I Kinda Came to Another World, but Where’s the Way Home? Prolog

Arc 1
Prolog

Penerjemah : Zen Quarta
Editor : –
Sumber English : Yoraikun

Di sebuah SMA, di kota tertentu, ada apa yang bisa kau sebut anak yang sering diganggu.

Tapi walaupun kau menyebutnya begitu, itu tidak seperti dia akan menemukan coret-coretan diseluruh mejanya atau alat-alat tulisnya dicuri atau sejenisnya. Dia tidak dilukai secara fisik, atau diganggu dengan beberapa cara yang biasanya. Dia hanya dikucilkan dan paling buruk mendapat perkataan kasar. Tanpa sahabat atau seseorang yang dapat dipanggil teman. Dan dalam situasi itu, dengan beberapa kekasaran kecil yang ia terima setiap hari, tidak ada seorangpun yang memperdulikannya.

Tapi sambil menghadapi hari-harinya yang kejam, murid itu tetap datang kesekolah setiap hari. Terlebih lagi, dia datang lebih cepat dari pada murid lainnya. Saat ditanyai alasannya, lelaki itu memberikan jawaban yang sesuai dengan seorang murid yang rajin.

— Penghargaan kehadiran sempurna terlihat agak menarik, bukan?

Itulah jawabannya. Karena alasan kecil itu, dari awal SMA sampai dua tahun lebih yang telah ia lalui, dia terus datang setiap hari. Seolah-olah dia tidak menerima kekejaman sedikitpun.

“Ah… hari ini, kita akan menerima seorang murid pindahan.” (Guru)

Dan dikelas yang lelaki itu, telah habiskan seluruh harinya didalamnya, seorang murid pindahan muncul.

Guru setengah baya yang memberikan kesan lesu dan terlihat jika jenggotnya dapat cocok dengannya-mulai menulis nama murid pindahan itu dipapan tulis, sambil menyuruhnya masuk kedalam.

Dipapan tulis terdapat huruf yang dibaca 【 Shinozaki Shiori 】. Seperti yang dapat diduga dari namanya, murid yang masuk kedalam ruangan mengenakan seragam perempuan. Dia memiliki rambut lurus samapi kepunggung, mata lebar, dan sebuah senyum yang sangat indah. Dia adalah murid perempuan yang biasa disebut Bishojo. Dan akibatnya, para pria dikelas terpesona oleh senyumannya dan para wanita dengan jujur berpikir bahwa gadis didepan mereka terlihat cantik.

(Dia cantik…)

Sebuah senyum tipis muncul di wajah anak yang sering diganggu itu saat dia memikirkannya.

Dan murid perempuan yang baru masuk itu, tiba-tiba tertawa sambil menundukkan kepalanya. Dia mulai memperkenalkan diri.

“Saya dipindahkan dari Kanagawa*, dan nama saya adalah Shinozaki Shiori! Saya harap kita bisa akrab!” (Shiori)

*TN : Kanagawa adalah perfektur didekat Kantou.

Itu adalah sebuah perkenalan yang singkat, tapi senyuman dan suara indahnya cukup untuk membuat murid dikelas terpesona dengannya. Dan setelah kesunyian sesaat, para murid mulai bertepuk tangan untuk menyambutnya.

“Ah, yah, yah, tenang… kalian dapat bertanya nanti. Um, tempat duduk Shinozaki adalah… Sialan… disamping Naginata.” (Guru)

“Um, ah ya. Tempat duduk kosong disebelah sana, kan!” (Shiori)

Naginata adalah nama belakang dari murid yang sering di ganggu itu. Shiori meletakkan tangannya didahi seakan-akan dia melihat sesuatu dari jauh, tempat duduknya, yang telah disiapkan sebelumnya, dan tempat duduk anak yang sering diganggu itu terlihat. Seluruh murid dikelas sedikit tidak senang karena murid yang sering diganggu itu dapat duduk disamping gadis cantik, dan mereka mulai menatap langsung kearahnya. Tapi mereka berpikir itu sia-sia, lagi pula merekalah yang memindahkan meja anak itu, jadi mereka tidak dapat memprotesnya. Dan Shinozaki berjalan dengan cepat melewati tatapan itu, dan duduk disamping anak yang sering diganggu itu yang terletak dibagian paling belakang, dan berjarak satu meja dari jendela. Gadis itu duduk tepat samping jendela*.

*TL : Tempat duduk yang biasa ditempati oleh MC.

