuki TK.

Setelah dia masuk TK, suasana yang dimilikinya tiba-tiba berubah. Dia adalah anak kecil yang selalu tersenyum, tapi dia tiba-tiba berhenti tersenyum. Neneknya merasakan keanehan itu, dan bertanya kepadanya, tapi dia hanya tertawa kecil, dan tidak mengatakan apapun.

Dia telah menerima pembulian. Karena beberapa alasan, anak yang lain membencinya, dan bahkan para guru menjaga jarak darinya. Dia selalu sendiri, ditinggalkan, dan dia bahkan meneriam kekerasan dari anak-anak yang tidak bisa menahan diri. Tidak ada satu guru-pun yang melindunginya dari mereka. Setiap hari, memar ditubuhnya semakin bertambah, dan kata-kata serta senyumannya mulai berkurang.

Hari-hari seperti itu terus berlanjut, dan saat dia menjadi anak yang lebih tua, dia kehilangan kakek dan neneknya.

Penyebabnya adalah kecelakaan. Saat mereka sedang berada dijalan untuk berangkat kerja, dan dia sedang bermain di TK, sebuah kereta tergelincir, dan meluncur menuju orang-orang yang menunggunya distasiun. Bagi mereka, kematian datang dengan cepat.

Setelah itu Kitsune diambil oleh Ibu yang membuangnya. Pada saat itu, ibunya berumur 22 tahun, dan telah meninggalkan dunia prostitusi, sekarang dia mendapat biaya hidup dengan bekerja paruh waktu.

Dia telah kehilangan kakek dan neneknya, dan uang asuransi yang mereka punya diberikan kepada ibunya, jadi Kitsune dapat memasuki sekolah SD. Alasan kenapa ibunya mengijinkannya pergi kesekolah adalah untuk menjaga citranya di dalam masyarakat.

Saat dia menghadiri sekolah, ekspresi dan semangatnya terus menurun. Kematian Kakek dan Nenek yang menunjukan cinta kepadanya, dan dimulainya kehidupan bersama ibu yang membuangnya, adalah penyebab utama stress mentalnya.

【 Mengapa aku melahirkan anak sepertimu… 】

Ibunya sering mengucapkan kata-kata itu. Ibunya tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik, dan pada akhirnya Kitsune yang mengurusi seluruh pekerjaan rumah. Tentu saja, pada awalnya, dia terus melakukan kesalahan dan memancing kemarahan ibunya. Jika dia memasak makanan yang tidak enak, dia akan dipukul, dan jika dia memecahkan sesuatu, dia juga akan dipukul. Karena perputaran itu, trauma masa Tknya bangkit, saat area dibawah bajunya mulai dipenuhi dengan luka memar sekali lagi. Dia tidak dapat mengingat berapa kali dia telah menangis.

Di SD, mereka tidak menggunakan kekerasan, tapi karena beberapa alasan yang tak dapat dimengerti, dia selalu dijauhi, dan di pergunjingkan dibelakangnya. Tekanan mental mempengaruhi tubuhnya, dan saat disekolah, dia selalu sendirian.

Seseorang yang terus mendukungnya adalah seorang guru laki-laki. Guru itu akan memanggilnya setiap hari dan menyemangatinya.

【 Dengar, jangan selalu melihat kesusahan didalam hidup ini. Kau hanya harus melihat hal yang menyenangkan darinya. 】

【 Apa? Orang-orang berbicara dibelakangmu? Jangan pikirkan itu, jika kau mengabaikannya, maka itu hanya akan menjadi omong kosong anak-anak yang membicarakan sesuatu yang tidak mereka tahu. 】

【 Hei… luka-luka itu!? Siapa yang melakukannya!? 】

Apapun yang terjadi pada Kitsune, dia akan mengambil inisiatif dan bertindak. Dia sangat tulus, berdarah panas, dan tipe guru yang dicintai semua orang. Makanya Kitsune mengikuti nasehatnya dan tidak menghiraukan para penggunjing, melihatnya dan tertawa karenanya. Dia bahkan mulai melatih tubuhnya sampai tingkat tertentu. Dia belajar mengatakan kata-kata provokasi, tapi dia pikir, itu semua adalah bagian dari pertumbuhannya.