“Um, Saya Shinozaki Shiori, senang bertemu denganmu!” (Shiori)

Shinozaki mengatakan itu sambil tersenyum ramah kepada laki-laki yang duduk didekatnya. Pandangan para murid sekarang tertuju langsung padanya. Tapi tanpa memperdulikan hal itu, dia membalas dengan sedikit senyum diwajahnya.

“Yah, Namaku Naginata Kitsune. Selain mengincar kehadiran sempurna, aku hanya murid rajin biasa.” (Kitsune)

Para murid melihatnya seperti jika dia adalah sesuatu yang menjijikan.

***

Sekitar dua minggu kemudian.

Murid pindahan Shinozaki Shiori telah betah dikelas dan menjadi sangat populer. Saat waktu istirahat tiba, orang-orang akan berkumpul dimejanya, dan saat pulang sekolah, mereka selalu mengajaknya jalan-jalan keluar. Selain itu, karena penampilannya, dia bahkan menerima banyak pernyataan cinta dari para lelaki, tapi tidak ada tanda-tanda dia pergi keluar dengan seorangpun sampai saat ini.

“Pagi Kitsune-san!” (Shiori)

“Selamat pagi, Shiori-chan. Kau terlihat bersemangat hari ini. Sangat mengganggu.” (Kitsune)

“Aha! Kau sangat dingin!” (Shiori)

Itu adalah percakapan rutin yang kami lakukan. Naginata bisanya hanya dipanggil Kitsune. Mungkin karena sikap acuhnya, dan sifatnya yang tidak terpengaruh setelah diganggu, dia selalu dikaitkan dengan monster tua.

Tapi untuk murid pindahan, yang tidak mengetahui hal-hal seperti itu, nama itu digunakannya sebagai nama panggilan sederhana, dan dia mulai memanggilnya begitu.

*TL Note: Nama depan Naginata (桔 音) tidak memiliki arti khusus, tapi itu bisa dibaca Kitsune.

“Apakah kau mengerjakan PR kemarin? Guru matematika itu akan marah jika kau melupakan itu, kan!” (Shiori)

“Aku mengerjakannya. Semua jawabannya adalah 2x.” (Kitsune)

“Hei, tidak mungkin…. Kau benar-benar menulis 2x disemua jawaban!?” (Shiori)

Itu hanyalah percakapan biasa tanpa omong kosong, wanita yang memperlakukannya dengan baik, tidak seperti murid lainnya, terasa sedikit spesial.

Meski begitu, itu tidak seperti dia sedang jatuh cinta atau sejenisnya. Wanita itu hanyalah orang yang bisa dia panggil teman.

Dan untuk Shiori, Kitsune juga sedikit spesial. Dari sikap murid lain kepadanya, Shiori tahu bahwa dia adalah target dari beberapa pembulian. Disekolah asalnya, juga ada pembullian, dan orang sering berkonsultasi kepadanya.

Tapi tidak seperti korban pembulian yang dia tahu, Kitsune tetap tersenyum seperti tidak ada apapun yang terjadi padanya.

Dan karena perbedaan kecil itu, Shiori menganggapnya sedikit spesial.

“Ah, sekarang aku baru ingat, Kitsune-san, bukannya kau tinggal disebelah rumah baruku?” (Shiori)

“Aku yakin rumah sebelahku baru saja ditempati orang lain beberapa hari yang lalu.” (Kitsune)

“Aku benar-benar melihatmu keluar dari rumah sebelahku!” (Shiori)

“Begitu. Maka rumahku benar-benar berada disamping rumahmu.” (Kitsune)

Shiori tersenyum seperti bunga matahari saat dia melanjutkan percakapan dengan Kitsune. Wanita itu terlihat senang, dan lelaki itu terus memiliki senyum tipis diwajahnya. Situasi itu terasa sangat menyenangkan.

“Jadi, mulai hari ini, bisakah kita pulang sekolah bersama? Mungkin berangkat sekolah juga!” (Shiori)

“Tentu saja. Tidak ada yang lebih baik selain pergi kesekolah bersama dengan wanita cantik. Laki-laki diseluruh dunia, rasakan itu sialan.” (Kitsune)

“Wa-wanita cantik? Ara, kau membuatku malu.” (Shiori)

Shiori menutup muka merahnya dengan satu tangan. Penampilannya terpaku kedalam hati lelaki yang melihatnya. Kitsune menjadi sasaran pandangan iri dan jijik, dan bahkan beberapa gosip mulai tersebar dibelakangnya.

Tentu saja, gosip buruk tentangnya juga mencapai telingan Shiori, dan dia diberitahu untuk menjauh darinya untuk beberapa saat.

Tapi Shiori mengabaikan perkataan itu dan terus berada disamping Kitsune. Tindakannya hanya menambah kemarahan disekitarnya. Tapi dia tidak pernah menjadi sasaran ejekan. Dan ejekan itu selalu mengarah kepada Kitsune.

Dan tidak butuh waktu lama bagi keduannya dikucilkan dari kelas.

***

Tiga bulan setelah Shiori pindah, hubungan mereka telah berkembang dari teman sebangku menjadi sahabat baik. Mereka datang dan pulang sekolah bersama, dan mereka makan siang bersama pada saat istirahat.

Pada saat ulang tahun Kitsune, Shiori memberinya sebuah topeng, dan untuk Shiori, Kitsune memberinya buku catatan. Sudah biasa bagi mereka berdua untuk bermain bersama.

“TL Note: Shiori dapat diartikan sebagai buku catatan.

Rumor bahwa mereka berdua pergi berkencan menyebar disekitar sekolah. Bagi Kitsune dan Shiori hari-hari itu penuh dengan kebahagiaan. Itu adalah puncak kehidupan sekolah.

Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.

Pada hari itu, Kitsune mengalami demam. Untuk menjaga kehadirannya, dia memaksakan dirinya untuk pergi kesekolah bersama Shiori seperti biasa. Sahabat baiknya itu dengan mudah dapat menyadari keanehan yang terjadi padanya. Alasan Shiori tidak menghentikannya karena, selain mengejar kahadiran sempurna, tidak ada hal lain yang menarik bagi Kitsune.

“Apakah kau baik-baik saja, Kitsune-san?” (Shiori)

“Aku baik-baik saja, Shiori-chan. Aku cukup bersemangat, dan itu tidak seperti demamku lebih tinggi dari 38 derajat. Aku tidak merasa dingin atau mual atu apapun, dan bukan berarti aku bisa bolos sekolah.” (Kitsune)

Memalingkan matanya dari Shiori yang khawatir, Kitsune membuka loker sepatunya sambil mengatakan itu.

“!” (Kitsune)

“Ada apa?” (Shiori)

“Tidak, bukan apa-apa.” (Kitsune)

Dia mengeluarkan sepatu indoornya dan meletakkan surat yang ada diloker kedalam sakunya. Dia dengan cepat masuk kedalam kelas dan duduk dikursinya. Shiori mengikutinya dan duduk disampingnya.

“… Jangan melakukan hal yang mustahil, ok?” (Shiori)

“Aku tidak pernah mencoba melakukan hal yang mustahil selama hidupku.” (Kitsune)

Kelas dimulai setelah itu. Guru setengahbaya mulai menjelaskan seperti biasa, dan para murid dangan tenang membuka buku catatannya. Ada banyak diantara mereka yang berbicara diam-diam, tapi waktu berlalu dengan cukup tenang.

Dan pada saat itu, Kitsune mengeluarkan surat dari sakunya dan membukanya. Isinya menyuruhnya untuk datang ke gudang alat olahraga sepulang sekolah. Kelihatannya orang-orang yang menahan diri untuk menghajarnya akhirnya akan menggunakan kekerasan. Kitsune meremas surat itu menjadi bola dan mengembalikannya kedalam sakunya.

( … Kelihatannya keberuntunganku sangat buruk hari ini. Tidak, mungkin aku telah dikutuk atau sejenisnya.)

Dia mengatakan lelucon itu didalam hatinya, saat dia kembali mencatat pelajaran.

Dan karena kemalangan seseorang datang dengan cepat, sekolah telah berakhir tanpa dia sadari. Dia bangkit untuk pulang dengan Shiori seperti biasa, tapi Shiori tidak ada disampingnya. Dia mencoba menebak kemana dia pergi, tapi nyatanya dia tidak ada dia tidak ada.

Dia memiliki firasat buruk. Dan dia menduga apa yang sedang terjadi.

“…. Mereka sebaiknya tidak….” (Kitsune)

Dia bergumam dan dengan cepat menggerakkan kakinya ketempat yang ditujunya. Tempat pertemuan yang tertulis di surat itu: Gudang Alat Olahraga.

 

“Maaf mengganggu.” (Kitsune)

Gudang itu dekat dengan gerbang masuk, jadi dia dapat kesana tanpa perlu banyak waktu. Saat dia masuk, Dia melihat Shiori berada disana.

Tapi tangan dan kakinya diikat dengan tali, dan selotip hitam menutup mulutnya, dan tiga murid laki-laki sedang menyetuh tubuhnya sesuka hati mereka.