Tapi pada suatu saat, perkataan dari ibunya menusuk hatinya.

【 Senyummu itu menjijikan. 】

Dia tidak tau mengapa. Namun, kalimat sederhana itu menusuk sangat dalam di hatinya. Setelah itu, Kitsune mulai ragu untuk tersenyum. Kata ‘menjijikan’ mencegahnya untuk tersenyum. Tapi jika dia tidak tersenyum, dia akan mulai membuat guru itu kahwatir. Dengan emosi seperti itu, kata-kata ibunya, dan perasaan untuk tidak membuat guru itu khawatir, lelaki itu bagaikan memakan buah simalakama, dan setelah itu, Kitsune mulai tersenyum tapi bukan senyum yang sesungguhnya. Sebuah senyum tipis yang samar sering terbentuk diwajahnya.

Disaat dia seperti itu, dia memberikan perasaan tidak nyaman kepada siswa lain, dan selama masa SD, dia menjadi terget pembulian.

Saat dia lulus dan masuk ke SMP. Itu adalah titik perubahan dalam hidupnya.

Dia berada jauh dari guru yang mendukungnya, dan gosip tentangnya mulai menyebar dan menyiksanya. Dia hanya ingin sebuah tempat dimana dia tidak akan mengganggu orang lain, dan kapanpun sekolah berakhir, dia akan mengurung dirinya didalam perpustakaan. Dia membaca banyak buku, novel, essai, manga, thesis, buku sejarah, buku luar negeri, majalah, dan album; dia membaca semuanya.

Dan dengan melakukan itu, lelaki yang dipanggil Kitsune itu mulai berpikir. Mengapa dia diganggu? Dan satu jawaban muncul.

【 Tidak ada alasan khusus. Itu hanyalah pengucilan dan pembullian yang dilakukan manusia untuk membuat pertemanan di antara mereka. 】

Yang artinya dia telah dikorbankan untuk membentuk pertemanan oleh orang lain. Itulah kenapa Kitsune menyerah. Dan jika kau bertanya dia menyerah terhadap apa: Untuk melawan pembulian. Tidak ada alasan. Tidak ada penyebab. Tidak ada gunanya

Mereka hanya kurang menyukainya, jadi mereka memilihnya.

Dia hanya terlihat agak lemah, jadi mereka memilihnya.

Agak, agak, agak, benar-benar tidak ada alasan disana, dan Karena kitsune, dengan senyum samarnya, yang agak menjijikan, mereka mengganggunya. Dia tidak dapat melakukan apa-apa tentang hal itu.

Makanya…

Dia memilih untuk menerima semuanya. Kenyataan bahwa dia dibully hanya menjadi salah satu bagian hidup yang diterimanya. Dan dengan melakukan itu, dia menghapus anggapan bahwa pelecehan itu menyakitkan dari pikirannya.

Sejak saat itu, Keseraman dari senyum tipisnya meningkat… dan Kitsune tidak pernah lagi pergi keperpustakaan.

Dihari berikutnya, suasana yang menyelubungi pembulian berubah. Kitsune mulai menerima pelecehan sabagai sesuatu yang harus diterimanya. Dia terus menunjukan senyum yang meresahkan, dia tertawa pada gosip yang tak berarti sambil dia membuktikan pemikirannya. Tidak ada hal yang lebih menjijikan.

Dengan itu, pembulian berhenti. Itu tidak seperti Kitsune memasuki lingkaran pertemanan. Alasan bahwa dia telah dikucilkan telah berubah.

Apa yang terlahir kemudian adalah perasaan bahwa 【 Aku tidak ingin berurusan dengan laki-laki itu 】.

Kitsune menjalani kehidupan SMP dengan senyum tipis yang terus muncul diwajahnya. Dan itu juga sama saat dia sedang dirumah. Dengan cara yang sama, ibunya tidak lagi mau berurusan dengannya. Dia bahkan tidak menyentuh makanan yang dibuat untuknya. Tidak ada percakapan diantara mereka, dan sebaliknya, Ibunya mulai takut kepadanya. Sebagai ganti untuk tidak disukai orang—dia juga tidak akan dibenci orang lain.