“Sepertinya kau benar-benar pergi kesini, Shiori-chan.” (Kitsune)

“Nn-!!” (Shiori)

Seragamnya telah dirobek-robek, dan tubuh bagian atasnya nyaris tak tertutup selain pakaian dalamnya. Dari sobekan roknya, celana dalam berwarna pink terlihat samar. Di situasi seperti itu, ketiga lelaki itu dengan senang hati memegang dada dan pantatnya. Tangan mereka bergerak keseluruh tubuhnya, dan setiap kali mereka menyentuhnya, Shiori mencoba menggeliat dan menolaknya.

“Hehehe, oi, Kitsune~. Bukankah kau terlalu dekat dengan Shiori akhir-akhir ini? Itu membuatku kesal. Jadi aku akan mengajarimu agar tidak pernah dekat-dekat dengannya lagi.” (Leader-kun)

“Hei, hei, orang yang namanya tidak kuketahui, Bocah A-kun. Kecemburuanmu itu terlihat menjijikan.” (Kitsune)

“Apa? Ini bukan kecemburuan. Kau sama sekali tidak cocok dengannya, jadi aku akan mengambilnya untuk diriku sendiri.” (Leader-kun)

“Mu-!” (Shiori)

Sebenarnya, Shiori ingin agar Kitsune melarikan diri.

Demamnya sedang tinggi, dan dari tanggapannya, sudah jelas dia kedinginan dan merasa mual. Shiori tidak dapat membayangkan kesusahan yang dialaminya untuk datang kesini. Seharusnya sekarang adalah saat dimana Kitsune harus beristirahat ditempat tidur sepanjang hari.

Dan terlepas dari apa yang terjadi padanya, dia tidak ingin melihat Kitsune terluka.

“Begitu. Jadi itu adalah perasaan ingin memonopoli dan mendominasi. Bagus sekali, kau menarik perhatianku. Tapi bagiku, melihatmu memandang sahabat baik-ku dengan tatapan keji seperti itu tidak mungkin kumaafkan.’ (Kitsune)

“Hmmm? Kau ingin melawan kami… oi, kalian hajar dia.” (Leader-kun)

“Hehehe.” (Anak A)

“Aku selalu ingin memukul wajahnya.” (Anak B)

Lelaki yang kelihatan seperti pemimpin memberikan perintah, dan kedua lelaki lainnya mendekati Kitsune. Shiori meninggikan suaranya untuk menghentikan mereka, tapi selotip itu mencegahnya mengatakan apapun.

“Oi, oi, jangan marah begitu. Bisakah kita semua tenang dan membicarakan ini?” (Kitsune)

Dia menunjukan senyum tipis kepada dua orang yang mendekatinya. Dan merasakan perasaan menakutkan dari senyuman itu, kedua lelaki itu berhenti mendekat. Apa yang mereka rasakan adalah ketakutan. Terlebih lagi, ketekutan itu bukan berasal dari Kitsune, yang berdiri didepan mereka. Kelihatannya itu berasal dari dalam hati mereka.

“Dan apa lagi sekarang? Kau menginginkan Shiori atau sejenisnya? Ahaha, dan? Sepertinya disini ada kalian bertiga, jadi saat kalian membunuhku, apakah kalian akan saling membunuh untuk mendapatkannya? Atau kalian ingin mencintainya bersama-sama? Apakah kalian ingin mengatakan hal seperti itu?” (Kitsune)

Kitsune melangkah kedepan.

“Ahaha, ini sangat lucu. Tidak, tidak, ini aneh… sangat lucu, mungkin aku akan muntah. Kalian semua mendengarku, kan?” (Kitsune)

Mengatakan hal itu, dia kembali melangkah. Dan melirik Shiori, yang memiliki air mata di matanya, dia mengangkat ujung bibirnya dengan berbahaya.

“–Saat kau membuat wanita menangis, kau tidak layak mencintai orang lain.” (Kitsune)

Satu langkah lagi. Dia tepat berada didepan salah satu lelaki yang ketakutan. Karena dia adalah yang terpendek dari mereka semua, Kitsune mendongak dan menatap mata lelaki itu. Mereka sangat dekat sampai-sampai hidung mereka hampir bersentuhan, dan Kitsune kembali tertawa saat lelaki itu melihat matanya tercermin dimata Kitsune.

Tapi lelaki itu tidak dapat memalingkan pandangan dari Kitsune. Tidak, dia ingin berpaling, tapi karena tekanan berbahaya yang dikeluarkan Kitsune, tubuhnya tidak mau melakukan apa yang dia inginkan.

Meskipun Kitsune penuh celah untuk diserang, lelaki yang tampak seperti pemimpin dan seorang lainnya tidak dapat melakukannya. Apa yang sama diantara mereka bertiga adalah butiran keringat yang mengalir di wajah mereka.

“Bagaimana denganmu? Jika kau membunuhku, dan mendapatkan Shiori-chan untuk kalian bertiga, apakah kau pikir leader-kun disana akan memberikan waktu Shiori-chan yang cukup untuk memuaskanmu? Dia adalah tipe pria yang ingin menyingkirkanku hanya untuk mendapatkan Shiori-chan, kau tau? Untuk pria serendah itu, akankah dia mengizinkan orang lain bersama dengan wanita yang dengan susah payah dia dapatkan?” (Kitsune)

“….ah….!” (Anak A)

“Ada apa? Kau terlihat pucat, tapi apakah kau baik-baik saja? Aku sedikit khawatir. Apakah kau ingin pergi keruang perawatan? Jika kau ingin pergi sekarang, aku akan memberikan kata-kata manis kepadamu setiap hari sambil aku dengan hati-hati merawatmu sampai kau sembuh.” (Kitsune)

Lelaki yang sedang dipandangi itu mengeluarkan suara parau. Dari mata Kitsune, dia dapat menyimpulkan bahwa apa yang dia katakan itu benar.

“Bukan berarti aku sangat menikmati merawat seorang lelaki.” (Kitsune)

Ekspresi lelaki itu tiba-tiba berubah sambil mundur selangkah dari Kitsune. Seolah-oleh, untuk sesaat, kelumpuhan yang mengikatnya telah dilepaskan, dan dia jatuh berlutut. Meskipun dia tidak melakukan apapun yang menghabiskan energinya, dia bernafas dengan berat seakan-akan dia lupa bernafas untuk waktu yang lama. Keringat dingin mengalir diseluruh tubuhnya.

Menakutkan. Menakutkan. Apa-apaan ini? Apakah dia seorang manusia?

Tidak ada kesalahan tapi itulah kesalahannya.

Tanpa kegilaan, ada apa dengan kegilaan ini?

Tanpa tekanan apapun, dia dengan paksa menekanku.

Disituasi saat ini, bagaimana orang ini bisa tertawa? Kami memiliki tiga orang disini, dan dia sendirian! Jika kami menyerang, jika kami sedikit mencoba, kami tak diragukan lagi akan menang.

Meski begitu, saat aku mengangkat tinjuku, saat aku menatapnya, saat aku mendekatinya, itu terasa seperti aku akan mati.

“Jadi? Bagaimana?” (Kitsune)

“Hii…!?” (Anak B)

Kitsune memalingkan kepalanya ke orang yang satunya. Wajah orang itu langsung pucat. Dan saat Kitsune dengan perlahan mendekatinya, dengan tubuh gemtarnya, lelaki itu mencoba lari.

“U-UWAAAAAAAAH!” (Anak B)

Tapi ini adalah gudang, dan kemanapun dia lari dia akan menemui jalan buntu. Satu-satunya jalan keluar adalah pintu, dan diarah itu ada Kitsune. Dia lari kejalan buntu bahkan sebelum dia mencoba meloloskan diri.

Dan tentu saja, Kitsune dapat mengejarnya. Kitsune menempatkan salah satu kakinya diantara kedua kaki lelaki yang gemetar itu, menyebabkannya, bukan terjongkok, tapi terjatuh. Dan Kitsune mendekatkan wajahnya ke lelaki itu.

Saat ini… dia melihat kebawah pada lelaki itu.

“Hei, hei, jangan takut. Lihat, aku tidak membawa senjata, kan? Kemampuan fisik-ku jauh dibawah kalian, dan selama kalian memiliki Shiori-chan sebagai sandera, aku tidak dapat berbuat apa-apa.” (Kitsune)

“Ti…dak, jangan…. Mendekat!” (Anak B)

“Lagipula, kenapa kau membantu orang itu? Apakah leader-kun itu menakutkan jika kau melawannya? Apakah dia membayarmu untuk melakukan ini? Sama-sama cinta kepada Shiori-chan?” (Kitsune)

“….Ku…! Tentu saja… itu karena kami adalah teman….!” (Anak B)

“Hm….mm?” (Kitsune)

Mendengar kata-kata lelaki itu, senyum Kitsune semakin melebar, dan dia dengan enggan menggeser pandangannya keseluruh tubuh anak itu.