Semua orang hanya ingin tidak terlibat dan mengacuhkan penderitaannya

***

SMA.

Satu , dua tahun terlewati dengan cara yang sama dengan masa SMPnya. Perasaan jijik dari senyum tipis Kitsune mempengaruhi teman-teman, kakak kelas, adik kelas, dan semua orang, memberikan tekanan mental.

Dan ditahun terakhir masa SMA-nya… mereka mulai menggosipkan-nya lagi. Tekanan yang berada disekelilingnya akhirnya tak dapat dikendalikan lagi. Bahkan jika mereka ingin tetap bersikap acuh, mereka akan jatuh dalam kepanikan jika mereka tidak menemukan tempat untuk melampiaskan stres mereka. Kitsune menanggapi gosip itu dengan senyum tipis sama seperti biasanya. Dia dengan senang hati menerima itu sabagai bagian dari dirinya. Yang hanya menambah stres yang menumpuk pada teman-temannya.

 

Seseorang yang masuk kedalam ruang kelas adalah Shinozaki Shiori

Dia adalah orang yang agak aneh, dia sangat pintar membaca suasana untuk menebak perasaan orang lain. Dilingkungan yang ingin tetap tidak terlibat dengan Kitune, dia tidak punya piklihan lain selain membencinya, dia tertarik dengan anak itu. Dia tidak mecoba melawan pembulian, dan dia benar-benar tidak melakukan apapun untuk menghentikannya, tapi untuk beberapa alasan dia tidak terlihat terpojok. Keadaan yang bertentangan itu membuatnya mendekati Kitsune.

Dengan melibatkan dirinya dengan Shiori, anak itu secara perlahan mulai berubah. Setidaknya, dari pandangan orang yang menganggapnya menakutkan, dia telah benar-benar berubah.

Hanya saat Kitsune berbicara dengan Shiori… senyumnya terlihat berisi kesenangan.

Mereka berteman dengan baik sehingga banyak yang curiga kalau mereka berpacaran. Itulah mungkin yang menyebabkan status quo itu hancur, dan lingkungannya mulai berubah. Mereka mencoba membangun pertemanan sekali lagi.

Naginata Kitsune adalah seseorang yang selalu dibenci.

Shinozaki Shiori adalah gadis baik yang selalu disukai oleh orang lain.

Orang disekitar mereka melihat orang yang paling dibenci berteman dengan gadis baik yang mereka kagumi, dan sebagai akibatnya stres kambali menumpuk saat mereka berdua menjalani hari-hari mereka dengan bahagia… itu tak dapat dimaafkan. Mereka tidak bisa mengijinkan itu, jadi emosi yang mereka pendam selama ini meledak.

Sabagai hasilnya, Kitsune terbunuh.

Kehidupan seorang anak yang dikenal sebagai Kitsune terhapus, dikeluarkan dari dunia demi pertemanan dan nafsu mereka. Satu-satunya orang yang meneteskan air mata adalah Shiori. Semua orang bergembira. Mereka gembira karena orang yang telah membuat mereka takut akhirnya menghilang.

— Tapi bahkan setelah kematian Kitsune, mereka tidak merasakan bahwa mereka telah terbebas darinya.

Seluruh kehidupan Naginata Kitsune. Setelah lima tahun kehidupan penuh kasih sayangnya, setelah tahun-tahun masa SMP dan SMA dimana dia dibenci dan dikucilkan, setelah dua tahun masa SMA dimana dia ditakuti, dan bahkan setelah tiga bulan terakhir dimana dia dibenci yang pada akhirnya membunuhnya, pada akhirnya, dia diantar dengan penuh cinta oleh teman dekatnya. Tanpa penyesalan, dia mati setelah melindunginya. Dia tidak akan mengharapkan akhir yang lebih bagus dari itu.

Oleh karena itu orang yang berada disekitarnya tanpa sadar terus teikat dengan anak itu.

Mereka mulai menyadari untuk apa mereka melakukan pembulian. Menggunakan alasan bahwa dia yang salah karena tidak mengatakan apapun, mereka dengan putus asa membenarkan tindakan mereka. Mereka adalah pemenang, dan mereka adalah orang yang lebih baik, itulah sebabnya.