Di saku seragam anak itu, dia melihat amplop putih. Kitsune dengan santai mengambilnya dan melihat isinya. Di dalamnya terdapat tiga lembar uang 10,000 yen.

Dia tertawa saat dia melemparkan uang itu kebahu anak itu.

“Uang, begitu. Jadi pertemananmu dapat dibeli dengan uang.” (Kitsune)

Mengatakan itu, Kitsune mengeluarkan dompet dari dalam sakunya. Dari dalamnya, dia mengeluarkan lima lembar uang 10000 yen. Itu adalah uang jajan yang diberikan oleh ibunya untuk tiga bulan kedepan.

“Lihat, aku akan memberikan uang ini untukmu.” (Kitsune)

“…Be-Ber…berhenti..” (Anak B)

Kitsune meletakkan uang itu ditangan anak tadi.

“Jadi…” (Kitsune)

“Tolong, hentikan….” (Anak B)

Dengan senyum lebar…

“… Aku akan senang jika kau mau menjadi temanku!.” (Kitsune)

Dia mengatakan itu.

“UWAAAAAAAH!!!!” (Anak B)

Anak itu tidak bisa menahan hal itu lagi. Dia melempar uang itu kelantai, mendorong Kitsune kesamping, dan sambil tersandung-sandung dia berlari keluar dari dalam gudang. Kitsune melihat kejadian itu sambil dengan hati-hati mengambil uang yang ada di lantai, ditambah 30000 yen yang dimiliki anak tadi, uang jajannya meningkat sebanyak 60%.

“Ah, dia lari. Apakah dia tidak mau menjadi temanku? Atau mungkinkah aku tidak memiliki cukup banyak uang? Yah, yah, kupikir harga sebuah persahabatan lebih tinggi dari yang kukira. Kupikir itu adalah sesuatu yang berharga!” (Kitsune)

Setelah mengatakan itu, Kitsune berbalik kearah leader-kun. Anak itu telah jatuh berlutut dan tidak memiliki keinginan untuk bergerak lagi, dia hanya menundukan kepalanya dengan putus asa.

“…K…k-kau sialan…! Bukankah kau peduli dengannya!?” (Leader-kun)

Leader-kun memeluk Shiori seakan tidak membiarkan Kitsune semakin mendekat, sambil menarik pisau yang tergantung dipinggangnya dan mengacungkannya keleher Shiori. Tangannya gemetar, dan giginya bergemeretak. Dia cukup tertekan secara mental.

Dan melihat hal itu, Kitsune tiba-tiba menghentikan kakinya.

“Ah… begitu, seperti yang kupikirkan, itu buruk. Seperti yang kupikir, kau sangat buruk.” (Kitsune)

“S-sialan! Diam!” (Leader-kun)

“Kau mengacungkan pisau itu ke Shiori-chan? Bahkan setelah kau membicarakan cinta atau sejenisnya barusan? Ahahaha! Yap, itu sangat lucu, ah kepalaku mulai terasa sakit.” (Kitsune)

Kitsune kembali melangkah kedepan. Nafas Leader-kun menjadi kacau saat dia mencoba mencari tau mengapa Kitsune tetap melangkah meskipun ada resiko Shiori ditusuk.

“Hei, kau tau, aku tidak terlalu mengerti… tekad atau perasaan yang kau miliki saat kau mengambil tindakan ini… Itu benar-benar mengganggu, dan aku tidak suka hal-hal yang mengganggu. Yah, aku rajin, sehat, pintar, dan murid teladan jika dilihat dari segi moral, jadi aku secara alami harus melawan berandalan sepertimu, tapi pisau itu… coba gerakan beberapa centimeter lagi….” (Kitsune)

“A-ah…AHH, AAAAAAAAH!!” (Leader-kun)

“….. Dan kau akan menyesalinya seumur hidupmu.” (Kitsune)

“AAAAAAAAAAAAAAAH!!!!!!” (Leader-kun)

Plop.

Suara seperti itu terdengar. Seperti jika seseorang jatuh kekasur mereka setelah melewati hari yang melelahkan, seperti jika seseorang memukul-mukul bantal sofa. Suara seperti itu.

Dan lantai gudang, mulai diwarnai dengan warna merah. Suatu suara seperti sesuatu menetes bergema didalam ruangan itu, dan tiga tubuh diwarnai dengan warna merah.