Kitsune tersenyum sapai saat terakhir, mati dengan kepuasan hidup. Ketidak pedulian dan pengucilan yang mereka lakukan pasti telah membunuhnya. Tapi dengan logika mereka, itu hanyalah kekalahannya. Alasannya karena sampai akhir, Kitsune tidak pernah hancur karena pelecehan yang mereka lakukan. Karena mereka tidak mempu benar-benar mengucilkan Kitsune, mereka mengakui kekalahannya.

Dan itulah mengapa, dengan membunuhnya, perasaan bersalah yang lahir karena logika mereka sendiri adalah sesuatu yang terpaksa mereka tanggung. Mulai sekarang, mereka telah terikat dengan keberadaan Naginata Kitsune selama sisa hidup mereka.

***

Saat aku membuka matau, cahaya menyinariku, mengaburkan pandanganku, dan saat aku mencoba untuk bersantai, rasa sakit menyebar keseluruh tubuhku. Dan hal selanjutnya yang kurasakan adalah suara angin yang memasuki telingaku, dan rumput yang kurasakan berada dibawah punggung dan belakang kepalaku. Inderaku mulai pulih satu per satu. Aroma tumbuhan, rasa dingin, udara yang bersih, debaran jantungku, tubuhku yang hangat, perasaan… bahwa aku masih hidup.

“…. Dimana ini?” (Kitsune)

Saat aku mencoba berbicara, apa yang kudengar adalah suara akrab yang kumiliki. Kupikir aku telah mati, tapi kelihatannya aku masih hidup. Sekelilngku kelihatannya adalah hutan yang berisi banyak pohon dan tanaman. Saat aku melihat kelangit, kelihatannya aku terbaring diatas rumput. Ini benar-benar aneh.

“….Hmmmm…” (Kitsune)

Aku mecoba mengangkat tubah bagian atasku, dan untuk memahami keadaan, Aku meregangkan tubuhku yang kaku, Suara “krek” terdengar, dan aku mulai bisa memahami situasiku. Kurasa aku akan memeriksa beberapa hal.

Aku memakai pakaian sekolah, dan di ikat pinggangku ada sebuah pisau yang kukenali. Dan, disakuku ada topeng yang diberikan oleh Shiori kepadaku.

“….. Shiori-chan menangis, kan….” (Kitsune)

Apa yang kuingat adalah suara bergetarnya memanggilku saat aku jatuh kedalam kegelapan. Karena aku membuatnya menangis, aku merasa sedikit bersalah.

Tapi dengan ini, karena aku masih hidup, aku harus pergi mencarinya. Yah, pertama, aku akan senang jika seseorang mau menjelaskan keadaan ini kepadaku.

“Baiklah kalau begitu.” (Kitsune)

Aku menggantung topeng yang diberikan Shiori bagian samping kepalaku dan bermain dengan pisau itu saat aku bangun. Sekarang, aku sebaiknya bergerak. Aku membaca banyak buku diperpustakaan, jadi aku tanpa sadar mempelajari beberapa informasi untuk bertahan hidup, dan kurasa itu salah satunya akan berguna.

Dengan itu, didalam hutan yang tidak kuketahui, aku mulai berjalan tanpa arah.

PREV | Table of Content | NEXT

4 Comments Add yours

  1. cucundoweh says:

    Gan, kalau boleh saran, yang versi mobile untuk wordpress ini, halaman berandanya perlu dirapikan sepertinya, soalnya gak ada page break-nya (CMIIW) jadi pas buka halaman beranda, masing-masing post terpampang penuh semua, lumayan capek untuk nge-scroll ke bawah kalau mau cari post-post sebelumnya… (apalagi HP ane, ya… gitu deh)
    Untuk terjemahan, secara keseluruhan sudah bagus… Semangat ya gan…

    Like

    1. Zen Quarta says:

      Iya ya? Soalnya baru kemarin saya aktifkan theme mobilenya dan belum sempat di cek… Ok nanti saya perbaiki…

      Like

Leave a Reply to cucundoweh Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s