“Ah…ha….hahaha… AHAHAHAHAHAHAHAHA! Ini adalah akhir… Ini adalah kemenanganku! Rasakan itu, sialan!!!!! Ah HAHAHA!!” (Leader-kun)

Leader-kun tertawa seperti orang gila. Seperti jika pikirannya telah mencapai batasnya, itu adalah tawa penuh keputus asaan.

Didepan matanya (leader-kun), didepan mata Shiori yang terbuka lebar, adalah Kitsune, dengan pisau tertusuk dibagian kanan bawah dadanya. Pendarahannya parah, dan cairan merah mengalir keluar tanpa henti. Dan separuh dari wajah Kitsune tertutup oleh darahnya sendiri.

“…Ah Ini agak menyakitkan. Yeah, ini sakit, ow…. Bagaimana darah sebanyak ini bisa keluar?” (Kitsune)

“!?K-kenapa… Kenapa kau begitu tenang!!?” (Leader-kun)

“… Yah, apakah itu penting? Jadi apakah kau puas, Leader-kun? Keinginanmu telah terpenuhi, dan pisaumu telah tertusuk kedalam tubuhku.” (Kitsune)

Dan Kitsune terus tertawa. Dia tersenyum. Dia menyindir. Darahnya tidak menunjukan tanda akan berhenti, dan dengan senyum tipis, dan wajah yang dipenuhi darah, dia mendongak dan menatap mata Leader-kun

“Ah… apa-apaan….kau…menjijikan…kau, apakah kau benar-benar manusia…!?” (Leader-kun)

“Aku? Ayo kita lihat, aku rajin, sehat, manusia, normal dalam segala hal selain keinginanku untuk mendapatkan penghargaan kehadiran sempurna, kau tau? Dari sudut pandangku, kalianlah yang lebih mirip monster disini.” (Kitsune)

Kitsune memiringkan kepalanya saat dia dengan tenang mengatakan itu.

“Kau tak pernah melukaiku, kau tak pernah memukulku, kau tak pernah menggangguku, kau tak pernah mengucapkan kata-kata kasar kepadaku, dan kau tak pernah menolongku. Kau menyangkal keberadaanku, dan memperlakukanku seolah-olah aku tidak ada disana. Dan saat aku membuatmu tidak nyaman, kau mencoba menghapusku. Dunia ini benar-benar jahat padaku, kan? Tapi itu tidak masalah, kau tau? Bagiku, ini adalah kehidupan sehari-hariku, dan aku sudah belajar cara untuk menikmatinya.” (Kitsune)

Kitsune menggenggam pisau dan mencabutnya dari tubuhnya dengan menggunakan tangannya yang dipenuhi darah, dan mencoba menghentikan darah yang mengalir keluar dari lukanya. Dengan tangannya yang lain, dia memegang kepala Leader-kun

“…..Gu….!?” (Leader-kun)

“Jadi kenapa kau tidak coba menikmati hidupku juga? Itu akan menyenangkan, kan? Mendapati pisau tertusuk di wajahmu. Kau tidak memiliki sekutu, dan disini tak ada seorangpun yang akan menyelamatkanmu. Suatu hari, semua orang akan melupakanmu, dan keberadaanmu dengan cepat akan menghilang dari dunia ini. Itulah apa yang coba kau lakukan padaku. Bukankah itu terdengar menarik?” (Kitsune)

“Uah… hentikan…hen… aku salah… aku akan meminta ma… maafkan aku… tolong selamatkan aku!!!” (Leader-kun)

Kepada Kitsune, yang dengan perlahan membawa pisau lebih dekat, leader-kun meminta maaf sambil air mata mengalir dari matanya. Dia memohon kepada langit untuk mencegah kematiannya. Tapi ujung mulut Kitsune hanya menaik lebih tinggi, dan dia mulai tertawa.

“Dan untuk orang-orang yang memohon untuk keselamatan mereka, apa yang kau lakukan? Itu adalah mimpiku untuk menjadi seorang penjahat dan mengatakan kalimat seperti itu!” (Kitsune)

Pisau itu meluncur kedalam mata Leader-kun.

“GAAAAAAH!!!!” (Leader-kun)

***

Beberapa menit kemudian, Leader-kun membawa anak yang tidak mampu lagi mengangkat kepalanya dan lari. Dengan pisau masih menancap dimatanya, dan dengan darah mengalir diwajahnya, dia lari menemui guru.

Dan mereka yang tersisa di gudang, Kitsune membuka ikatan Shiori. Nafasnya semakin memberat, dan senyumannya terlihat lebih tipis dari sebelumnya.

“Hah…! Hah…! Ha-haha… apakah kau baik-baik saja? Shiori-chan…” (Kitsune)

“Kau dalam keadaan yang jauh lebih buruk dari pada aku, Kitsune-san!” (Shiori)

“Jika sesemangat itu… mungkin kau baik-baik saja. Owowow, kupikir ini tak akan berhasil….” (Kitsune)

Dia terjatuh. Shiori bergegas untuk menopang tubuhnya, mengabaikan darah yang mewarnai pakaian mereka. Lukanya parah, jadi Shiori tidak tau harus berbuat apa, dan kelihatannya tidak ada cara untuk menghentikan pendarahannya. Bahkan jika dia mencoba mengikatnya, itu tidak akan berhenti. Air mata secara alami jatuh menuruni wajahnya.

Melihat ekspresi Shiori, Kitsuni kembali tersenyum.

“Oi, jangan menangis… Aku datang kesini untuk menyelamatkanmu, kan? Kau seharusnya…. Tersenyum.” (Kitsune)

“Aku tidak bisa tersenyum saat kau diujung kematian, Kitsune-san…!” (Shiori)

Saat Shiori mengatakan itu, dia kelihatannya mengingat sesuatu saat dia mengeluarkan HP-nya dan memanggil ambulans. Mengikuti pertolongan pertama yang mereka instruksikan, dia mulai berbicara kepada Kitsune untuk menjaga kesadarannya.

“Kitsune-san…! Kau tidak boleh mati!” (Shiori)

“Itu tidak terdengar seperti Shiori-chan… Aku lebih suka saat kau bersemangat dan tertawa…” (Kitsune)

“Kitsune-san! Bertahanlah, Aku masih ingin bersamamu!” (Shiori)

“Ah, haha…” (Kitsune)

Terus terang, Kitsune telah menerima luka parah.

Tidak jelas apakah itu kebetulan atau tidak, tapi pisau itu telah menusuk liver nya. Terlebih lagi, pendarahannya juga parah. Dia menderita demam selama konfrontasi, dan luka yang dilakukan pada satu titik lebih parah dari pada jika di terluka diseluruh tubuhnya. Menakjubkan bahwa dia masih bisa sadar. Biasanya, dia akan mati seketika. Peluang hidupnya sangat kecil. Dan kelihatannya Kitsune memahami hal itu.

“Shiori-chan. Aku…. Berterimakasih padamu. Untuk gadis sepertimu untuk melihatku sampai akhir, tidak ada yang lebih membahagiakan… selain itu.” (Kitsune)

“Jangan mengatakan ini adalah akhir! Ayo bermain lagi setelah ini! Ayo pergi kesuatu tempat, tertawa bersama… dan…!” (Shiori)

“…Itu benar… lalu saat lukaku sembuh, bisakah kita pergi ke taman bermain… Kedengarannya itu menyenangkan…” (Kitsune)

Lalu Kitsune tersenyum. Dan sebagai respon, Shiori mengeluarkan air mata saat dia tersenyum seindah bunga matahari. Dia dapat mendengar sirine ambulan dari luar.

“Itu benar… kita akan benar-benar pergi bersama. Jadi jika kau tidak sembuh dengan cepat, kau akan menerima hukuman.” (Shiori)

“Hahaha… itu… senyum itu… Saat kau membuat wajah seperti itu… aku suka…” (Kitsune)

Pintu gudang didobrak, dan badan perawatan darurat bergegas masuk. Ketiga siswa laki-laki dan Kitsune segera dibawa kerumah sakit, diikuti oleh Shiori. Dia menggenggam tangan Kitsune saat dia menggeliat kesakitan, sambil berdoa untuk keselamatannya.

( Ah~… hanya sebentar lagi, aku ingin hidup sedikit… bantal paha dari Shiori mungkin adalah saat paling menggembirakan dan paling bersejarah selama hidupku… )

Melihat kearah Shiori, Kitsune berbisik dihatinya.

-Tapi keinginannya untuk hidup tidak dikabulkan. Dia menghembuskan nafas terakhir segera setelah tiba di rumah sakit. Hidup Lelaki itu berakhir, dan gadis yang telah berjanji dihatinya tidak akan pernah bisa ditepati selama hidupnya.

Table of Content | NEXT

 

5 Comments Add yours

  1. Constantze says:

    Sedih anjir hiks…

    Like

  2. sang pembaca setia says:

    sedih mau nangis njir terus pengen tau wajah nya shiori

    Like

  3. aji says:

    anjir dah awalnya udh gini … 😦

    Like

Leave a Reply to Constantze Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s